Pondasi Orang Salikiin

Kembalinya ke Allah swt dengan macam-macam perjalanannya, itu merupakan sebagian ciri-cirinya bagian dari macam-macam penutupnya.

Penjelasan : Orang salikiin yaitu orang yang menggapai titel kewalian itu ada bidayahnya (permulaan) dan nihayahnya (penutup) dalam tingkah perjalanannya dan dalam tingkah wusulnya.

Siapa saja yang jujur dalam perjalanannya (menurut syara’ dan thoriqot), pasrah kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya, maka akan bahagia, berhasil serta akan sampai ke Allah. Jadi ciri orang yang berhasil di akhirnya yaitu selalu kembali ke Allah di awalnya.

Sebaliknya, siapa saja orang yang tidak benar awalnya, artinya tidak melekat ke Allah, tidak menjauhi hawa nafsu, maka akan kembali menjadi tidak jujur. Sehingga para ‘ulama berpendapat siapa saja orang yang berprasangka bahwa sebenar-benarnya dirinya bisa sampai kepada Allah swt, maka akan diputuskan. Dan apabila minta tolong melalui peribadahan dengan kekuatan dirinya, maka akan dipasrahkan kepada kekuatannya, tegasnya tidak akan didukung oleh Allah.

Maka bagi ‘abdi Allah yang ingin menggapai titel kewalian harus menjadikan semua urusan dilekatkan atau dipasrahkan dengan meminta tolong kepada Allah. Sesuai dengan jalan-Nya, jangan melihat dari daya dan upaya nafasnya, dalam banyak sedikitnya ‘amal.

Nah hikmah diatas ini merupakan pondasinya orang salikiin, yaitu yang keluar dari qowa’id nya ahli suluk “siapa saja orang yang terang diawalnya, maka akan terang juga diakhirnya”.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah Kedua puluh enam)

 

Hikmah yang ke 27 nya, yang me muwafaqohan maknanya hikmah ke 26 diatas. Tegasnya bahwa benderang nya (terangnya) perjalanannya ahli suluk, dengan benarnya dan kembalinya ke Allah, itu akan benderang (terang) dalam nihayahnya, artinya sampainya kepada maqom hadrotulqudsiyyah.