Apakah Penyebab Sujud Sahwi Harus Dilakukan

Sunat itu ada yang namanya sunat ab’ad dan ada sunat haeat. Sunat ab’ad adalah perkara-perkara pekerjaan yang ada didalam sholat yang penting dilakukannya, sehingga kalau ditingggalkan maka harus ditambal/diganti dengan sujud sahwi, yaitu sujud sebelum salam dengan 2 kali sujud serta membaca Subhaana man laayanaamu walaa yashuu.

Sebab-sebab yang mengharuskan melakukan sujud sahwi, baik di sholat fardhu maupun di sholat sunat ada 4, yaitu :

  1. Meningggalkan sebagian dari sunat ab’ad sholat yang 7 macam, walupun disengaja, atau meninggalkan sebagian dari sebagiannya sunat ab’ad, seperti tinggalnya sebagian qunut.
  2. Mengerjakan yang membatalkan apabila disengaja, tetapi tidak batal kalau lupa. Kalau dikerjakan dengan lupa seperti nambahin roka’at dan yang lainnya.
  3. Memindahkan sebangsa ucapan ke lain tempatnya, seperti membaca fatihah ketika duduk atau sebagian dari ayat fatihah dengan niat qiro’ah, kecuali membaca tashih, itu tidak diharuskan sujud sahwi. Walaupun niat ke tasbih karena sholat , itu nerima ke tasbih.
  4. Meletakkan rukun sebangsa pekerjaan serta pantas tambah-tambahnya, misalkan kita melakukan sholat yang 4 roka’at, menurut perasaan kita 3 atau 4 (was was), terus ditambahin 1 roka’at, berarti berdiri nya itu untuk yang kelima roka’atnya, nah itu wajib balik lagi duduk serta sunat sujud sahwi sebelum salam.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Sebab-Sebab Sujud Sahwi

Sujud sahwi merupakan dua sujud yang dilakukan oleh orang yang shalat untuk menggantikan kesalahan yang terjadi di dalam shalatnya karena lupa (sahw).

Sujud sahwi

Yang menyebabkan dilakukannya sujud sahwi itu akan dijelaskan di bawah ini:

Sujud sahwi dilakukan karena Meninggalkan satu atau sebagian sunat ab’ad

Sunat ab’ad ialah sunat shalat yang apabila ditinggalkan harus diganti dengan sujud sahwi. Oleh karena itu apabila seseorang meninggalkan salah satu atau sebagian sunat ab’ad karena lupa, maka wajib baginya melakukansujud sahwi.

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim

Dari Abdillah bin Buhaenah, sesungguhnya Rasulullah berdiri ketika shalat dzuhur, wajib baginya duduk tasyahud awal (tetapi Nabi tidak melakukannya). Tatkala shalat telah sempurna, beliau sujud dua kali dan takbir pada masing-masing sujud itu sambil duduk, (sujud dilakukan) sebelum beliau salam. Para sahabat melakukan sujud bersama Nabi sebagai pengganti tasyahud awal yang tidak dikerjakan.

Hadis ini menjelaskan tasri’ sujud sahwi karena lupa mengerjakan tasyahud awal.

Di samping hadits di atas, kewajiban melakukan tasyahud awal juga diperkuat oleh hadits riwayat Ahmad:

“Apabila salah seorang di antara kamu berdiri dari dua rakaat tetapi belum sempurna, maka hendaklah ia duduk kembali, dan apabila ia sudah berdiri tegak, maka janganlah ia duduk, tapi hendaklah ia melakukan sujud sahwi dua kali.”

Mengenai kewajiban mengerjakan sujud sahwi karena lupa melakukan sunat ab’ad yang lain, adalah ditetapkan melalui perjalanan qias, yaitu diqiaskan kepada tasyahud awal.

Sujud sahwi dilakukan bila melakukan sesuatu yang dapat membatalkan shalat apabila dilakukan dengan sengaja.

Tetapi tidak membatalkan apabila dilakukan karena lupa (tidak sengaja) seperti mengadakan rukun fi’liyi.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasulullah melakukan shalat pada suatu hari (shalat dzuhur atau ashar), beliau (mengucapkan) salam pada dua rakaat kedua, kemudian beliau mendekati tiang dan bersandar di sana, orang-orangnya pun keluar secara tergesa-gesa, kemudian sahabat Dzul Yaden berdiri lalu berkata, “Ya Rasul, apakah shalat ini di qashar atau engkau lupa?” Rasul melirik ke kiri dan ke kanan kemudian beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Dzul Yaden itu?” para sahabat menjawab, “Benar, ya Rasulullah, engkau tidak melakukan shalat kecuali dua rakaat.” Kemudian Rasul melanjutkan shalat dua rakaat dan memberi salam, Kemudian Rasul melanjutkan shalat dua rakaat dan memberi salam, kemudian takbir, sujud, takbir, bangun, takbir, sujud dan bangun kembali.

Hadits riwayat Bukhari Muslim:

Bahwa Rasulullah mengerjakan shalat dzuhur lima rakaat, kemudian Nabi ditanya, “Apakah shalat itu ditambah (rakaatnya)?” beliau menjawab, “tidak” Apa yang dimaksud itu? Para sahabat menjawab, “Engkau telah melakukan shalat lima rakaat,” kemudian beliau melakukan sujud sahwi.

Sujud sahwi dilakukan bila memindahkan rukun qauli (rukun yang diucapkan)

Hal ini seperti membaca Fatihah ketika duduk dan membaca tasyahud ketika berdiri.

Sujud sahwi dilakukan bila melakukan rukun fi’liyi (rukun yang dikerjakan) dengan kemungkinan menambah rukun atau disertai keragu-raguan

Misalnya si mushali ragu-ragu apakah shalat itu baru 3 rakaat atau sudah empat rakaat. Dalam keadaan demikian, hendaknya si mushali mengambil hitungan yang diyakini yaitu 3 rakaat, kemudian ia meneruskan shalatnya dan sebelum ia membaca salam disunahkan baginya melakukan sujud sahwi dua kali.

“Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, hingga dia tidak mengetahui jumlah rakaat yang telah dikerjakan, tiga atau empat, maka hendaklah ia menghilangkan keragu-raguan itu dengan menetapkan hitungan yang diyakininya, kemudian sujud dua kali (sujud sahwi) sebelum salam.” (HR Nasa’i)

Dari Abu Sa’id Al Khudry, dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu tidak mengetahui berapa rakaat yang telah ia lakukan tiga atau empat? Maka teruskanlah shalat itu satu rakaat lagi, setelah itu sujudlah dua kali sambil duduk. Apabila shalat itu lima rakaat (dalam kenyataannya) maka dua sujud itu untuk menghinakan setan.”

Jelaskan Tata Cara Sujud Sahwi Bila Ragu Dalam Shalat

Imam sujud sesudah makmum muwafiq selesai dari taasyahud yang pendek, ia wajib mengikuti sujud imam atau (imam sujud) sebelum makmum menyelesaikan tasyahudnya yang pendek. Maka makmum itu wajib mengikuti imamnya, lalu menyempurnakan tasyahudnya.

Apabila sesudah salam timbul keraguan mengenai syarat yang cacat (tidak terpenuhi), atau tertinggal rukukn selain niat dan takbiratul ihram, maka kerauan itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Jika tidak demikian, akan menyulitkan dan masyaqat (membertatkan), sebab zhahirnya shalat telah dikerjakan dengan sah.

Menurut kaul mu’tamad, merasa ragu dalam niat dan takbiratul ihram, dapat mempengaruhi sahnya shalat. Berbeda dengan paham orang yang memperpanjang pembahasan dengan tidak membedakan (antara ragu dalam niat, takbiratul ihram, dan rukun lainnya).

Dikecualikan dari keraguan adalah kalau yakin telah meninggalkan pekerjaan fardu (rukun) yang teringat sesudah salam, maka ia wajib melanjutkan pekerjaan shalatnya (tidak memulai lagi) selama belum lama berpisah (antara shalat dan ingatnya); atau selama belum lama berpisah (antara shalat dan ingatnya); atau selama belum menginjak (menyentuh) najis (yang tidak dimaafkan) walaupun orang itu sudah membelakangi kiblat, sudah berbicara, atau sudah berjalan beberapa langkah.

Syeikh Zakariya berkata, “Walaupun ia sudah keluar dari masjid”.

Adapun rukun panjang atau pendeknya waktu pemisah, dikembalikan pada hukum adat. Menurut sebagian kaul, waktu yang singkat itu diperhitunnngkkkan pada ukuran yang telah dinukil dari Nabi saw dalam riwayat sahabat Dzulyadain, sedangkan waktu yang panjang diukur dengan tempo yang melebihi batas waktu itu.

Adapun kutipan dari hadis tersebut, bahwa Nabi saw pernah berdiri dari shalat, lalu berjalan melewati pelataran masjid, kemudian kembali menemui Dzul yadain dan bertanya kepada para sahabatnya.

Menurut riwayat Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah saw pernah shalat Lohor atau Asar bersama kami (para sahabat). Sesudah dua rakaat beliau salam, lalu pergi mengambil sebatang kayu di dekat masjid, beliau bertelekan padanya, tampaknya beliau sedang marah. Lalu Dzulyadain bertanya, “Apakah engkau shalat Qashar atau terlupa wahai Rasulullah?” (ia bertanya demikian karena Nabi saw hanya shalat 2 rakaat).

Lalu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabatnya, “Benarkah perkataan Dzulyadain itu?” jawab para sahabat, “betul”, kemudian beliau melanjutkan shalatnya dua rakaat lagi, lalu sujud sahwi.

Imam Rafii telah menceritakan berdasarkan keterangan dari Imam Buwaithi, bahwa waktu terpisah yang lama itu ialah yang melebihi ukuran satu rakaat. Pendapat ini diperkuat oleh Syeikh Abu Ishaq. Sedangkan Abu Hurairah r.a menyatakan bahwa ukuran lama ialah seukuran shalat yang dikerjakannya.

Harus bagaimanakah apabila lupa mengerjakan rukun shalat

Apabila ketika tasyahud makmum ingat bahwa ia tertinggal rukun selain niat dan takbiratul ihram, atau ia merasa ragu meninggalkan pekerjaan itu, maka ia harus menambah satu rakaat sesudah salam imamnya dan tidak usah sujud sahwi ketika ingat, sebeb kealpaannya itu terjadi ketika bermakmum. Hal iniberbeda dengan keraguan mengerjakan pekerjaan itu sesudah selesai bermakmum (misalnya makmum yang masbuq) dalam mengerjakan rakaat tambahan dengan dikira-kira (tetap sunat sujud sahwi, sebab sudah di luar tanggungan imamnya).

Oleh sebab itu, kalau seseorang merasa ragu menyusul rukuk imamnya, atau ia mendapatkan shalat beserta imam dengan sempurna atau kurang satu rakaat, maka tambahlah satu rakaat lagi lalu sujud sahwi. Hal tersebut karena adanya keraguan yang mengharuskan sujud sahwi sesudah bermakmum kepada imam.

Sujud sahwi gugur, kalau ia salam dengan sengaja, walaupun jaraknya masih dekat atau karena lupa yang sudah agak lama menurut adat (antara salam dan ingatnya). Apabila ia sujud sahwi, berarti ia mengulang shalatnya, maka ia wajib mengulang salamnya.

Apabila imam kembali shalat (sesudah salam karena lupa), maka makmum yang lupa wajib kembali shalat (beserta imamnya). Jika tidak kembali, maka shalatnya batal jika ia sengaja (tidak kembali) dan mengetahui bahwa hal itu adalah wajib.

Apabila masbuq berdiri (sesudah imam salam) utuk menyempurnakan shalat, maka ia wajib kembali duduk untuk sujud sahwi mengikuti imam, bila imam itu kembali sujud sahwi (sebab masih terikat).

Cara Mengingatkan atau Menegur Imam Yang Salah (Lupa) Dalam Shalat

Makmum disunatkan mengerjakan sujud 2 kali (sujud sahwi) karena imamnya yang suci melakukan kealpaan (ini gambaran bagi imam yang asalnya masbuq), walaupun kealpaannya itu sebelum ia bermakmum dan mufaraqah dari imam itu, atau shalat imam itu batal sesudah kealpaannya. Atau imam tidak mengerjakan sujud sahwi, maka makmumlah yang mengerjakan sujud itu setelah imam bersalam, sebab sujud sahwi itu dikerjakan dengan tujuan untuk menambal cacat yang terjadi dalam shalat imam. Ketika imam sujud, maka makmum masbuq dan muwafiq wajib mengikutinya, sekalipun dia tidak mengetahui bahwa imamnya pernah lupa.

Apabila tidak mengikuti imam, sedangkan ia mengerti dan hal itu disengajanya, maka shalatnya batal. Masbuq pun disunatkan mengulang sujud sahwi pada akhir shalat.

Tidak sunat mengerjakan sujud sahwi bagi makmum, selama bermakmum kepada imam, sebab kealpaan makmum itu ditanggung oleh imam yang suci, tidak berhadas, dan tidak mempunyai kotoran yang samar.

Sabda Nabi saw, “Imam itu menanggung” (Riwayat Abu Daud)

Kecuali bila kealpaannya itu terjadi sesudah imam salam (bagi masbuq), maka tidak ditanggung oleh imam, sebab sudah selesai bermakmumnya.

Apabila makmum menyangka bahwa imamnya sudah salam, lalu ia salam, ternyata sangkaannya itu salah, maka ia harus salam lagi sesudah imamnya; tidak usah sujud sahwi, sebab salamnya (yang pertama) itu karena lupa pada waktu bermakmum (ditanggung oleh imam).