Inilah Pengertian Ridha Allah

Ilaahii akhrijnii min dzilli nafsii wa thahhirnii min sakkii wa syirkii qabla huluuli ramsii bika astanshiru fan surnii.

Ya Allah, semoga Engkau mengeluarkan aku dari kehinaan diri aku (tidak mau ditempatkan pada tempat kehinaan). Dan semoga Engkau  membersihkan diriku dari sifat was was aku terhadap-Mu dan dari kemusyrikan. Sebelum masuk ke dalam lubang kubur, hanya kepada-Mu lah aku meminta pertolongan, dan hanya kepada-Mu lah aku bertawakal. Maka semoga Engkau tidak memberatkan diriku, sehingga butuh kepada selain-Mu. Dan hanya kepadamu aku meminta, semoga Engkau tidak menjadikan diriku rugi. Dan aku cinta kepada fadhal-Mu, semoga Engkau tidak menghalangi. Semoga Engkau tidak menjauhkan diriku, dan aku berdiri di hadapan-Mu, semoga Engkau tidak mengusirku.

 Ilaahii taqaddasa ridhaaka an takuuna lahu ‘illatun minka takuunu lahu ‘illatun minnii antal ghaniyyu bidzatika ‘an anyashila ilaikan naf’u minka fakaifa laa takuunu ghaniyyan minnii.

Ya Allah, Yang Maha Bersih (Maha Suci), keridhaan-Mu, bahwa terbukti dengan adanya ‘illat untuk keridhaaan dari-Mu. Maka bagaimana akan ada ‘illat bagi keridhaan dariku. Ya Allah, dzat Yang Maha Kaya dengan dzat-Mu, dari sampai kepada-Mu kemanfaatan dari-Mu, maka bagaimana terbukti Engkau tidak kaya dariku.

Keridhaan Allah itu tidak membutuhkan ‘illat, maksudnya tidak membutuhkan dari yang lainnya selain Allah swt, apalagi dari makhluk.

Keridhaan Allah itu langsung pemberiannya dari Dia, yang diberikan kepada sebagian ‘abdi-Nya. Seperti firman Allah: “Wa yakhtasshu birahmatihi man yasyaaa u wallaahu dzuul fadhlil ‘adhiimi.”

Jadi keridhaan Allah itu Maha Bersih dari mempunyai ‘illat dari-Nya, apalagi ‘illat dari makhluk. Allah swt Maha Kaya dari yang lainnya, dan Allah Maha Kaya dengan dzat-Nya, tidak membutuhkan adanya kemanfaatan dari-Nya, maka apalagi dari makhluk-Nya.

Allah swt berfirman: “Wallaahu ghaniyyun ‘annil ‘aalamiina”

Cara Menuju Puncak Keridhaan Allah

Melihatnya kita dengan dibarengi rasa ingin tetapnya selain dari Allah, itu jadi dalil (alasan) tentang tidak sampainya kita kepada Allah swt. Sebab kehilangan perkara selain dari Allah, itu juga menjadi dalil dari tidak sampainya kita kepada Allah swt.

Bila kita kedatangan waridatul ilahiyah, lalu kedatangan buahnya, tetapi kemudian menghilang. Maka kita tidak perlu terus-terusan mencari waridat tersebut, karena sebenar-benarnya waridat itu diberikan oleh Allah swt.

Kalau kita terus-terusan berbakti kepada Allah, serta mengharapkan segala yang diinginkan Allah swt, segala rupa juga ada. Apabila kita melihat hati terbawa oleh rasa ingin sekali waridat itu tetap selamanya, maka dengan adanya keinginan tetapnya waridat berarti kita belum wushul ke Allah. Begitu juga ketika kita merasa bimbang dan prihatin dengan hilangnya waridat, itu juga menunjukkan bahwa kita sebenarnya belum wushul ke Allah.

Sebab kalau orang sudah wushul ke Allah, itu sudah mencapai puncaknya bagian. Tidak tergoda oleh yang lainnya, jadi kalau masih tergoda oleh yang lainnya berarti belum wushul ke Allah.

Orang yang berbahagia karena sudah wushul ke Allah berkata: “lau kaanal jannatu kamaa najnu fiihi minan na’iimi lahu maaa fii na’iimin”, artinya kalau keadaan di surga seperti keadaan dirinya yang sedang wushul ke Allah, maka yakin surga itu nikmat.

Setiap orang pasti menginginkan kebaikan bagi dirinya, oleh karena itu kita harus melakukan segalanya adalah dengan ikhlas (karena Allah).

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus dua belas)