Bahaya makan berlebihan dan syahwat

Maqalah atau keterangan yang diterima dari Yahya bin Mu’adz ar Razi Rahimahullah, bahwa orang yang banyak kenyangnya, maka akan banyak dagingnya. Berbeda dengan orang yang banyak makannya disebabkan kuatnya dzikir kepada Allah swt, maka tidak akan menjadi madharat banyak makannya tersebut.

Sebagian dari para wali thariqah ada yang dari banyak makan, karena buru-buru hancurnya makanan dengan panasnya tapak/jejak dzikir, sebab dzikir itu seperti api. Berbeda halnya dengan membaca shalawat (memuji Nabi Muhammad saw), yang tapaknya atau akan terasa dingin.

Jadi orang yang dzikir itu sering cepat kedatangan perasaan lapar, maka untuk menahan panasnya lapar yang disebabkan dzikir, makannya diperbanyak. Siapa saja orang yang banyak dagingnya (montok), maka akan banyak syahwatnya. Perkara yang bisa memerangi syahwat adalah lapar. Siapa saja yang banyak syahwatnya, maka biasanya akan banyak dosanya. Nah, dosa-dosa itulah yang mengahalangi manusia atau seseorang dari Allah swt.

Dan siapa saja orang yang banyak dosanya, maka akan keras hatinya, sehingga akan sulit menerima nasihat. Serta siapa saja orang yang keras hatinya, maka akan tenggelam dalam kesulitan/kerepotan urusan dunia, dan dalam kemewahan dunia.

Dari penjelasan diatas, kita harus bisa mengambil hikmah dan pelajaran bahwa manusia itu hidup di alam dunia sementara, maka kita harus banyak mengisinya dengan amal shalih dan berjuang untuk mendapatkan keridhaan Allah.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Faktor apakah yang bisa membuat manusia bahagia menurut islam (qanaah dan meninggalkan syahwat)

Keterangan yang diterima dari Imam Hasan al Bashari Rahimahullah, bahwa sudah dituliskan dalam kitab Taurat lima pembicaraan.

Qana’ah

Yang pertama, sebenar-benarnya kaya adalah merasa cukup dengan nafkah adanya di dalam qana’ah. Artinya merasa ridha terhadap bagian dari Allah, dan merasa tenang apabila tidak adanya makanan.

Yang kedua, selamat dari bahayanya lisan ada di dalam ‘uzlah, maksudnya keluar dari bercampur dengan makhluk, disertai memutus pertalian dengan makhluk (mengasingkan diri).

Bahaya Syahwat

Yang ketiga, kemulyaan itu ada di dalam meninggalkan syahwat.

Yang keempat, sebenarnya berbahagia itu (kebahagiaan) ada pada hari yang panjang, artinya di akhirat (surga).

Dan yang kelima, sebenar-benarnya sabar dalam melaksanakan segala perintah Allah, serta nanggung dalam kesulitan, dan dalam menjauhi segala larangan Allah. Nah, hal tersebut tetap ada dalam hari yang sedikit, yaitu di dunia.

Seharusnya manusia itu harus merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, jangan sampai merasa kecewa, resah, dan gelisah, serta tidak puas dengan yang ada di dirinya. Yakinlah, bahwa rizki itu dari Allah dam dijamin oleh Allah. Setiap manusia pasti akan diberi rizki oleh Allah, tetapi mungkin besar kecilnya yang tidak sama.

‘Uzlah

Ketika kita merasa lingkungan yang kita tempati sudah tidak kondusif lagi, atau penuh dengan kemaksiyatan, maka kita dianjurkan untuk ‘uzlah atau mengasingkan diri. Hal ini dilakukan agar kita lebih tenang dalam beribadah, serta agar lebih dekat lagi dengan Allah, serta jauh dari pengaruh buruk lingkungan.

Syahwat itu sangat buruk sekali akibatnya apabila kita mengikutinya. Oleh karena itu, kita harus hati-hati terhadap syahwat.

Setiap manusia, khususnya umat muslim pasti menginginkan dirinya masuk surga. Oleh karena itu, selama di dunia kita harus berjuang untuk menggapainya, dan mempersiapkan bekal untuk di akhirat. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya itu adalah di surga.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Inilah bahaya atau akibat bila sibuk dengan syahwat dan mengumpulkan harta

Dari keterangan yang diterima dari sebagian ba’dhul hukama bahwa siapa saja orang yang disibukkan dengan syahwatnya, maka tidak boleh tidak dari merawat perempuan yang menjadi istrinya.

Dan siapa saja orang yang disibukkan dengan mengumpulkan harta, maka tidak boleh tidak dari barang haram, maksudnya menimpanya dari barang haram.

Dan siapa saja orang yang disibukkan dengan kemanfaatan kaum muslimin, maka tidak boleh tidak kepada orang tersebut sifat lemah lembut, artinya sopan santun kepada orang lain baik dalam omongan maupun dalam perbuatan.

Serta siapa saja orang yang disibukkan dengan ibadah, maka tidak boleh tidak kepada orang tersebut ilmunya, karena tidak sah ibadah kecuali mengetahui tentang tingkahnya ibadah (ibadah harus memakai ilmu).

Setiap orang seharusnya senantiasa menjaga dirinya dari perkara-perkara yang bisa melupakan dirinya dari Allah, atau lebih mengutamakan dunia daripada akhirat.

Banyak sekali hal atau perkara yang bisa menggoda manusia untuk lupa kepada Allah, misalnya syahwat atau harta benda.

Setiap orang pasti memiliki syahwat, tetapi kita harus bisa merawatnya atau mengeremnya. Jangan sampai kesibukan kita dalam mengikuti keinginan syhawat, menjadikan kita jauh dari Allah. Ketika kita sibuk dengan syahwat, maka kita akan sibuk dengan perempuan.

Begitupun juga dengan harta, kita harus sadar bahwa harta itu adalah titipan dari Allah, kita harus bisa menjaganya dan membawanya. Jangan sampai karena mengejar dan sibuk mengumpulkan harta, kita tidak menghiraukan halal dan haramnya.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar