Cara Mentalqin Untuk Jenazah Yang Mati Syahid

Menurut kaul atau pendapat yang termasyhur, sunat menalqini orang yang sedang sekarat, meskipun anak-anak yang baru mumayyiz, dengan ucapan syahadat, yakni Laa ilaaha illallaah. Hal ini berdasarkan hadis Muslim yang menyatakan, “Talqinilah mayat-mayatmu (maksudnya orang yang sekarat) dengan ucapan Laa ilaaha illallaah.” Juga dinyatakan dalam hadis sahih (riwayat Abu Daud), “Barang siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallaah, tentu masuk surga.” Yaitu beserta orang-orang yang berbahagia.

Jika maksud hadis itu bukan begitu, maka seluruh kaum muslimin, sekalipun orang fasiq, akan masuk surga meskipun sesudah disiksa lama.

Adapun pendapat banyak ulama yang menyatakan bahwa, perlu juga ditalqini dengan ucapan Muhammadur Rasulullaah, karena yang dimaksud adalah agar mati dalam keadaan islam, sedangkan tidak disebut muslim kecuali dengan kedua kalimat syahadat, adalah ditolak, sebab orang itu sendiri sudah muslim.

Sesungguhnya yang dimaksudkan ialah akhir ucapannya dengan Laa ilaaha illallaah, supaya berhasil mendapatkan pahala yang demikian (yakni masuk surga beserta orang-orang yang berbahagia).

Adapun pembahasan tambahan Arrafiiqil- a’laa, yaitu derajat yang tertinggi (yang dimohon), karena kalimat itu adalah akhir ucapan Rasulullah saw, juga ditolak, sebab kalimat itu (diucapkan Nabi saw) ada sebab yang tidak ada pada selain beliau, yaitu bahwa Allah telah memberi kelonggaran kepadanya untuk memilih (antara kekal di dunia atau mencapai derajat tertinggidi akhirat), maka beliau memilih derajat tertinggi itu.

Orang kafir perlu ditalqini dengan 2 kalimat (yakni dua kalimat tauhid: Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah, serta diawali lafaz Asyhadu, sebab lafaz ini merupakan kewajibannya, sebab tidak menjadi muslim tanpa kedua kalimat syahadat.

Jamaah (pengantar jenazah) disunatkan berdiri sebentar di dekat kuburannya sesudah mayat dimakamkan untuk memohonkan ketetapan (iman) dan memohonkan ampunan baginya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Amr bin ‘Ash “Apabila kamu sekalian menguburkan aku, maka sesudah mengubur itu berdirilah kamu sebentar di sekitar kuburanku, seukuran tukang jagal menyembelih hewannya lalu membereskan dagingnya, supaya aku merasa gembira dengan perbuatanmu itu dan aku mengetahui apa yang diperbuat oleh para utusan Allah padaku.”

Sunat menalqini mayat orang yang telah balig, sekalipun mati syahid, sesudah selesai menguburnya sebagaimana tujuan perkataan ulama yang memutlakkan.

Cara talqin mayat:

Seorang lelaki diantara pengantar jenazah duduk di hadapan yang sejajar dengan wajah (muka) mayat, lalu berucap yaa ‘abdallaah bin amatillaah udzkuril ‘ahdalladzii kharajta ‘alaihi minad dunyaa syahaadata allaa ilaaha illallaahu wahdahuulaa syariika lahu wa anna Muhammadar Rasulullaahi wa annal jannata haqqun wa annannaara haqqun wa annal ba’tsa haqqun wa annassaa’atu aatiyatul laa raiba fiihaa wa annallaaha yab’atsu man fil qubuuri. Wa annaka radhiita billaahi rabban wabil islaamidiinan wabimuhammadin shallallaahu ‘alaihi wasallama nabiyyan wabil qur-aani imaaman wabil ka’bati qiblatan wabil mu’miniina ikhwaanan rabbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul ’arsyil ‘adhiimi.

Wahai hamba Allah bin amat Allah (misal wahai Zaid bi Fatimah)! Ingatlah kamu akan janji yang telah kamu bawa keluar dari dunia yaitu, kesaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang wajib disembah) melainkan Allah (Yang Esa), tiada sekutu bagi-Nya dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah; sesungguhnya surga itu hak (pasti) adanya; sesungguhnya neraka itu hak; sesungguhnya hidup setelah mati itu hak; sesungguhnya kiamat itu akan terjadi tidak diragukan lagi; sesungguhnya Allah akan membangkitkan kembali semua mayat dalam alam kubur; sesungguhnya engkau rela bahwa Allah adalah Tuhanmu, islam agamamu, Muhammad saw nabimu, Quran pemimpin hidupmu, kiblat tempat menghadapmu, dan semua kaum mukmin saudaramu. Tuhanku Allah, tiada Tuhan melainkan Ida, kepada-Nyalah aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘arasy yang agung.

Disunatkan mengulang talqin itu tiga kali, dan sebaiknya bagi hadirin itu berdiri, sedangkan yang menalqini duduk.

Adapun memanggil mayat laki-laki (dalam menalqini) dengan mengaitkan kepada ibunya jika dikenal, dan kalau tidak maka dengan Siti Hawa, adalah tidak bertentangan dengan panggilan manusia pada hari kiamat dengan mangaitkan kepada bapak-bapaknya, sebab keduan macam cara tersebut adalah masalah tawaquf (bersifat ta’abbudy). Yang jelas, sesungguhnya kalimat hamba harus diganti dengan amat untuk wanita (dengan kata: Wahai amat Allah!) dan dhamir-dhamirnya di muannats-kan.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Keistimewaan Mati Syahid dan Jenis Mati Syahid Di Jalan Allah

Haram menyalatkan mayat syahid, yaitu dengan wazan fa’iilun dengan arti maf’uulun, sebab mayat syahid itu disaksikan masuk surga; atau dengan wazan faa’ilun, sebab rohnya menyaksikan surga sebelum roh lainnya.

Lafaz ‘syahid” itu disucapkan kepada orang yang berperang untuk memuliakan kalimat (agama) Allah, itulah syahid dunia dan akhirat.

Orang yang berperang hanya untuk menjaga kaumnya, bila ia mati disebut syahid dunia. Sedangkan orang yang dibunuh karena dizalimi (dianiaya) dengan cara ditenggelamkan, dibakar, atau mati karena sakit perut, seperti muntaber atau mencret, disebut syahid akhirat.

Dilarang memandikan orang yang mati syahid, sekalipun ia berhadas junub, sebab Nabi saw tidak memandikan orang-orang yang gugur dalam perang Uhud. Dilarang pula menghilangkan (membersihkan) darahnya.

Syahid ialah orang yang wafat dalam memerangi kaum kafir, atau memerangi seorang kafir sebelum selesai perang, sekalipun dibunuh dalam keadaan mundur dari medan perang, misalnya terkena senjata muslimin lainnya karena kesalahan, terkena senjata orang muslim yang diminta tolong (disuruh) oleh kaum kafir, karena jatuh ke dalam sumur saat peperangan, atau tidak diketahui apa sebab matinya meskipun tidak ada bekas darah (asalkan ia wafat dalam situasi peperangan).

Tawanan yang dibunuh dengan tidak mengadakan perlawanan tidak termasuk syahid. Menurut kaul yang lebih benar, ia tidak termasuk syahid karena matinya bukan sewaktu berkecamuknya perang.

Tidak termasuk syahid orang yang mati seusai perang sekalipun mendapat luka (karena perang) tetapi masih mampu bergerak sekehendaknya, dan sekalipun dengan akibat lukanya itu dapat dipastikan ia akan mati. sedangkan orang yang mati sesudah perang, tetapi sebelum mati hanya akan mampu bergerak seperti madzbuh (gerakan badannya itu sudah tidak disadarinya lagi karena tidak dapat mendengar atau melihat) yang demikian itu termasuk syahid secara pasti.

Hayat mustariqah menurut Imma Nawawi dan ‘Imrany ialah “yang memungkinkan dapat hidup sehari atau dua hari.”

Orang yang berada di lingkungan orang-orang kafir, ia lari dan tertangkap, lalu mereka membunuhnya, tidak termasuk syahid, sebab matinya bukan dalam peperangan.

Orang yang dibunuh kafir (harbi) secara tiba-tiba (diculik) yang masuk ke tengah-tengan kaum muslimin tidak termasuk syahid. Tetapi kalau si kafir membunuhnya karena perang, maka ia termasuk mati syahid.

Sunat mengafani mayat syahid dengan pakaian yang dipakainya sewaktu mati; lebih utama yang berlumuran darah, karena mengikuti jejak Nabi saw (sebagaimana yang beliau lakukan terhadap seorang sahabatnya yang gugur akibat panah mengenai dadanya. Riwayat Abu Daud dari Jabir). Kalau pakaiannya itu tidak mencukupi untuk menutup seluruh badannya, maka wajib ditambah. Akan tetapi, tidak boleh dikafani dengan sutera yang ia pakai karena darurat perang. Jadi sutera itu wajib dilepas

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

 

Syarat salat mayat dan salat gaib

Dalam salat jenazah disyaratkan pula berikut syarat-syarat lainnya yaitu:

Terlebih dahulu mayat disucikan (dimandikan) dengan air, atau tanah (jika tidak terdapat air). Kalau mayat itu jatuh ke dalam lubang (galian atau tertimpa tanah longsor), atau tenggelam di laut yang sukar mengeluarkannya dan menyucikannya, maka tidak usah disalatkan menurut kaul mu’tamad. Akan tetapi menurut pendapat lainnya, tetap wajib di salatkan meskipun tidak dimandikan, karena keadaan darurat, sebagaimana sabda Nabi saw, “Apabila aku memerintah kalian mengerjakan sesuatu, kerjakanlah sekemampuanmu.”

Menurut kaidah bahwa Sesuatu yang mudah tidak gugur karena sesuatu yang sukar.”

Orang yang menyalati janganlah membelakangi mayat kalau mayat hadir sekalipun di makam. Sedangkan mayat gaib boleh diletakkan di belakang orang yang menyalatkannya.

Disunatkan menyejajarkan orang-orang yang salat jenazah menjadi tiga shaf atau lebih, berdasarkan hadis sahih, “Barang siapa menyalatkan mayat mencapai 3 shaf, maka mayat tersebut berhak menerima ampunan Allah (yakni diampuni).” Tidak disunatkan mengakhirkan salat mayat karena menunggu bertambahnya yang salat, kecuali apabila menunggu walinya.

Sebagian dari ahli tahqiq memilih, bahwasanya bila keadaan mayat tidak dikhawatirkan berubah (misalnya membusuk), seyogyanya menunggu orang yang akan menyalatkannya hingga mencapai 100 atau 40 orang yang diharap segera hadir dalam waktu yang tidak lama, karena ada hadis, “Tiada seorang muslim pun yang mayatnya disalatkan oleh umat muslim mencapai 100 orang yang kesemuanya memohon syafaat untuknya, kecuali permohonan syafaat mereka itu diperkenankan-Nya.”

Kalau mayat sudah disalatkan, lalu datang orang lain yang belum menyalatkan, maka orang itu disunatkan menyalatkan mayat tersebut, dan hukum salatnya jatuh fardu. Oleh karena itu, ia harus meniatkan fardu, dan tentu akan mendapat pahala fardu.

Yang afdhal bagi orang yang baru datang itu adalah mengerjakan salatnya sesudah mayat dikubur, karena mengikuti sunnah Rasulullah saw. Orang yang sudah menyalatkan mayat, sekalipun salat munfarid, tidak disunatkan mengulangi salatnya dengan berjamaah. Kalau ia mengulangi, maka hukum pengulangannya jatuh sunat. Sebagian ulama menyatakan bahwa mengulangi salat jenazah itu menyalahi keutamaan.

Salh menyalatkan mayat gaib dari kampungnya. Hal ini dilakukan bila mayat itu berada di tempat yang jauh dari kampung yang menyalatkannya, sekira tidak dianggap sekampung menurut adat. Yang demikian itu berdasarkan pendapat Syeikh Zarkasyi, “Sesungguhnya orang di luar benteng kampung yang dekat dari kampungnya termasuk orang dalam. Orang dekat itu ialah, bilamana di antara penduduk suatu kampung dengan kampung lainnya suka saling pinjam.” (sah menyalatkan mayat gaib sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw menyalatkan raja Najasyi, Ethiopia).

Tidak sah salat gaib (bila dilakukan) di dalam kampung tempat tinggal mayat tu, sekalipun kampung itu besar. Tetapi kalau sulit mendatanginya, misalnya karena berada dalam tahanan atau sakit, boleh menyalatkannya ketika itu, menurut kaul yang termasyhur.

Sah menyalatkan mayat hadir yang sudah dikuburkan walaupun sudah hancur, selain kuburan Nabi. Tidak sah salat di atas kuburan Nabi.

Sah menyalatkan mayat gaib  bagi orang yang berkewajiban menyalatkannya pada saat ia meninggal. Tidak sah oleh orang-orang kafir dan yang haid pada hari itu, seperti mendadak balig atau sehat (dari gila) sesudah matinya walaupun belum dimandikan.

Kefarduan salat jenazah menjadi gugur bila telah dikerjakan oleh seorang lelaki, sekalipun oleh anak yang mumayyiz, walaupun ada orang yang sudah balig (tetapi tidak menyalatkannya); meskipun anak tersebut belum hafal Fatihah atau bacaan lainnya, bahkan sekalipun dengan cara diam seukuran membaca Fatihah, walaupun ada orang yang hafal Fatihah (tetapi tidak menyalatkannya). Tidak sah (tidak cukup) disalatkan oleh seorang wanita apabila ada laki-laki yang hafal Fatihah (kecuali bila sama sekali tidak ada laki-laki).

Boleh sekali salat untuk mayat yang banyak. Maka berniatlah untuk menyalatkan semua mayat itu secara ijmal (ringkas). Haram mengakhirkan salat jenazah hingga selesai menguburnya (salat ditangguhkan hingga mayat selesai dikubur), tetapi gugur kewajiban dengan salat di atas kuburannya (hanya, berdosa karena mengakhirkan).

Haram menyalatkan mayat kafir dan mendoakannya agar diampuni Allah. allah swt berfirman dalam surat At Taubah ayat 84 “Janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka (orang-orang kafir).”

Anak-anak orang kafir termasuk kafir pula, baik mereka pernah mengucapkan dua kalimat syahadat atau belum. Maka haram menyalatkan mereka (karena andaikakata ia pernah mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi sewaktu belum balig, itu tidak sah).

Inilah Penjelasan Masbuq Shalat Jenazah

Di bawah ini akan kami jelaskan tentang sikap atau pekerjaan yang harus dilakukan oleh orang atau makmum yang masbuq, artinya tidak bareng dengan imam dalam salatnya (masbuq). Yang dalam hal ini adalah ketinggalan dari imam dalam menyalatkan mayat.

Seandainya makmum ketinggalan dari imam (sebanyak) satu kali takbir tanpa udzur (bukan karena makmum itu lambat bacaannya atau tidak mendengar takbir imam), sehingga imam mengerjakan takbir selanjutnya, maka salat makmum itu batal. (kalau ketinggalan oleh dua takbir, padahal memulainya bersamaan/bukan masbuq, walaupun karena udzur, maka salat makmumnya batal).

Kalau imam itu takbir berikutnya (misalnya imam takbir ketiga, sedangkan makmum masih takbir yang pertama) sebelum masbuq membaca Fatihah, maka masbuq tersebut hendaklah mengikuti imam sewaktu ia takbir, dan gugur kewajibannya membaca Fatihah. Apabila imam membaca salam, maka makmum harus menjalankan sisa pekerjaan berikut zikir-zikirnya.

Dalam salat jenazah, sekalipun mayat perempuan, yang harus didahulukan untuk menjadi imam adalah ayah atau wakilnya, kakek (atau yang mewakili), anak, cucu, saudara laki-laki sekandung, saudara sebapak, anak kedua saudara, juga paman (dari pihak bapak dahulu, kemudian pihak ibu), pihak ashabahnya dari turunan, laki-laki yang memerdekakan (bagi mayat hamba), dzakil arham (bukan ahlli waris), kemudian suaminya.

Demikianlah penjelasan dari kami tentang makmum masbuq dan yang harus didahulukan untuk menjadi imam pada salat mayat. Mudah-mudahan penjelasan kami di atas membawa manfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat, amin.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Inilah Doa Untuk Jenazah Anak Kecil

Berdoa secara khusus untuk mayat merupakan salah satu dari rukun salat mayat. Sebagaimana sabda Nabi saw, “Jika kalian menyalatkan mayat, berdoalah kalian secara ikhlas untuknya.”

Sekalipun mayat anak-anak, misalnya dengan mengucapkan “Ya Allah, ampunilah dia dan berilah rahmat,” diucapkan setelah takbir ketiga. Doa ini, tanpa khilaf, tidak cukup diucapkan setelah takbir yang lainnya.

Bacalah pula doa pada mayat untuk anak-anak, Allaahummaj’alhu farathan li-abawaihi wasalapan wa dzahran wa’idhdhatan wa’tibaaran wasyafii’an watsaqqil bihii mawaaziinahumaa wafrighish shabra ‘alaa quluubihimaa walaa tuftinhumaa ba’dahu walaa tuhrimhumaa ajrahu.

“Ya Allah, jadikanlah dia sebagai simpanan dahulu untuk persiapan dan pengajaran serta ibarat yang mensyafaati bagi kedua orang tuanya, beratkanlah timbangan kebaikan kedua orang tuanya karena dia, curahkanlah kesabaran dalam hati kedua orang tuanya, janganlah Engkau menjadikan fitnah bagi kedua orang tuanya sesudah dia meninggal, janganlah pula Engkau halangi pahala kepada kedua orang tuanya.”

Menurut sebagian  ulama, ucapan doa untuk anak-anak di atas tidaklah cukup (tanpa doa khusus mayat), sebab doa ini merupakan doa yang lazim untuk anak-anak. Doa yang lazim itu tidka mencukupi, karena sesungguhnya apabila mayat anak-anak yang bersifat umum dan saling mencakup setiap perorangan tidak mencukupi, apalagi dengan doa lazim ini.

Dhamir-dhamir itu harus di-mua’annats-kan bagi mayat perempuan (seperti: Allaahummaghfirlahaa, warhamha, dan seterusnya). Namun, boleh tetap di-mudzakar-kan (seperti tadi) dengan maksud kepada mayat yang disalatkanatau orangnya (dalam hati). Bacalah doa berikut ini bagi mayat anak zina, Allaahummaj’alhu farathan liummihi. Ya Allah, jadikanlah dia yang mendahului sebagai persiapan bagi ibunya.

Yang dimaksud dengan kalimat “penggantian keluarga dan istri”, ialah penggantian sifat-sifatnya, bukan zat, sebab ada firman Allah swt dalam surat Ath Thur ayat 21, “Kami hubungkan anak cucu mereka dengan sifat mereka.”

Hadis riwayat Thabrani dan lainnya menyatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya wanita-wanita surga yang berasal dari wanita-wanita dunia lebih baik daripada bidadari.”

Keterangan:

  • Sebagaimana dinyatakan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Umi Abu Darda’, nahwa wanita dunia itu akan bersatu dengan suaminya nanti di akhirat, yaitu suaminya yang terakhir pada waktu ia mati.
  • Apabila wanita itu mempunyai beberapa suami yang telah menceraikannya, sedangkan pada waktu ia meninggal dalam keadaan janda, maka baginya ada dua pendapat. Ada yang berpendapat dengan suami pertama, ada pula yang mengatakan sebagaimana zhahir arti hadis tadi, yaitu dengan suami terakhir.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani