Larangan bagi orang gagap membaca surat selain fatihah serta sunat membaca surat pada rakaat kedua dan ketiga

Bagi sebagian orang yang tidak bisa membacanya dengan baik (gagap), seyogyanya tidak perlu membaca selain Fatihah, apalagi bila menimbulkan kesalahan yang mengubah makna, walaupun tidak sempat belajar, sebab berarti dia membaca sesuatu yang bukan Quran dan bukan pula karena darurat. Meninggalkan membaca surat adala jaiz. Sedangkan menurut pendapat Imam (Haramain dan Ibnu Hajar) membaca selain Fatihah bagi orang yang semacam itu adalah haram.

Disunatkan membaca ayat (surat) pada dua rakaat  yang pertama (rakaat pertama dan rakaat kedua) dari salat yang 4 dan 3 rakaat, namun tidak disunatkan pada 2 rakaat akhir (ketiga dan keempat). Kecuali bagi makmum masbuq yang tidak mendapatkan2 rakaat pertama dari imam, maka ia membaca ayat pada sisa salatnya (rakaat ketiga atau keempat) bila waktunya mencukupi dan dia belum membaca surat pada waktu salat bersama imam, selama tidak gugur sunat membaca ayat itu darinya, karena dia dalam keadaan masbuq pada waktu mendapatkan imam (contoh yang gugur, ia bermakmum ketika imam sudah hampir selesai membaca surat), sebab imam dapat menanggung Fatihah masbuq, apalagi bacaan suratnya.

Disunatkan membaca surat yang pertama lebih panjang daripada yang kedua, selama tidak warid nash dengan panjang surat yang kedua (seperti surat al A’la dengan surat al Ghaasyiyah). Sunat membacanya menurut tertib mushaf dan muwalat (tidak terpisah), selama surat yang mengikutinya tidak lebih panjang. (bila surat yang kedua lebih panjang, seperti surat At Tiin dengan Al ‘laq, maka hal ini menyalahi sunnah).

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Jelaskan Apakah Basmalah Merupakan Bagian Dari Surat Al Fatihah

Pada salat jahriyah, imam disunatkan berdiam sebentar (jangan cepat-cepat membaca surat), seukuran makmum membaca Fatihah. Bila ia mengetahui makmum membaca Fatihah ketika ia diam itu, hendaknya ia menyibukkan diri dengan membaca doa atau membaca Quran. Hal itu lebih utama.

Syaikhuna berkata, “Jelaslah bahwa ketika membaca Quran sebaiknya imam memelihara ketertiban dan muwalat antara membaca surat (atau ayat yang dibacanya waku diam) dengan surat atau ayat yang akan dibaca sesudahnya (dengan suara keras).

Disunatkan berdiam sebentar seukuran membaca subhaanallaah antara amin dengan surat, akhir surat dengan takbir ketika hendak rukuk, takbiratul ihram dengan doa iftitah, doa iftitah dengan ta’awwudz, dan antara ta’awwudz dengan basmalah.

Disunatkan membaca satu ayat atau lebih, namun yang lebih utama ialah tiga ayat sesudah Fatihah.

Disunatkan mengucapkan basmalah bagi orang yang membaca surat dari pertengahannya, sebagaimana nash Imam Syafii.

Nabi saw bersabda, “Bila kamu membaca Fatihah bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim, sebab Fatihah itu induk Quran; 7 ayat yang diulang-ulang dan bismillah itu (merupakan) salah satu dari ayat-ayatnya.” (Riwayat Daruquthni, Bukhari, dan Nasai).

Dari Anas r.a bahwa Nabi saw bersabda, “Tadi diturunkan surat kepadaku, lalu aku membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim, Innaa ‘a’thainaakal kautsar’ sampai pada akhir surat.” (Riwayat Muslim)

(sebab merupakan ijma’ sahabat untuk menetapkan basmalah pada mushaf dengan menuliskannya pada setiap awal surat selain surat Baraa-ah).

Mengulang satu surat pada 2 rakaat sudah mendapat dasar sunat; begitupun dengan mengulang Fatihah, kalau tidak hafal surat yang lain dan membaca basmalah, dengan syarat tidak menganggap bahwa basmalah itu merupakan awal Fatihah.

Membaca satu surat yang lengkap sekira tidak waris membaca sebagian surat; misalnya pada salat tarawih, lebih utama daripada membaca sebagian surat yang panjang walaupun (ayat) yang dibaca panjang. (membaca surat Takaatsur atau lainnya lalu membaca surat ikhlas, pada salat tarawih adalah khilaful aula).

Makruh meninggalkan bacaan ayat, karena memelihara paham orang yang mewajibkannya (seperti Imam Hanafi) kecuali dengan kata-kata sesudah Fatihah, ialah apabila mendahulukannya sebelum Fatihah tidak dihitung, bahkan yang demikian itu adalah makruh.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Sunat berhenti pada setiap ayat fatihah serta mengucapkan amin sesudah fatihah

Sesudah takbir dan membaca doa iftitah pada salat Id, jika ia membacanya disunatkan membaca ta’awwudz, meskipun pada salat jenazah dia baca dengan suara perlahan. Begitu pula pada salat jahriyah (bacaan keras) ketika dia duduk beserta imam pada setiap rakaat sekira tidak tergesa-gesa membaca Fatihah, sekalipun lupa membacanya. Membaca ta’awwudz pada rakaat awal lebih penting dan makruh meninggalkannya.

Disunatkan waqaf (berhenti) pada setiap ayat Fatihah hingga akhir basmalah. Hal ini berbeda dengan paham jumhur (yang menyunatkan me washal kan basmalah dengan hamdalah). Walupun makna ayat itu bertalian dengan makna ayat sesudahnya (seperti ayat shiirathal mustaqiim” dengan “shiraathalladziina”), karena ittiba’ kepada Nabi Muhammad saw (Rasulullah saw berwaqaf pada setiap ayat dari basmalah sampai akhirnya).

Lebih utama tidak me waqaf kan lafaz an’amta ‘alaihim, sebab bukan waqaf dan bukan pula ujung ayat menurut qiraat kita. kalau me waqafkannya, maka tidak disunatkan mengulanginya kembali dari awal ayat.

Sunat membaca amin dengan takhfif, mad, dan sebaiknya ditambah dengan Ya Rabbal ‘aalamiin sesudah fatihah walaupun di luar shalat.

Sesudah berdiam sebentar selama belum mengucapkan apa-apa selain Rabbighfirlii.

Bagi makmum yang mendengar bacaan imamnya, disunatkan mengeraskan bacaan amin pada shalat jahriyah, sebab mengikuti imam.

Pada salat jahriyah, makmum disunatkan mengucapkan amin bersama imam jika ia mendengar bacaannya, berdasarkan hadis riwayat Syaikhan, “Bila imam mengucapkan amin, ber amin lah kamu. Sesungguhnya orang yang amin nya bersamaan dengan amin malaikat (amin imam), maka diampuni dosanya yang telah lewat.” Bagi kita tidak sah bacaan yang dituntut bersamaan mengucapkannya dengan imam selain amin.

Bila tidak bersamaan dengan amin imam, maka ber amin la sesudah amin imam. Bila imam mengakhirkan amin dari waktu yang disunatkan padanya (yaitu sesudah Fatihah), ber aminlah makmum dengan keras.

Lafaz amin adalah isim fi’il dengan makna istajib yang di mabni kan fathah dan ketika waqaf harus di sukun (sebagaimana riwayat Abu Hurairah, “Rasulullah saw bila selesai membaca Ummul Quran beliau mengeraskan membaca amin)

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Bagaimana bila ada keraguan ketika membaca Fatihah

Apabila pada saat pertengahan membaca Fatihah timbul keraguan, apakah sudah membaca bismillah atau belum, sementara ia selesai menamatkan Fatihah nya dan kemudian dia ingat bahwa sudah membacanya maka ia wajib mengulangi kembali seluruh Fatihahnya, menurut kaul yang termasyhur. Tidak ada pengaruh apa-apa bila timbul keraguan mengenai tertinggal Fatihah satu huruf atau lebih, satu ayat satau lebih sesudah tamat membacanya, sebab zhahirnya ketika itu sudah lewat dengan sempurna.

Wajib mengulang Fatihah kembali jka keraguan muncul sebelum tamat membacanya, misalnya ragu apakah sudah membaca Fatihah atau belum, sebab asalnya tidak membaca Fatihah. Begitu juga rukun salat yang lain, aturannya sama seperti membaca Fatihah.

Jika seseorang merasa ragu mengenai sujud misalnya, maka ia wajib sujud kembali. Atau keraguannya itu timbul setelah sujud, sedangkan ia sudah menaruh tangan ketika duduk, maka tidak wajib mengulanginya kembali.

Seseorang membaca Fatihah dalam keadaan lupa (tidak sadar), lalu ia mengingatnya ketika shiraathal ladziina; dia tidak yakin akan adanya bacaan itu, maka ia wajib memulai Fatihah kembali dari awal.

Wajib tertib ketika membaca Fatihah

Yaitu membaca sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan. Tidak wajib tertib ketika membaca tasyahhud selama tidak mengubah makna. Akan tetapi diisyaratkan wajib memelihara semua tasydidnya dan terus menerus, sebagaimana membaca Fatihah.

Barang siapa yang belum dapat membaca Fatihah dan tidak memungkinkan, atau tidak sempat belajar sebelumnya karena waktunya sempit dan tidak dapat pula membaca mushafnya, maka ia wajib membaca tujuh ayat walaupun terpisah-pisah, asal hurufnya tidak kurang dari huruf-huruf Fatihah.

Fatihah berikut basmalah serta semua tasydidnya berjumlah 156 huruf, dengan menatapkan alif pada lafaz “maaliki”.

Kalau hanya dapat membaca sebagian ayat Fatihah, maka bacalah berulang-ulang sehingga ukurannya sama dengan membaca Fatihah. Jika tidak dapat membaca ayat pengganti Fatihah, wajib membaca 7 macam bacaan zikir yang tidak kurang bilangan hurufnya. Jika zikir pun belum dapat, maka ia wajib diam seukuran membaca Fatihah.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Hukum Membaca Al Fatihah Dalam Shalat (Bacaan Fatihah Yang Diulang)

Wajib mengulang kembali bacaan Fatihah, karena terselang oleh dzikir lain yang tidak berhubungan dengan salat pada waktu membaca Fatihah, walaupu sedikit, misalnya setengah ayat selain Fatihah, atau membaca Alhamdulillah bagi orang yang bersin, meskipun disunatkan ketika salat maupun di luar salat, sebab bacaan itu berpaling dari bacaan Fatihah.

Tidak perlu mengulang kembali membaca Fatihah karena terselang oleh sesuatu yang bertalian dengan salat, misalnya membaca amin, sujud tilawah mengikuti imam, berdoa, mohon rahmat, berlindung dari azab dan cobaan.

Semua hal itu karena imamnya membaca Fatihah, ayat sajdah, atau ayat yang disunatkan untuk membacanya seperti yang tersebut di atas, bagi yang membaca ataupun yang mendengarkannya, makmum atau bukan, di dalam salat ataupun di luar salat.

Apabila orang yang sedang salat membaca ayat atau mendengarkan ayat yang di dalamnya terdapat nama Muhammad saw, maka tidak disunatkan membaca salawat kepadanya, sebagaimana fatwa Imam Nawawi. (ulama lainnya menyunatkan).

Tidak perlu mengulangi bacaan Fatihah karena mengingatkan imam yang berhenti atau lupa membacanya, dengan maksud membaca walaupun sambil berniat mengingatkan.

Menurut pendapat syaikhuna, mengingatkan itu jika imamnya diam. Jika tidak (misalnya imam berulang-ulang membacanya, lalu makmum mengingatkan), maka dianggap memutuskan pertalian bacaan atau muwalat.

Mendahulukan membaca Subhaanallaah sebelum mengingatkan, termasuk memutuskan bacaan, menurut kaul yang termasyhur, sebab dianggap mengingatkan.

Bacaan Fatihah harus diulang karena berhenti dalam tempo yang cukup lama ketika membacanya, sekira melebihi diam istirahat tanpa udzur yang terselang oleh dzikir lain, atau berhenti dalam tempo yang cukup lama, umpamanya bodoh atau lupa.

Jika penyelangnya berupa zikir yang lain, atau berhenti dalam tempo yang cukup lama itu karena lupa, bodoh, atau mengingat-ingat ayat berikutnya, tidak apa-apa. Sebagaimana bila membaca Fatihah secara berulang-ulang walaupun tanpa udzur, atau mengulang bacaan sebelumnya dan meneruskannya sampai selesai, menurut pendapat yang termasyhur.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani