Manakah Yang Lebih Utama, Sabar atau Syukur?

syukur dan sabar

Ada yang mengatakan bahwa sabar adalah lebih baik daripada bersyukur. Karena orang-orang yang bersyukur akan bersama tambahan nikmat. Seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7, “Sungguh jika kamu bersyukur tentu Aku akan menambahkan nikmatmu.”

Sedang orang-orang yang sabar selalu disertai oleh Allah, seperti firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 153, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.”

Dari Wahb Munabbah, dia berkata, “Nabi Musa berkata pada saat dia berada di bukit Thur, ‘Ya Tuhanku, tempat manakah diantara tempat-tempat di surga yang lebih Engkau cintai?’

Allah berfirman, ‘Hai Musa, Hadhiiratul Qudsi (Haribaab Tuhan Yang Maha Suci).’ Nabi Musa bertanya lagi, ‘Ya Tuhanku, siapakah yang akan menempatinya?’ Allah berfirman, ‘Orang-orang yang memiliki musibah.’

Nabi Musa berkata, ‘Terangkanlah kepadaku sifat-sifat mereka.’ Allah berfirman, ‘Hai Musa, mereka adalah sekelompok orang yang ketika bala’ menimpa mereka, maka mereka bersabar. Apabila aku menganugerahkan nikmat kepada mereka bersyukurlah mereka, apabila musibah menimpa mereka berkatalah mereka Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uuna (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya). Mereka itulah penghuni-penghuni surga Hadhiiratul Qudsi.”

Ath Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa yang ditimpa sebuah musibah dalam hartanya atau tubuhnya, lalu dia menyembunyikannya dan tidak mengadukannya kepada manusia maka Allah pasti mengampuninya.”

Maka sudah seharusnyalah bahwa bagi orang-orang yang berakal agar bersabar menghadapi beberapa macam musibah, bala’, ujian dan kefakiran, agar dia memperoleh ampunan Allah swt, dihapuskan kejahatannya dan diangkat derajatnya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keutamaan Sifat Sabar

Sifat sabar merupakan sebuah sifat yang terpuji, dan sangat dianjurkan sekali dalam syariat islam. Sabar ini dilakukan dalam berbagai situasi dan keadaan yang dihadapi oleh umat islam.

Diceritakan bahwa Asy Syibli rahimahullah tertahan di rumah sakit. Masuklah sekelompok orang menjenguknya. Mereka berkata, “Kami adalah orang-orang yang mencintaimu. Kami datang perlu menjengukmu.” Maka bertindaklah Asy Syibli melempar mereka dengan batu dan larilah mereka semua.

Kemudian Asy Syibli berkata, “Jika kamu adalah orang-orang yang mencintaiku tentu kamu akan bersabar menerima bala’ku ini.”

Nabi Muhammad bersabda, “Bersabar sesaat menghadapi sebuah musibah adalah lebih baik daripada beribadah setahun.”

sabar

Keutamaan sabar daripada syukur

Karena itu pernah disebutkan bahwa orang yang bersabar adalah lebih utama daripada orang yang bersyukur. Karena orang yang bersyukur akan bersama tambahan nikmat, seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:

“Sungguh jika kamu bersyukur tentu Kami akan menambah kepadamu.”

Sedang orang yang bersabar bersama dengan Allah swt, seperti firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 153, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.”

Demikian pula diriwayatkan dari Muhammad bin Maslamah, dari Nabi Muhammad, beliau bersabda:

Tiada kebaikan bagi seorang hamba yang tidak pernah hilang hartanya dan tidak pernah sakit tubuhnya. Sesungguhnya Allah swt apabila mencintai seorang hamba maka Dia akan mengujinya, dan apabila Dia menguji hamba itu bersabarlah hamba tersebut.”

Jenis dan Tingkatan Sabar

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dalam perihal sabar, dan Abusy Syaikh dalam perihal pahala. Dia berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Kesabaran itu ada 3 macam” dilihat dari segi hubungannya ada 3 macam, yaitu ‘sabar menghadapi musibah’. Sehingga dia tidak membencinya ‘sabar menghadapi maut’ sehingga dia tetap menunaikannya ‘dan sabar menghadapi maksiat’ sehingga tidak terperosok ke dalamnya.

Barang siapa yang bersabar menghadapi musibah, yakni hal-hal yang membuat kebinasaan sehingga dia menolaknya dengan kebaikan tujuan hatinya, maka Allah akan menulis untuknya, yakni Allah menentukan atau memerintahkan untuk menulis dalam Lauh Mahfudh atau dalam buku catatan amal 300 derajat, yakni kedudukan tinggi di surga, ukuran antara kedua derajat itu adalah seperti antara langit dan bumi.

Barang siapa yang bersabar menghadapi maut, yakni untuk mengerjakannya dan memikul jerih payah karena ketentuan hukum, maka Allah akan menulis untuknya 600 buah derajat, jaraka antara kedua derajat adalah seperti apa yang ada diantara batas bumi teratas sampai batas terakhir dari bumiketujuh.

Dan barang siapa yang bersabar untuk meninggalkan maksiat, maka Allah menulis untuknya 900 buah derajat, jarak antara dua buah derajat adalah apa yang ada diantara batas bumi sampai batas tertinggi dari Arasy.

Jadi bersabar untuk meninggalkan hal-hal yang haram adalah tingkatan yang tertinggi, karena sulitnya menentang nafsu dan menekannya pada sesuatu yang bukan menjadi tabiatnya. Lalu di bawahnya barulah bersabar untuk mengerjakan segala perintah, karena kebanyakan perintah itu masih disukai oleh nafsu yang utama. Yang terakhir ialah bersabar menghadapi hal yang tidak disukai, karena ia bisa datang pada orang yang berbuat baik atau orang yang menyimpang, baik dalam keadaan sadar atau terpaksa.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Bersabar Dalam Ketaatan

Sebagai umat muslim dan hamba yang dhaif di hadapan Allah, maka kita harus selalu bersabar dalam menghadapi setiap ujian, cobaan, dan musibah, dan meyakini bahwa semua itu datangnya dari Allah.

Kita juga harus selalu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. artinya selalu ridha dan ikhlas ketika melaksanakan setiap perintah dan kewajiban Allah.

Sabar dalam melaksanakan ketaatan itu adalah menahan hati untuk selalu melaksanakan sulitnya ketaatan.

Kita juga harus sabar dalam menghadapi kemaksiatan, yaitu menahan hati terhadap sulitnya meninggalkan kemaksiatan.

Menurut Ibnu Qayyim, dari aspek hukum sabar itu terbagi menjadi lima, yaitu:

  1. Wajib, bersabar melakukan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan serta menanggung musibah.
  2. Sunah, bersabar melakukan keusnahan dan meninggalkan yang dimakruhkan (dibenci).
  3. Haram, yaitu bersabar meninggalkan makan hingga mati, atau bersabar tenggelam atau terhadap orang kafir yang akan membunuhnya.
  4. Makruh, yaitu bersabar sedikit sekali dalam makan dan berhajat menggauli istrinya.
  5. Mubah, yaitu bersabar untuk memilih antara memperbuat atau meninggalkan sesuatu.

Sabar Dalam Menghadapi Masalah dan Ujian Hidup

Kita harus selalu bersabar dalam menghadapi setiap masalah, ujian, dan bencana. Kita harus meyakini bahwa itu semua adalah datangnya dari Allah.

Sabar itu berarti menahan hati dari mengeluh dan gelisah. Disebutkan dalam hadis yang dikemukakan oleh As Suhaimi dalam Lubatut Thalibin, “Sebenarnya besarnya balasan itu beserta besarnya bencana, dan sesungguhnya Allah itu jika mencintai suatu kaum maka Dia mencoba mereka, siapa rela maka dia mendapatkan kerelaan, dan siapa yang marah, maka dia mendapatkan kemarahan.”

Diriwayatkan dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda:

Allah Ta’ala berfirman, “Apabila Aku hadapkan pda seorang hamba dari hamba-hamba-Ku berupa musibah pada dirinya (jiwanya) dan hartanya atau anak-anaknya lalu dia menerima hal itu dengan sabar dan baik, maka Aku merasa malu untuk menegakkan timbangan amal atyau membuka catatan kitab perbal amal padanya pada hari kiamat.”

Bersabar menghadapi musibah adalah seperti tertimpa sakit, kelaparan, takut diancam musuh, kematian orang yang dicintai seperti anak atau istri, kehabisan harta, diintimidasi orang, dan lainnya. disebutkan dalam hadis yang tercantum dalam kitab Al Jami’us Saghir:

Siapa tertimpa suatu musibah lalu dia ingat pada musibahnya dan mengucapkan istirja’ sekalipun mendatangi, maka Allah menetapkan baginya pahala yang sama pada hari tertimpa musibah.

Sementara orang-orang arif mengatakan bahwa sabar itu ada tiga tingkatan, yaitu:

  1. Meninggalkan pengaduan (mengeluh) yang disebut sabar baik, inilah derajat tabi’in.
  2. Rela terhadap takdir, inilah derajat orang-orang zuhud.
  3. Mencintai apa yang diperbuat Yang Maha Menguasai, inilah derajat pada shadiqin.

Fadhilah dan Manfaat Bersabar Terhadap Istri Yang Cerewet

Diceritakan dari seseorang yang shalih yang mempunyai saudara yang shalih pula, yang tempatnya berjauhan sehingga ia hanya dapat berziarah ke tempat saudaranya setahun sekali. Pada suatu hari saudaranya berkunjung ke rumah kakaknya, lalu mengetuk pintu rumahnya, kemudian istrinya bertanya, “Siapakah kamu?”

Jawabnya, “Aku adalah saudara lelaki suamimu, aku datang bersilaturahim kepadanya.” Sang istri berkata, “Suamiku sedang pergi untuk mencari kayu bakar, semoga Allah tidak mengembalikannya pulang ke rumah ini,” lalu sang istri berkata banyak yang mencerca dan memaki kepada suaminya.

Dalam keadaan demikian itu, kakaknya datang dengan seekor singa yang membawakan kayu bakarnya di punggungnya. Dari kejauhan ia datang, ketika sampai pada adiknya, lalu mengucapkan salam dan menyambutnya dengan baik, kemudian menurunkan kayu bakar dari punggung singa dan berkata, “Wahaio singa pergilah, semoga Allah memberi berkah kepadamu.”

Kemudian mengajak masuk adiknya yang baru datang itu ke dalam rumah. Sungguh pun dmeikian, rupanya sang istri masih tetap mengimbar lidahnya, namun kakaknya tidak memberikan jawaban meskipun hanya satu kata.

Setelah dihidangkan makanan dan bercakap-cakap secukupnya, lalu sang adik minta pamit untuk pulang ke rumahnya. Dia tidak habis pikir dan juga meras akagum terhadap kesabaran sang kakak terhadap kejahatan istrinya.

Pada tahun berikutnya si adik datang kembali ke rumah kakaknya, lalu mengetuk pintunya, kemudian si istri menjawabnya dari dalam rumah, “Siapakah kamu?” Jawabnya, “aku saudara lelaki suamimu, datang untuk berkunjung padanya.” Sang istri menjawab, “Selamat datang atas kunjunganmu.” Ia juga memuji atas kebaikan suaminyaa dan memeritahkan kepada adiknya agar bersabar menunggun kedatangan kakaknya.

Tidak lama kemudian kakaknya datang dengan membawa kayu bakar di atas punggunya, lalu disuruhnya masuk ke dalam rumah, dan dihidangkan makanan. Meskipun pekerjaan istri banyak, namun masih sempat memuji kebaikan suaminya.

Ketika adiknya ingin pulang, lalu bertanya kepada kakaknya atas kejadian tahun kemarin, yaitu singa yang membawakan kayu bakar di waktu istri banyak bicara, dan mengapa sekarang singa itu tidak membawakan kayu bakar lagi, dan mengapa bisa terjadi demikian.

Kakaknya menjawab, “Wahai saudaraku, istriku yang berlidah tajam dahulu tekah meninggal dunia, aku dapat bersabar terhadap akhlaknya yang jahat. Akhirnya Allah memerintahkan singa untuk menjadi pelayanku, ia sanggup membawakan kayu bakar di punggungnya lantara aku bersabar terhadap istriku dahulu. Kemudian aku kawin lagi dengan wanita yang shalihah ini, aku merasa tenang, dan singa pun tidak lagi membantuku. Oleh sebab itu, aku harus membawa kayu bakar dengan punggungku sendiri, sebab aku tidak dirisaukan oleh istriku yang shalih ini.”