Macam-macam Sunat ab’ad Dalam Shalat

Sunat ab’ad adalah sunah yang apabila terlewat atau lupa,tidak membatalkan sholat namun sunah melakukan (bisa ditambal) dengan sujud sahwi.

Sunat ab’ad itu terdiri atas:

  1. Tasyahud awal. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Nasa’i: Dari Abu Abdullah bin Buhairo, dari Rasulullah, bahwasanya beliau berdiri dlam shalat, padahal seharusnya beliau duduk (untuk melakukan tasyahud awal) kemudian beliau melakukan sujud sahwi dua kali sebelum salam dalam keadaan duduk.
  2. Duduk dalam tasyahud awal
  3. Membaca shalawat kepada Nabi dalam tasyahud awal, ketetapan ini berdasarkan qias.
  4. Membaca shalawat kepada keluarga Nabi dalam tasyahud awal.
  5. Qunut, berdasarkan qias.
  6. Berdiri dalam qunut.
  7. Membaca shalawat dan salam kepada Nabi, keluarganya dan kepada para sahabat dalam qunut. Ketetapan ini berdasarkan qias.

Bagaimana Bila Tidak Mengerjakan Sunnah Ab’adh Dalam Shalat

Qadhi iyadh berkata, “Diantara masalah yang tidak menimbulkan perselisihan paham ialah perkataan ulama yang menyatakan kalau makmum mengangkat kepalanya dari sujud pertama sebelum imamnya karena menyangka bahwa imamnya sudah mengangkatnya, lalu dia (makmum) melakukan sujud yang kedua karena menyangka bahwa imam mengerjakan sujud yang kedua, namun kemudian ternyata bahwa imam itu masih pada sujud pertama, maka duduk dan sujudnya yang kedua tidak dihitung. Kalau ia tidak mengetahui hal itu (yakni ia mendahului imamnya), maka dia harus mengikuti imamnya. Kecuali kalau imam sedang berdiri atau duduk, maka ia harus menambah satu rakaat sesudah imamnya salam.

Kecuali mengerjakan fardu (yaitu kalau lupa mengerjakan sunat ab’adh, lalu ia ingat ketika mengerjakan rukun) kalau ia bukan makmum yang belum mengerjakan fardu (misalnya belum menaruh anggota sujudnya bagi seseorang yang lupa membaca doa qunut, maka orang yang terlupa itu sunat kembali lagi sebelum berdiri tegak (dari sujudnya untuk tasyahud awal). Atau sebelum meletakkan dahinya (ke tempat sujud dari i’tidal untuk doa qunut), kemudian sujud sahwi, kalau sudah dekat berdiri, sebagaimana gambaran meninggalkan tasyahud awal; atau sampai ke batas rukuk, sebagaimana gambaran meninggalkan membaca doa qunut.

Apabila selain makmum menyengaja meninggalkan sunat ab’adh, lalu mengulanginya dengan sengaja serta ia mengetahui hukumnya, maka shalatnya batal bila sudah dekat pada batas rukuk (bagi orang yang sengaja meninggalkan doa qunut) atau sampai pada batas berdiri (bagi yang meninggalkan tasyahud awal). Berbeda kalau ia bermakmum (disunatkan kembali membaca doa qunut atau tasyahud awal sebab ia harus mengikuti imam).

Inilah Sunnah-Sunnah Ab’adh Dalam Ibadah Shalat

Dibawah ini akan dijelaskan secara rinci tentang sunat-sunat ab’adh yang ada di dalam shalat.

Sunat-sunat ab’adh yang ada dalam shalat adalah:

  1. Tasyahud awal, yakni yang wajib dibaca dalam tasyahud akhir atau sebagiannya, walaupun satu kalimat (Nabi saw pernah meninggalkan tasyahud awal karena lupa, lalu beliau sujud sahwi sebelum membaca salam).
  2. Duduk ketika membaca tasyahud awal. Sebagai gambaran meninggalkan duduk itu ialah seperti meninggalkan berdiri ketika membaca doa qunut, tidak benar membaca tasyahud atau qunut, sebab disunatkan harus sambil duduk dan berdiri seukuran membaca tasyahud dan doa qunut. Apabila meninggalkan salah satunya, hendaklah melakukan sujud sahwi.
  3. Qunut ratib atau sebagiannya, yaitu doa qunut subuh dan doa qunut shalat witir pertengahan kedua bulan ramadhan, namun bukan qunut nazilah. Sebagaimana riwayat Ahmda dan Daruquthni, “Sesungguhnya Rasulullah saw qunut sebulan lamanya sesudah rukuk untuk mendoakan segolongan bangsa Arab (sahabatnya yang gugur), lalu beliau meninggalkan qunut itu. Adapun pada shalat subuh, beliau tidka henti-hentinya qunut sampai beliau wafat.’
  4. Berdiri untuk membaca doa qunut. Sunat sujud sahwi bagi orang yang; a. Tidak berdoa qunut karena bermakmum kepada imam yang bermazhab Hanafi (yang tidak menyunatkan qunut subuh), atau b. Bermakmum salat subuh kepada orang yang shalat sunat subuh, menurut kaul yang termasyhur dalam kedua masalah ini.
  5. Membaca shalawat kepada Nabi saw sesudah tasyahud awal dan doa qunut.
  6. Membaca shalawat kepada keluarga Nabi saw sesudah tasyahud akhir dan doa qunut. Gambarana sujud sahwi karena meninggalkan bacaan shalawat kepada keluarga Nabi saw ketika tasyahud akhir yaitu, meyakinkan bahwa imamnya tidak memaca shalawat kepada keluarga Nabi saw ketika tasyahud akhir sesudah imamnya membaca salam, sedangkan ia (makmum) belum bersalam atau sesudah salam, namun pisahnya belum lama berselang.

Sunat-sunat di atas disebut sunat ab’adh , sebab derajatnya mendekati rukun, sehingga apabila tertinggal harus sujud sahwi (kalau rukun, harus diulang)

  1. Ragu-ragu meninggalkan sebagian sunat ab’adh yang disebut tadi, misalnya doa qunut, apakah sudah mengerjakan atau belum, sebab asalnya belum mengerjakannya.
  2. Sunat mengerjakan sujud sahwi karena memindahkan rukun qauly yang tidak membatalkan shalat, memindahkannya ke lain tempatnya walaupun karena lupa, baik itu rukun qauly, misalnya Fatihah, tasyahud, sebagian dari Fatihah atau tasyahud, ataupun bukan rukun, misalnya membaca surat selain waktu berdiri; atau doa qunut sebelum rukuk atau sesudah rukuk pada shalat witir selain pertengahan kedua bulan ramadhan, maka bersujud sahwilah karena perbuatan itu.
  3. Lupa mengerjakan perkara yang membatalkan shalat bila dengan sengaja, namun tidak membatalkannya karena (benar-benar) lupa, misalnya memanjangkan rukun yang pendek, berbicara barang sepatah kata (selain bacaan shalat), atau menambah rukun fi’ly. Nabi saw pernah shalat lohor lima rakaat,lalu beliau sujud sahwi. Shalat lainnya di qiyas kan pada hadis ini.
  4. Timbul keraguan sewaktu shalat, misalnya jumlah rakaatnya (salat lohor lima rakaat misalnya). Jika ternyata jumlah rakaatnya lebih, maka sujud sahwinya itu karena kelebihan jumlah rakaat; kalau bukan karena lebih, maka sujud sahwinya itu karena ragu, dan hal ini menunjukkan kelemahan niatnya.

Inilah Amalan atau Perbuatan Sunnah Dalam Shalat

Sunat membaca doa diawali dengan hamdalah dan shalawat serta mengangkat kedua tangan

Mengeraskan suara ketika berzikir dan berdoa di masjid secara berlebihan, sekira dapat menimbulkan keraguan kepada orang yang sedang shalat, maka sepantasnya diharamkan.

Disunatkan mulai berdoa dengan membaca hamdalah, shalawat kepada Nabi saw, demikian pula mengakhirinya, dan membaca amin.

Makmum yang mendengar doa imamnya disunatkan membaca amin, walaupun dia hafal doa itu.

Disunatkan mengangkat kedua tangannya seukuran kedua pundaknya, serta mengusap muka dengan kedua tangannyasesudah berdoa.

Disunatkan menghadap kiblat ketika zikir dan berdoa, baik munfarid ataupun berjamaah.

Apabila imam tidak berdiri (untuk pindah) dari tempat shalatnya, karena hal itu dipandang utama baginya, maka yang lebih utama yaitu menjadikan sebelah kanannya ke arah makmum dan sebelah kirinya ke arah kiblat.

Nabi saw bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu berdoa, mulailah dengan mengagungkan Tuhannya Yang Maha Suci dan memuji-Nya, lalu membaca shalawat kepada Nabi saw, kemudian berdoa sekehendaknya.” (Riwayat Abu Daud)

Pujian yang paling lengkap adalah: Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiina hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi ‘alaa kulli haalin hamdan yuwaafii ni’amahu wayukaafii-u maziidahu yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa’adhiimi shulthaanika subhaanaka laa nuhshii tsanaa-an ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan pujian yang melimpah nan indah, yang diberkati-Nya segala sesuatu, puji yang memadai akan nikmat-nikmat-Nya dan yang mengimbangi akan tambahannya. Ya tuhan kami! Bagi-Mu segala puji, sebagaimana yang sesuai dengan keagungan Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu. Kami menyucikan-Mu dengan kesucian yang kami tidak mampu menghiting pujian atas-Mu. Sebagaimana Engkau memuji Dzat-Mu.

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Rabb-mu Dzat Yang Hidup lagi Pemurah. Ia merasa malu oleh hamba-Nya bila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan hampa (tiada dikabulkan).

 Hikmah mengangkat tangan ketika berdoa dan berpindah tempat dari satu shalat ke shalat lainnya

Sayyidina Umar berkata, “Ketika Nabi saw mengangkat kedua tangannya kala berdoa, beliau tidak mengembalikannya sehingga mengusapkan mukanya lebih dahulu dengan kedua tangannya itu.” (Riwayat Abu Daud dan Turmudzi)

Apabila dalam keadaan genting, Nabi saw berdoa sambil mengangkat kedua tangannya lebih tinggi daripada meluruskannya dengan pundaknya, seperti ketika beliau berdoa pada waktu istisqa’, sampai terlihat ketiaknya. (Riwayat Muslim)

Hikmah mengangkat tangan adalah, bagian atas itu merupakan kiblatnya doa, tempat turunnya rezeki, tempat turun wahyu, tempat rahmat dan keberkahan Allah.

Berpalingnya imam (dari tempat shalatnya) tidak menggugurkan sunat zikir sesudah shalat, karena ia dapat mengerjakan zikir pada tempat yang dipindahi itu. Tidak gugur sunat zikir itu dengan mengerjakan sunat rawatib. Sesungguhnya yang gugur karena mengerjakan shalat sunat rawatib itu hanyalah keutamaan zikirnya.

Perkataan ulama itu bertujuan bahwa pahala zikir bisa diperoleh walaupun tidak memahami maknanya. Imam Asnawi menanggapi pendapat tersebut, bahwa hal itu tidak dapat disamakan dengan membaca Quran karena lafaznya dimaksudkan untuk ibadah. Oleh karena itu, pembacanya mendapat pahala meskipun tidak mengerti maknanya. Berbeda dengan zikir, harus mengerti maknanya, walaupun hanya garis besarnya (seperti Alhamdulillah, untuk memuji, dan yang lainnya).

Ketika shalat fardu atau sunat, disunatkan berpindah tempat dari suatu tempat shalat ke tempat lainnya, supaya tempat-tempat itu menjadi saksi baginya di akhirat nanti, sekira tidak bertentangan dengan keutamaan, misalnya di barisan pertama (kalau berpindah tempat ke baris belakangnya, maka tidak suant perpindahannya). Kalau tidak pindah, maka pisahlah dengan berbicara kepada orang lain (bukan soal ibadah wirid, sebab Nabi saw melarang menyambung satu macam shalat dengan shalat lain kecuali sesudah berbicara atau keluar) (Riwayat Muslim)

Shalat sunat di rumah lebih utama daripada di masjid serta disunatkan shalat menghadap ke dinding (pembatas)

Mengerjakan shalat sunat di rumah lebih utama (daripada di masjid) kecuali bagi orang yang i’tikaf, sekira tidak khawatir kehabisan waktu atau tidak terlalaikan atau terlupakan, kecuali salat sunat seseorang yang pergi ke masjid pagi-pagi untuk shalat jumat, salat yang disunatkan berjamaah (misalnya tarawih dan sebagainya), atau salat yang warid dari Nabi saw dikerjakan di masjid, misalnya shalat dhuha.

Makmum disunatkan berpindah tempat sesudah imamnya pindah, sabda Nabi saw, “Hai manusia, salatlah di rumah-rumahmu!sesungguhnya salat yang utama ialah salat seseorang di rumahnya, kecuali salah fardu.”

Orang yang mengerjakan shalat disunatkan menghadap ke sejenis dinding atau tiang, yaitu dari setiap barang yang tingginya 2/3 hasta atau lebih, dan jarak antara barang dengan tumit orang yang shalat adalah 3 hasta atau kurang sedikit. apabila tidak bisa demikian, maka dengan sejenis tongkat yang ditancapkan seperti (tumpukan) barang. Kalaupun tidak mendapatkan barang semacam tersebut, sunat menghamparkan sajadah sebagai tempat shalat.

Kemudian jika tidak mendapatkan semua itu, buatlah garis di depannya seukuran 3 hasa, melebar atau memanjang (1 hasta = 46, 2 cm); itulah yang lebih utama, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, “Apabila seseorang di antara kamu shalat, maka letakkanlah sesuatu di depannya. Kalau tidak mendapatkan, maka tancapkanlah tongkat. Kalau tidak ada tongkat, buatlah garis, kemudian tidak akan mudarat semua yang lewat di depannya.”

Di qiyaskan pada garis ialah tempat shalat (sajadah). Membuat garis harus didahulukan, sebab tempat shalat itu lebih jelas tujuannya dan tertib. Yang disebutkan tadi adalah yang mu’tamad. Berbeda dengan pendapat Syeikh Ibnu Muqri yang mempunyai anggapan (tidak unat memelihara tertib tersebut).

Haram lewat di depan orang shalat yang memakai tabir dan keutamaan shalat di masjid Nabi saw serta Masjidil Haram

Apabila berpindah ke tingkatan tertib yang lebih rendah, sedangkan ia bisa melaksanakan tingkatan tertib itu, maka dianggap tidak ada (dianggap tidak memakai penutup). Disunatkan tidak menaruh batas (penutup) tepat di mukanya, bahkan sebaiknya di sebelah kanan atau kirinya.

Setiap jajaran merupakan tabir bagi orang-orang yang berada di belakangnya kalau mereka berdekatan. Imam Baghawi berkata, “Tabir imam berarti tabir bagi orang-orang yang berada di belakangnya.”

Jika terjadi perselisihan antara memakai tabir dan dekat imam atau di baris pertama, maka manakah yang harus didahulukan? (apakah memakai penutup, tabir, tetapi jauh dari imam, atau dekat dengan imam tanpa penutup?)  semuanya pantas, zhahirnya adalah perkataan ulama, “Dahulukanlah baris pertama di masjid Nabi saw (meskipun tanpa penutup) yang di nash dengan dilipatgandakan pahalanya; jika di luar masjid Nabi saw, lebih baik mendahulukan baris pertama dan dekat dengan imam.”

Sabda Nabi saw, “Shalat di masjidku ini lebih baik daripada 1000 kali shalat di selain masjidku, kecuali Masjidil Haram.” (kalau di Masjidil Haram dilipatgandakan 100 ribu kali)

Apabila shalat memakai sesuatu sebagai tabir, maka disunatkan baginya dan orang lain menolak orang yang lewat pada daerah di antara orang yang shalat dengan tabir yang memenuhi syarat, sebab jika yang melewatinya adalah seseorang yang mukallaf, sungguh melampaui batas.

Sabda Nabi saw, “Apabila seseorang diantara kamu shalat dekat sesuatu yang menjadi tabir manusia, tiba-tiba ada seseorang yang lewat di belakangnya, tolaklah orang itu. Kalau ia membangkang, bunuhlah! Sesungguhnya dia itu adalah setan.” (Riwayat Bukhari).

Haram lewat di antara orang-orang yang sedang shalat dengan memakai tabir seukuran disunatkan baginya untuk menolak. Kalau yang akan lewat tidak mendapatkan jalan, maka diperbolehkan menerobos barisan, meskipun banyak, selama orang yang shalat itu tidak lalai, misalnya ia mengerjakan shalat di jalan, atau baris di depannya masih kosong, sehingga ia menempati (mengisi) kekosongan itu.

Sabda Nabi saw, “Seandainya seseorang mengetahui bahwa lewat di depan orang yang shalat adalah dosa, tentu lebih baik baginya menunggu hingga 40 tahun daripada melewatinya.” (Riwayat bukhari dan Muslim)

Hukum Lewat Didepan Orang Yang Sedang Shalat

Apabila berpindah ke tingkatan tertib yang lebih rendah, sedangkan ia bisa melaksanakan tingkatan tertib itu, maka dianggap tidak ada (dianggap tidak memakai penutup). Disunatkan tidak menaruh batas (penutup) tepat di mukanya, bahkan sebaiknya di sebelah kanan atau kirinya.

Setiap jajaran merupakan tabir bagi orang-orang yang berada di belakangnya kalau mereka berdekatan. Imam Baghawi berkata, “Tabir imam berarti tabir bagi orang-orang yang berada di belakangnya.”

Jika terjadi perselisihan antara memakai tabir dan dekat imam atau di baris pertama, maka manakah yang harus didahulukan? (apakah memakai penutup, tabir, tetapi jauh dari imam, atau dekat dengan imam tanpa penutup?)  semuanya pantas, zhahirnya adalah perkataan ulama, “Dahulukanlah baris pertama di masjid Nabi saw (meskipun tanpa penutup) yang di nash dengan dilipatgandakan pahalanya; jika di luar masjid Nabi saw, lebih baik mendahulukan baris pertama dan dekat dengan imam.”

Sabda Nabi saw, “Shalat di masjidku ini lebih baik daripada 1000 kali shalat di selain masjidku, kecuali Masjidil Haram.” (kalau di Masjidil Haram dilipatgandakan 100 ribu kali)

Apabila shalat memakai sesuatu sebagai tabir, maka disunatkan baginya dan orang lain menolak orang yang lewat pada daerah di antara orang yang shalat dengan tabir yang memenuhi syarat, sebab jika yang melewatinya adalah seseorang yang mukallaf, sungguh melampaui batas.

Sabda Nabi saw, “Apabila seseorang diantara kamu shalat dekat sesuatu yang menjadi tabir manusia, tiba-tiba ada seseorang yang lewat di belakangnya, tolaklah orang itu. Kalau ia membangkang, bunuhlah! Sesungguhnya dia itu adalah setan.” (Riwayat Bukhari).

Haram lewat di antara orang-orang yang sedang shalat dengan memakai tabir seukuran disunatkan baginya untuk menolak. Kalau yang akan lewat tidak mendapatkan jalan, maka diperbolehkan menerobos barisan, meskipun banyak, selama orang yang shalat itu tidak lalai, misalnya ia mengerjakan shalat di jalan, atau baris di depannya masih kosong, sehingga ia menempati (mengisi) kekosongan itu.

Sabda Nabi saw, “Seandainya seseorang mengetahui bahwa lewat di depan orang yang shalat adalah dosa, tentu lebih baik baginya menunggu hingga 40 tahun daripada melewatinya.” (Riwayat bukhari dan Muslim)