Pelaksanaan hukum qishash harus seizin imam

Orang yang berhak melakukan hukum qishash, baik yang menyangkut jiwa ataupun lainnya, tidak dapat melaksanakan hukuman tersebut kecuali dengan seizin imam atau wakilnya. Untuk itu, seandainya dia melaksanakannya sendiri (tanpa seizin imam atau wakilnya), maka ia dikenakan hukuman ta’zir.

Wajib membuang harta demi keselamatan makhluk bernyawa

Manakala ombak laut sedang meluap dan khawatir akan tenggelam, diwajibkan membuang semua barang bawaan, selain makhluk yang bernyawa, demi keselamatan hewan yang berharga. Akan tetapi, wajib pula membuang hewan demi menyelamatkan nyawa manusia yang muhtaram jika tidak ada pilihan lain untuk menghindari tenggelam, sekalipun pemilik hewan tidak mengizinkannya.

Manusia yang tidak dilindungi darahnya, seperti seorang pezina muhshan dan kafir harbi, sama sekali tidak boleh membuang harta demi untuk menyelamatkan harta secara mutlak, bahkan dialah yang harus dibuang (ke laut) demi menyelamatkan harta. (Dengan kata lain, trlebih lagi hewan, jelas sangat tidak dibolehkan).

Haram membuang (ke laut) budak-budak demi menyelamatkan orang-orang yang merdeka, dan haram pula membuang hewan demi menyelamatkan benda yang tak bernyawa.

Orang yang membuang sesuatu milik orang lain tanpa seizinnya diharuskan menggantinya.

Seandainya seseorang mengatakan kepada seorang lelaki, “Lemparkanlah barang-barang milik Zaid! Akulah yang akan menggantinya jika dia menuntut ganti rugi kepadamu,” lalu lelaki itu melakukannya, maka yang harus mengganti kerugian adalah orang yang melemparkan, bukan orang yang memerintahkan.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Penyebab yang dapat menangguhkan hukum qishash

Pelaku pembunuhan disekap dalam penjara menunggu sampai anak kecil dari ahli waris si terbunuh mencapai usia balig, dan menunggu kedatangan ahli waris yang tidak ada di tempat atau menunggu izinnya.

Untuk itu, pelaku pembunuhan tidak boleh dilepas atas jaminan seseorang karena kemungkinan dia lari, hingga perkara yang hak terlewatkan (tidak dapat direalisasikan).

Pembahasan di atas bukan menyangkut pembegal jalan. Pembegal jalan bila berhak mendapat hukuman mati, imamlah yang membunuhnya secara mutlak (tanpa menunggu ahli waris si terbunuh).

Yang boleh melaksanakan hukuman qishash hanya salah seorang dari kalangan ahli waris si terbunuh atau oleh selain mereka, tetapi dengan kerelaan (persetujuan) pihak ahli waris si terbunuh, atau oleh orang lain (dengan seizin ahli waris), atau melalui undian di antara sesama ahli waris jika mereka tidak saling merelakan (untuk dilakukan oleh orang lain).

Seandainya salah seorang di antara orang-orang yang berhak meng-qishash tak dapat menahan diri, lalu ia segera membunuh si pembunuh, padahal dia mengetahui bahwa tindakannya itu diharamkan, maka tidak ada hukum qishash terhadapnya jika eksekusi itu terjadi sebelum ada pengampunan darinya atau dari ahli waris lainnya. Jika si pembunuh telah dimaafkan (dari hukum qishash), maka pembunuh dari kalangan ahli waris si terbunuh harus dijatuhi hukuman qishash.

Seandainya si pembunuh dibunuh oleh orang lain, maka para ahli waris si terbunuh (pertama) mengambil diat dari harta peninggalan si terbunuh kedua, bukan dari harta orang lain tadi yang membunuhnya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Bentuk hukuman bagi pemotong bagian tubuh

Setiap anggota tubuh yang terpisah mengandung keindahan dan manfaat; jika dipotong, diwajibkan diat sepenuhnya, sama dengan diat pemilik anggota tersebut jika dibunuh.

Demikian pula setiap sepasang anggota tubuh dari satu jenis; jika dipotong, maka diatnya penuh; jika salah satu saja yang dipotong, diatnya separo.

Untuk itu, dalam kasus memotong kedua telinga diatnya penuh; sedangkan jika yang dipotong adalah salah satu saja, maka diatnya setengah.

Semisal dengan kedua telinga yaitu kedua mata, kedua bibir, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki berikut jari-jemari.

Setiap jari diatnya sepuluh ekor unta, dan setiap gigi (yang dirontokkan) diatnya lima ekor unta.

Yang berhak melakukan hukum qishash

Hak melakukan hukum qishash diberikan kepada para ahli waris si terbunuh, yakni para ‘ashabah dan para pemilik bagian tertentu berdasarkan urutan mereka dalam mewaris hartanya, sekalipun hubungan kekeluargaan dengan si terbunuh jauh, seperti dzawil arham (selain orang-orang yang memiliki bagian tertentu dalam warisan) jika dia mewaris (karena tidak ada ‘ashabah dan ash-habul rurudh); atau sekalipun tidak ada hubungan kerabat, seperti salah seorang

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Perbuatan membunuh yang dikenakan hukum qishash

Barang siapa membunuh dengan alat yang tajam, dengan mencekik, melemparkan atau menenggelamkan, maka ia dikenakan hukum qishash yang serupa dengan itu jika dikehendaki.

Atau jika memakai alat nonfisik, seperti sihir, maka hukumannya memakai pedang (yakni dipenggal lehernya).

Pembunuhan secara sengaja mewajibkan adanya hukuman had, yakni hukuman qishash (sebagai balasan yang setimpal). Qishash dinamakan qaud karena mereka (para ahli waris terbunuh) menyeret pelaku kejahatan dengan tambang dalam keadaan terikat atau dengan alat lainnya. Demikian pendapat Al Azhari.

Hukum diat atau denda

Diat diwajibkan di kala hukum qishash gugur, akibat adanya pemaafan dari pihak wali si terbunuh terhadap si pembunuh, atau tanpa pemaafan sebagai ganti hukum qishash (umpamanya si pembunuh keburu mati terlebih dahulu sebelum hukuman qishash dieksekusikan terhadapnya).

Seandainya orang yang berhak melakukan hukum qishash memaafkan pelaku kejahatan secara cuma-Cuma atau secara mutlak, maka kepada pelaku kejahatan tidak dibebankan suatu diat pun.

Jumlah diat karena membunuh muslim yang dilindungi darahnya

Diat karena membunuh seorang muslim laki-laki lagi terlindungi darahnya ialah seratus ekor unta yang terdiri atas tiga macam, untuk kasus pembunuhan sengaja dan mirip disengaja, tanpa memandang perbedaan jumlah dari ketiga macam ternak itu.

Ketiga macam tersebut terdiri atas tiga puluh ekor unta hiqqah, tiga puluh ekor unta jadza’ah, dan empat puluh ekor unta khalifah, yakni unta yang sedang mengandung menurut pendapat dua orang ahli ternak unta.

Dibagi menjadi lima macam dalam kasus pembunuhan secara keliru, yaitu terdiri atas unta bintu makhadh, bintu labun, bani labun, hiqqah, dan jadza’ah, masing-masing terdiri atas dua puluh ekor unta. Ketetapan ini berdasar hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan yang lainnya.

Kecuali jika kasus pembunuhan keliru ini terjadi di dalam lingkungan kota suci Mekah atau dalam bulan-bulan yang disucikan (Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab); atau dilakukan terhadap kerabat nasab, misalnya ibu dan saudara perempuan. Maka hukuman diat dibagi menjadi tiga (untuk memberatkan sanksi), seperti yang pernah dilakukan oleh segolongan sahabat dan diakui oleh sahabat lainnya.

Mengingat besarnya kehormatan ketiga hal tersebut (yakni bulan-bulan haram atau suci, kota Mekah, dan kerabat nasab), maka untuk menangkalnya sanksi hukuman diperberat berdasarkan pertimbangan segi ini.

Akan tetapi, kota suci Madinah tidak dapat disamakan dengan ketiga hal di atas, tidak karena dalam ihram, tidak karena dalam bulan ramadhan, tidak ada pengaruhnya terhadap mahram karena radha’ (persusuan) dan mushaharah (kerabat sebab nikah).

Tidak termasuk ke dalam pengertian pembunuhan secara keliru, yaitu dua jenis pembunuhan lainnya. Untuk itu, kewajiban membayar diat yang dilakukan dengan kedua cara  tersebut tidak boleh melebihi diat pembunuhan secara keliru terhadap ketiga penyebab tadi, karena kedua perbuatan itu sendiri dianggap cukup berat. Dengan kata lain, diat pembunuhan dengan sengaja dan mirip sengaja disamakan dengan diat pembunuhan secara keliru, tetapi dilakukan terhadap ketiga hal tersebut di atas, yakni dalam bulan-bulan haram, di dalam kota Mekah, dan terhadap mahram senasab.

Diat membunuh seorang wanita adalah separo dari diat membunuh seorang laki-laki.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Hukuman bagi orang yang menghilangkan anggota tubuh orang lain

Hukuman qishash diberlakukan terhadap anggota tubuh sekiranya memungkinkan pelaksanaannya tanpa melewati batas, umpamanya terhadap tangan, kaki, jari jemari tangan, ujung-ujung jari, penis, buah pelir, telinga, gigi, lidah, bibir, mata, kelopak mata, hidung, yakni bagian yang lunak.

Syarat hukuman qishash terhadap anggota tubuh

Syarat bagi pelaksanaan hukum qishash terhadap anggota tubuh yang luka sama dengan hal-hal yang disyaratkan pada kasus pembunuhan terhadap jiwa (yakni kesengajaan, aniaya, dilindungi, mukallaf, dan sepadan).

Anggota tubuh sebelah kanan tidak di qishash karena memotong anggota tubuh sebelah kiri, anggota bagian atas tidak di qishash karena memotong anggota bagian bawah, begitu pula sebaliknya.

Untuk itu, tidak ada hukum qishash terhadap pukulan yang mengakibatkan patah tulang (karena sulit menyamakannya dan dikhawatirkan akan melebihi batas).

Seandainya tangan dipotong dari pertengahan hasta, maka pelakunya dihukum qishash hanya sampai batas pergelangan tangan, sedangkan kekurangannya ditentukan dengan hukum (diat) tersendiri.

Semua tangan sejumlah orang dikenakan hukum potong tangan semuanya jika mereka secara bersamaan memotong tangan seseorang sekaligus dengan memakai sarana yang tajam (besi) hingga tangan tersebut terpisah dari anggota tubuh.

Demikianlah penjelasan dari kami tentang beberapa hal yang berkaitan dengan hukuman qishash. Semoga uraian singkat kami di atas dapat memberikan manfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat, amin.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani