Membaca salam pada akhir shalat (yang haram dan yang sunatnya)

Membaca salam yang pertama merupakan salah satu dari rukun shalat. Dan yang dibaca itu paling sedikit adalah Assalaamu ‘alaikum, sebab ittiba’ kepada Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda, “Mengharamkan shalat dengan takbir dan menghalalkannya dengan salam”. (Riwayat Muslim).

Makruh membaca ‘Alaikumus salaam. Tidak cukup dengan Salaamun ‘alaikum dengan lafaz nakirah, juga dengan salaamullaah, atau salaamii ‘alaikum, bahkan salam yang demikian membatalkan shalat, apalagi disengaja dan mengetahui bahwa hal itu haram.

Disunatkan membaca salam kedua andaikata imam tidak membacanya (sebagaimana menurut Abdullah bin Ja’far r.a, “Saya melihat Rasulullah saw bersalam ke kanan dan ke kirinya sehingga saya melihat kedua belah mukanya”)

Haram membaca salam kedua apabila setelah salam pertama ada perkara yang dapat membatalkan shalat, misalnya hadas, keluar waktu shalat jumat, atau seseorang yang shalat sambil telanjang lalu mendapatkan penutup aurat.

Disunatkan melengkapi kedua salam dengan lafaz Warahmatullaahi, tidak dengan lafazh wabarakaatuh, sesuai dengan nash yang disalin dari salat selain shalat jenazah. Akan tetapi, dipilih sunat memakai lafazh wabarakaatuh, sebab nash-nya dari beberapa jalan.

Sebagaimana diceritakan oleh Wail bin Hajar r.a dalam sebuah hadis berikut:

Saya shalat bersama Rasulullah saw, beliau membaca salam ke kanan dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”, demikian pula ke kiri “Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh” (Riwayat Abu Daud dengan sanad yang shahih)

Kedua salam itu dilakukan dengan memalingkan muka, sehingga terlihat pipi sebelah kanan pada salam pertama dan pipi sebelah kiri pada salam kedua.

Bagi setiap imam, makmum, dan yang shalat munfarid, salamnya itu disunatkan diniatkan untuk orang yang berada di sampingnya. Bagi orang di sebelah kanan dengan salam pertama dan yang di sebelah kiri dengan salam yang kedua yang terdiri atas malaikat, orang mukmin, dan jin; serta dari arah mana saja bagi orang yang berada di belakang dan di depannya, sedangkan dengan yang pertama lebih afdhal.

Makmum yang berada di belakang imam hendaknya berniat menjawab salam imam dengan salam yang mana saja; apabila berada di sebelah kanan imam dengan salam yang kedua, dan apabila berada di sebelah kirinya dengan salam yang pertama.

Diceritakan oleh Samurah r.a dalam sebuah hadis:

Rasulullah saw telah menyuruh kami menjawab salam imam dan harus saling menjawab salam. Sebagian kami bersalam ke sebagian lagi.

Sebagian makmum disunatkan berniat menjawab salam sebagiannya lagi. Orang yang berada di sebelah kanan (disunatkan), berniat menjawab salam dengan salam kedua, orang yang berada di sebelah kiri dengan salam pertama, sedangkan orang yang berada di belakang maupun di depannya dengan salam mana saja sekehendaknya, tetapi dengan salam pertama lebih utama.

Disunatkan:

  • Berniat keluar dari shalat dengan salam yang pertama, supaya keluar dari ikhtilaf dengan paham yang mewajibkannya (Ibnu Suraij dan lainnya mewajibkan niat keluar dari shalat).
  • Membaca salam dengan cepat (tentu harus terbaca tasydid, mad, dan yang lainnya).
  • Memulai membaca salam sambil menghadapkan mukanya ke arah kiblat dan menyelesaikannya sambil berpaling (ke kanan atau ke kiri).
  • Salam makmum setelah selesai salat imam yang

Rukun Shalat Yang Wajib Tumaninah

Yang dimaksud tumaninah adalah diam setelah bergerak, kira-kiranya tetapnya anggota seukuran membaca Subhanallah.

Rukun-rukun sholat yang wajib tumaninah yaitu :

  1. Ketika ruku’
  2. Ketika i’tidal
  3. Ketika sujud
  4. Ketika duduk diantara 2 sujud

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Bacaan Salam didalam Shalat

Rukun sholat yang terakhir adalah membaca salam yang pertama (ke sebelah kanan), sambil dadanya menghadap qiblat. Begitu juga salam itu sering dipakai untuk menghalalkan lagi yang duluan sebelum sholat. Seperti yang dikatakan Rasulullah :”dan kuncinya sholat itu adalah wudhu, dan yang mengharamkan yang halal di sholat adalah takbir, dan yang menghalalkan lagi di sholat yaitu salam.”

Paling sedikitnya salam adalah lafad assalaamu’alaikum dengan di tasdid sin nya. Sempurnanya adalah assalaamu ‘alaekum warohmatulloohi. Sunat juga membaca salam untuk yang kedua kalinya (ke kiri).

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Inilah 14 Tasydid Dalam Surat Al Fatihah

Surah Al-Fatihah adalah surah pertama dalam al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an.

Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran. Dinamakan Ummul Qur’an (induk al-Quran) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam salat.

Tasdid yang ada di surat Al Fatihah semuanya ada 14, yaitu :

  1. Tasdidnya bismillahi ada di atas lam.
  2. Tasdidnya lafad Arrohmaani diatas Ro’
  3. Tasdid nya lafad Arrohiimi di atas ro.
  4. Tasdidnya lafad alhamdulillahi ada di atas lam (Allah)
  5. Tasdidnya lafad roobil ‘aalamin ada di atas ba.
  6. Tasdidnya lafad arrohmani diatasnya ro
  7. Tasdidnya lafad arrohiimi ada diatasnya ro
  8. Tasdidnya lafad maalikiyaumiddin diatasnya dal
  9. Lafad iyyaaka na;budu diatasnya ya
  10. Lafad wa iyyakanasta’in diatasnya ya
  11. Lafad ihdinassirootol mustaqim diatasnya sod
  12. Lafad sirootolladzina ada diatas lam
  13. Dan nomer 14 lafad waladdolliin ada diatas dho dan lam.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Inilah 17 Rukun-Rukun Shalat

Rukun sholat semuanya ada 17, ada yang berpendapat 13, 18, 14, 15, 19 yang menambahkan khusyu menjadi rukun sholatny (Imam Ghozali). Rukun itu seperti syarat yang wajib dikerjakan. Bedanya antara syarat dengan rukun, kalau syarat ta’rif nya maa wajaba wastamaro walaesa minhaa artinya perkara yang wajibdilakukannya dan tetap selamanya tidak boleh berhenti dan bukan pekerjaan sholat, misalnya wudhu.

Sedangkan ta’rif nya rukun maa wajaba wanqoto’a waminhaa artinya perkara yang wajib dan yang gonta ganti serta termasuk ke adegan/perilaku sholat. Tetapi yang ditulis di kitab safinah ada 17, yaitu :

1. Niat, maksud suatu perkara sambil dibarengi dengan mengerjakannya. Tempatnya niat di dalam hati, waktunya adalah ketika takbirotul Ihrom.

2. Takbirotul Ihrom, tetapi sunat misalkan membaca Usolli fardodduhri (niat saya sholat dhuhur).

3. Berdiri bagi yang kuasa di sholat fardhu, kalau tidak bisa sambil berdiri menurut Rasulullah ke ‘Imron Bin Husen yang sedang punya penyakit bisul, maka menyuruh Rasulullah ke “imron agar sholat sambil berdiri, apabila tidak kuat berdiri sambil duduk, kalau tidak kuat duduk sambil menyamping, kalau tidak kuat menyamping sambil telentang, karena tidak menyulitkan Allah ke badan manusia kecuali sesuai kuasanya. (Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’ahaa).

4. Membaca Fatihah, apakah di talar (sudah hafal), di kasih tau yang lain (didikte), melihat quran, dan lain sebagainya. Sebab ada hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim Laa Sholata liman lam yaqro bifatihatil kitab, yang artinya tidak sah seseorang sholatnya kalau tidak membaca Al Fatihah. Tegasnya membacanya itu di tiap-tiap roka’at.

5. Ruku’, paling sedikitnya ruku’ adalah sampainya dua telapak tangan ke lututnya dengan yakin. Dan tidak sah kalau hanya menempelkan jari-jarinya saja ke lutut. Sempurnanya ruku’ itu ada 4, yaitu :

  • Meratakan punggungnya dan pundaknya serta kepalanya, ratanya itu seperti papan.
  • Menegakkan dua lututnya.
  • Mengepalkan ke kedua lututnya dengan dua telapak tangan.
  • Merenggangkan jari-jarinya, dengan pertengahan.

6. Tumaninah di ruku’

7. I’tidal, walaupun di sholat sunat.

8. Tumaninah ketika i’tidal, kalau sujud seseorang kemudian mang mang/ was was apakah sempurna atau tidak ‘itidalnya, maka i’tidal orang ini lalu tumaninah, terus sujud.

9. Sujud dua kali, tegasnya di tiap-tiap roka’at sambil sunat membaca subhaana robbiyal a’la wa bihamdihi. Serta sunat ketika sujud memperbanyak doa dan matanya dibuka.

10. Tumaninah ketika sujud, sebab tumaninah itu termasuk salah satu syarat sujud.

11. Duduk diantara 2 sujud.

12. Tumaninah ketika duduk diantara 2 sujud.

13. Tahiyyat akhir, syarat tahiyyat, yaitu :

  • Harus terdengar oleh diri sendiri.
  • Bacanya sambil duduk.
  • Harus pakai bahasa arab
  • Jangan terpisah oleh kalimah lain.
  • Terus-terus.
  • Menjaga tiap-tiap hurufnya tahiyyat.
  • Tertib

14. Duduk di tahiyyat akhir.

15. Membaca sholawat kepada Nabi ketika duduk setelah tahiyyat akhir. Dan paling sedikit baca sholawat ke nabi dan keluarganya, Allohumma solli ‘alaa Muhammad wa aalihi.

16. Salam, (salam yang pertama/ke kanan), syaratnya yaitu :

  • Pakai alif lam
  • Pakai huruf hitob.
  • Pakai mim.
  • Pakai bahasa arab
  • Harus terdengar oleh diri sendiri.
  • Teus-terus diantara kalimahnya
  • Harus sambil duduk.
  • Menghadap qiblat dadanya.
  • Jangan nge maksud ke selain salam.
  • Jangan menambahi huruf apapun yang bisa merobah makna

17. Tertib.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi