Wajib Puasa, Syarat Puasa, Rukun Puasa, dan Hari Yang Haram Untuk Berpuasa

Hal-hal yang berkaitan dengan wajibnya puasa, rukun puasa, syarat puasa dan hari yang haram untuk dipakai berpuasa akan dijelaskan dibawah ini :

Pengertian Puasa

Puasa menurut lughot adalah kadar-kadar ngekang, artinya ngekang dari buka dan ngomong atau yang lainnya lagi. Sedangkan puasa menurut syara’ mengekang dari macam –macam hal yang membatalkan puasa dengan jalan yang tentu. Diwajibkannya puasa itu pada tahun kedua bulan sya’ban setelah hijrah. Jadi Rasulullah hanya mengalami puasa romadhon hanya 9 kali.

Puasa romadhon itu diwajiban ke setiap orang beriman, seperti yang di fimankan oleh Allah swt :”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Wajibnya mengerjakan puasa di bulan romadhon dimana-mana kita melihat salah satu perkara dibawah ini :

Pertama. Sempurna bulan sya’ban nya 30 hari. Adanya istikmal, tegasnya menyempurnakan bulan sya’ban 30 hari, tegasnya kalau bulan sudah diketahui tanggal satunya dengan ru’yah.

Kedua. Lihat bulan di haq nya, orang yang ke bulan tersebut walaupun orang itu fasik. Melihat tanggal awal bulan romadhon, tegasnya kalau di tanggal 30 sya’ban ada seorang yang melihat bulan, untuk orang yang deket dengan orang tersebut maka wajib puasa.

Ketiga. Menetapnya bulan di haq nya orang yang tidak melihat ke bulan itu sebab mengadili kesaksian. Menetapkannya tanggal bulan romadhon di ha nya orang yang tidak melihat tapi ‘adil kesaksiannya.

Keempat. Disebabkan ada kabar dari orang yang adil riwayat nya dan bisa dipercaya, akan meyakinkan di dalam hatinya terhadap benarnya atau tidak meyakinkan, atau mendengar dari orang yang tidak dipercaya, tetapi kita meyakinkan didalam hati terhadap kebenarannya.

Kelima. Menyangka masuk bulan romadhon dengan ijtihad.

Syarat sah nya puasa :

  1. Islam, maka tidak sah puasanya orang kafir dan orang murtad.
  2. Punya ‘akal (tamyiz), maka tidak sah puasanya orang gila atau masih kecil
  3. Bersih, misalkan dari haid, nifas dan melahirkan (walupun melahirkannya keguguran)
  4. Tahu, tegasnya meyakinkan terhadap waktu yang nerima untuk di puasa kan.

Hari yang haram untuk dipakai puasa :

  1. Hari lebaran Idul Fitri (hari pertama/tanggal 1 bulan syawal)
  2. Lebaran haji/qurban, tanggal 10 bulan haji
  3. Hari tasriq, tanggal 11
  4. Hari tasriq, tanggal 12
  5. Hari tasriq, tanggal 13

Dan tidak sah puasa di hari sak, yaitu tanggal 30 sya’ban.

Syarat wajibnya puasa (puasa fardhu) :

  1. Islam, jadi tidak wajib kalau orang kafir.
  2. Baligh, punya ‘akal, tidak wajib puasa bagi anak kecil dan orang gila.
  3. Kuat (kuasa), maka tidak wajib puasa bagi orang yang tidak kuasa, misalnya orang pikun, atau sakit yang membolehkan tayamum
  4. Sehat, jadi tidak wajib bagi orang yang sakit, apabila dia puasa akan menjadi madhorot.
  5. Diam ditempat/kampung, artinya tidak sedang perjalanan yang jauh, sebab diperbolehkan bagi orang yang bepergian untuk berbuka deng syarat berangkatnya itu sebelum terbit fajar. Kalau berangkatnya setelah muncul fajar, tidak diperbolehkan buka puasa. Kalau orang tersebut was was apakah berangkatnya sebelum atau setelah muncul fajar, maka itu tidak boleh buka puasa.

 Rukun Puasa (fardhu dan Sunat)

Pertama, Niat ketika malam hari tiap hari bagi puasa fardhu, kalau puasa sunat boleh niat pagi-pagi. Kalau puasa fardhu niatnya tidak dimalam hari maka tidak jadi puasanya, tetapi dia tetap harus puasa dan setelah bulan romadhon dian harus mengqodho.

Menurut sebagian ‘ulama niat puasa fardhu itu tiap malam, ada juga yang berpendapat niat itu bisa langsung untuk 1 bulan. Qoul yang dipilih dua-duanya harus dilaksanakan.

Niat tiap hari ; nawaetu soumaghoddin’an adain fardhissahri.

Niat satu bulan ; nawaetu soumassahri kullahu, untuk berjaga-jaga apabila kita lupa niat tiap hari, maka ter tambal/terganti oleh niat 1 bulan ini.

Kedua. Meninggalkan hal yang dapat membatalkan puasa, sambil inget serta keinginan sendiri, dan bukan bodo ma’dzur, seperti sampainya macam-macam ‘aen ke lubang-lubang yang terbuka atau dibukakan.

Memasukan perkara ke mulut atau memasukkan kayu ke lubang telinga atau lubang di kepala tempat otak sambil inget bahwa sedang berpuasa. Dan lagi disyaratkan untuk sahnya puasa menjaga dari muntah, atau sengaja mengeluarkan mani dengan  tidak jima’, maka bakal batal puasanya sebab sengajanya dan tahu akan keharamannya. Apakah keluarnya itu akibat mencium istri atau memegang tubuh istri atau bersentuhan kulit dengan syahwat.

Tetapi tidak batal puasanya apabila keluar maninya itu dalam keadaan tidur, atau dikarenakan melihat atau disebabkna mikir-mikir. Bagi yang berpuasa kita harus berhati-hati ketika bersuci, jangan sampai ada air yang masuk ke lubang kubul dan dubur.

Ketiga. Harus ada orang yang puasa.

Wajib mengqodho puasa serta membayar kifaarat yang besar serta dipermalukan bagi orang yang membatalkan puasa disebabkan jima’ di siang hari bulan romadhon.

Kifaratnya ada 3 bagian  (kalau tidak kuasa yang pertama maka yang kedua, kalau tidak kuasa yang pertama dan kedua maka wajib yang ketiga). Dengan kata lain apabila kuasa melaksanakan nomer 1 tidak boleh ke nomer 2, kalau mampu melaksanakan nomer 2 tidak boleh melaksanakan nomer 3.

Yang 3 bagian itu adalah :

  1. Memerdekakan ‘abid yang selamat kecacadan karena supaya bisa bekerja.
  2. Puasa 2 bulan berturut-turut, artinya tidak boleh disekang oleh buka walupun sehari.
  3. Memberi makan 60 orang miskin, tiap 1 orang 1 mud dari kekuatan sebuah negara, yang cukup dipakai zakat fitroh.

Macam-macam syarat wajib kifarat :

  1. Orang yang berjima’/men jima’ wajib kifarat, sedangkan yang di jima’ nya tidak wajib.
  2. Jima’ yang membolehkan terhadap kifarat yaitu jima yang sengaja sambil dia nya dalam keadaan sadar baha dia sedang puasa dan tahu tentang haramnya berjima’ di bulan puasa.
  3. Merusak puasanya, kalau merusaknya sholat dan i’tikafnya itu tidak wajib kifarat.
  4. Merusaknya itu shoim ke badannya.
  5. Kalau di bulan puasa
  6. Batalnya di sebabkan jima’, walaupun jima’ nya lewat dubur atau men jima’ hewan atau mayit walupun tidak mengeluarkan mani.
  7. Orang yang berjima’ sudah baligh dan punya akal.
  8. Dosa berjima’ nya karena puasa
  9. Kalau merusaknya puasa di hari yang wajib dipuasaan
  10. Jima’ nya bukan jima’ subhat
  11. Berjima’ nya yakin di bulan puasa.

Wajib qodho dan mengekang puasa, tegasnya tidak boleh buka ada 6 macam tempat :

  1. Orang yang sengaja buka di bulan romadhon, tidak di bulan yang lainnya seperti nadzar dan qodho dan puasa kifarat.
  2. Meninggalkan niat malamnya ketika puasa bulan romadhon. (baik sengaja atau lupa)
  3. Orang yang kesiangan sahur, dia menyangka masih malam, padahal kenyataannya sudah siag.
  4. Orang yang berprasangka sudah maghrib, padahal kenyataannya belum.
  5. Bagi orang yang puasa menyangka bahwa tanggal 30 sya’ban, ternyata terbukti tanggal 1 bulan romadhon.
  6. Orang yang tidak sengaja/kelepasan dalam berkumur atau memasukkan air ke hidung, sehingga air itu masuk ke dalam tubuh.

Apabila terjadi hal-hal seperti di atas, maka wajib qodho puasanya. Batalnya/rusaknya puasa disebabkan murtad, haid, nifas, melahirkan, gila (walupun gilanya sebentar), ayan, mabuk.

Macam-macam berbuka (hukumnya) di bulan romadhon ada 4 :

  1. Wajib, seperti wanita haid dan nifas (walaupun keguguran).
  2. Wenang, musafir dan orang sakit (parah), bahkan apabila orang sakit parah kemudian tetap puasa kemudian meningggal, maka termasuk berdosa.

Faidah : diperbolehkan berbuka puasa di bulan romadhon bagi orang yang sedang bepergian yang jaraknya ada 96 km (2 pemondokan), orang sakit, orang tua yang pikun (sudah lemah), wanita hamil (walaupun hasil berzina atau jima’ yang subhat), orang yang dahaga sekali, sehingga masyaqot yang berat, wanita yang sedang menyusui.

  1. Tidak wajib dan tidak wenang, seperti orang gila.
  2. Haram, orang yang mengakhirkan qodho bulan romadhon serta mampu, sehingga waktunya mepet bagi orang tersebut. Seperti orang yang keadaanya muqim dan dalam keadaan sehat.

Pembagian buka puasa ada 4 :

  1. Buka yang wajib qodho dan wajib fidyah yaitu ada 2. Yang pertama dengan berbuka karena ditakutkan terhadap badan orang lain, misalnya orang yang sedang menyusui, atau wanita hamil terhadap anak yang dikandungnya. Yang kedua orang yang mengakhirkan qodho bulan romadhon sampai dengan datangnya lagi bulan romadhon yang lain, sedangkan mengakhirkan qodhonya itu tidak ada ‘udzur.
  2. Wajib qodho tidak wajib fidyah, seperti orang yang ayan, orang yang tidak niat dimalamnya, atau sengaja berbuka bukan disebabkan berjima’.
  3. Wajib fidyah tidak wajib qodho, seperti orang tua yang sudah pikun, yang sudah tidak kuasa puasa di semua hari bulan romadhon, atau seperti orang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya.
  4. Tidak wajib qodho dan tidak wajib fidyah, seperti orang gila yang tidak sengaja gilanya. Atau anak kecil dan kafir.

Perkara yang masuk kedalam perut yang tidak membatalkan puasa yang berupa ‘aen itu ada 7 macam :

Nomer 1, 2 dan 3 masuknya dengan sebab lupa atau bodoh atau dipaksa. Ke 4 nga berjalan kan ludah antara gigi, serta apes meludahnya karena ada pa ‘udzuran. Nomer 5 yang masuk kedalam perut debu jalan, keenam debu tepung, ketujuh berupa lalat hidup dan selainnya.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Keutamaan dan Rahasia Puasa

Puasa

Setiap umat muslim diwajibkan untuk berpuasa (puasa ramadhan), dan ada juga puasa yang hukumnya sunah, seperti puasa senin kamis, puasa Nabi Daud, dan lain sebagainya.

Banyak sekali dalil yang menerangkan mengenai keutamaan orang-orang yang sering puasa. Beberapa diantaranya seperti yang berikut ini.

Orang-orang yang berpuasa akan keluar dari kubur mereka dan dapat dikenali dengan bau puasa mereka serta dijemput dengan segala macam hidangan dan cerek berisi minuman. Dikatakanlah kepada mereka, “Makanlah, karena kamu telah lapar ketika para manusia sedang kenyang, dan minumlah karena kamu telah merasa haus ketika para manusia sedang segar, serta beristirahatlah.” Lalu mereka makan, minum, dan beristirahat, sedang para manusia menghadapi hisab.

Dalam Khabar dari Nabi Muhammad saw, “Manusia akan dihimpun di hari kiamat seperti ketika mereka dilahirkan oleh ibunya, dalam keadaan tidak beralas kaki lagi telanjang.” A’isyah bertanya, “Laki-laki dan perempuan?” beliau bersabdan “Ya.”

A’isyah berkata, “Aduh malunya. Sebagian mereka melihat yang lain.” Nabi Muhammad menepuk kedua bahunya dengan tangannya. Beliau bersabda, “Hai puteri Abu Quhafah, manusia sibuk dengan dirinya masing-masing tidak sempat melihat orang lain pada hari itu. Pemandangan matanya tertuju ke langit. Mereka berdiam selama 40 tahun dengan tidak makan dan tidak minum. Di antara mereka ada yang peluhnya sampai mata kakinya., ada yang sampai betisnya, ada yang sampai perutnya, dan ada pula yang sampai dadanya. Peluh itu terjadi karena lama berdiri.”

A’isyah berkata, “Ya Rasulullah, apakah ada seseorang yang dihimpun dengan berpakaian pada hari kiamat?” Beliau bersabda, “Ada, yaitu para Nabi, keluarganya, orang-orang yang berpuasa bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan secara berturut-turut. Semua manusia adalah lapar pada hari itu kecuali para Nabi, keluarganya, dan orang-orang yang berpuasa bulan Rajab dan Sya’ban. Mereka kenyang tetapi tidak yang lain. mereka tidak merasa lapar atau haus. Semua orang dihalau ke Mahsyar di dekat Baitul Maqdis, sebuah daerah yang disebut As Sahirah.”

Allah berfirman dalam surat An Naazi’at ayat 13-14, “Sesungguhnya dibangkitkannya manusia kembali hanyalah sebuah tiupan sekali. lalu tiba-tiba mereka (hidup kembali) di permukaan bumi (As Sahirah).”

Disebutkan bahwa makhluk ini di arena kiamat terbagi menjadi 120 baris. Setiap barisan panjangnya 40 ribu perjalanan dan lebarnya jarak 20 ribu tahun perjalanan. Dan dikatakan pula bahwa orang-orang mukmin dari mereka hanya 3 barisan, sedang yang lain adalah orang-orang kafir.

Diriwayatkan dari Rasulullah saw, “sesungguhnya umatku ada 120 barisan.”

Inilah yang shahih. Sedangkan sifat-sifat orang mukmin adalah bahwa mereka putih wajahnya, bersinar wajahnya, dan bersinar tangan dan kakinya. Adapun sifat orang kafir adalah mereka hitam (gelap) wajahnya dan disertai setan.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Fadhillah atau Keutamaan Puasa

Puasa merupakan sebuah kewajiban yang dibebankan kepada setiap muslim yang berakal dan sudah baligh. Puasa itu sebuah perkara dengan menahan lapar dan haus, artinya tidak makan dan minum dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, serta tidak melakukan hubungan seks di siang hari.

Banyak sekali dalil yang menerangkan mengenai keutamaan orang-orang yang sering puasa.

Puasa

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Apabila datang hari kiamat dan manusia dlam kubur telah dibangkitkan, maka Allah menurunkan wahyu kepada malaikat Ridwan, ‘Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan orang-orang yang ahli berpuasa dari kubur mereka dalam keadaan lapar dan dahaga. Maka tempatkanlah mereka dengan kesenangan-kesenangan mereka di surga.’

Maka berteriaklah malaikat Ridwan, ‘Wahai para remaja dan kanak-kanak yang belum mencapai baligh kemarilah kamu.’ Mereka datang dengan membawa baki-baki dari nur dan berkumpul di samping malaikat Ridwan, dengan jumlah yang lebih banyak dari bilangan debu, tetes-tetes air hujan, bintang-bintang di langit dan dedaunan pohon-pohon dengan membaw buah-buahan yang banyak, makanan yang mewah dan minuman yang lezat. Mereka menjemput orang-orang ahli puasa itu dan memberi makan orang-orang itu dengan makanan tersebut. dikatakanlah kepada mereka, ‘Makanlah dan minumlah dengan enak sebab amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lewat.’

Keutamaan puasa Arafah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Tiga golongan akan berjabat tangan dengan par malaikat pada harinya mereka keluar dari kubur mereka, yaitu: Orang-orang mati syahid, orang-orang yang berdiri untuk ibadah dalam malam ramadhan (shalat tarawih), dan orang-orang yang berpuasa pada hari Arafah (tanggal 9 dzulhijjah).”

Dari A’isyah, dia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda, “Hai A’isyah, sesungguhnya dalam surga itu terdapat beberapa gedung dari intan, mutiara yaqut, emas dan perak.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, untuk siapakah gedung-gedung itu?” Beliau bersabda, “Untuk orang-orang yang berpuasa pada hari Arafah. Hai A’isyah, sesungguhnya hari yang lebih dicintai Allah adalah hari jumat dan hari Arafah, karena di dalamnya penuh dengan rahmat. Dan sesungguhnya hari yang lebih dibenci Allah adalah hari Jum’at dan hari Arafah. Hai A’isyah, barang siapa pagi harinya berpuasa di hari Arafah maka Allah akan membuka baginya tiga puluh macam pintu kebaikan, dan menutup darinya 30 pintu kejahatan. Lalu apabila dia berbuka dan minum air maka semua urat yang ada pada tubuhnya memohonkan ampun untuknya, dan berkata, ‘Ya Allah, berilah rahmat kepadanya.’ Sampai terbit fajar.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Puasa 6 hari bulan syawal

Setelah melaksanakan puasa bulan ramadhan selama sebulan penuh, maka disunahkan untuk mengerjakan puasa sunah 6 hari di bulan syawal. Hal ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan juga para sahabat.

Diceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, “Orang yang berpuasa setelah ramadhan adalah seperti orang yang kembali lagi setelah melarikan diri dari medan perang.”

Yakni orang yang selesai dari berpuasa kemudian kembali lagi berpuasa adalah seperti orang yang lari dari peperangan kemudian kembali lagi ke kancah peperangan itu.

Yang dimaksudkan adalah berpuasa 6 hari dari bulan syawal. Asy Sya’bi berkata, Berpuasa sehari setelah ramadhan adalah lebih aku sukai daripada berpuasa setahun penuh.”

Abdul Wahhab berkata, “Rahasia disyari’atkannya berpuasa pada hari-hari ini adalah karena nafsu itu kadng-kadang sudah siap lagi dengan kemampuannya menghadapi kesenangan-kesenangan pada hari raya, dan terjadilah suatu kelengahan dan terhalang. Maka enam hari ini seakan-akan menutup kekurangan-kekurangan dalam menunaikan dan cela-cela dalam puasa ramadhan seperti shalat-shalat sunat yang mengikuti shalat-shalat fardhu atau seperti sujud sahwi.”

Sedangkan cara-cara berpuasa enam hari itu adalah bahwa 6 hari secara berturut-turut. Par ulama mengatakan bahwa yang lebih utama puasa 6 hari itu hendaknya berturut-turut tidak terpisah-pisah. Karena yang berturut-turut itulah yang lebih memungkinkan untuk terangnya hati daripada yang terpisah-pisah.

Puasa 6 hari syawal

Menurut Ali Zadah bahwa sebaiknya dalam puasa 6 hari ini orang harus memelihara apa yang harus dipelihara dalam puasa bulan ramadhan, bahkan melebihinya. Sebab 6 hari ini sebagai penutup kekurangan.

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang berpuasa bulan ramadhan, kemudian mengikutkannya dengan 6 hari bulan syawal, maka keluarlah dia dari dosa-dosanya seperti pada harinya dia dilahirkan ibunya.”

Kisah hikmah mengenai puasa 6 hari bulan syawal

Puasa merupakan sebuah perbuatan yang diperintahkan Allah. puasa itu ada yang wajib (bulan ramadhan) dan ada puasa sunat. Salah satu puasa sunah yang memiliki keutamaan luar biasa adalah puasa 6 hari di bulan syawal.

Di bawah ini adalah kisah hikmah mengenai seseorang yang selalu mengerjakan puasa sunah 6 hari di bulan syawal.

Sufyan Ats Tsauri bercerita bahwa dirinya pernah berada di Mekah selama 3 tahun. Ada seorang laki-laki dari penduduk kota Mekah yang datang ke Baitul Haram setiap hari pada waktu Dhuhur. Dia bertawaf di Baitullah dan mengerjakan shalat lalu mengucap salam kepadanya, setelah itu barulah dia pulang.

Sehingga Sufyan mengenalnya dan orang itu mengenal Sufyan pada suatu hari dia sakit dan mengundang Sufyan, dia berkata, “Kalau aku mati mandikanlah aku olehmu sendiri. Shalatkanlah aku dan kuburkanlah. Janganlah kau tinggalkan aku sendirian dalam kubur pada malam pertama itu. Bermalamlah di atas kuburku dan talqinkanlah dengan kalimah tauhid saat tiba-tiba pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.”

Ketika Sufyan mengerjakan yang diperintahkan kepadanya, dan Sufyan bermalam di atas kuburnya, dia berada di antara tidur dan terjaga, tiba-tiba mendengar suara memanggil, “Hai Sufyan, dia tidak memerlukan lagi penjagaanmu dan talqinmu.” Sufyan bertanya, “Mengapa dia memperoleh demikian?” suara itu menjawab, “Berkat puasa ramadhan dan disertakannya 6 hari dari bulan syawal.”

Puasa 6 hari syawal

Lalu Sufyan terbangun dan tidak melihat ada orang lain disana. Maka dia kemudian berwudhu dan mengerjakan shalat hingga tertidur. Kemudian bermimpi seperti itu sampai 3 kali. Dia mengetahui bahwa hal tersebut berasal dari Allah dan bukan dari setan.

Sufyan lalu kembali dari kuburnya seraya berkata, “Ya Allah, berikanlah taufiq kepadaku untuk dapat berpuasa ramadhan dan mengikutsertakan 6 hari dari bulan syawal.” Akhirnya Sufyan benar-benar diberi taufiq oleh Allah.