Tuma’ninah dalam shalat

Rukun shalat yang harus dilakukan dengan tuma’ninah

Tuma’ninah adalah sebagai salah satu rukun shalat diantara rukun shalat yang lainnya. Tuma’ninah juga sebagai sarana mencapai tingkat kesempurnaan shalat guna membangkitkan kesadaran diri, bahwa anda sedang berhadapan dengan Zat Yang Maha Kuasa.

Tumaninah dapat dicapai dengan cara rileks dan tidak tergesa gesa dalam melaksanakan gerakan shalat pikiran hanya terpokus pada apa yang sedang dfikerjakanya, Usahakan tubuh anda tidak tegang.

Rukun shalat yang harus dilakukan dengan tuma’ninah ada empat , yaitu:

Ruku’

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah kepada orang yang melakukan kesalahan dalam mengerjakan shalat, “Kemudian ruku’ lah dalam keadaan tuma’ninah.”

I’tidal

Hal ini berdasarkan hadis

Dari Rifa’ah bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu hendak mengerjakan shalat maka berwudhulah,” sampai kata beliau, “Kemudian ruku’ lah sehingga dilakukan dengan tuma’ninah dan berdirilah (i’tidal) dengan tuma’ninah.”

Sujud

Rasulullah bersabda, “Kemudian sujudlah sehingga ada dalam keadaan tuma’ninah.

Duduk di antara dua sujud

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Muslim, “Kemudian bangunlah dari sujud hingga kamu duduk dengan tegak”, dalam riwayat lain “hingga kamu duduk dengan tuma’ninah>”

Syarat-syarat Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram merupakan pembukaan shalat dan merupakan salah satu rukun dari shalat. Apabila takbiratul ihram tidak dilakukan, maka tidak sah shalatnya.

Takbiratul Ihram

Di bawah ini adalah beberapa syarat yang harus dilakukan ketika melakukan takbiratul ihram:

  1. Takbiratul ihram dilakukan dalam keadaan berdiri apabila shalat fardhu, dan mampu berdiri.
  2. Harus memakai bahasa Arab, apabila dilakukan dengan memakai bahasa lain maka tidak sah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, “Shalatlah seperti kamu melihat aku shalat.”
  3. Harus memakai lafadh jalalah “Allaahu”
  4. Harus memakai lafad “Akbaru”
  5. Harus mendahulukan lafad Allaahu kemudian Syarat ke 3, 4, dan ke 5 berdasarkan hadits Siti Aisyah, “Sesungguhnya Rasulullah memulai shalat dengan mengucapkan Allaahu Akbar.” Serta hadits riwayat Abu Dawud, “Allah tidak akan menerima shalat seseorang dari kamu sehingga ia menempatkan alat bersuci pada tempatnya, kemudian menghadap qiblat dan mengucapkan Allaahu Akbar.”
  6. Tidak boleh membaca memanjangkan (membaca mad) hamzahnya lafad jalalah.
  7. Tidak boleh memanjangkan huruf “ba” lafad akbar.
  8. Tidak boleh mentasydidkan huruf “ba” lafad akbar.
  9. Tidak boleh menambah huruf “wau” sukun atau diharkati antara lafad Allah dan lafad Akbar.
  10. Tidak boleh menambah huruf “wau” sebelum lafad jalalah.
  11. Tidak boleh berhenti antara lafad Allah dan lafad Akbar walaupun sebentar.
  12. Huruf-huruf dari kedua lafad tadi, harus terdengar oleh orang yang mengucapkannya.
  13. Takbiratul ihram dilakukan setelah masuk waktu shalat, bagi shalat yang ditentukan waktunya.
  14. Takbir harus dilakukan dalam posisi menghadap qiblat, berdasarkan hadits Abu Dawud, “Allah tidak akan menerima shalat seseorang diantara kamu, sehingga ia menempatkan alat bersuci pada tempatnya (wudhu dan tayamum) kemudian menghadap qiblat dan mengucapkan Allaahu akbar.”
  15. Tidak boleh merusak huruf dari lafad takbir walaupun satu huruf.
  16. Takbiratul ihram ma’mum tidak boleh mendahului atau bersama-sama dengan takbiratul ihram imam. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim, “Janganlah kamu mendahului imam, apabila ia takbir maka takbirlah kamu, dan apabila ia ruku’ maka ruku’ lah kamu.

Rukun shalat Yang Wajib Diketahui

Shalat yang kita kerjakan, baik itu shalat fardhu maupun shalat sunat ada beberapa rukun yang harus dikerjakan. Bila rukun ini tidak dikerjakan atau tidak terpenuhi, maka shalatnya tidak sah. Adapun rukun shalat itu adalah:

Niat

Yaitu kehendak/kemauan seseorang untuk berbuat sesuatu pekerjaan disertai pelaksanaannya.

Takbiratul ihram.

Hal ini berdasarkan hadits, “Kunci shalat itu adalah wudhu, tahrimnya adalah takbiratul ihram, tahlilnya (penutup) ialah membaca salam.” Dan juga hadits Bukhrai Muslim, “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudhu, menghadap qiblat dan bertakbirlah.”

Berdiri

Ini merupakan rukun shalat bagi orang yang mampu melakukannya, bagi orang yang tidak mampu berdiri maka dapat diganti dengan duduk atau berbaring sesuai kemampuannya, berdasarkan hadits riwayat Bukhari: dari Imron bin Husein, ia berkata, “Aku menderita penyakit bawasir (ambeien), kemudian aku bertanya kepada Rasulullah mengenai shalat, beliau berkata shalatlah sambil berdiri, jika tidak mampu maka shalatlah sambil duduk, jika kamu tidak mampu maka shalatlah sambil berbaring.”

Membaca Al Fatihah

Membaca Fatihah baik dalam shalat fardhu atau dalam shalat sunat hukumnya wajib, hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al Fatihah.”

Hadits Daruquthni, dari Ubaedah, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Tidak sah shalatnya seseorang yang tidak membaca Fatihah.”

Ruku’

Ruku’ dilakukan dengan cara membungkukkan badan, dan meletakkan kedua telapak tangan pada lutu dan punggung sejajar dengan kepala. Hal ini berdasarkan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman ruku’ lah dan sujudlah.”

Shalat

Tuma’ninah dalam ruku’

Ruku’ hendaklah dilakukan dengan tuma’ninah, yaitu menjadikan seluruh anggota badan dalam posisi diam, sehingga akan terlihat bahwa ruku’ merupakan pekerjaan yang terpisah dari i’tidal dan ada jarak dari yang satu kepada yang lainnnya. Maka jarak itulah yang disebut dengan tuma’ninah.

I’tidal

I’tidal adalah kembali dari ruku’ kepada keadaan semula, berdiri tegak lurus. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari Muslim, “Kemudian bangunlah (dari ruku’) sehingga berdiri tegak lurus.”

Tuma’ninah dalam i’tidal

I’tidal dilakukan dengan tuma’ninah, sebagaimana dalam hadits Rifa’ah: dari Rifa’ah bin Malik sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu hendak mengerjakan shalat, maka wudhulah sebagaimana diperintah Allah sampai beliau bersabda kemudian ruku’ lah dengan tuma’ninah, berdirilah dengan tuma’ninah dan sujudlah dengan tuma’ninah.”

Sujud

Sujud ialah meletakkan anggota sujud pada tempatnya. Hal ini berdasarkan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman ruku’ lah dan sujudlah.”

Anggota sujud itu ada 7, yaitu:

  1. Dahi
  2. Kedua belah telapak tangan
  3. Kedua lutut.
  4. Kedua ujung kaki.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Saya diperintahkan sujud dengan tujuh anggota badan yaitu dahi (beliau menunjuk pada hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki.”

Tuma’ninah dalam sujud

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Kemudian sujudlah dengan tuma’ninah.”

Duduk diantara dua sujud

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Kemudian bangkitlah (dari sujud), sehingga kamu duduk dengan tuma’ninah, kemudian kerjakanlah rukun tadi dalam shalat.”

“Apabila Rasulullah mengangkat kepalanya (dari sujud) beliau tidak langsung kembali, hingga beliau duduk dengan tegak.”

Tuma’ninah dalam duduk antara dua sujud

Tasyahud akhir

Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang tasyahud, sebagaimana beliau mengajari surat, beliau berkata hendaklah kamu mengucapkan Attahiyyatul mubaarakaatus shalawaatu…….

Duduk dalam membaca tasyahud akhir

Tasyahud akhir ialah rukun shalat, dan dilakukan sambil duduk pada rakaat terakhir.

Siti Aisyah meriwayatkan bahwa sesungguhnta Rasulullah bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat seseorang, tanpa bersuci dan membaca shalawat kepadaku.”

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Dari Ka’ab bin Ufroh, ia berkata bahwa Rasulullah keluar menuju kepada kami, dan kami bertanya, “Ya Rasulullah kami telah mengetahui cara mengucapkan salam, bagaimana cara mengucapkan shalawat?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah Allahumma shalli ‘alaa Muhammad.”

Imam Syafii berpendapat bahwa dari ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa membaca shalawat hukumnya wajib, dan waktu yang paling utama ialah dalam shalat.

Membaca salam

Membaca salam adalah merupakan rukun shalat yang dikerjakan terakhir, karena tidak sah apabila shalat tidak diakhiri dengan membaca salam. Hal ini berdasarkan hadits Abu Dawud dan Turmudzi, bahwa Rasulullah bersabda, “Kunci shalat adalah wudhu, pembukaannya ialah takbiratul ihram dan penutupnya membaca salam.”

Tertib

Shalat hendaklah dilakukan dengan tertib, yakni shalat itu harus dilakukan menurut urutan rukun yang telah dijelaskan di atas.

Rasulullah bersabda, “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka hendaklah melakukannya dengan tertib kemudian membaca surat dan seterusnya.”

Syarat-syarat membaca Al Fatihah dalam Shalat

Al Fatihah

Membaca surat Al Fatihah merupakan salah satu rukun dari shalat, baik itu shalat fardhu maupun shalat sunah. Apabila kita tidak membaca surat Al Fatihah di dalam shalat, maka shalatnya tidak akan sah.

Di bawah ini adalah beberapa syarat dalam membaca Fatihah:

Tertib

Berturut-turut

Imam Syafii berpendapat bahwa Fatihah harus dibaca berturut-turut sebagaimana susunan yang terdapat dalam Al Qur’an, karena Nabi Muhammad tidak membaca Fatihah kecuali secara berurutan.

Memelihara huruf-huruf Fatihah

Imam Rofi’i berpendapat bawah tidak ragu-ragu lagi bahwa fatihah itu terdiri dari beberapa ayat yang terdiri dari beberapa huruf. Maka jelaslah bahwa yang dimaksud fatihah sebagai salah satu rukun shalat ialah keseluruhannya.

Memelihara tasydid Fatihah

Tasydid Fatihah merupakan huruf hai’at dari Fatihah, dengan demikian maka yang dimaksud dengan menjaga  huruf Fatihah meliputi tasydidnya.

Daalam membaca Fatihah tidak boleh berhenti dalam tempo yang lama menurut kebiasaan (adat).

Tidak boleh berhenti dalam tempo yang pendek dengan maksud memutuskan bacaan Fatihah.

Membaca keseluruhan ayat-ayat Fatihah

Ayat dalam surat Al Fatihah itu ada 7 (termasuk basmalah). Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari, “Sesungguhnya Rasulullah menghitung ayat Fatihah itu ada 7, dan menghitung basmallah merupakan salah satu ayat daripadanya.”

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Bila kamu membaca Fatihah, maka bacalah basmallah, Umul Kitab dan Umul Matsani dan salah satu ayatnya.”

Tidak melakukan kesalahan yang dapat merusak makna Fatihah.

Bagi yang melakukan shalat sambil berdiri, maka Fatihah harus dibaca ketika berdiri.

Bacaan Fatihah harus terdengar oleh orang yang membacanya.

Tertib dalam shalat

Tertib merupakan salah satu dari rukun shalat. Yang dimaksud tertib adalah mendahulukan yang harus didahulukan, serta mengakhirkan yang harus diakhirkan. Kalau sengaja mengubah tertib dengan mendahulukan rukun fi’ly, misalnya sujud sebelum rukuk, maka shalatnya batal.

Adapun mendahulukan rukun qauly (mendahulukan rukun qauly daripada rukun fi’ly, misalnya mendahulukan tasyahud sebelum sujud, atau qauly pada qauly lagi, misalnya mendahulukan membaca shalawat sebelum tasyahud), tidaklah batal shalatnya, (hanya perbuatan itu tidak diperhitungkan, sehingga wajib dikerjakan lagi pada waktu yang seharusnya mengerjakannya); kecuali mendahulukan membaca salam (hal ini jelas membatalkan shalat).

Tertib (pula bagi) pekerjaan sunat, mislanya membaca surat sesudah Fatihah, membaca doa sesudah tasyahud dan shalawat. Hal iru merupakan syarat diperhitungkannya pegerjaan sunat.

Selain makmum (yaitu imam atau munfarid) apabila tidak tertib dengan meninggalkan satu rukun karena lupa, misalnya sujud sebelum rukuk atau rukuk sebelum membaca Fatihah, maka sia-sialah semua yang ia kerjakan, sehingga ia harus mengulang (mengerjakan) lagi semua yang ditinggalkan atau yang terlewat. Jika ia ingat sebelum sampai pada pekerjaan yang serupa (misalnya lupa tidak rukuk, lalu ia ingat sebelum rukuk rakaat yang selanjutnya), maka ia wajib rukuk kembali.

Atau ia (selain makmum) ragu mengenai rukun, apakah sudah mengerjakannya atau belum, umpamanya ketika rukuk ia ragu apakah sudah membaca Fatihah atau belum. Atau ketika sujud, apakah sudah rukuk atau i’tidal. Maka ia wajib segera mengerjakan yang diragukan itu, jika keraguannya timbul sebelum mengerjakan pekerjaan yang sama, yakni sama dengan yang diragukan dari rakaat yang lainnya (misalnya ragu mengenai rukuk pada rakaat pertama, sedangkan dia ingat ketika rukuk pada rakaat kedua).

Jika tidak ingat hingga mengerjakan pekerjaan yang sama pada rakaat yang berikutnya, maka cukup dari pekerjaan yang ditinggalkan itu (tidak perlu diulangi lagi, sebab bentuknya sama), tetapi sia-sialah (tidak diperhitungkan) pekerjaan antara yang diragukan dengan waktu ia ingat. Semuanya itu kalau ia mengetahui jenis pekerjaan yang ditinggalkan dan tempatnya.

Jika tidak ingat akan pekerjaan yang ditinggalkannya (apakah rukuk, i’tidal, atau yang lainnya), tetapi kemungkinan yang diragukan itu adalah niat shalat atau takbiratul ihram, maka shalatnya batal. Dalam masalah ini tidak disyaratkan harus lama tempo pemisahnya dan tiak lewat satu rukun. Atau yang diragukannya adalah membaca salam, maka salamlah ketika itu, walaupun sudah lama terpisah antara shalat dengan waktu ingatnya, menurut kaul aujah.

Atau yang diragukan itu bukan niat, takbiratul ihram, dan salam. Maka ambillah yang lebih ihtiyath (hati-hati), lalu lanjutkan pekerjaan shalatnya dan susullah pekerjaan shalat yang belum selesai. Memang demikian, bila yang diragukan itu tidak ada persamaannya, misalnya sujud tilawah, maka tidak mencukupi (tidak perlu diulangi, sudah saja ditinggalkan. Atau kalau yang diragukan itu sujud akhir, lalu teringat pada waktu sujud tilawat, maka berdiri dahulu dan sujud diulang kembali).

Makmum yang sebelum rukuk mengetahui atau ragu bahwa ia belum membaca Fatihah, tetapi imam sudah rukuk, maka bacalah Fatihah dahulu, lalu menyusul imam (walaupun tertinggal tiga rukun, dimaafkan). Apabila baru teringat sesudah dia dan imam rukuk, maka tidak usah kembali berdiri untuk membaca Fatihah, melainkan terus mengikuti imam, kemudian menambah satu rakaat lagi sesudah salam imam.