Inilah Pengertian Gasab

Al ‘Ibadi dan ulama lainnya telah berkata sehubungan dengan masalah sebuah kitab pinjaman. Peminjam melihat adanya salah tulis dalam kitab itu, ia tidak boleh memperbaikinya kecuali jika kitab itu adalah mushaf Al Qur’an. Jika keadaannya demikian, ia wajib memperbaikinya.

Barang milik orang lain yang dipinjam, selain mushaf Al Qur’an tidak boleh dilakukan suatu perbaikan pun padanya kecuali jika peminjam menduga bahwa pemiliknya rela dengan perbaikan tersebut.

Merupakan suatu kewajiban baginya memperbaiki mushaf, tetapi dengan syarat jika tidak mengurangi keindahan khat-nya karena khath peminjam yang memperbaikinya jelek. Kitab yang diwakafkan wajib diperbaiki jika kekeliruan yang ada padanya sudah diyakini.

Pengertian gasab (meminjam barang orang lain tanpa izin)

Menguasai hak orang lain dinamakan gasab, sekalipun berupa manfaatnya saja. Misalnya menyuruh berdiri orang yang telah duduk di dalam masjid, kemudian dia menggantikannya atau di dalam pasar tanpa alasan yang dibenarkan. Perihalnya sama dengan seseorang duduk di hamparan permadani milik orang lain, sekalipun dia tidak menggesernya.

Dinamakan perbuatan gasab pula bila seseorang yang berada dalam rumahnya sendiri dikagetkan oleh orang lain, sekalipun orang lain yang mengagetkannya itu tidak memasuki rumahnya. Contoh lain ialah menaiki kendaraan orang lain dan menyuruh budaknya.

Menggasab barang yang dapat ditakar dan ditimbang

Orang yang melakukan perbuatan gasab diwajibkan mengembalikan apa yang digasabnya dan menanggung kerusakan barang yang berharga dengan harga paling tinggi sejak penggasaban hingga rusaknya barang itu.

Menggasab barang mitsli, yaitu sesuatu yang dapat ditakar dan ditimbang dan dibeli melalui transaksi salam (inden), seperti katun, terigu, air, minyak kesturi, tembaga, dirham, dan dinar sekalipun sepuhan, juga kurma, anggur kering, biji-bijian kering, minyak dan samin, harus ditanggung dengan mengembalikan yang serupa atau sejenis dengannya di tempat mana pun barang mitsli itu berada (harus diupayakan).

Barang pengganti tidak ada di pasaran

Apabila barang mitsli untuk pengganti menghilang dari pasaran, maka dibayar dengan taksiran harga paling tinggi yang berlaku sejak saat penggasaban hingga menghilangnya barang tersebut dari pasaran.

Barang mitsli yang mengalami kerusakan

Seandainya barang mitsli yang digasab ternyata mengalami kerusakan, maka pemiliknya boleh menuntut pihak penggasab agar menggantinya dengan barang serupa di tempat lain dimana barang mitsli tersebut didapat. Tetapi dengan syarat bila pengangkutannya tidak memerlukan biaya dan perjalanannya aman. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka dibayar dengan taksiran harga yang paling tinggi di tempat barang mitsli berada.

Barang yang mempunyai standar, jika dirusak harus ditanggung oleh pengganti dengan membayar harganya, misalnya yang berupa manfaat (jasa) dan hewan.

Inilah Etika Meminjam Barang Menurut Syariah Islam

Seandainya dua belah pihak (peminjam dan yang meminjam) berselisih pendapat mengenai kerusakan karena penggunaan yang diizinkan atau yang tdak diizinkan, maka yang dibenarkan ialah pihak yang meminjamkan. Demikian pendapat yang dikatakan oleh Al-Jalalul Bulqini. Alasannya, karena pada asalnya dalam masalah ‘ariyah (pinjaman) ialah menanggung kerusakan, kecuali jika ada bukti yang menggugurkannya.

Peminjam menanggung ongkos pengembalian

Peminjam diwajibkan menanggung ongkos pengembalian barang pinjaman kepada pemiliknya. Tidak termasuk ke dalam pengertian “biaya mengembalikan” yaitu biaya (pemeliharaan) barang pinjaman. Biaya ini ditanggung oleh pemilik, mengingat hal itu sudah menjadi kewajibannya karena barang tersebut adalah miliknya.

Al-Qadhi berpendapat berbeda, dia mengatakan bahwa biaya pemeliharaan barang pinjaman dibebankan kepada peminjam.

Peminjam dan yang meminjamkan boleh membatalkan ‘ariyah

Masing-masing dari orang yang meminjamkan dan orang yang meminjam diperbolehkan mencabut kembali ‘ariyah (pinjaman)nya, baik yang bersifat mutlak maupun yang dibatasi waktunya hingga dalam masalah meminjamkan alat buat mengubur jenazah sebelum diurug dengan tanah, sekalipun jenazah telah diletakkan di liang lahat (peminjaman alat boleh dibatalkan). Akan tetapi, tidak boleh dicabut kembali bila telah dilakukan pengurugan terhadap kuburannya sampai jenazah hancur tubuhnya.

Tidak ada hak pencabutan terhadap hal yang berhubungan dengan kewajiban

Tidak ada hak pencabutan bagi orang yang meminjamkan sesuatu sekiranya hal tersebut merupakan suatu keharusan baginya, misalnya memberi pinjaman tempat tinggal bagi istri yang sedang iddah.

Tidak ada hak pencabutan bagi orang yang meminjamkan perahu yang perahunya telah berlayar di tengah laut, sedangkan di dalamnya terdapat barang muatan milik peminjam. Ibnu Rif’ah mengadakan suatu penelitian, bahwa peminjam dibebani upah sewa perahu (bila pemilik mencabut pinjamannya).

Tidak ada hak mencabut kembali pinjaman balok yang digunakan untuk menopang tembok yang miring, padahal sebelumnya tegak. Tetapi pemilik balok boleh meminta uang sewanya sejak terjadi pencabutan pinjaman.

Seandainya seseorang meminjam lahan untuk bangunan atau tanaman, hal tersebut tidak boleh dilakukan lagi kecuali hanya sekali itu saja.

Seandainya peminjam telah membongkar bangunan atau mencabut tanamannya, maka ia tidak boleh mengulangi lagi kecuali dengan izin yang baru, kecuali jika pemilik mengizinkan dia untuk memperbaruinya lagi sejak permulaan.

Hukum Merusak Barang Pinjaman

Pihak peminjam diwajibkan menanggung harga barang yang dipinjamnya, sesuai dengan harga pasaran yang berlaku di hari kerusakan. Kewajiban itu harus dilaksanakan jika semua atau sebagian dari barang yang dipinjamnya mengalami kerusakan sesudah di tangannya, sekalipun karena bencana, tanpa ada unsur kecerobohan atau kelalaian dari pihak peminjam. Ia wajib menggantinya atau menambal kerugiannya walaupun kedua belah pihak mensyaratkan tidak ada tanggungan ganti rugi.

Dikatakan demikian karena berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan lain-lainnya, yaitu: “Barang pinjaman itu harus ditanggung”, yakni harganya menurut pasaran yang berlaku di saat hari kerusakan, bukan hari penerimaan, bagi barang yang ada taksiran harganya, dan diganti dengan barang yang serupa, jika ada, menurut pendapat yang kuat alasannya.

Di dalam kitab AL Anwar ditetapkan, “Yang diwajibkan ialah membayar harganya, sekalipun barang yang serupa dengannya banyak di dapat, misalnya kayu dan batu.”

Syarat yang menjadi ketentuan wajib menanggung

Syarat yang berkaitan dengan kerusakan yang harus ditanggung ialah kerusakan tersebut terjadi bukan karena pemakaian yang semestinya, sekalipun kerusakan terjadi bersamaan dengan penggunaan.

Jika barang pinjaman mengalami kerusakan seluruh atau sebagiannya karena pemakaian yang diizinkan (oleh pemilik), misalnya menunggangi atau membebaninya muatan, atau pemakaian seperti biasanya, maka tidak ada tanggungan atas peminjam terhadap kerusakan itu karena dia telah mendapat izin.

Tidak ada tanggungan pula atas peminjam sesuatu (barang) dari orang yang menyewanya dengan transaksi sewaan yang sahih. Dikatakan tidak ada tanggungan atas dirinya (bila ada kerusakan) karena kedudukan peminjam sama dengan wakil dari penyewa, sedangkan penyewa sendiri tidak terkena beban tanggungan, demikian pula dia (peminjam).

Termasuk ke dalam pengertian “penyewa” yaitu orang yang diwasiati untuk memanfaatkan dan orang yang diwakafi. Demikian pula barang yang dipinjam untuk digadaikan, lalu barang tersebut mengalami kerusakan di tangan penerima gadai, maka penerima gadai tidak dikenakan tanggungan atas kerusakan itu, demikian pula penggadainya.

Contoh lainnya yang menggambarkan tidak ada tanggungan adalah, sebuah kitab diwakafkan untuk kaum muslim, lalu kitab tersebut dipinjam oleh seorang ahli fikih, dan ternyata mengalami kerusakan di tangannya tanpa ada faktor kesengajaan (kesembronoan penggunaan). Dikatakan demikian karena kitab tersebut merupakan bagian dari sejumlah barang wakaf untuk kaum muslim.

Inilah Ketentuan Pinjam Meminjam Barang Dalam Syariah Islam

Sesungguhnya transaksi ‘ariyah hanya dinyatakan sah manakala dilakukan oleh orang yang berhak ber-tasharruf dengan lafaz yang memberikan pengertian boleh memanfaatkannya, mislanya: “Aku pinjamkan kepadamu atau aku memperbolehkan kamu memanfaatkannya.” Demikian pula dengan lafaz, “Naikilah dan pakailah, gunakanlah manfaatnya sebaik-baiknya.”

Pengucapan lafadz ini cukup dilakukan oleh salah satu pihak, sedangkan pihak lainnya hanya mengerjakan apa yang dikatakannya.

Meminjamkan barang pinjaman

Peminjam tidak diperbolehkan meminjamkan barang yang dipinjamnya tanpa izin dari pemilik barang. Peminjam boleh menggantikan orang yang akan memanfaatkan sewaannya, misalnya dia memelanai (memasang pelana) kuda yang ia pinjam untuk dinaiki oleh orang lain yang sederajat dengannya atau lebih rendah darinya, orang itu dia suruh untuk keperluannya.

Meminjamkan barang yang dapat diambil manfaatnya, tetapi keutuhannya hilang

Tidak sah meminjamkan sesuatu yang tidak dapat fiambil manfaatnya bila barangnya masih tetap utuh, seperti meminjamkan lilin untuk penerangan, sebab lilin tersebut jelas habis bil dipakai. Karena itu, dianggap sah menyewakan lilin hanya untuk perhiasa; sama halnya dengan mata uang emas dan perak.

Kerusakan harus ditanggung oleh penyewa

Manakala ‘ariyah tidak sah, kemudian ternyata tetap berlangsung, maka kerusakannya harus ditanggungoleh pihak penyewa, sebab barang sewaan yang mengalami kerusakan sama hukumnya dengan barang yang utuh.

Menurut pendapat yang lain, tidak ada tanggungan karena apa yang terjadi di antara kedua belah pihak bukan termasuk ‘ariyah (pinjaman) yang sahih dan bukan pula ‘ariyah yang rusak.

Seandainya seseorang mengatakan, “Galilah di tanahku sebuah sumur untukmu sendiri,” lalu orang yang diperintah itu mengerjakannya, maka penggali sumur tidak berhak memilikinya.

Tidak ada upah yang dibebankan kepada orang yang memerintahkan penggali sumur itu. Jika penggali sumur mengatakan, “Engkau memerintahku atas dasar memakai upah,” lalu orang yang memerintahnya mengatakan, “Cuma-Cuma,” maka yang dibenarkan adalah pihak yang memerintah dan ahli warisnya.

Tidak ada kewajiban menanggung kerusakan pada sesuatu yang bukan ‘ariyah

Seandainya seseorang menyuruh seorang anak kecil meminjamkan sesuatu buatnya, hukumnya tidak sah. Untuk itu, seandainya barang pinjaman tersebut rusak di tangannya atau sengaja dirusak olehnya (si anak), maka anak tersebut dan juga pengirimnya tidak menanggung kerusakannya.

Pengertian dan Hukum Ariyah (Peminjaman Barang)

‘Aariyah atau ‘aariyyah merupakan nama bagi barang yang dipinjamkan, juga nama bagi transaksi yang mengandung izin memanfaatkan barang yang halal dimanfaatkan, sedangkan keadaannya masih tetap utuh karena akan dikembalikan lagi kepada pemiliknya.

‘Aariyah atau ‘aariyyah berasal dari kata kerja ‘aara yang artinya “datang dan pergi dengan cepat”, bukan berasal dari akar kata al-‘aar yang artinya “aib”.

Hukum ‘ariyah

Hukum ‘ariyah pada asalnya sunat, sebab ia sangat diperlukan. Tetapi ‘ariyah itu adakalanya wajib, seperti meminjamkan pakaian yang berkaitan erat dengan sahnya salat peminjam, meminjamkan sarana untuk menyelamatkan orang yang tenggelam, atau meminjamkan salat untuk menyembelih hewan yang dihormati karena dikhawatirkan akan mati (jika tidak disembelih).

Meminjamkan barang yang bukan barang pinjamanorang yang mempunyai hak tasharruf sah meminjamkan suatu barang yang bukan barang pinjaman untuk dimanfaatkan (oleh pihak lain), sedangkan barang tersebut masih tetap utuh. Pemanfaatan barang tersebut adalah miliknya melalui wasiat atau sewa atau wakaf, sekalipun dia tidak memiliki barang tersebut, sebab barang pinjaman hanya berkaitan dengan pemanfaatannya saja 9sedangkan barangnya masih tetap utuh).

Meminjamkan barang wakaf dan harta baitul mal

Ibnu Rif’ah mengikat keabsahan bagi barang wakaf yang dipinjamkan manakala orang yang meminjamkannya adalah nazhir (pengurus wakaf).

Al-Asnawi mengatakan, “Imam diperbolehkan meminjamkan harta dari baitul mal.”

Meminjamkan barang yang haram dimanfaatkan

Hendaknya barang pinjaman tersebut adalah barang yang boleh dimanfaatkan. Oleh karena itu, tidak sah meminjamkan barang yang haram dimanfaatkan, misalnya meminjamkan alat lahwu (musik) dan meminjamkan kuda atau senjata kepada kafir harbi. Haram pula meminjamkan budak perempuan yang seksi untuk melayani lelaki lain.