Rizki itu dari Allah

Sebagai umat muslim, kita harus mempercayai bahwa rezeki itu dari Allah, dan sudah ditentukan besar dan kecilnya sejak di Lauh Mahfudz. Oleh karena itu, jangan sampai kita putus asa bila sedang mengalami kesulitan apalagi berprasangka buruk kepada Allah.

Menurut Nashr As Samarqandi berkata dalam Tanbihul Ghafilin dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, “Tegaknya islam dengan empat pilar, yaitu yakin, adil, sabar dan jihad.”

Para ulama menafsirkan empat perkara itu mengatakan:

  1. Yakin, ada dua segi. Pertama, bahwa ia beramal semata-mata ikhlas karena Allah, tidak untuk mencari harta dunia dan tidak karena kerelaan para manusia. Kedua, ia mempercayai janji Allah dalam urusan rezeki.
  2. Adil, yaitu ada dua segi. Pertama apabila ada kebenaran padanya ia memenuhinya sebelum diminta. kedua, apabila kebenaran itu ada pada orang lain, maka ia menemani dengan mencarinya.
  3. Sabar, yaitu ada dua segi. Pertama, bersabar untuk menunaikan kewajiban yang difardhukan oleh Allah Ta’ala. Kedua, bersabar untuk menjauhi larangan Allah.
  4. Jihad, yaitu ada dua segi. Pertama, bahwa kita jangan lalai terhadap musuh (yaitu setan). Sebab jika kita lalai terhadap setan, maka dia tidak akan lalai dari kita. setan itu bagaikan srigala, jika ia mendatangi kambing-kambing, lalu setiap kambing itu lalai daripadanya maka ia menerkamnya. Kedua, bahwa kebanyakan fitnah Bani Adam adalah karena harta, maka relakanlah dengan sedikitnya harta agar tidak memperdayakan kita.

Rizki Adalah Perkara Yang Ditanggung Oleh Allah

Ijtihad nya kita, tegasnya mengerahkan fikiran dan perbuatan/pekerjaan dalam berfikir pekerjaan yang ditanggung oleh Allah untuk kita, sambil kita gegabah dalam melaksanakan perkara yang diperintahkan oleh Allah , itu menjadi ciri dari butanya hati kita.

Dalam hikmah yang kelima dijelaskan akan ketidak pantasan kita mengerahkan fikiran dan pekerjaan dipakai mikir terhadap urusan yang menjadi tanggung jawab Allah. Serta gegabah dalam melaksanakan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kita. Karena seharusnya berjuang dengan sungguh-sungguh dipakai untuk menghasilkan yang diperintahkan oleh Allah, yaitu dari macam-macam tho’at yang bisa menghasilkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebab tho’at kepada Allah itu membutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh dalam menghadapi tantangannya. Sedangkan urusan dunia di tanggung oleh Allah yaitu rizki yang menjadi kekuatan kehidupan dunia itu sudah menjadi tanggung jawab Allah. Maka itu tidak memerlukan perjuangan yang sungguh-sungguh dalam menghadapi tantangannya, sebab  firman Allah waka ayyin min daabbatin laa tahmilu rizqoha Alloohu yar zuquhaa, atau sabda Rasulullah “rizki itu sudah pasti dan diberikan pada waktunya, tidak akan nambah disebabkan taqwa, dan tidak akan berkurang disebabkan ma;siyat”.atau dalam sebuah hadist bahwa manusia pada umur 4 bulan (dalam kandungan) sudah di catat rizkinya.

Jadi bagi manusia yang sudah ditentukan rizkinya tidak perlu repot-repot, susah payah, atau sikut-sikutan. Maka yakin bagi orang yang susah payah mencari rizki, dan lupa terhadap tho’atnya kepada Allah, itu dalil lupanya hati. Sedangkan mencari rizki yang tidak repot-repot/susah payah itu tidak apa-apa, asal jangan mengganggu ibadah kepada Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kelima)