10 Syarat Khutbah Jumat

Khutbah Jumaat ialah dua khutbah yang diberikan oleh khatib setiap kali Solat Jumat dilaksanakan. Ia merupakan salah satu syarat sah Solat Jumat. Syaratnya khutbah jumat itu ada 10, yaitu :

  1. Suci dari hadast, khotib harus suci dari hadast asgor (kecil) dan hadast besar (akbar). Apabila khotib sedang khutbah kemudian ditengah-tengah batal, maka harus diulangi lagi khutbahnya dan itu wajib.
  2. Suci dari najis di pakaian, badan nya khotib dan tempatnya. Serta harus suci dari perkara yang ittisol ke itu perkara. Misalkan pedang atau tongkat, dibawah tongkat atau pedang itu barangkali dibawahnya ada najis, maka tidak boleh dipegang atau menempel dengan badan. Dan tidak boleh si khotib memegang pinggiran mimbar kalau di mimbar itu ada najis.
  3. Menutupi ‘aurat, tegasnya nutupin ‘aurat di haqnya yang baca khutbah, bukan di haqnya yang mendengar si khotib, dan tidak disyaratkan bagi yang mendengar untuk menutupi ‘aurat.
  4. Berdiri bagi orang yang kuasa
  5. Harus duduk diantara khutbah 2, seukuran tumaninah di sholat.
  6. Terus-terus antara khutbah 2
  7. Terus-terus antara khutbah 2 dengan sholat
  8. Khutbahnya memakai bahasa arab, walaupun di kaum tersebut di luar bahasa arab dan tidak mengerti bahasa arab. Tetapi walaupun kaum tersebut tidak mengerti bahasa arab tapi mereka tahu bahwa khotib sedang bertutur/berkhutbah/nasihat.
  9. Khutbahnya itu terdengar oleh orang yang 40
  10. Khutbah itu di waktu dhuhur.

Faidah : diterangkan di hadist, siapa saja orang yang membaca setelah salamnya sholat jumat, sebelum merubah posisi kaki, membaca fatihah, al ikhlas, al falaq, an naas masing-masing 7 kali maka akan dimaafkan dosa-dosa yang dahulu dan terakhir. Serta akan diberi ganjaran sebilangan orang yang iman ke Allah dan rasul-Nya.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Inilah Syarat-Syarat Sah Shalat Jumat

Salat Jumat adalah aktivitas ibadah salat wajib yang dilaksanakan secara berjama’ah bagi lelaki Muslim setiap hari Jumat yang menggantikan salat dzhuhur. Syaratnya sholat jumat itu, yaitu :

  1. Sholat jumat itu ada di waktu dhuhur
  2. Di sebuah bangunan di suatu perkampungan
  3. Harus berjama’ah
  4. Sholat juma’at harus ada 40 orang atau lebih, merdeka dan bukan ‘abid serta lelaki, baligh serta penduduk setempat. Jadi tidak sah kalau orangnya kurang dari 40 atau ahli jum’atnya pendatang (bukan pribumi).
  5. Jangan mendahului jum’atan dan jangan ngebarengin jum’atan itu di jum’atan yang lain di kampung itu. Tegasnya di itu tempat sholat jumat kecuali kalau susah kumpulnya orang-orang di suatu tempat walaupun adanya tempatnya itu di lain mesjid seperti jalan gede.
  6. Sebelum sholat jum’at khutbah 2 dulu.

Sebenar-benarnya orang yang mengerjakan sholat jumat itu ada beberapa bagian :

  1. Wajib, jadi dan sah jumatnya seperti orang yang mengerjakan sholat jumat dan tercapai syarat -syaratnya.
  2. Tidak wajib jum’at, kalau dikerjakan juga tidak jadi dan tidak sah, yaitu seperti kafir atau orang gila.
  3. Tidak wajib, tidak jadi, tetapi kalau melakukan sah, misalkan ‘abid, musafir, anak yang sudah tamyiz.
  4. Tidak wajib tapi jadi kalau mengerjakannya serta sah hukumnya. Misalkan orang yang ada pa’udzuran
  5. Wajib mengerjakan jumat, tetapi tidak jadi dan tidak sah kalau mengerjakan juga, yaitu orang murtad.
  6. Wajib dan sah tetapi tidak jadi, yaitu bagi orang-orang mukim tapi rumahnya tidak disitu. Misalkan orang yang niat nga mukim/tinggal 4 hari yang utuh.

Apabila di suatu negara/kampung ada 2 jumatan dan tidak ada kebutuhan, itu ada 5 tingkah. Pertama : kalau dua-duanya bareng takbirotul ihromnya, maka batal atau tidak sah sholat jumat dua-duanya. Maka kalau ingin sah wajib dikumpulkan di suatu tempat dan wajib melaksanakan jumat ketika masih ada waktunya, serta tidak sah mengerjakan sholat dhuhur setelah jumat.

Kedua kalau tidak bareng takbirotul ihrom (ada yang duluan dan ada yang belakangan), maka yang duluan lah yang sah, tang belakangan tidak sah/batal, maka wajib bagi semua ahli jumat melaksanakan sholat dhuhur. Ketiga kalau dua-duanya mang mang/ was was apakah duluan atau bareng, maka wajib dikumpulkan di suatu tempat dan wajib melaksanakan sholat jumat ketika masih banyak waktunya dan disunatkan melaksanakan sholat dhuhur setelah sholat jumat.

Keempat kalau yakin akan duluannya tetapi tidak bisa menentukan yang mana-mananya, seperti terdengarnya oleh orang yang sakit terus memberitahu ke ahli jumat sambil menyamarkan ke yang duluan takbirotul ihromnya, maka wajib ke semua ahli jumat melaksanakan sholat dhuhur. Kelimanya kalau yakin akan duluannya dan bisa menentukannya cuma lupa, nah ini seperti nomer 4 saja.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Syarat Khutbah Jumat

Ketika melakukan khutbah jum’at ada beberapa syarat yang harus dilakukan. Apabila syarat ini tidak terpenuhi, maka khutbah jum’at nya tidak sah. Adapun syarat khutbah jum’at itu ada 10, yaitu:

  1. Suci dari hadats (kecil dan besar)
  2. Suci dari najis pada pakaian, badan dan tempat
  3. Tertutup aurat
  4. Berdiri bagi yang mampu. Dari Jabir bin Samroh, ia berkata bahwa Rasulullah berkhutbah sambil berdiri, kemudian beliau duduk dan berdiri lagi, diikuti dengan membaca Al Qur’an dan berdzikir kepada Allah. Serta dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah berkhutbah sambil berdiri, kemudian beliau duduk dan berdiri lagi, sebagaimana yang kamu lakukan sekarang (HR Bukhari)
  5. Duduk antara dua khutbah. Seorang khatib harus memisahkan antara khutbah dua dengan duduk, keadaan ini dilakukan seukuran tuma’ninah dalam shalat. Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majah, “Sesungguhnya Nabi Muhammad berkhutbah dua kali dan beliau duduk antara kedua khutbah itu.”
  6. Terus menerus antara khutbah dua. Khutbah harus dilakukan secara terus-menerus, artinya antara khutbah yang pertama dengan khutbah yang kedua tidak boleh terpisah dan diselingi oleh perbuatan yang lain. hikmah dari dilaksanakannya khutbah secara terus menerus ialah untuk menambah kekhusyuan dan perhtian jama’ah terhadap khutbah.
  7. Terus-menerus antara khutbah dua dengan shalat. Antara khutbah dua dengan shalat tidak boleh terpisah dengan istirahat yang lama, karena perbuatan yang dilakukan secara terus menerus akan menambah kekhusyuan.
  8. Khutbah harus menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam Nawawi menggunakan bahasa Arab ditetapkan dengan jalan qias, yaitu dengan mengqiaskan kepada tasyahud karena keduanya merupakan dzikir yang difardhukan, juga karena Nabi tidak pernah khutbah dengan bahasa Ajam (selain Arab)
  9. Harus didengar oleh 40 orang
  10. Khutbah harus dilakukan dalam waktu dzuhur

5 Rukun Khutbah Jum’at

Dalam melakukan khutbah jum’at, ada beberapa rukun yang harus dilaksanakan. Apabila rukun khutbah ini tidak dilakukan, maka khutbah jum’at nya tidak sah. Adapun rukun khutbah jum’at ada 5, yaitu:

Memuji kepada Allah

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim:

Dari Jabir bin Abdillah, sesungguhnya Nabi Muhammad berkhutbah pada hari jum’at. Beliau memuji kepada Allah dan menyanjungnya. Setelah itu beliau bersabda dengan suara lantang dan muka merah seolah beliau seorang komandan pasukannya. Nabi berkata, “Aku diutus sampai tibanya kiamat seperti dua jari ini (beliau isyarat dengan jari tengah dan telunjuk, dan seterusnya…)”

Membaca shalawat untuk Nabi Muhammad

Membaca shalawat termasuk rukun khutbah, minimalnya ialah membaca Allaahumma shalli ‘ala Muhammad.

Wasiat dengan taqwa

Yang dimaksud dengan wasiat dengan taqwa ialah khutbahnya khatib mengingatkan kepada jama’ah untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kemungkaran.

Hal ini berdasarkan hadits Muslim:

Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata bahwa ada khutbah yang dilakukan oleh Rasulullah, beliau duduk antara dua khutbah itu, membaca shalawat  dan memberi nasihat serta peringatan kepada jama’ah.

Membaca Al Qur’an

Membaca ayat Al Qur’an dalam khutbah merupakan satu rukun dan cukup satu ayat.

Berdoa bagi kaum muslimin dan muslimat pada khutbah kedua

Demikianlah uraian singkat mengenai rukun khutbah jum’at. Semoga penjelasan di atas dapat bermanfaat bagi kita semua baik di dunia maupun di akhirat.

Syarat Sah Shalat Jum’at

Shalat jumat ialah shalat yang dilakukan seminggu sekali, pada hari jum’at, dan sebagai pengganti shalat dzuhur. Adapun yang menjadi syarat shalat jumat akan diuraikan di bawah ini.

Shalat jum’at dilakukan pada waktu shalat dzuhur

Shalat jum’at harus dilakukan pada waktu shalat dzuhur, yaitu sejak tergelincirnya matahari sampai dengan panjangnya bayang-bayang suatu benda sama dengan tingginya benda itu. Dengan demikian maka tidak sah apabila shalat jum’at dilakukan sebelum atau sesudah waktu shalat dzuhur.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari: Dari Anas ia berkata bahwa Rasulullah melakukan shalat jum’at  ketika matahari tergelincir.”

Hadits riwayat Muslim: Dari Salamah bin Akwa, ia berkata, “Kami melakukan shalat jum’at bersama Rasulullah apabila matahari telah condong ke arah barat, kemudian kami pulang menyelusuri dinding rumah.”

Shalat Jumat

Dilaksanakan di tempat tinggal

Shalat jum’at harus dilaksanakan di tempat tinggal, baik di desa ataupun di kota, karena Rasulullah dan khulafaur rasyidin tidak pernah melakukan shalat jum’at kecuali di tempat tinggal, dan tidak ada keterangan yang menjelaskan Nabi pernah melakukan shalat jum’at di luar perkampungan penduduk.

Dilaksanakan secara berjamaah

Shalat jum’at harus dilaksanakan secara berjamaah, karena Nabi dan para sahabat melakukannya secara berjamaah.

Ahli jum’ah harus mencapai 40 orang

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dan Baihaqi:

Dari Ka’ab bin Malik, ia berkata bahwa orang yang pertama kali mendirikan shalat jum’at di Madinah sebelum datang Nabi ialah Sa’ad bin Zaroroh di kampung Al Hadimat. Aku bertanya,’ berapa jumlah kalian ketika itu?’ empat puluh orang.

Ahli jum’ah yang berjumlah 40 orang itu harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Laki-laki
  2. Baligh
  3. Merdeka
  4. Berdiam di tempat tinggalnya

Syarat ini berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud: Dari Thariq bin Syihab sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Jum’at itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dalam satu jamaah kecuali 4 golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak yang belum baligh dan orang sakit.”

Hadits riwayat Abu Dawud dan Baihaqi:

Dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajib baginya mendirikan shalat jumat kecuali perempuan, orang yang sedang bepergian, hamba sahaya dan orang yang sakit.”

Tidak didahului atau disertai oleh jum’at lain di daerah itu

Shalat jum’at yang sah ialah shalat jum’at yang tidak didahului atau disertai oleh jum’at yang lain di daerah itu, hal ini karena dalam satu tempat tidak boleh ada dua jum’at atau lebih.

Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak boleh ada dua jum’at atau lebih dalam satu tempat, karena Nabi dan para sahabat tidak pernah mendirikan dua jum’at dalam satu tempat.

Imam Abu Dawud berkata bahwa pada masa Rasulullah, di Madinah terdapat 9 mesjid, namun para sahabat tidak pernah melakukan shalat jum’at kecuali di mesjid Rasulullah.

Riwayat ini diperkuat oleh hadits Ibnu Majah dan Ibnu Khujaemah yang menerangkan bahwa penduduk Quba’ mengerjakan shalat jum’at bersama Nabi di Madinah.

Dilaksanakan setelah khutbah dua

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim: Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah berkhutbah pada hari jum’at sambil berdiri, dan beliau duduk antara dua khutbah.