Kisah Kemuliaan Orang Yang Memaafkan Penyesalan Penjual

Diceritakan bahwa ada seorang yang shalih membeli madu seharga tiga puluh ribu dirham, keesokan harinya harga madu melonjak naik dua kali lipat. Akhirnya orang yang menjual pertama mendengar bahwa harga madu akan naik, maka ia menyesal atas penjualannya kemarin. Lalu ada teman akrabnya yang berkata, “Apakah kamu ingin madumu kembali padamu, dan nanti kamu akan mendapatkan keuntungannya juga?” jawabnya, “Ya.” Kata temannya lagi, “Pada waktu pagi keluarlah ke masjid untuk mengerjakan salat shubuh bersama Syaikh yang telah membeli madumu tadi. Jika Syaikh telah selesai salat dan telah berdoa, maka ucapkanlah salam kepadanya dan katakan, “Sesungguhnya saya telah menyesal atas penjualan maduku kemarin,” kamu jangan berkata sesuatu pun kepadanya.”

Akhirnya penjual madu itu menuruti nasihat temannya itu, keesokan harinya ia keluar ke masjid untuk mengerjakan shalat shubuh bersama syaikh. Ketika selesai berdoa maka ia pun berkata, “Wahai guruku, sesungguhnya aku menyesal dengan penjualan maduku kemarin>” lalu sang guru itu berkata kepada sahayanya, “Bangunlah dan berikan kepada orang ini seluruh madunya.” Maka orang yang hadir pasa saat itu sama berkata, “Harga madu itu sekarang telah melonjak naik, boleh dikata dua kali lipat dari harga kemarin.” Maka guru itu berkata, “Pergilah kamu dariku, sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda:

Barang siapa yang membatalkan penjualannya kepada orang yang menyesalinya, maka Allah akan mengampuni kesalahannya nanti di hari kiamat.”

Apakah layak bagiku membeli pengampunan kesalahanku di hari kiamat dengan harga tiga puluh ribu dirham?” lalu ia terima kembali uang 30 ribu dirham, dan mengembalikan madu pada penjualnya.

Haram Menjual Barang Kepada Orang Yang Sedang Tawar Menawar

Diharamkan menjual barang kepada orang yang masih dalam akan penjualan, misalnya ada orang yang berkata kepada pembeli yang masih dalam zaman khiyar (tawar menawar), “Kembalikan barang itu dan aku akan menjual barang yang lebih baik dengan harga yang sama atau lebih murah sedikit.”

Transaksi Pembelian dan Menawar Yang Diharamkan

Haram juga membeli di atas pembelian, misalnya ada orang yang berkata kepada penjual yang masih dalam masa khiyar, “Batalkan akadmu dengan orang itu dan aku akan membeli barang daganganmu dengan harga yang lebih mahal lagi.” Dan haram pula najesy yaitu menawar barang, bukan untuk membeli tetapi hanya agar orang lain membelinya dengan harga yang lebih tinggi. Tidak boleh menawar barang yang masih dalam tawaran orang lain tanpa seizin darinya dengan cara menawar yang lebih tinggi. Padahal sudah ada kesepakatan antara pembeli dan penjual. Atau menawarkan kepada pembeli barang yang lebih murah lagi, padahal pembeli sedang mengadakan akad jual beli

Keutamaan Berjualan Dengan Sifat Jujur Dan Bermurah Hati Kepada Pembeli

Rasulullah saw telah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jabir r.a. sebagai berikut:

Semoga Allah memberi rahmat kepada seorang hamba yang murah hati apabila berjualan, membeli dan menagih hutang.

Riwayat Imam Ahmad dan Turmudzi dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:

Allah pernah mengampuni dosa seorang lelaki sebelum kamu, lantaran murah hati apabila berjualan, membeli dan mencegah hutang.

Dalam sebuah riwayat Imam Baihaqi juga telah diterangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Hendaklah kamu menerima tawaran yang pertama (dari pembeli), karena sesungguhnya laba yang memberkahi bersama sikap murah hati.

Abu Umar telah berkata, “Zubair adalah seorang yang beruntung dalam perdagangannya.” Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Dengan cara bagaimana kamu mencapai kesuksesan dalam perdagangan?” jawabnya, “Sesungguhnya aku tidak membeli barang yang ada aibnya dan tidak meremehkan laba sedikitpun. Dan Allah memberi berkah kepada apa yang dikehendaki-Nya.”

Kisah Keutamaan Murah Hati Dalam Jual Beli

Assirri Assiqti adalah seorang pedagang di kota Baghdad, ia telah menentukan laba dari setiap penjualannya, yaitu separuh dirham (5%) untuk sepuluh potongnya.

Pada suatu hari ia membeli buah badam (kenari) seharga enam ratus dinar. Kemudian harga barang-barang melonjak naik, lalu ada makelar yang datang padanya seraya berkata, “Juallah dengan mengambil keuntungan 30% untuk sepuluh buahnya.” Assiri berkata, “Saya tidak akan menambah keuntungan lebih dari setengah dirham untuk sepuluh buah dan aku tidak akan merubah pendirianku yang pertama.” Lalu makelar itu berkata lagi, “Aku tidak akan menjual barangnya dan Assiri juga tidak mau merubah pendirian pertamanya.”

Rasulullah bersabda:

Barang siapa yang membatalkan penjualan orang yang menyesal terhadap barang yang dibelinya, maka Allah akan memaafkan kesalahannya di akhirat.

Siksaan bagi yang menipu takaran

Diceritakan oleh Al Ya’fi dari Malik bin Dinar, bahwa dia pernah menjenguk tetangganya yang sedang sakit, lalu tetangganya itu mengeluh kepada Malik bin Dinra, “Wahai Malik, ada dua gunung dari api di kukaku, aku diperintahkan untuk naik di atasnya.” Lalu Malik bertanya kepada keluarganya tentang perilakunya, lalu mereka menjawab, “Ia mempunyai dua takaran, jika menjual barangnya dengan takaran yang satu dan jika membeli barang dengan takaran yang lain.”

Lalu aku menyuruh orang untuk mengambil kedua takaran itu, lalu dipungutnya dan diletakkan di hadapanku, kemudian kuhancurkan keduanya. Kemudian aku bertanya kepada lelaki yang sedang sekarat itu, “Bagaimana keadaanmu kini?” Jawabnya, “Belum berkurang, bahkan bertambah pedih rasanya.” Akhirnya ia meninggal dunia karena sakitnya.”

Bahayanya mengurangi timbangan

Diceritakan oleh sebagian ulama yang pernah mengunjungi orang yang sedang sekarat, ulama tersebut kerkata kepadanya, “Bacalah Laa ilaaha illallaah.” Jawabnya, “Saya tidak dapat membaca, karena jarum timbangan itu mrngganjal pada lidahku, sehingga aku tidak dapat mengucapkannya.” Aku berkata, “Bukankah kamu dahulu menimbang dengan jujur?” jawabnya, “Ya, tapi terkadang ada debu yang masuk ke dalam neraca, dimana aku sendiri tidak mengetahuinya.”

Kecurangan yang terjadi dalam jual beli yang diharamkan itu adalah yang biasa berlaku pada penjual dengan timbangan kilogram atau meteran, yang berlaku pada penjual bahan makanan atau sandang (pakaian)

Dosa Bagi Pedagang Yang Mengurangi Takaran dan Timbangan Serta Ukuran

Allah swt berfirman dalam surat Al Muthaffifin ayat 1-6:

  1. kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang
  2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
  3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
  4. tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,
  5. pada suatu hari yang besar,
  6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Ada sebagian ulama yang menafsirkan bahwa maksud dari “Wailun” itu adalah jurang di dalam neraka jahanam yang terburuk. Seandainya gunung-gunung di dunia dilewatkan di atasnya, niscaya akan hancur, lantaran derajat panasnya yang sangat tinggi.

Ada juga yang menafsirkan “Wailun” itu adalah siksaan yang pedih.

Menurut As Sayyid, bahwa sebab musababnya turun firman Allah ini adalah pada waktu Nabi saw di Madinah, ada orang yang mempunyai dua sukatan, jika membeli barang menggunakan sukatan (takaran) yang satu sekiranya dapat membawa keuntungan. Jika penjual menggunakan sukatan yang lain yang dapat merugikan pembeli, sehingga turunlah firman Allah tersebut diatas.

Imam Turmudzi juga telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Rasulullah saw pernah bersabda kepada orang-orang yang mempunyai sukatan dalam timbangan, “Sesungguhnya kamu diberi beban dua perkara, dimana umat sebelummu banyak yang binasa karenanya.”

Ibnu Majah dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah saw pernah menghadap kepada kami lalu bersabda:

Wahai para sahabat Muhajirin, ada lima perkara, apabila kamu diuji dengan itu, dan aku sendiri berlindung kepada Allah jangan sampai kamu mengalaminya, yaitu:

  1. Jika pelacuran telah merajalela di kalangan suatu bangsa, maka akan menjalar pula penyakit tha’un (sampar atau pes) dan banyak penyakit baru yang menyerang mereka, dimana ayah dan nenek mereka tidak pernah mengalaminya.
  2. Jika mereka mengurangi berat takaran dan timbangan maka mereka akan mengalami musim paceklik, yaitu musim yang bumi menjadi tandus, gersang tidak bisa menumbuhkan tanaman sekalipun ada hujan yang turun padanya. Biaya penghidupan semakin berat dirasa, dan pemerintahpun semakin tidak adil.
  3. Jika mereka tidak mau mengeluarkan zakat harta benda mereka, maka mereka tidak akan dituruni hujan dari langit seandainya tidak ada binatang ternak, maka mereka tidak akan diberi hujan.
  4. Jika mereka khianat terhadap janji Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan mengangkat pemimpin dari musuh mereka, akhirnya pemimpin akan mengambil harta kekayaan mereka.
  5. Jika pemimpin mereka tidak menggunakan dasar kepemerintahannya dengan ajaran Al Qur’an dan tidak memilihnya maka Allah akan menjadikan satu sama lain saling membunuh.

Ikrimah r.a. juga telah berkata, “Aku bersaksi bahwa setiap orang yang ahli menggunakan sukatan atau timbangan akan mati masuk neraka.” Lalu ada orang yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya anakmu juga tukang sukatan dan menimbang.” Jawabnya, “Saksikanlah bahwa ia nanti akan berada dalam neraka.”

Ali bin Abi Thalib r.a. juga telah berkata, “Janganlah kamu minta tolong kepada orang-orang yang diberi rizki oleh Allah dari sukatan atau timbangan. Alangkah baiknya orang yang berkata, ‘Celaka, sungguh celaka bagi orang yang menjual surga yang lebarnya tujuh langit dan bumi dengan satu biji, dan membeli jurang neraka jahanam yang dapat menghancurkan gunung-gunung di dunia dan seisinya dengan satu biji.”

Hukum Menjual Barang Dagang Dengan Sumpah Palsu

Rasulullah saw telah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzar r.a. :

Tiga macam orang yang tidak akan dilihat oleh Allah dengan pandangan rahmat-Nya pada hari kiamat nanti, tidak akan membersihkan mereka dari dosa, dan mereka tetap mendapat siksaan yang sangat pedih, lalu Rasulullah saw mengatakannya sampai 3 kali. Maka aku bertanya, “Mereka menyesal dan merugi, siapakan mereka itu, wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda, “Orang yang menurunkan kainnya (hingga menutupi kedua mata kakinya), orang yang suka mengungkit pemberiannya, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah yang palsu.”

Imam Thabrani dan Baihaqi juga telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda sebagai berikut:

“Tiga macam orang yang tidak akan dilihat oleh Allah dengan pandangan rahmat-Nya, dan tidak akan membersihkan mereka dari dosanya dan mereka akan tetap mendapat siksa yang pedih, yaitu orang yang suka berzina, orang fakir yang sombong, dan orang laki-laki yang tidak akan membeli atau menjual barang dagangannya melainkan hanya dengan bersumpah.”

Riwayat Imam Muslim, bahwa Rasulullah saw bersabda:

Berhati-hatilah kamu dari kebanyakan bersumpah, karena ia mempercepat lakunya barang, tapi berkahnya musnah.

Dari riwayat Imam Thabrani bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Wahai para pedagang, berhati-hatilah kamu dari perkataan bohong.”

ibnu Hibban telah meriwayatkan dari Abu Sa’id r.a. bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Ada seorang Arab Badui berjalan dengan menuntun seekor kambing, lalu aku bertanya, “Maukah kamu menjualnya kepadaku dengan harga tiga dirham? Jawabnya, “Tidak kujual, demi Allah.” Lalu aku ceritakan masalah tersebut kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda, “Dia (orang Badui itu) menjua akhiratnya dengan dunianya.”