Sifat Setan dan Sifat Hewan Yang Harus Ditinggalkan Manusia

Kita harus keluar dari sifat-sifat kemanusiaan, tegasnya sifat-sifat yang melawan terhadap sifat ke ‘abdi an, supaya bukti kita yang melaksanakan dan menjawab undangan Allah, dan supaya kita dekat dari hadrotillaah.

Penjelasan : bahwa sebenar-benarnya ‘abdi itu dihalangin dari melihat Allah. Sedangkan halangan/penghalang ruh dari ma’rifat ke Allah, itu perkara seperti yang tidak ada, yaitu sakit oleh sifat-sifat basariyyah, sehingga kalau sembuh maka terus bisa ma’rifat.

Dalam hikmah yang ini, penulis kitab, isyaroh terhadap jalannya untuk menghilangkan penghalangnya ruh. “kita jangan menjiwai terhadap macam-macam sifat yang melawan sifat ke ‘abdi an kita, yaitu harus keluar dari sifat-sifat (kembalinya) akhlaq hewan dan akhlaq setan. Akhlak yang balik menjadi akhlaq hewan yaitu syahwat perut, farji (seks) dan yang lainnya (hubbud dunya).

Akhlak yang keluar dari setan seperti takabur, hasud, suka terhadap keagungan, suka menjadi pemimpin, suka dipuji, senang mengagungkan yang kaya dan menghina yang fakir, atau takut fakir, bingung dengan rizki, pelit, riya, ‘ujub, dll.

Sifat-sifat yang keluar dari setan dan dari hewan di atas yang sering hinggap di manusia, oleh kita harus dijauhi. Sebab kita tidak akan bisa musahadah dan dekat dengan Allah, kalau kita tidak dapat menjiwai sifat ke ‘abdi an. Yaitu seperti memperlihatkan kelemahan dan kehinaan kita di hadapan Allah. Sedangkan sifat setan dan sifat hewan itu melawan sifat ke ‘abdi an. Maka selagi kita masih menjiwai sifat setan dan sifat hewan, maka bakal terhalang ruh kita dari ma’rifat ke Allah, sehingga tidak bisa dekat dengan Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah ketiga puluh empat )