Keutamaan 2 Kalimat Syahadat (Laa ilaaha illallaahu Muhammadun Rasuulullaah)

Diriwayatkan dari Abbid Darda’, dia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang membaca Laa ilaaha illallaahu Muhammadun Rasuulullaah, maka keluarlah dari mulutnya malaikat seperti seekor burung hijau yang bersayap dua buah, satu di dunia timur dan satu lagi di dunia barat, yang keduanya putih-puith dan bertahtakan intan dan mutiara. Naiklah burung itu sampai di Arasy dan bersuara seperti suara lebah. Malaikat-malaikat pemikul Arasy berkata kepadanya, ‘Diamlah berkat keagungan Allah swt.’ dia menjawab, ‘Aku tidak akan diam sehingga Allah mengampuni orang yang membacanya.’

Lalu Allah berfirman, ‘Aku benar-benar telah mengampuni orang yang membacanya.’ Kemudian Allah menjadikan 70 lidah bagi malaikat seperti burung itu, setiap lidah memohonkan ampun bagi pemiliknya sampai hari kiamat. kelak di hari kiamat burung itu akan datang dan membimbing tangan pemiliknya dan menjadi pembimbing dan petunjuk jalan ke surga.”

Dari Ali karamallaahu wajhahu, dia mengatakan bahwa dirinya mendengar pemimpin semua makhluk yaitu Nabi Muhammad bersabda, “Aku telah mendengar pemimpin semua malaikat, yaitu Jibril berkata, ‘Aku belum pernah turun dengan membawa sebuah kalimat yang lebih mulia daripada kalimat Laa ilaaha illallaahu Muhammadun Rasuulullaah di atas bumi ini. Dengan kalimat itu langit, bumi, gunung-gunung, pepohonan, daratan dan lautan dapat berdiri tegak. Ingat, ia adalah kalimat ikhlas. Ingat, ia adalah kalimat islam. ingat, ia adalah kalimat untuk mendekatkan diri. Ingat, ia adalah kalimat takwa. Ingat, ia adalah kalimat keselamatan. Ingat, ia adalah kalimat yang tinggi. Seandainya kalimat itu diletakkan pada sebuah daun timbangan yang satu, dan langit serta bumi diletakkan pada daun timbangan yang lain, tentu akan lebih berat kalimat itu.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keutamaan Kalimat Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah (Syahadat)

Syahadat

Sesungguhnya ada seorang laki-laki sedang wukuf di Arafah, sedang ditangannya memegang 7 buah batu. Berkatalah dia, “Wahaibatu-batu, bersaksilah bahwa aku bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. lalu diletakkanlah batu-batu itu di bawah kepalanya dan tidurlah dia. Dilihatnya dalam mimpi seakan-akan kiamat telah tiba, dan dia dihisab serta diputuskan neraka baginya.

Para malaikat membawanya pergi ke neraka. Tiba-tiba sebuah batu dari batu-batu itu menjatuhkan dirinya di pintu neraka. Berkumpullah para malaikat siksa untuk mengangkatnya, tetapi mereka tidak kuat mengangkatnya. Kemudian mereka membawa laki-laki itu ke pintu yang lain. tiba-tiba di sana sudah ada sebuah batu dari batu-batu yang tujuh itu pula.

Mereka berkumpul tetapi tetapi tetap tidak mampu mengangkatnya, hingga akhirnya mereka membawanya ke depan tujuh pintu neraka dan pada setiap pintu terdapat sebuah batu dari 7 batu itu.

Kemudian para malaikat membawanya ke Arasy, dan berfirmanlah Allah swt, “Hai Hamba-Ku, engkau telah minta minta kesaksian batu-batu itu dan mereka tidak menyia-nyiakan hakmu. Bagaimana pula Aku harus menyia-nyiakan hakmu, dan Akupun bersaksi dengan kesaksianmu itu. Hai malaikat masukkanlah dia ke surga.”

Ketika dia dekat dengan surga ternyata pintu-pintu telah terbuka dengan kunci yaitu Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah.”

Rasulullah saw bersabda, “Aku pernah masuk ke dalam surga dan aku lihat pada pintunya tertulis 3 baris:

  1. Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah
  2. Wajadnaa maa qaddamnaa, wa rabihnaa maa akalnaa wa khasirnaa maa khalafnaa (Kami telah menemukan apa yang telah kami kerjakan. Kami beruntung dengan semua yang kami makan. Dan kami merasa rugi terhadap apa yang tinggalkan.) seperti firman Allah, ‘Pada harinya orang menemukan semua kebaikan yang telah dikerjakannya telah dihadirkan, juga segala kejahatan yang pernah dikerjakannya, dia mengharapkan kalau antara dia dengan hari itu terdapat waktu yang lama.’ (Ali Imran ayat 30)
  3. Ummatun mudznibatun wa rabbun ghafuurun (Umat yang berdosa dan Tuhan Yang Maha Pengampun)

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kemuliaan 2 Kalimat Syahadat

Syahadat

Seseorang yang akan masuk islam maka syaratnya dia terlebih dahulu harus membaca 2 kalimat syahadat. 2 kalimat syahadat itu bunyinya adalah Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadun Rasulullah.

Di bawah ini adalah kisah atau hikayat mengenai kemuliaan atau keutamaan 2 kalimat syahadat.

Diceritakan dari Abu Bakar bahwa Dihyah Al Kalbi adalah seorang Raja kafir dari bangsar Arab. Rasulullah sangat mengharapkan keislamannya, karena ada 700 orang dari keluarganya berada di bawah kekuasaannya.

Nabi Muhammad mendoakannya dan bersabda, “Ya Allah, karuiakanlah islam kepada Dihyah Al Kalbi.” Ketika Dihyah ingin masuk islam, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad setelah shalat subuh, “Hai Muhammad, Aku telah melemparkan nur iman di hati Dihyah Al Kalbi. Dia akan berkunjung kepadamu sekarang.”

Ketika Dihyah benar-benar masuk ke dalam masjid, beliau mengangkat selendangnya dari punggungnya dan menghamparkannya di atas tanah serta beliau mengisyaratkan ke arah selendangnya itu. Ketika Dihyah melihat penghormatan Nabi Muhammad kepadanya menangislah dia dan mengangkat selendang itu, lalu diciuminya dan diletakkannyalah di atas kepalanya da juga pada kedua matanya.

Dihyah berkata, “Ya Nabi Allah, apa sajakah syarat-syarat islam itu? Tunjukkanlah kepadaku syarat-syarat itu.” Nabi Muhammad berkata, “Engkau harus mengucapkan Laa ilaaha Illallaah Muhammadun Rasuulullaah.” Kemudian dia menangis. Bersabdalah Nabi Muhammad kepadanya, “Apa arti tangisanmu itu hai Dhiyah? Apakah karena kedatanganmu untuk masuk islam ini ataukah karena sesuatu yang lain?”

Dihyah berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengerjakan beberapa dosa besar. Tanyakanlah kepada Tuhanmu, apakah tebusannya? Jika Dia menyuruhku untuk membunuh diriku tentu aku akan membunuh diriku, dan jika Dia memerintahkan aku supaya mengeluarkan sedekah dari hartaku aku akan mengeluarkannya.”

Nabi Muhammad berkata, “Apakah dosa itu hai Dihyah?” Dihyah berkata, “Aku adalah seorang raja diantara raja-raja di Arab ini. Aku merasa malu kalau anak-anakku perempuan sampai mempunyai suami, agar tidak dikatakan bahwa Fulan bin Fulan adalah menantu raja Dihyah Al Kalbi, maka aku bunuh 70 anak perempuanku dengan tanganku sendiri.”

Mendengar itu Nabi Muhammad menjadi bingung, maka turunlah malaikat Jibril dan berkata, “Ya Rasulullah, katakan kepada Dihyah, ‘Demi keagungan dan keluhuran-Ku, sesungguhnya ketika engkau membaca Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah, maka Aku telah mengampuni kekafiranmu selama 60 tahun dan makianmu kepada-Ku selama 60 tahun juga. Lalu bagaimana Aku tidak mengampuni pembunuhan anak-anak perempuanmu, sedang mereka adalah milikmu sendiri.’

Abu Bakar melanjutkan ceritanya, kemudian Nabi Muhammad menangis beserta para sahabat, lalu Nabi bersabda, “Ya Tuhanku, Engkau benar-benar telah mengampuni Dihyah mengenai pembunuhannya terhadap anak-anak perempuannya sebab bacaan syahadat sekali saja, lalu bagaimana Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kecil dari orang-orang mukmin dengan berkali-kali syahadat.”

Dihyah, dapat dibaca fathah dalnya dan dapat juga dibaca kasrah. Tentang mana yang lebih unggul, para ulama berbeda pendapat. Dia adalah Dihyah bin Khalifah bin Farwah Al Kalbi. Dia terkenal sebagai orang yang paling tampan wajahnya. Apabial dia datang di Madinah, tidak seorang perempuan pun kecuali akan keluar melihatnya.

Malaikat Jibril sendiri sering datang kepada Nabi Muhammad dengan bentuk Dihyah itu karena tampannya. Dia termasuk orang-orang yang masuk islam dahulu dan selalu mengikuti peperangan setelah perang Badar bersama Rasulullah saw.

Dia masih tetap hidup sampai masa pemerintahan Mu’awiyah dan diapun ikut berperang. Dia bertempat tinggal di Mizzah, yaitu sebuah desa di dekat Damaskus. Dialah orang yang dikirimkan untuk membawa surat Nabi Muhammad kepada pembesar negara Bushra untuk disampaikannya kepada Heraqlius. Semua itu terjadi pada akhir tahun 6 hijriyah.

 

Sumber: Durrotun Nasihin