Syarat Khutbah Jumat

Ketika melakukan khutbah jum’at ada beberapa syarat yang harus dilakukan. Apabila syarat ini tidak terpenuhi, maka khutbah jum’at nya tidak sah. Adapun syarat khutbah jum’at itu ada 10, yaitu:

  1. Suci dari hadats (kecil dan besar)
  2. Suci dari najis pada pakaian, badan dan tempat
  3. Tertutup aurat
  4. Berdiri bagi yang mampu. Dari Jabir bin Samroh, ia berkata bahwa Rasulullah berkhutbah sambil berdiri, kemudian beliau duduk dan berdiri lagi, diikuti dengan membaca Al Qur’an dan berdzikir kepada Allah. Serta dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah berkhutbah sambil berdiri, kemudian beliau duduk dan berdiri lagi, sebagaimana yang kamu lakukan sekarang (HR Bukhari)
  5. Duduk antara dua khutbah. Seorang khatib harus memisahkan antara khutbah dua dengan duduk, keadaan ini dilakukan seukuran tuma’ninah dalam shalat. Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majah, “Sesungguhnya Nabi Muhammad berkhutbah dua kali dan beliau duduk antara kedua khutbah itu.”
  6. Terus menerus antara khutbah dua. Khutbah harus dilakukan secara terus-menerus, artinya antara khutbah yang pertama dengan khutbah yang kedua tidak boleh terpisah dan diselingi oleh perbuatan yang lain. hikmah dari dilaksanakannya khutbah secara terus menerus ialah untuk menambah kekhusyuan dan perhtian jama’ah terhadap khutbah.
  7. Terus-menerus antara khutbah dua dengan shalat. Antara khutbah dua dengan shalat tidak boleh terpisah dengan istirahat yang lama, karena perbuatan yang dilakukan secara terus menerus akan menambah kekhusyuan.
  8. Khutbah harus menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam Nawawi menggunakan bahasa Arab ditetapkan dengan jalan qias, yaitu dengan mengqiaskan kepada tasyahud karena keduanya merupakan dzikir yang difardhukan, juga karena Nabi tidak pernah khutbah dengan bahasa Ajam (selain Arab)
  9. Harus didengar oleh 40 orang
  10. Khutbah harus dilakukan dalam waktu dzuhur

5 Rukun Khutbah Jum’at

Dalam melakukan khutbah jum’at, ada beberapa rukun yang harus dilaksanakan. Apabila rukun khutbah ini tidak dilakukan, maka khutbah jum’at nya tidak sah. Adapun rukun khutbah jum’at ada 5, yaitu:

Memuji kepada Allah

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim:

Dari Jabir bin Abdillah, sesungguhnya Nabi Muhammad berkhutbah pada hari jum’at. Beliau memuji kepada Allah dan menyanjungnya. Setelah itu beliau bersabda dengan suara lantang dan muka merah seolah beliau seorang komandan pasukannya. Nabi berkata, “Aku diutus sampai tibanya kiamat seperti dua jari ini (beliau isyarat dengan jari tengah dan telunjuk, dan seterusnya…)”

Membaca shalawat untuk Nabi Muhammad

Membaca shalawat termasuk rukun khutbah, minimalnya ialah membaca Allaahumma shalli ‘ala Muhammad.

Wasiat dengan taqwa

Yang dimaksud dengan wasiat dengan taqwa ialah khutbahnya khatib mengingatkan kepada jama’ah untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kemungkaran.

Hal ini berdasarkan hadits Muslim:

Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata bahwa ada khutbah yang dilakukan oleh Rasulullah, beliau duduk antara dua khutbah itu, membaca shalawat  dan memberi nasihat serta peringatan kepada jama’ah.

Membaca Al Qur’an

Membaca ayat Al Qur’an dalam khutbah merupakan satu rukun dan cukup satu ayat.

Berdoa bagi kaum muslimin dan muslimat pada khutbah kedua

Demikianlah uraian singkat mengenai rukun khutbah jum’at. Semoga penjelasan di atas dapat bermanfaat bagi kita semua baik di dunia maupun di akhirat.

Syarat Sah Shalat Jum’at

Shalat jumat ialah shalat yang dilakukan seminggu sekali, pada hari jum’at, dan sebagai pengganti shalat dzuhur. Adapun yang menjadi syarat shalat jumat akan diuraikan di bawah ini.

Shalat jum’at dilakukan pada waktu shalat dzuhur

Shalat jum’at harus dilakukan pada waktu shalat dzuhur, yaitu sejak tergelincirnya matahari sampai dengan panjangnya bayang-bayang suatu benda sama dengan tingginya benda itu. Dengan demikian maka tidak sah apabila shalat jum’at dilakukan sebelum atau sesudah waktu shalat dzuhur.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari: Dari Anas ia berkata bahwa Rasulullah melakukan shalat jum’at  ketika matahari tergelincir.”

Hadits riwayat Muslim: Dari Salamah bin Akwa, ia berkata, “Kami melakukan shalat jum’at bersama Rasulullah apabila matahari telah condong ke arah barat, kemudian kami pulang menyelusuri dinding rumah.”

Shalat Jumat

Dilaksanakan di tempat tinggal

Shalat jum’at harus dilaksanakan di tempat tinggal, baik di desa ataupun di kota, karena Rasulullah dan khulafaur rasyidin tidak pernah melakukan shalat jum’at kecuali di tempat tinggal, dan tidak ada keterangan yang menjelaskan Nabi pernah melakukan shalat jum’at di luar perkampungan penduduk.

Dilaksanakan secara berjamaah

Shalat jum’at harus dilaksanakan secara berjamaah, karena Nabi dan para sahabat melakukannya secara berjamaah.

Ahli jum’ah harus mencapai 40 orang

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dan Baihaqi:

Dari Ka’ab bin Malik, ia berkata bahwa orang yang pertama kali mendirikan shalat jum’at di Madinah sebelum datang Nabi ialah Sa’ad bin Zaroroh di kampung Al Hadimat. Aku bertanya,’ berapa jumlah kalian ketika itu?’ empat puluh orang.

Ahli jum’ah yang berjumlah 40 orang itu harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Laki-laki
  2. Baligh
  3. Merdeka
  4. Berdiam di tempat tinggalnya

Syarat ini berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud: Dari Thariq bin Syihab sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Jum’at itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dalam satu jamaah kecuali 4 golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak yang belum baligh dan orang sakit.”

Hadits riwayat Abu Dawud dan Baihaqi:

Dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajib baginya mendirikan shalat jumat kecuali perempuan, orang yang sedang bepergian, hamba sahaya dan orang yang sakit.”

Tidak didahului atau disertai oleh jum’at lain di daerah itu

Shalat jum’at yang sah ialah shalat jum’at yang tidak didahului atau disertai oleh jum’at yang lain di daerah itu, hal ini karena dalam satu tempat tidak boleh ada dua jum’at atau lebih.

Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak boleh ada dua jum’at atau lebih dalam satu tempat, karena Nabi dan para sahabat tidak pernah mendirikan dua jum’at dalam satu tempat.

Imam Abu Dawud berkata bahwa pada masa Rasulullah, di Madinah terdapat 9 mesjid, namun para sahabat tidak pernah melakukan shalat jum’at kecuali di mesjid Rasulullah.

Riwayat ini diperkuat oleh hadits Ibnu Majah dan Ibnu Khujaemah yang menerangkan bahwa penduduk Quba’ mengerjakan shalat jum’at bersama Nabi di Madinah.

Dilaksanakan setelah khutbah dua

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim: Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah berkhutbah pada hari jum’at sambil berdiri, dan beliau duduk antara dua khutbah.

Khutbah jumat, syarat, rukun, sunah dan makruhnya

Khutbah jumat merupakan suatu perkara yang dilakukan ketika melakukan shalat jumat. Di bawah ini akan diuraikan mengenaik syarat-syaratnya, rukun shalat jumat, sunah dan makruhnya.

Syarat khutbah jumat

  1. Khatib harus suci dari hadats besar dan hadats kecil.
  2. Harus menutupi aurat.
  3. Suci badan, pakaian dan tempat khutbah.
  4. Harus berdiri bagi yang kuasa berdiri.
  5. Hendaklah duduk di antara 2 khutbah dengan tuma’ninah.
  6. Hendaklah muwwalat, yaitu bersambung antara 2 khutbah kedua dengan shalat jumatnya.
  7. Hendaklah dengan suara yang keras, kira-kira dapat didengar oleh 40 jamaah.
  8. Khutbah hendaklah dibaca pada waktu shalat dhuhur.

Khutbah Jumat

Rukun-khutbah yaitu:

  1. Memuji kepada Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah.
  2. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad, dengan mengucapkan Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad.
  3. Membaca dua kalimah syahadat, yakni menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad ialah utusan-Nya.
  4. Memberi wasiat kepada kaum muslimin supaya takwa kepada Allah dengan ucapan Ittaqullaaha (bertaqwalah kepada Allah).
  5. Membaca ayat Al Qur’an dalam salah satu dari dua khutbah, misalnya Innalladziina aamanuu wa’amilush shaalihaati lahum jannaatun na’iim (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat shaleh, maka mereka itulah yang memperoleh surga Na’im (tempat kenikmatan).
  6. Mendoakan orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan untuk memperoleh ampunan di dalam khutbah kedua. Misalnya Allaahummaghfir lil mu’miniina wal mu’minaati wal muslimiina wal muslimaatil al ahyaa-i minhum wal amwaati.

Sunat khutbah jumat

  1. Khatib hendaklah memberi salam kepada hadirin.
  2. Hendaklah dilakukan di atas mimbar atau tempat yang lebih tinggi.
  3. Letak mimbar hendaklah di sebelah kanan mihrab (tempat shalat imam).
  4. Membaca surat Al Ikhlas sewaktu duduk antara 2 khutbah.
  5. Menertibkan 3 rukun, yaitu dimulai dengan puji-pujian, kemudian shalawat atas Nabi, kemudian berwasiat (memberi nasihat) kepada hadirin.
  6. Hendaklah khutbah itu mudah dipahami, fasih dan mengenai sasaran.
  7. Khatib tidak berpaling ke kanan dan ke kiri atau ke belakang ketika berkhutbah.
  8. Khutbah hendaknya pendek, artinya tidak bertele-tele.
  9. Si pendengar hendaklah diam dan memperhatikan. Sebagian ulama mengatakan haram bercakap-cakap ketika mendengarkan khutbah.
  10. Khatib hendaknya cepat-cepat turun dari mimbar jika khutbah sudah selesai.

Yang dimakruhkan dalam khutbah jumat:

  1. Khatib sering berpaling ke kiri dan ke kanan di waktu berkhutbah. Lebih-lebih menengok ke belakang.
  2. Memukul-mukul kaki atau tangan di mimbar pada waktu berkhutbah.
  3. Terlalu cepat dalam khutbah kedua.
  4. Terlalu rendah dan lemah suaranya dalam khutbah kedua, sehingga tidak terdengar.
  5. Berlebih-lebihan memuji sifat kepada raja atau pejabat ketika berdoa untuk pribadinya.

Keutamaan hari jumat

Hari jumat ialah hari yang mulia bagi umat islam. karena itu mulai malam jumat hendaklah memperbanyak amal-amal ibadah seperti membaca Al Qur’an (Al Kahfi, AL Ikhlas, dan lain-lain)

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam jumat atau pada hari jumat, maka diberi sinar darimana dia membacanya sampai ke Mekkah, diampuni dosa-dosanya sampai pada hari jumat berikutnya dan ditambah 3 hari, dan para malaikat 70.000 memintakan tambahnya rahmat baginya sehingga pagi hari, dan disembuhkan dari penyakit lepra serta selamat pula dari fitnahnya Dajjal.”

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang membaca shalawat untuk saya sebanyak 100 kali pada hari jumat, maka diampuni dosanya selama 80 tahun.”

Shalat Jumat, Pengertian, dan Hukumnya

Shalat jumat ialah shalat 2 rakaat yang dikerjakan setiap hari jumat. Waktunya sama dengan waktu dhuhur, yaitu setelah tergelincir matahari.

Niat shalat jumat

اُصَلِّ فَرْضَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءًمَأْمُوْمًا(اِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالٰى

Ushalli fardhal jum’ati rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an ma’muuman (imaaman) lillaahi ta’aalaa.

“Saya niat shalat jumat dua rakaat dengan menghadap kiblat, tepat pada waktunya, menjadi ma’mum (imam) karena Allah Ta’ala.”

Shalat jumat itu hukumnya wajib ‘ain, artinya wajib atas tiap-tiap orang laki-laki, dewasa, islam dan menetap dalam suatu daerah. Bagi perempuan, anak-anak, hamba sahaya dan orang-orang dalam perjalanan atau sakit tidak wajib shalat jumat.

Hikmah dari shalat jumat ialah untuk menunjukkan syiar kebesaran agama islam, dan sebagai tanda kerukunan di antara umat beragama itu sendiri. Karena itu shalat jumat tidak sah jika dikerjakan dengan sendirian (munfarid), dan harus dikerjakan dengan berjamaah.

Shalat Jumat

Orang yang diwajibkan shalat jumat:

  1. Orang islam
  2. Laki-laki
  3. Mukallaf (akil baligh).
  4. Merdeka (bukan hamba sahaya).
  5. Berakal sehat.
  6. Sehat badannya, artinya tidak sedang sakit.
  7. Mukim, artinya tidak sedang bepergian (musafir).
  8. Adanya tempat jumat yang dapat dijangkau.

Syarat –syarat shalat jumat:

  1. Wajib di suatu desa/kota dan ada orang-orangnya yang tinggal disitu.
  2. Wajib bersama-sama (berjamaah), sekurang-kurangnya 40 orang.
  3. Waktunya pada hari jumat, sama dengan waktu dhuhur.
  4. Sebelum shalat jumat dibacakan dulu 2 khutbah, yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua.
  5. Shalat jumat hanya 2 rakaat.

Sebelum pergi untuk shalat jumat, diperintahkan supaya mandi jumat, membersihkan gigi, rambut, pakaian yang baik, memakai wangi-wangian. Setelah sampai di masjid hendaklah shalat 2 rakaat untuk tahiyyatul masjid.

Apabila shalat jumat sudah dimulai, padahal kita belum datang, kita tidak usah shalat tahiyyatul masjid, tetapi langsung saja shalat jumat mengikuti imam.