Etika Berperang dalam Islam

Larangan mengeraskan suara dalam berperang kecuali bila diperlukan

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud melalui Qais ibnu Ubad At Tabi’i yang menceritakan:

Para sahabat Rasulullah saw tidak menyukai suara (keras) dala peperangan.

Mengucapkan “Aku adalah si Anu” dengan maksud menggetarkan hati musuh

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah saw telah bersabda dalam perang Hunain:

Aku adalah nabi yang tidak pernah dusta, aku adalah anak Abdul Muththalib.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain melalui Salamah ibnul Akwa:

Bahwa Ali karamallaahu wajhah ketika berduel dengan Marhaba Al Khaibari mengucapkan kalimat berikut, “Aku adalah orang yang dinamakan haidarah (singa) oleh ibuku.

Diriwayatkan pula di dalam kitab Shahihain melalui Salamah, bahwa ia mengucapkan kalimat berikut ketika berperang melawan orang-orang (kafir) yang menyerang Liqah:

Aku adalah anak lelaki Akwa’, hari ini adalah perang Rudhdha’.

Disunatkan bersyair rajaz ketika perang tanding

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Al Barra ibnu Azib r.a.:

Seorang lelaki pernah bertanya kepadanya, “Apakah kamu lari dari perang Hunain meninggalkan Rasulullah saw?”

Al Barra menjawab, “Tetapi Rasulullah saw tidak lari, bahkan aku melihatnya berada di atas beghalnya yang putih, sedangkan Abu Sufyan ibnul Harits yang memegang tali kendalinya. Ketika itu Nabi saw mengucapakan, ‘Aku adalah nabi yang tidak pernah dusta, aku adalah anak laki-laki Abdul Muththalib.”

Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka Nabi saw turun, lalu berdoa dan meminta tolong kepada Allah swt.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain melalui Al Barra yang menceritakan:

Aku melihat Nabi saw ikut memindahkan pasir bersama kami pada hari perang Ahzab hingga pasir sempat menutupi kulit perut beliau yang putih. Beliau mengucapkan, “Ya Allah, seandainya tidak ada Engkau, niscaya kami tidak mendapat petunjuk, tidak dapat bersedekah, tidak pula dapat salat. Turunkanlah ketenangan kepada kami dengan sesungguhnya, dan tetapkanlah kaki kami bila bersua dengan musuh. Sesungguhnya mereka telah berbuat kelewat batas terhadap kami. Apabila mereka menghendaki fitnah (terhadap kami) maka kami menentang.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari melalui Anas r.a. yang menceritakan:

Orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar menggali parit dan memikul pasir di atas pundak mereka seraya mengucapkan, “Kami adalah orang-orang yang berbaiat (berjanji setia) kepada Muhammad untuk islam, riwayat lain menyebutkan untuk jihad, selama hayat masih dikandung badan.”

Nabi saw menjawab mereka melalui ucapannya, “Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat. Maka berkatilah orang-orang Anshar dan orang-orang Muhajirin.”

Sunat menampakkan kesabaran, kekuatan, dan kegembiraan kepada orang yang terluka di jalan Allah, mengabarkan keuntungan akibat lukanya, dan perihal yang akan dialaminya bila ia sampai mati syahid.

Allah swt telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 169-174:

  1. janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
  2. mereka dalam Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
  3. mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.
  4. (yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.
  5. (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.
  6. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Anas r.a. mengenai hadis yang mengisahkan para ahli qurra di Bi’r Ma’unah, yaitu mereka yang dikhianati oleh orang-orang kafir, lalu mereka dibunuh

Bahwa seorang lelaki dari kalangan orang-orang kafir menusuk paman Anas dari pihak ibu, yaitu Haram ibnu Mulhan. Tusukan itu menembus tubuhnya, lalu Haram berkata, “Allah Maha Besar, aku telah berhasil (memperoleh syahadah) demi Rabb Ka’bah).”