Pentingnya Menghadapi Ujian Dan Cobaan Dengan Sabar

Ketahuilah, ujian dan cobaan di dunia merupakan sebuah keharusan, siapa pun tidak bisa terlepas darinya. Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan merupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman seseorang kepada Allah SWT

Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.

Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah sangat kita butuhkan dalam menghadapi badai cobaan yang menerpa. Sehingga tidak menjadikan diri kita berburuk sangka kepada Allah SWT terhadap segala Ketentuan-Nya.

Oleh karena itu, dalam keadaan apapun, kita sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai ujian atas keimanan yang kita miliki. Allah sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)

Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebagaimana dalam firman-Nya : “…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)

Macam-Macam Kesabaran

Ibnul Qoyyim mengatakan dalam Madarijus Salikin : “Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (tidak lurus). Sabar ada tiga macam, yaitu sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari maksiat, dan sabar dari cobaan Allah.” Oleh karena itu sabar dibagi menjadi beberapa tingkatan :

1. Sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena takut ancaman Allah, Kita harus selalu berada dalam keimanan dan meninggalkan perkara yang diharamkan. Yang lebih baik lagi adalah, sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena malu kepada Allah. Apabila kita mampu muraqabah (meyakini dan merasakan Allah sedang melihat dan mengawasi kita) maka sudah seharusnya kita malu melakukan maksiat, karena kita menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita kerjakan. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya, di surah Al Hadid ayat 4 ” …….. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

2. Tingkatan sabar yang kedua adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dengan terus-menerus melaksanakannya, memelihara keikhlasan dalam mengerjakannya dan memperbaikinya. Dalam menjalankan ketaatan, tujuannya hanya agar amal ibadah yang dilakukan diterima Allah, tujuannya semata-mata ikhlas karena Allah SWT.

Ada Beberapa Hal Yang Akan Menuntun Seorang Hamba Untuk Bisa Sabar Dalam Menghadapi Ujian Dan Cobaan, Sebagai Berikut :

1. Sebaiknya kita merenungkan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Dan Allah menimpakan ujian atau musibah-musibah tersebut mungkin disebabkan dosa-dosa kita . Sebagaimana firman Allah SWT : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuro : 30).

Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah-musibah yang menimpa disebabkan oleh dosa-dosanya. Maka dia akan segera bertaubat dan meminta ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang telah dilakukannya.

Dan Nabi Muhammad saw bersabda: “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Jadi ujian dan cobaan, bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita dan juga untuk mengangkat kita ke derajat keimanan yang lebih tinggi.

2. Kita harus menyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah selalu ada bersama kita. Dan Allah telah memberikan jaminan untuk kita dalam surah Al Baqarah ayat 286, bahwa ” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya” Dan Allah cinta dan ridha kepada orang yang sabar. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya sbb: “dan sabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Anfal : 46) Dan Firman-Nya : “…Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS.Al Imran : 146)

Bersabarlah maka kita akan melihat betapa dekatnya kelapangan. Barangsiapa yang muraqabah (merasa diawasi) Allah dalam seluruh urusan, ia akan menjadi hamba Allah yang sabar dan berhasil melalui ujian apapun dalam hidupnya. Kesabaran yang didapatkan ini, berdasarkan pada petunjuk Allah dalam Al Quran, surah At Thur ayat 48 : Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.”Dan ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mengharapkan Allah, maka Allah akan ada dimana dia mengharap.

3. Kita harus mengetahui bahwa jika kita bersabar, maka akan mendatangkan ridha Allah, karena ridha Allah SWT, terdapat dalam kesabaran kita, terhadap segala ujian dan ketentuan takdir-Nya, yang kurang kita sukai.

8 Keutamaan Sabar Menurut Al Quran dan Hadits

Sabar memiliki kedudukan tinggi yang mulia dalam agama Islam. Oleh karena itu, Al Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sabar setengah dari keimanan dan setengahnya lagi adalah syukur. Lebih jelasnya, akan diuraikan beberapa penyebutan ash-shabr dalam Al Qur’an dengan uraian yang ringkas sebagai berikut:

1. Sabar Merupakan Perintah Mulia Dari Rabb Yang Maha Mulia

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,..” (QS. Al-Baqarah: 153)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu,..…” (QS.Ali Imran: 200)

Kandungan dari kedua ayat diatas menerangkan bahwa sabar merupakan perintah dari Allah SWT. Sabar termasuk ibadah dari ibadah-ibadah yang Allah wajibkan kepada hamba-Nya. Terlebih lagi, Allah SWT kuatkan perintah sabar tersebut dalam ayat yang kedua. Barangsiapa yang memenuhi kewajiban itu, berarti ia telah menduduki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT

2. Pujian Allah SWT Terhadap Orang-Orang Yang sabar

Allah SWT memuji mereka sebagai orang-orang yang benar dalam keimanannya. Sebagaimana firman-Nya: “….. dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

3. Mendapat Kecintaan Dari Allah SWT

Semua orang yang beriman berharap menjadi golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT. Dan Allah mengabarkan kepada hamba-Nya bahwa golongan yang mendapatkan kecintaan-Nya adalah orang-orang yang sabar terhadap ujian dan cobaan dari-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya
“…….., dan Allah itu menyukai/mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)

.Dan Allah selalu bersama orang-orang yang sabar, seperti tertulis dalam firman-Nya: “…..…dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Yang dimaksud dengan Allah bersama orang-orang yang sabar adalah penjagaan dan pertolongan Allah SWT selalu menyertai orang-orang yang sabar. Sebagaimana pula diterangkan dalam hadits berikut ini: “Ketahuilah olehmu! Bahwasannya datangnya pertolongan itu bersama dengan kesabaran.” (HR. At Tirmidzi, dari shahabat Ibnu ‘Abbas ra)

4. Shalawat, Rahmat dan Hidayah Bersama Orang Yang Sabar

Allah SWT senantiasa mencurahkan shalawat, rahmat dan hidayah-Nya kepada orang-orang yang sabar. Karena jika mereka ditimpa ujian dan cobaan dari Allah mereka kembalikan urusannya kepada Sang Pencipta, yang memilikinya.

Sifat mulia yang dimiliki orang yang sabar ini dikisahkan oleh Allah dalam firman-Nya disurah Al Baqarah, ayat 156-157 : “orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji�uun (esungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembal). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Atas dasar ini, bila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, dianjurkan mengucapkan kalimat ini, dan ini yang dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah setelahnya dengan do’a yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad saw sebagai berikut :“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”

Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan do’a di atas niscaya Allah SWTakan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)

Suatu ketika Ummu Salamah ditinggal suaminya Abu Salamah yang mati syahid di medan perang (jihad). Kemudian beliau mengucapkan do’a ini, sehingga Allah SWT memenuhi janji-Nya dengan memberikan pendamping (jodoh) baginya dengan sebaik-baik pendamping yaitu Rasulullah saw. Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengingkari janji-Nya.

5. Mendapatkan Ganjaran Yang Lebih Baik Dari Amalannya

Allah SWT memberikan ganjaran bagi orang yang sabar melebihi usaha atau amalan yang ia lakukan. Sebagaimana firman-Nya : “……Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. “ (An Nahl: 126)

Dalam ayat lainnya, Allah SWT menjanjikan akan memberikan jaminan kepada orang yang sabar dengan ganjaran tanpa hisab (tanpa batas). Sebagaimana firman-Nya : “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az Zumar: 10)

6. Mendapat Ampunan Dari Allah SWT

Selain Allah memberikan ganjaran yang lebih baik dari amalannya kepada orang yang sabar, Allah juga memberikan ampunan kepada mereka. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : ”kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”. (Hud: 11)

Dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan Allah SWT telah menghapus dengan musibah itu dosanya. Meskipun musibah itu adalah duri yang menusuk dirinya.”

7. Mendapat Martabat Tinggi Di Dalam Surga

Anugerah yang lebih besar bagi orang-orang yang sabar adalah berhak mendapatkan martabat yang tinggi dalam Surga. Allah SWT berfirman : “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. (Al Furqaan: 75

8. Sabar Adalah Jalan Terbaik

Semua uraian di atas menunjukkan bahwa sabar ialah jalan yang terbaik bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Dari shahabat Shuhaib bin Sinan, Rasulullah saw bersabda : “Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin, sungguh semua urusannya baik baginya, yang demikian itu tidaklah dimiliki seorang pun kecuali hanya orang yang beriman. Jika mendapat kebaikan (kemudian) ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika keburukan menimpanya (kemudian) ia bersabar, maka itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)

Coba kita renungkan, bukankah kita selalu mampu untuk bisa sabar dalam menerima ujian-Nya yang berupa nikmat hidup? Maka sudah seharusnya kita juga harus bisa sabar dalam menerima unjian-Nya yang berupa kehilangan nikmat hidup, istilahnya, jangan mau terima yang enak-enak saja.

Jadi kita sebaiknya harus bisa bersabar dalam menghadapi segala macam ujian dalam hidup kita, terutama setelah kita mengetahui keutamaan besar yang Allah SWT janjikan bagi hamba-Nya yang bersabar.

Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga Menurut Islam

Terasa sempitnya hidup ini, atau berbagai gambaran negatif yang sering terbentuk saat melihat kejadian-kejadian di hadapan kita, kerap menyeret kita ke arah ketidakbahagiaan. Salah satu penyebab hal itu adalah keengganan kita mendoakan orang lain. Cobalah Kita berdoa agar Allah ta’ala melapangkan hati pasangan, insya Allah, kelapangan hati pun akan Kita dapatkan.

Ini sejalan dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ’aamiin’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (Riwayat Muslim).

Betapa banyak rumah tangga diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari kehancuran, karena doa seorang suami atau istri untuk pasangannya. Doa, bisa mengubah sesuatu yang sepertinya tak mungkin, menjadi mungkin. Tentu saja, dengan izin Allah ta’ala.

Pernikahan adalah sebuah jalinan suci yang menciptakan sebuah keluarga baru dimana bersatunya sepasang manusia yaitu pria dan wanita menjadi sepasang suami dan istri yang kemudian akan menjalani kehidupan baru yaitu rumah tangga.

Dalam rumah tangga kadang terjadi perbedaan pendapat antara suami dan istri sehingga menimbulkan pertengkaran, dan hal ini adalah wajar karena setiap orang memang memiliki pendapat masing-masing. Yang membuat tidak wajar adalah ketika pertengkaran itu terjadi secara terus menerus, dan kadang kala menimbulkan tindakan fisik yang bersifat melukai.

Hal ini tentunya sangat tidak di harapkan dalam sebuah hubungan rumah tangga, maka dari itu usahakan untuk selalu meredam ego dan menumbuhkan rasa sabar dihati. Jika memang terjadi perbedaan pendapat, maka dapat diselesaikan secara baik-baik, dan penuh kasih sayang, Karena sebagai pasangan suami istri adalah wajib hukumnya untuk saling menyanyangi dan mengasihi, dan kita semua juga tahu bahwa didalam kasih sayang tidak ada rasa ingin menyakiti. Maka dari itu tumbuhkanlah selalu rasa kasih sayang yang suci dengan didasari niat untuk membahagiakan pasangan.

Alangkah indahnya jika hari-hari dalam rumah tangga selalu dipenuhi dengan rasa pengertian yang tulus ikhlas, Karena sepasang suami istri harus saling mengerti dan memahami satu sama lain. Inilah pentingnya keterbukaan antara keduannya. Karena segala sesuatu yang ditutupi kadang akan menimbulkan pertanyaan dan rasa curiga sehingga akan menimbulkan sebuah pikiran yang negatif. Pikiran negatif adalah pemicu awal sebuah konflik dalam rumah tangga. Maka ikhlaskan hati untuk memahami atau mengerti pasangan kita agar kita tahu apa yang dia inginkan. Langkah awal membahagiakan pasangan adalah ketika kita mengetahui apa yang diinginkannya.

1 hal lagi yang membuat rumah tangga menjadi bahagia adalah keharmonisan. Rumah tangga yang harmonis adalah salah satu wujud dari suksesnya hubungan rumah tangga. Untuk menciptakan sebuah hubungan yang harmonis sangat diperlukan sebuah komunikasi yang baik diantara kedua pasangan. Alangkah bahagiaanya jika dalam komunikasi tersebut sering diisi oleh candaan atau gurauan yang menghadirkan keceriaan, karena keceriaan adalah salah satu bibit unggul penumbuh kebahagiaan.

Salah satu faktor lain sebagai pencipta keharmonisan adalah rasa saling percaya. Jika kepercayaan sudah terjalin dengan sangat kuat, maka hubungan rumah tangga pun juga akan kuat karena sering dalam rumah tangga terjadi rasa cemburu yang disebabkan pasangannya dekat dengan orang lain. Jika tidak ada rasa kepercayaan maka akan hadir kecurigaan dan fikiran yang negatif yang akan menimbulkan pertengkaran.

Manakah Yang Lebih Utama, Sabar atau Syukur?

syukur dan sabar

Ada yang mengatakan bahwa sabar adalah lebih baik daripada bersyukur. Karena orang-orang yang bersyukur akan bersama tambahan nikmat. Seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7, “Sungguh jika kamu bersyukur tentu Aku akan menambahkan nikmatmu.”

Sedang orang-orang yang sabar selalu disertai oleh Allah, seperti firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 153, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.”

Dari Wahb Munabbah, dia berkata, “Nabi Musa berkata pada saat dia berada di bukit Thur, ‘Ya Tuhanku, tempat manakah diantara tempat-tempat di surga yang lebih Engkau cintai?’

Allah berfirman, ‘Hai Musa, Hadhiiratul Qudsi (Haribaab Tuhan Yang Maha Suci).’ Nabi Musa bertanya lagi, ‘Ya Tuhanku, siapakah yang akan menempatinya?’ Allah berfirman, ‘Orang-orang yang memiliki musibah.’

Nabi Musa berkata, ‘Terangkanlah kepadaku sifat-sifat mereka.’ Allah berfirman, ‘Hai Musa, mereka adalah sekelompok orang yang ketika bala’ menimpa mereka, maka mereka bersabar. Apabila aku menganugerahkan nikmat kepada mereka bersyukurlah mereka, apabila musibah menimpa mereka berkatalah mereka Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uuna (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya). Mereka itulah penghuni-penghuni surga Hadhiiratul Qudsi.”

Ath Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa yang ditimpa sebuah musibah dalam hartanya atau tubuhnya, lalu dia menyembunyikannya dan tidak mengadukannya kepada manusia maka Allah pasti mengampuninya.”

Maka sudah seharusnyalah bahwa bagi orang-orang yang berakal agar bersabar menghadapi beberapa macam musibah, bala’, ujian dan kefakiran, agar dia memperoleh ampunan Allah swt, dihapuskan kejahatannya dan diangkat derajatnya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keutamaan Sifat Sabar

Sifat sabar merupakan sebuah sifat yang terpuji, dan sangat dianjurkan sekali dalam syariat islam. Sabar ini dilakukan dalam berbagai situasi dan keadaan yang dihadapi oleh umat islam.

Diceritakan bahwa Asy Syibli rahimahullah tertahan di rumah sakit. Masuklah sekelompok orang menjenguknya. Mereka berkata, “Kami adalah orang-orang yang mencintaimu. Kami datang perlu menjengukmu.” Maka bertindaklah Asy Syibli melempar mereka dengan batu dan larilah mereka semua.

Kemudian Asy Syibli berkata, “Jika kamu adalah orang-orang yang mencintaiku tentu kamu akan bersabar menerima bala’ku ini.”

Nabi Muhammad bersabda, “Bersabar sesaat menghadapi sebuah musibah adalah lebih baik daripada beribadah setahun.”

sabar

Keutamaan sabar daripada syukur

Karena itu pernah disebutkan bahwa orang yang bersabar adalah lebih utama daripada orang yang bersyukur. Karena orang yang bersyukur akan bersama tambahan nikmat, seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:

“Sungguh jika kamu bersyukur tentu Kami akan menambah kepadamu.”

Sedang orang yang bersabar bersama dengan Allah swt, seperti firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 153, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.”

Demikian pula diriwayatkan dari Muhammad bin Maslamah, dari Nabi Muhammad, beliau bersabda:

Tiada kebaikan bagi seorang hamba yang tidak pernah hilang hartanya dan tidak pernah sakit tubuhnya. Sesungguhnya Allah swt apabila mencintai seorang hamba maka Dia akan mengujinya, dan apabila Dia menguji hamba itu bersabarlah hamba tersebut.”

Jenis dan Tingkatan Sabar

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dalam perihal sabar, dan Abusy Syaikh dalam perihal pahala. Dia berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Kesabaran itu ada 3 macam” dilihat dari segi hubungannya ada 3 macam, yaitu ‘sabar menghadapi musibah’. Sehingga dia tidak membencinya ‘sabar menghadapi maut’ sehingga dia tetap menunaikannya ‘dan sabar menghadapi maksiat’ sehingga tidak terperosok ke dalamnya.

Barang siapa yang bersabar menghadapi musibah, yakni hal-hal yang membuat kebinasaan sehingga dia menolaknya dengan kebaikan tujuan hatinya, maka Allah akan menulis untuknya, yakni Allah menentukan atau memerintahkan untuk menulis dalam Lauh Mahfudh atau dalam buku catatan amal 300 derajat, yakni kedudukan tinggi di surga, ukuran antara kedua derajat itu adalah seperti antara langit dan bumi.

Barang siapa yang bersabar menghadapi maut, yakni untuk mengerjakannya dan memikul jerih payah karena ketentuan hukum, maka Allah akan menulis untuknya 600 buah derajat, jaraka antara kedua derajat adalah seperti apa yang ada diantara batas bumi teratas sampai batas terakhir dari bumiketujuh.

Dan barang siapa yang bersabar untuk meninggalkan maksiat, maka Allah menulis untuknya 900 buah derajat, jarak antara dua buah derajat adalah apa yang ada diantara batas bumi sampai batas tertinggi dari Arasy.

Jadi bersabar untuk meninggalkan hal-hal yang haram adalah tingkatan yang tertinggi, karena sulitnya menentang nafsu dan menekannya pada sesuatu yang bukan menjadi tabiatnya. Lalu di bawahnya barulah bersabar untuk mengerjakan segala perintah, karena kebanyakan perintah itu masih disukai oleh nafsu yang utama. Yang terakhir ialah bersabar menghadapi hal yang tidak disukai, karena ia bisa datang pada orang yang berbuat baik atau orang yang menyimpang, baik dalam keadaan sadar atau terpaksa.

 

Sumber: Durrotun Nasihin