Hukum bersumpah dengan Demi Allah

Termasuk kalimat buruk lagi tercela ialah apa yang bisa dilakukan oleh kebanyakan orang bila seseorang hendak melakukan sumpah terhadap sesuatu hal, lalu ia tidak mau mengucapkan kata wallaahi, karena khawatir bila sumpah dilanggarnya atau demi mengagungkan Allah swt, dan menghindari sumpah lalu ia berkata, “Allah mengetahui bahwa tidak akan terjadi seperti sekarang atau terjadi seperti sekarang ini,” atau yang semakna. Ungkapan ini mengandung bahaya; jika pelakunya meyakini bahwa perkara yang dimaksud seperti apa yang diucapkannya, maka tidak apa-apa. Tetapi jika meragukan, maka hal ini termasuk perkataan paling buruk, karena secara tidak langsung berarti ia telah melakukan kedustaan terhadap Allah swt. dia menceritakan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang ia sendiri tidak meyakini bagaimana kejadiannya.

Di dalam ungkapan ini terkandung keburukan lain yang lebih parah lagi, yaitu bahwa dia (orang yang bersangkutan) menggambarkan keadaan Allah swt, bahwa Dia mengetahui suatu perkara yang berbeda dengan kejadiannya. Hal tersebut bila benar-benar terbukti, maka dia akan menjadi kafir. Untuk itu, seseorang dianjurkan menjauhi ucapan itu.

Kalimat yang makruh diucapkan ketika berdoa

Makruh mengucapkan kalimat berikut dalam doa, “Ya Allah, ampunilah daku jika Engkau menghendaki, atau jika Engkau berkenan,” tetapi ia harus memastikan permohonannya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah, yang menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Jangan sekali-kali seseorang diantara kalian mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah daku jika Engkau berkenan. Ya Allah, rahmatilah daku jika Engkau berkenan.” Hendaklah ia memastikan permohonannya, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang memaksa-Nya.

Di dalam riwayat lain disebutkan seperti berikut:

Tetapi hendaklah ia memastikan permintaannya dan memperbesar harapannya, karena sesungguhnya Allah tidak merasa keberatan dengan sesuatu pun yang Dia berikan.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Anas, yang menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

Apabila seseorang diantara kalian berdoa, hendaklah ia memastikan permintaannya, dan jangan sekali-kali mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau berkenan, berilah aku,” karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang memaksa-Nya.

Hukum Bersumpah dengan nama selain Allah

Makruh bersumpah dengan selain nama Allah swt, dan sifat-sifat-Nya, sama saja apakah dengan nama Nabi Muhammad saw, Ka’bah, malaikat, amanat, kehidupan, roh, dan lain sebagainya. tetapi yang paling dimakruhkan ialah bersumpah dengan memakai nama amanat.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah melarang kalian melakukan sumpah dengan menyebut nama bapak-bapak kalian. Maka barang siapa yang bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan menyebut nama Allah atau diam.

Dalam riwayat lain disebutkan seperti berikut:

Maka barang siapa yang bersumpah, janganlah ia bersumpah melainkan dengan nama Allah atau diam.

Diriwayatkan tentang larangan bersumpah dengan menyebut nama amanat dalam hadis cukup banyak jumlahnya lagi mengandung makna yang keras. Diantaranya ialah di dalam Sunan Abu Daud dengan sanad yang sahih melalui Buraidah, yang menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Barang siapa yang bersumpah dengan menyebut nama amanat, maka dia bukan termasuk golongan kami.

Makruh apabila banyak mengucapkan kata-kata sumpah dalam jual beli dan lain sebagainya, sekalipun orang yang bersangkutan benar.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Abu Qatadah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda:

Hati-hatilah terhadap perbuatan banyak bersumpah dalam jual beli, karena sesungguhnya hal itu memang melariskan dagangan, tetapi menghapuskan berkah.

Ungkapan menolak sumpah

Sikap membangkang tidak mau bersumpah diungkapkan dengan kata-kata berikut, “Aku menolak bersumpah.” Atau ketika kadi berkata kepadanya, “Bersumpahlah,” ia menjawab, “Aku tidak mau bersumpah.”

Sumpah yang tertolak ialah sumpah yang diucapkan oleh pendakwa sesudah terdakwa menolak tidak mau bersumpah. Kedudukan sumpah yang tertolak (oleh terdakwa ini) kedudukannya sama dengan pengakuan dari terdakwa itu sendiri, tetapi bukan sebagai bukti (yang memberatkan terdakwa).

Seandainya tertuduh dapat mengemukakan bukti sesudah dia menolak bersumpah, yakni bukti yang menyatakan bahwa dia telah membayar utang atau telah dibebaskan oleh pendakwa sendiri, maka buktinya itu tidak dapat diterima, mengingat dia (terdakwa) telah menolak tidak mau bersumpah, yang hal ini berarti sama kedudukannya dengan mengaku. Tetapi Imam Rafi’i dan Imam Nawawi dalam suatu pembahasannya mengatakan bahwa bukti terdakwa dapat didengar (diterima).

Al Asnawi membenarkan pendapat pertama, sedangkan Al Bulqini membenarkan pendapat kedua.

Kifarat melanggar sumpah

Membyar kifarat melanggar sumpah diperbolehkan memilih salah satu di antara alternatif memerdekakan budak seutuhnya lagi mukmin tanpa cacat yang mengurangi prestasi kerjanya atau usahanya, sekalipu budak yang dimaksud sedang tidak ada di tempat, tetapi diketahui masih hidup.

Atau memberi makan sepuluh orang miskin, setiap orang sebanyak satu mud biji-bijian dari makanan pokok negeri yang bersangkutan.

Atau memberi mereka sandang yang menurut tradisi dinamakan pakaian, misalnya baju gamis atau kain atau kerudung atau telekung atau sapu tangan, baik yang digunakan di tangan ataupun di lengan, tetapi bukan khuff (kaos kaki dari kulit).

Jika orang yang bersangkutan tidak mampu mmebayar kifarat (denda) yang tiga macam itu, maka dia harus melakukan puasa selama tiga hari (sebagai gantinya). Dalam hal ini tidak wajib melakukannya secara berturut-turut, lain halnya menurut kebanyakan ulama yang berpendapat berbeda (yakni harus berturut-turut selama tiga hari).

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Ayat yang sunat dibacakan terhadap orang yang akan bersumpah

Disunatkan hendaknya dibacakan surat Ali Imran terhadap orang yang akan bersumpah, yaitu firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit” (Ali Imran ayat 77). Hendaknya diletakkan mush-haf Al Qur’an di atas pangkuannya.

Seandainya seseorang yang bersumpah hanya mengucapkan kalimat Wallaahi (demi Allah) dalam sumpahnya, itu sudah cukup.

Dalam masalah bersumpah, niat hakim yang menyumpah dimasukkan ke dalam pertimbangan. Maka dosa sumpah yang dusta tidak dapat tertolak hanya dengan ber-tauriyah, umpamanya memakai kata “kecuali” yang tidak didengar oleh hakim penyumpah, jika lawan perkaranya tidak berbuat aniaya terhadap diri tersumpah. Dengan kata lain,  jika lawan perkara tersumpah berlaku aniaya, maka tersumpah tidak berdosa. Demikianlah penelitian yang dilakukan oleh Al Bulqini.

Penggunaan ungkapan tauriyah

Orang yang dianiaya oleh lawan perkaranya dalam suatu kasus, umpamanya dia mendakwa terhadap orang yang kesulitan, lalu orang terdakwa yang dalam kesulitan itu mengatakan, “Engkau tidak mempunyai suatu hak pun pada diriku,” tetapi dengan niat bahwa dia masih belum dapat mengembalikan barang tersebut di waktu sekarang kepadanya. Dalam kasus seperti ini memakai ungkapan tauriyah dan yang mengandung interpretasi dapat bermanfaat, mengingat lawan perkaranya bertindak aniaya jika dia mengetahui bahwa dirinya sedang kesulitan, atau keliru karena belum mengetahui keadaannya yang sedang kesulitan.

Bersumpah tanpa diminta atau disumpah oleh selain hakim

Seandainya seseorang bersumpah tanpa diminta atau dia disumpah oleh selain hakim, maka niat tersumpah dapat dianggap, dan ungkapan tayriyah dapat dipakai sekalipun hukumnya haram, jika yang dimaksud adalah untuk membatalkan hak orang yang menjadi lawan perkaranya.

Sumpah dapat memutuskan persengketaan seketika itu juga, tetapi bukan masalah hak. Karena itu, tanggungan tersumpah tetap belum terlunasi jika dia berdusta dalam sumpahnya.

Seandainya kadi menyumpah terdakwa, setelah itu pendakwa dapat mengemukakan bukti yang memperkuat dakwaannya terhadap terdakwa, maka bukti itu dijadikan sebagai pegangan memutuskan hukum. Perihalnya sama dengan kasus seandainya lawan perkara mengakui kesalahannya sesudah ia bersumpah.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Hukum bersumpah

Bersumpah hukumnya makruh kecuali dalam bai’at (janji setia) untuk jihad serta menganjurkan kebajikan dan kejujuran dalam masalah-masalah dakwaan.

Sumpah yang wajib dan sunat dilanggar

Seandainya seseorang bersumpah akan meninggalkan hal yang wajib atau mengerjakan hal yang haram, maka ia diharuskan melanggar sumpahnya dan membayar kifarat (karena melanggar sumpah).

Atau ia bersumpah meninggalkan hal yang sunat atau akan mengerjakan hal yang makruh, maka ia disunatkan melanggar sumpahnya dan membayar kifarat.

Atau dia bersumpah akan meninggalkan hal yang diperbolehkan atau akan melakukannya, umpamanya memasuki sebuah rumah atau memakan suatu makanan; contohnya, “Aku tidak akan memakannya.” Maka hal yang lebih utama hendaknya dia jangan melanggar sumpah, demi mengagungkan asma Allah.

Sunat memperberat sumpah terdakwa dan pendakwa

Disunatkan memperberat pendakwa dan terdakwa dalam sumpahnya, sekalipun tidak diminta oleh lawan perkaranya, yaitu dalam masalah nikah, talak, rujuk, status merdeka, wakalah (perwakilan), dan dalam masalah uang yang jumlahnya mencapai tidak kurang dua puluh dinar darinya, sebab jumlah uang yang kurang dari itu menurut pensyarah dianggap kecil.

Tetapi dibenarkan jika hakim melihat adanya gejala kekurangajaran dari tersumpah, hakim boleh memberatkan sumpah terhadapnya.

Memberatkan sumpah adakalanya dikaitkan dengan waktu, yaitu sesudah Asar, dan lebih utama lagi jika sesudah Asar hari jumat; atau adakalanya dikaitkan dengan tempat, yaitu untuk kaum muslim dilakukan di sisi mimbar, tetapi naik ke atas mimbar lebih utama. Selain itu dalam sumpah yang berat ditambahkan penyebutan asma dan sifat Allah (yakni bukan hanya sekali saja).

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Ucapan yang tidak termasuk sumpah

Seandainya seseorang mengatakan, “Jika aku melakukan anu, maka aku adalah orang Yahudi atau Nasrani,” hal ini bukan sumpah namanya karena tidak mengandung nama atau sifat Allah swt, dan pelakunya tidak dikenakan kifarat jika melanggarnya.

Memang hal seperti ini haram, sama dengan sumpah yang diharamkan lainnya, tetapi yang bersangkutan tidak kufur. Bahkan sekalipun maksudnya adalah untuk menjauhi hal yang disumpahkannya agar dirinya tidak terjerumus ke dalamnya atau memutlakkannya, hukumnya tetap haram, dan dia wajib bertobat.

Jika dia memang berniat menggantunkannya atau rela dengan hal itu bila mengerjakannya, maka dia menjadi kufur ketika itu juga.

Dalam hal tidak mengufurkan, orang yang bersangkutan disunatkan beristighfar meminta ampun kepada Allah swt, dan mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullaah. Sedangkan menurut penulis kitab Al Istiqsha, hal tersebut diwajibkan.

Mengucapkan kata-kata sumpah tanpa sengaja

Barang siapa lisannya terlanjur mengucapkan kata-kata sumpah tanpa sengaja, umpamanya Laa Wallaahi dan Balaa Wallaahi, ketika sedang emosi atau menyambungkan pembicaraan, maka sumpahnya tidak jadi.

Demikianlah penjelasan dari kami tentang ucapan yang tidak termasuk sumpah, semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat, amin.

Serta semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah swt, dijauhkan dari godaan setan, dan mendapatkan ridha Allah.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani