Istri yang telah di talak tiga tidak boleh di rujuk

Tidak sah (tidak boleh) merujuk istri yang diceraikan dengan talak tiga. Untuk kawin lagi dengannya tiada jalan lain kecuali sesudah si istri melakukan tahlil (yakni kawin lagi dengan lelaki lain sebagai penghapus talaknya dari suami yang pertama).

Kalimat rujuk

Rujuk hanya dapat dilakukan dengan memakai kalimat “Aku merujuk” atau “Aku rujuk istriku” atau si Fulanah, sekalipun si suami tidak mengatakan kalimat “Kembali kepadaku” atau “Kembali ke dalam ikatan nikahku”, melainkan hanya sunat menambahkannya dengan kalimat-kalimat tersebut.

Dinyatakan sah merujuk dengan memakai kalimat “Aku kembalikan dia ke dalam ikatan nikahku”, dan juga dengan kalimat “Aku memegangnya (menikahinya) kembali.”

Rujuk secara kinayah

Tetapi jika si suami melakukan akad nikah kembali dengannya memakai ijab dan kabul. Hal ini dinamakan rujuk secara kinayah, diperlukan adanya niat (rujuk bagi si suami).

Rujuk tidak sah dengan ungkapan ta’liq

Tidak sah melakukan rujuk dengan memakai ungkapan ta’liq (menggantungkan) kepada pihak istri, umpamanya si suami mengatakan “Aku merujukmu, jika kamu suka.

Dalam rujuk tidak diperlukan saksi

Tidak disyaratkan mengadakan persaksian bagi pihak istri dalam rujuknya, melainkan hanya sunat.

Haram bersenang-senang dengan istri yang di talak raj’i

Haram bersenang-senang dengan istri yang di talak raj’i, sekalipun hanya melalui pandangan mata. Tetapi tidak ada hukuman had bila si suami melakukan persetubuhan dengannya, melainkan hanya hukuman ta’zir saja (sebagai pelajaran agar jera, tidak mengulangi lagi perbuatannya).

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Arti rujuk

Raj’ah menurut istilah bahasa merupakan bentuk mashdar marrah dari ar-rujuu’, artinya ‘kembali; sedangkan menurut istilah syara’ artinya ‘mengembalikan istri ke dalam ikatan pernikahan sesudah ditalak bukan talak ba’in dan masih berada dalam masa iddahnya’.

Suami boleh merujuk istrinya

Seorang suami diperbolehkan merujuk kembali istri yang telah dicerainya bukan dalam bilangan talak maksimal, yaitu tiga kali untuk orang yang merdeka dan dua kali untuk hamba sahaya. Rujuk dilakukan dengan gratis tanpa tebusan apa pun, setelah pernah digauli atau tengah berada dalam iddah yang telah digauli, tetapi sebelum iddah berakhir.

Istri yang dicerai bukan dengan talak tidak boleh dirujuk

Seorang suami tidak diperbolehkan merujuk istri yang diceraikannya bukan dengan talak, umpamanya karena nikahnya fasakh (batal). Bukan pula istri yang telah diceraikan dengan talak kurang dari tiga tetapi disertai dengan tebusan, seperti khulu’, karena si istri telah terpisahkan secara ba’in. Bukan pula istri yang diceraikan sebelum digauli, mengingat istri yang demikian keadaannya tidak mempunyai iddah. Dan bukan pula istri yang telah habis masa iddahnya, karena dia telah menjadi wanita lain.

Akan tetapi, sah memperbarui nikah dengan mereka dengan persetujuan yang baru (dari mereka), wali, saksi-saksi, dan maskawin yang baru.

Demikianlah uraian kami tentang pengertian rujuk dan beberapa hal yang berkaitan dengannya. Semoga uraian kami bermanfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani