Pembunuhan Dalam Perspektif Islam

Membunuh merupakan sebuah perbuatan yang termasuk ke dalam dosa besar. Apalagi membunuhnya itu tanpa ada alasan yang dibenarkan syariat. Di bawah ini adalah beberapa dalil tentang larangan untuk membunuh dan dosa membunuh.

Ibnu Majah telah meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Barang siapa yang membantu orang untuk membunuh orang mukmin, meskipun hanya dengan setengah kalimat, maka ia akan menghadap kepada Allah (di hari kiamat nanti) sedang antara dua matanya tertulis, “Ayis min rahmatillah” (terputus dari rahmat Allah).

Dalam sebuah riwayat telah diterangkan bahwa ketika Rasulullah saw mengirimkan surat kepada penduduk Yaman, beliau membuat pernyataan sebagai berikut:

Sesungguhnya dosa yang paling besar di sisi Allah pada hari kiamat (nanti) adalah menyekutukan Allah, dan membunuh orang mukmin tanpa ada alasan yang hak menurut syar’i.

Imam Nasa’i telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Pertama kali perbuatan seorang hamba yang dihisab oleh Allah pada hari kiamat nanti adalah shalatnya (yang wajib) dan pertama kali hukuman yang akan dijatuhkan oleh Allah kepada seorang hamba adalah masalah pertumpahan darah.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis sebagai berikut:

Api neraka dibagi menajdi tujuh puluh bagian. Untuk orang yang memerintah membunuh mendapat enam puluh sembilan dan orang yang membunuh mendapat satu bagian.

Sedang Imam Abu Dawud dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Darda, bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Setiap dosa masih diampuni oleh Allah, kecuali dosa seorang lelaki yang mati dalam keadaan musyrik atau membunuh orang mukmin dengan sengaja tanpa hak.

Larangan Membunuh Dalam Islam Karena Termasuk Dosa Besar

Membunuh merupakan sebuah perbuatan yang termasuk ke dalam dosa besar. Apalagi membunuhnya itu tanpa ada alasan yang dibenarkan syariat. Di bawah ini adalah beberapa dalil tentang larangan untuk membunuh dan dosa membunuh.

Imam Nasa’i telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Pertama kali perbuatan seorang hamba yang dihisab oleh Allah pada hari kiamat nanti adalah shalatnya (yang wajib) dan pertama kali hukuman yang akan dijatuhkan oleh Allah kepada seorang hamba adalah masalah pertumpahan darah.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis sebagai berikut:

Api neraka dibagi menajdi tujuh puluh bagian. Untuk orang yang memerintah membunuh mendapat enam puluh sembilan dan orang yang membunuh mendapat satu bagian.

Al Bazzar dan Thabrani telah meriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Akan keluar leher dari api neraka seraya berkata dengan lidah yang fasih lagi lancar, mempunyai dua mata yang digunakan untuk melihat, mempunyai lidah untuk berbicara, lalu berkata, “Sesungguhnya aku mendapat perintah untuk membakar orang yang menyekutukan Allah, setiap penguasa yang kejam menentang perintah Allah, dan orang yang membunuh orang lain tanpa ada alasan yang hak menurut syar’i, lalu berangkat bersama mereka untuk dibawa ke neraka sebelum orang-orang yang lain dengan jarak lima ratus tahun.

Menurut sebagian besar para ulama bahwa membunuh dengan sengaja kepada orang yang masih terpelihara darahnya tanpa ada alasan yang hak menurut syar’i termasuk dosa besar.

Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Hasan bin Ali, Zaid bin Tsabit juga telah berpendapat bahwa tidak akan diterima taubat orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja dan tanpa alasan yang haq. Tetapi ulama ahli sunnah menyatakan bahwa masih dapat diterima taubatnya sebagaimana orang kafir, bahkan seorang mukmin lebih layak untuk diterima oleh Allah swt.

Walaupun demikian, penerimaan taubat itu terserah kepada kehendak Allah. pembunuh itu juga tidak kekal di neraka, meskipun tidak bertaubat. Imam Nawawi berpendapat di dalam kitabnya “Raudhah” bahwa pembunuh itu akan tetap disiksa di akhirat nanti meskipun di dunia sudah membayar dendanya.

Membunuh Termasuk Dosa besar

Membunuh merupakan sebuah perbuatan yang termasuk ke dalam dosa besar. Apalagi membunuhnya itu tanpa ada alasan yang dibenarkan syariat. Di bawah ini adalah beberapa dalil tentang larangan untuk membunuh dan dosa membunuh.

Rasulullah saw telah bersabda:

Jika waktu pagi telah tiba, maka iblis menyebar bala tentaranya, lalu berkata, “Barang siapa yang telah berhasil menggoda orang muslim pada hari ini, maka akan kupakaikan mahkota.” Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, “Lalu tentara yang satu datang seraya berkata, ‘Tak henti-hentinya alu bersama orang muslim itu, sehingga menjatuhkan talak kepada istrinya’. Lalu iblis yang lain menimpali, “sebentar lagi aku kawin.” Lalu tentara yang lain datang seraya berkata, “Aku tak henti-hentinya menggoda orang muslim, sehingga menyekutukan Allah.”

Iblis yang lain menimpali, “Engkau…. hanya engkau penggoda yang jitu.” Lalu diberikannya mahkota dan dipakaikan. Lalu datang tentara yang lain seraya berkata, “Aku tak henti-hentinya menggoda orang muslim, sehingga membunuh orang lain.” Lalu iblis yang lain menimpali, “Engkau….. engkau sebagai penggoda yang jitu,” lalu diberikan mahkota dan dipakaikan.”

Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Orang yang mencekik dirinya hingga mati, maka akan terus mencekik-cekik pada dirinya sendiri di dalam neraka. Dan barang siapa yang menikam dirinya (hingga mati), maka akan terus menikam dirinya di dalam neraka. Dan barang siapa yang menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi hingga mati, maka akan terus menjatuhkan dirinya di dalam neraka.

Riwayat Imam Muslim dan yang bersumber dari Tsabit Adh Dhohak radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Barang siapa yang bersumpah berpegang kepada salah satu agama lain selain agama islam dengan sengaja, meskipun berdusta, maka ia seperti apa yang dikatakan (kafir). Barang siapa yang membunuh dirinya dengan suatu alat, maka ia akan disiksa dengan alat itu nanti pada hari kiamat.

Dan bagi seseorang tidak sah bernadzar terhadap sesuatu yang belum menjadi hak miliknya. Mengutuk orang mukmin sama dengan membunuhnya.

Dan barang siapa yang menuduh kafir kepada orang mukmin, maka sama dengan membunuhnya. Dan barang siapa yang menyembelih dirinya dengan sesuatu, maka akan disiksa dengannya pada hari kiamat (nanti).

Dalam sebuah riwayat telah diterangkan bahwa ketika Rasulullah saw mengirimkan surat kepada penduduk Yaman, beliau membuat pernyataan sebagai berikut:

Sesungguhnya dosa yang paling besar di sisi Allah pada hari kiamat (nanti) adalah menyekutukan Allah, dan membunuh orang mukmin tanpa ada alasan yang hak menurut syar’i.

Hukum Membunuh Dalam Islam (Kisah Hikmah Bahaya Membunuh)

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Hazim diterangkan bahwa ia berkata, “Sesungguhnya aku pernah melihat Umar bin Abdul Aziz sedang tertidur setelah mengalami kesusahan, tiba-tiba ia menangis dalam tidurnya itu sejenak kemudian ia tertawa. Kemudian beliau terbangun maka aku segera bertanya, ‘Wahai amirul mukminin, mimpi apa kiranya datang kepadamu sehingga membuatmu menangis dan tertawa?”

Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Apakah kamu melihatku?” Jawabku, “Ya, begitu juga dengan orang-orang yang ada di sekitarmu ini.”

Lalu Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku bermimpi seolah-olah kiamat telah tiba, sedang orang-orang digiring menjadi seratus dua puluh baris, untuk yang delapan puluh baris adalah umat Muhammad. Lalu ada suara memanggil, ‘Dimana Abdullah bin Quhafah?’ Abdullah bin Quhafah menjawab, ‘Saya.’ Lalu bangkitlah ia dan disambut oleh malaikat lalu dibawa ke hadapan Tuhannya yang maha tinggi lagi maha agung. Lalu dihisab secara ringan sekali dan cepat kemudian dapat selamat dan diperintahkan untuk masuk ke dalam surga. Kemudian dihadapkan Ali bin Abi Thalib dan ia pun dihisab dengan cepat, kemudian dibawa ke surga.

Kemudian ketika telah tiba giliranku, lalu dipanggil namaku, “Dimanakah Umar bin Abdul Aziz?” maka bercucuranlah keringatku, kemudian ada malaikat yang membawaku, dan meletakkan aku dihadapan Tuhan yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Lalu aku ditanya tentang masalah yang kecil dan segala putusan yang telah kujatuhkan. Kemudian aku diampuni dan aku dibawa ke golongan bagian kanan.

Lalu aku melihat seonggok bangkai, lalu aku bertanya kepada para malaikat, “Bangkai apakah ini?” mereka menjawab, “Bertanyalah sendiri kepadanya, ia akan menjawabmu.” Akupun maju mendekatinya dan kutendang dengan kakiku, lalu bangkai itu memandangku dan mengangkat kepalanya. lalu aku bertanya, “Siapakah kamu?” ia balik bertanya, “Siapakah kamu?” akupun menjawab, “Aku adalah Umar bin Abdul Aziz.” Lalu ia berkata kepadaku, “Apakah yang dilakukan Allah kepadamu?” jawabku, “Allah telah memberikan rahmat kepadaku, memberiku karunia yang besar, dan memperlakukan kepadaku sebagaimana yang dilakukan oleh ulama, dan imam yang terdahulu.”

Lalu aku bertanya kepadanya, “Siapakah sebenarnya kamu?” jawabnya, “Aku adalah Hajjaj bin Yusuf, aku datang kepada Allah, namun aku menjumpai Dia Maha Menyiksa dan murka kepadaku. Lalu Allah membunuhku, sesuai dengan jumlah orang yang telah aku bunuh. Dan untuk pembunuhan pada Sa’id bin Jubair, aku dibunuh sebanyak 70 kali dan sekarang aku berada di hadapan Tuhanku sedang menantikan sebagaimana ahli tauhid menantikannya, apakah aku dibawa ke surga atau sebaliknya ke neraka.”

Hukum Membunuh Menurut Syariat Islam

Membunuh merupakan sebuah perbuatan yang termasuk ke dalam dosa besar. Apalagi membunuhnya itu tanpa ada alasan yang dibenarkan syariat. Di bawah ini adalah beberapa dalil tentang larangan untuk membunuh dan dosa membunuh.

Allah swt telah berfirman dalam surat An Nisa ayat 93, “Barang siapa yang membunuh orang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka jahanam, dan ia kekal di dalamnya. Allah geram kepadanya, mengutuknya dan menyediakan siksaan yang berat lagi keras.”

Nabi Muhammad saw juga telah bersabda sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu sebagai berikut:

“Hindarilah tujuh perkara yang dapat membinasakan.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu?” beliau bersabda:

  1. Menyekutukan Allah.
  2. Sihir
  3. Membunuh orang yang dilarang oleh Allah tanpa ada alasan yang benar menurut syar’i.
  4. Makan harta anak yatim.
  5. Makan riba.
  6. Lari dari peperangan.
  7. Menuduh wanita yang punya suami, dan jarang berbuat kejelekan, berzina.”

Imam Nasa’i dan Hakim telah meriwayatkannya dari Mu’awiyah, bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Setiap dosa masih dapat diampuni oleh Allah, kecuali dosa seorang lelaki yang mati dalam keadaan kafir atau membunuh lelaki mukmin dengan sengaja (tanpa ada alasan menurut syar’i).

Sedang Imam Abu Dawud dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Darda, bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Setiap dosa masih diampuni oleh Allah, kecuali dosa seorang lelaki yang mati dalam keadaan musyrik atau membunuh orang mukmin dengan sengaja tanpa hak.

Riwayat Imam Abu Dawud beserta Adh Dhiya’ yang bersumber dari Ubadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Barang siapa yang membunuh orang mukmin lalu merasa senang dengan perbuatannya itu, maka Allah tidak akan menerima amal perbuatan wajib itu dan sunatnya.

Sementara menurut riwayat Imam Nasa’i dan Adh Dhiya’ yang bersumber dari Buraidah, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Membunuh orang mukmin adalah lebih berat dari daripada hancurnya dunia beserta isinya.

Riwayat Imam Turmudzi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Seandainya penduduk langit dan penduduk dunia bersekutu untuk menumpahkan darah orang mukmin, maka mereka akan dilemparkan oleh Allah ke dalam neraka.