Shalat Tarawih

Shalat tarawih bagi selain penduduk Madinah sebanyak 20 rakaat. Adapun penduduk Madinah karena mulianya berdekatan Rasulullah Saw mereka melakukan 36 rakaat, dengan menambah 16 rakaat di dalam mengimbangi thawafnya penduduk Makkah, empat kali tujuh putaran. Maka setiap kali istirahat dari shalat 20 rakaat tersebut bertawaf 7 kali putaran.

Imam Syafii berkata, “Shalat tarawih 20 rakaat itu lebih saya sukai bagi penduduk Madinah, dan wajib salam setiap 2 rakaat. Maka apabila salamnya melebihi dua rakaat karena tidak mengerti, shalat tersebut menjadi shalat sunah mutlak.

Orang yang akan melakukan salat tarawih hendaknya berniat shalat tarawih atau qiyam ramadhan. Shalat itu disebut tarawih sebab mereka istirahat sesudah setiap 2 rakaat karena lamanya berdiri dalam melakukan shalat itu. Demikian keterangan dalam kitab Tuhfah. Sedangkan Al Barmawi mengatakan, shalat tersebut dinamakan tarawih karena pada sahabat beristirahat sesudah setiap 4 rakaat dan mereka berthawaf pada saat itu dengan thawaf yang sempurna.

Setiap salat sunah itu mempunyai keutamaan atau fadilah dan balasan pahala yang besar di sisi Allah, tidak ada yang mengetahui besarnya pahala selain Allah.

Menurut Ibnu Hajar bahwa disyariatkannya salat sunah itu adalah sebagai penyempurna kekurangan shalat fardhu, bahkan di akhirat dapat menempati kedudukan shalat fardu yang tertinggal karena adanya halangan seperti lupa.

Rakaat Shalat Dhuha, Waktu dan Keutamaan Shalat Dhuha

Bilangan shalat dhuha paling sedikit ialah dua rakaat, dan paling banyak adalah 12 rakaat. Adapun yan paling utama adalah delapan rakaat. Berdasarkan hadis yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Bulughul Maram:

Dari A’isyah berkata, “Rasulullah Saw pernah masuk rumahku lalu beliau shalat dhuha delapan rakaat.” (Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya)

Shalat dhuha adalah shalat sunah yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik.

Waktu untuk mengerjakan shalat dhuha adalah kira-kira matahari sudah naik setinggi kurang lebih 7 hasta (pukul 7 sampai masuk waktu dzuhur)

Keutamaan shalat dhuha dijelaskan dalam berbagai hadist :

  1. Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh HR. Hakim dan Thabrani, dimana beliau bersabda : “Allah berfirman ‘Wahai anak adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (shalat dhuha) niscaya pasti akan aku cukupkan kebutuhan pada akhir harinya”
  2. Hadis yang diriwayatkan oleh H.R. Tirmiji dan Abu Majah, dimana Rasulullah bersabda “bahwa barang siapa shalat dhuha 12 rakaat, Allah akkan membuatkan untuknya istana di surga”
  3. Hadis yang diriwayatkan oleh HR. Tirmidzi, rasulullah bersabda “bahwa Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan”
  4. Hadis yang diriwayatkan oleh HR Abu Daud mengenai shalat dhuha, rasulullah bersabda bahwa “Dari Ummu Hani bahwa Rasulullah saw shalat dhuha 8 rakaat dan bersalam tiap dua rakaat”
  5. Hadis yang diriwayatkan oleh HR Ahmad Muslim dan Tirmidzi mengenai shalat dhuha bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Dari Zaid bin Arqam ra. berkata,”Nabi Saw keluar ke penduduk Quba dan mereka sedang shalat dhuha’. Beliau bersabda? Shalat awwabinn (dhuha) berakhir hingga panas menyengat (tengah hari).”
  6. Dari HR Abu Daud meriwayatkan mengenai shalat dhuha yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda “Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat shalatnya setelah shalat shubuh karena melakukan i’tikaf, berzikir dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampunni meskipun banyaknya melebihi buih di lautan “
  7. Yang telah diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ahmad “Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw pernah bersabda “Hendaklah massing-masing kamu bersedekkah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukkan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukupkanlah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha”.

 

Shalat Sunah Rawatib

Shalat rawatib adalah shalat-shalat sunah yang mengikuti shalat fardhu lima waktu, yang dilakukan sebelum dan setelah shalat fardhu. Hukum shalat wawatib adalah sunah muakkad.

  1. Dua rakaat sebelum subuh.
  2. Dua rakaat atau 4 rakaat sebelum dzuhur.
  3. Dua rakaat sesudah dzuhur.
  4. Dua rakaat sesudah maghrib.
  5. Dua rakaat sesudah isya’.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Ummi Habibah Ummil Mukminin, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa shalat sunah dua belas rakaat di siang hari dan malamnya, empat rakaat sebelum shalat dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat maghrib dan dua rakaat sesudah isya’, dan dua rakaat sebelum shalat subuh, maka dengan amal shalatnya itu dia dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Hadis Riwayat Muslim dan Turmudzi)

Dan hadis Nabi Saw:

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Saya hafalkan (pelajaran) dari Nabi Saw sepuluh rakaat, ‘Dua rakaat sebelum shalat dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat maghrib di rumahnya, dua rakaat sesudah shalat isya’ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum shalat subuh.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Shalat Dua Hari Raya, Dua Gerhana dan Witir

Shalat dua hari raya adalah hari raya fitrah dan hari raya kurban. Adapun dua gerhana adalah shalat gerhana matahari dan gerhana bulan. Sedangkan shalat witir adalah shalat yang bilangan rakaatnya ganjil, sedikitnya satu rakaat dan paling banyak 1 rakaat.

Shalat-shalat tersebut hukumnya sunah muakkad, karena Nabi Saw selalu melaksanakan shalat dua hari raya. Ada pendapat mengatakan bahwa shalat dua hari raya itu fardhu kifayah, karena keduanya termasuk syiar-syiar islam.

Adapun perintah shalat dua gerhana adalah sebagaimana dikatakan Al ‘Asqalani dalam Bulughul Maram, yaitu berdasarkan hadis Nabi beritan dari Al Mughirah bin Syu’ain berkata:

Di zaman Rasulullah Saw telah terjadi gerhana matahari (bertepatan dengan) wafatnya Ibrahim; maka orang-orang berkata, “Telah terjadi gerhana matahari karena kematian Ibraihm (putera Rasulullah) dari ibu Mariyah Qibtiyah).”

Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah, tidak akan terjadi gerhana dikarenakan matinya orang atau hidupnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sehingga ia lepas (terang kembali).”

Sedangkan perintah mengerjakan shalat witir juga sebagaimana dikemukakan Al ‘Asqalani dalam Bulughul Maram, yaitu hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ali, ia berkata:

Rasulullah bersabda, “Berwitirlah kamu semua hai ahli Qur’an, karena Allah itu adalah tunggal dan menyukai akan (shalat) witir.”

Juga hadis Nabi yang lain, berita dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Nabi Saw bersabda:

“Shalat witirlah kamu semua sebelum masuk waktu shubuh.”

Dan hadis Nabi Saw:

Juga dari Abu Sa’id Al Khudry, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa ketiduran dari shalat witir atau lupa, maka hendaklah ia shalat witir itu ketika bangun atau ingat.”

Pengertian Shalat Sunnah Muakkad dan Ghairu Muakkad

Shalat sunat itu ada yang muakkad, bukan muakkad, yang disunatkan berjamaah dan yang tidak.

Lafaz nafl menurut bahasa artinya “tambahan”, sedangkan menurut syara’ ialah “setiap perkara yang mendapat ganjaran bagi yang mengerjakannya dan tidak disiksa bagi yang meninggalkannya”. Nafl itu disebut pula tathawwu’, sunnah, mustahab, dan mandub (lafaz traduf, yaitu beberapa lafaz yang maksudnya sama).

Pahala mengerjakan fardu melebihi 70 derajat pahala sunat sebagaimana dinyatakan dalam hadis.

nafl disyariatkan untuk menyempurnakan pekerjaan fardu yang kurang di akhirat nanti, tidak untuk di dunia,bahkan nafl itu bisa berkedudukan sebagai fardu yang ditinggalkan karena udzur, misalnya karena lupa (belum dikerjakan, belum diqadhai, dan lain sebagainya), sebagaimana nash atasnya.

Sabda Nabi saw, “Sesungguhnya shalat fardu, zakat, dan selainnya, bilamana belum sempurna mengerjakannya, dapat disempurnakan dengan amal sunat.”

Shalat merupakan ibadah badani yang paling utama sesudah 2 kalimat syahadat. Oleh sebab itu, shalat fardu (merupakan ibadah paling utama dari segala amal fardu; dan shalat sunatnya paling utama dari semua amal sunat; kemudian puasa, haji, dan zakat, menurut ketentuan sebagian ulama. Menurut pendapat yang lain yang paling utama adalah zakat. Pendapat lain mengatakan puasa, haji, dan beberapa pendapat lainnya.

Letak perbedaan paham itu sebenarnya mengenai usaha memperbanyak amalan dari sesuatu amal menurut adat serta mempersingkat amal yang muakkad saja daripada amal lainnya. Kalau penilaiannya tidak demikian, maka puasa sehari lebih utama daripada shalat 2 rakaat.