Sulitkah Khusyu’ Dalam Shalat?

Shalat

Shalat merupakan salah satu pilar islam, atau merupakan salah satu dari rukun islam. shalat itu ada yang wajib dan ada yang sunnah. Shalat wajib berjumlah 17 rakaat, dan terbagi ke dalam 5 waktu. Sedangkan shalat sunnah banyak sekali macamnya, seperti shalat tahajjud, dhuha, dan lain-lain.

Ketika mengerjakan shalat, hendaklah dengan khusyu’, artinya fokus, tidak memikirkan urusan duniawi ataupun yang lainnya ketika shalat.

Sayyidina Ali berkata, “Aku pernah duduk bersama Nabi Muhammad saw dalam sekelompok orang dari para sahabat radhiyallaahu anhum, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari desa. Berkatalah dia, ‘Alaikassalaamu ya Rasulullah wa alaikum ya jamii’al julusi.’ (Keselamatan bagimu ya Rasulullah dan bagi kamu wahai para hadirin)

Kemudian laki-laki itu berkata, ‘Ketahuilah bahwa Allah telah memfardhukan atas kita shalat lima waktu dan menguji kita dengan dunia beserta segala macam penderitaannya. Maka demi hakmu ya Rasulullah, kami tidak mengerjakan shalat satu rakaat pun kecuali segala kesibukan dunia ikut masuk di dalamnya. Lalu bagaimana Allah akan menerimanya sedang shalat itu dicampur dengan kesibukan-kesibukan dunia?’

Ali karamallaahu wajhahu menyela, ‘Shalat seperti ini tidak akan diterima oleh Allah, dan Allah tidak akan memandangnya.’

Nabi Muhammad bersabda, ‘Apakah engkau mampu hai Ali, untuk mengerjakan shalat dua rakaat karena Allah swt, bersih dari segala kesusahan, kesibukan dan bisikan. Jika mampu aku akan memberimu pakaian buatan Syam milikku.’

Ali berkata, ‘Aku mampu untuk mengerjakan itu.’ Maka berdirilah Ali dari kalangan para sahabat dan menyempurnakan wudhu serta berdiri mengerjakan shalat. Dia berniat murni karena Allah dalamhatinya dan ruku’ pada rakaat pertama. Kemudian dia masuk dalam rakaat kedua, tetapi ketika dia ruku’ berdirilah dia dengan tegak di atas kedua telapak kakinya dan membaca Sami’allaahu liman hamidahuu, dan mengingat dalam hatinya bahwa seandainya Nabi Muhammad memberiku pakaian Quthwani tentu lebih baik untukku daripada pakaian dari Syam itu. Kemudian dia bersujud, bertasyahhud dna membaca salam.

Bersabdalah Nabi Muhammad, “Apa pendapatmu hai Abul Husain (Ali)?” Ali berkata, “ Demi hakmu ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengerjakan shalat dalam rakaat pertama dengan benar-benar bebas dari kesusahan dan bisikan. Kemudian aku mengerjakan shalat pada rakaat yang kedua, maka aku mengingat dalam hatiku dan aku berkata dalam hati, ‘Seandainya engkau memberiku pakaian Quthwani tentu akan lebih baik untukku daripada pakaian dari Syam itu. Demi hakmu ya Rasulullah, tidak ada seorangpun yang dapat mengerjakan shalat dua rakaat dengan murni karena Allah swt.’

Nabi Muhammad bersabda, “Kerjakanlah shalat fardhumu dan janganlah kamu berbicara dalam shalat, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat yang dicampur dengan kesibukan-kesibukan dunia. Tetapi kerjakanlah shalat dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu setelah shalatmu, dan aku memberi kabar gembira kepada kamu bahwa Allah telah menciptakan seratus buah ramat yang disebarkan pada ummatku di hari kiamat. tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang mengerjakan shalat fardhu kecuali dia akan berada di bawah naungan shalatnya itu di hari kiamat.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Khusyu’ ketika shalat

Dalam shalat hendaknya benar-benar konsentrasi, yaitu menghadirkan hatinya kepada Allah, karena hal itu merupakan ruh shalat.

Nabi Saw bersabda, “Siapa yang shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan kemunkaran, maka tidak bertambah melainkan menjauh dari Allah.”

Imam Ghazali mengatakan, “Shalat orang yang lalai tidak dapat mencegah perbuatan keji dan kemungkaran.”

Diriwayatkan dari Al Hasan, bahwasanya dia berkata, “Shalat yang tidak dapat menghadirkan hati maka ia lebih cepat pada siksa.”

Kehadiran hati dalam shalat itu hendaknya ia mengetahui apa yang diucapkan dan diperbuat. Disebutkan dalam hadis yang dikemukakan Imam Ibnu Hajar, “Shalat seorang mukmin tidak dianggap kecuali yang dipahami.”

Shalat itu hendaknya dilakukan dengan khusyu’, karena kekhusyu’an itu merupakan rahasia shalat. Yaitu tenangnya seluruh anggota dengan tidak memainkan salah satunya dan dengan menghadirkan hati. Kekhusyu’an itu juga dengan menghadirkan hati mengingat akhirat, dan agar kekhusyu’an dapat tercapai maka ia harus menghadirkan hatinya bahwa ia sedang berada di hadapan Tuhan Yan Merajai seluruh kerajaan, Mengetahui yang rahasia dan yang samar. Faidah ini dikemukakan Ibnu Hajar dalam Tuhfah.

Dalam shalat hendaknya juga memperhatikan bacaan dan merenungkan maknanya secara garis besar serta memperhatikan dzikir. Karena Allah hanya akan menerima shalat berdasarkan kehadiran hati.

Rasulullag Saw bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba itu melakukan shalat, baginya tidak ditulis enam atau sepuluh shalat, tetapi hamba itu hanyalah ditulis shalat sesuai perhatiannya.”

Haram riya’ dalam shalat, yaitu melakukan amal perbuatan itu karena manusia untuk mendapatkan sanjungannya. Riya’ adalah merupakan syirik kecil, dan riya’ itu diharamkan dalam shalat maupun yang lain, seperti puasa, sedekah, dan haji, berdasarkan hadis:

“Siapa shalat sedangkan dia riya’, maka benar-benar syirik, siapa berpuasa sedangkan dia riya’, maka dia benar-benar syirik, dan siapa bersedekah sedangkan dia riya’, maka benar-benar syirik.”

As Shafuri dalam Nuzhatul Majalis mengemukakan hadis Nabi Saw:

Hai sekalian manusia, takutlah kepada syirik ini, karena ia lebih samar daripada semut pudak. Ditanya, “Bagaimana kami dapat memeliharanya sedangkan ia lebih samar daripada semut pudak?”

Nabi bersabda, “Bacalah, Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu untuk  menyekutukan Engkau dengan sesuatu yang Engkau mengetahuinya, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari apa yang kami tidak mengetahuinya.”

Dalam satu riwayat disebutkan agar doa tersebut dibaca 3 kali setiap hari.

Bukan termasuk riya’ memperindah berpakaian kalau tidak untuk mendapatkan sanjungan manusia tetapi karena Allah. demikian disebutkan dalam Ittihaful Murid oleh Syeikh Abdus Salam Al Liqani. Nabi Saw apabila akan keluar berkumpul dengan sahabatnya, beliau melihat cermin lalu mengatur sorban dan rambutnya. Aisyah lalu menanyakan kepada beliau tentang hal itu. Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang berhias untuk para sahabatnya apabila keluar untuk berkumpul mereka.” Adapun bermegah-megahan adalah tercela dan terlarang, adakalanya membanggakan harta, orang tuanya, ataupun ibadahnya.

Syeikh Abdus Salam Al Liqani mengatakan, riya’ itu ada dua macam, yaitu riya’ yang murni seperti melakukan perbuatan karena manusia, dan riya’ menyekutukan seperti melakukan perbuatan karena Allah dan karena manusia. Riya’ ini lebih ringan daripada yang pertama dan diharamkan secara ijma’.

6 Hal Yang Bisa Membuat Shalat Khusyu’

Hal-hal yang dapat menimbulkan khusyuk diantaranya adalah:

Pertama, memusatkan hati bahwa ia sedang berada di hadapan Raja seluruh raja, yag mengetahui seluruh rahasia, dan yang paling tersembunyi. Dengan kata lain, ia sedang menghadap Allah. Dan kadang-kadang Allah membukakan rahasia kepadanya dengan paksa (tanpa diduga) untuk memberi tahu bahwa ia tidak atau belum memenuhi hak terhadap Rabb-nya. Maka Allah mengembalikan shalatnya (agar ia berusaha memperbaikinya).

Kedua, dengan memanjangkan rukuk dan sujud.

Ketiga, memahami arti bacaan shalat. Allah swt berfirman dalam surat An Nisa ayat 82, “Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran?” karena yang demikian itu dapat menyempurnakan maksud khusyuk.

Keempat, memahami arti dzikir, sebab diqiyaskan pada bacaan Quran.

Kelima, disunatkan terus-menerus melihat ke tempat sujud, karena cara demikian bisa mendekatkan pada khusyuk, sekalipun orang itu buta (sebaiknya juga melakukan hal tersebut), shalat di dekat Ka’bah, shalat dalam keadan gelap, atau ketika shalat jenazah.

Keenam, disunatkan memusatkan penglihatan pada telunjuknya ketika mengangkatnya kala tasyahud, berdasarkan hadis Sahih, “Sesungguhnya Nabi saw berisyarat dengan telunjuknya dan tidak menggerak-gerakannya”. (Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan yang lainnya)

Tidak makruh memejamkan kedua matanya kalau tidak khawatir menimbulkan mudarat.

Demikianlah, telah kami paparkan beberapa hal atau perkara yang dapat membuat seseorang khusyuk dalam shalatnya. Hendaknya kita bisa mengambil hikmah dan manfaat dari penjelasan diatas, dan mempraktikannya langsung ketika kita shalat.