Hal-hal yang membatalkan shalat

Ada beberapa hal yang bisa membatalkan shalat, diantranya ialah:

Hadats

Syarat sah nya shalat ialah bersih dari hadats kecil dan hadats besar. Oleh karena itu, orang yang berhadats ketika mengerjakan shalat, maka shalatnya batal.

Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu kentut ketika shalat, maka hendaklah ia berpaling dari shalat itu, kemudian berwudhu dan mengulanginya.”

Terkena najis

Apabila orang yang sedang mengerjakan shalat terkena najis, baik pada badan, pakaian atau pada tempatnya, maka shalatnya batal apabila najis itu tidak segera dibuang, karena shalat itu sudah tidak memenuhi syarat sah nya, yaitu tidak dalam keadaan suci.

Allah berfirman, “Dan pakaianmu bersihkanlah.”

Terbuka aurat

Terbuka aurat dapat membatalkan shalat jika tidak segera ditutupi. Rasulullah bersabda, “Allah tidak akan menerima shalatnya seorang perempuan yang haid (baligh), kecuali memakai tutup kepala.”

Yang dimaksud dengan haid di atas ialah baligh, jadi jelaslah bahwa apabila orang yang mengerjakan shalat auratnya terbuka maka shalatnya batal, karena tidak memenuhi syarat sah nya shalat.

Berbicara dengan sengaja

Berbicara dengan sengaja dengan kata yang tidak ada hubungannya dengan shalat, walaupun hanya dua huruf atau lebih yang tidak mengandung arti atau satu huruf yang mengandung arti.

Rasulullah berkata kepada Mu’awiyah bin Hakim yang telah mendoakan kepada orang yang bersin waktu shalat, “Sesungguhnya shalat itu tidak layak di dalamnya ada pembicaraan manusia. Dalam shalat itu hanya ada tasbih, tahmid, dan membaca Al Qur’an.” (Imam Muslim)

Sesuatu yang membatalkan shalat

Setiap perkara yang membatalkan puasa, juga dapat membatalkan shalat, seperti masuknya makanan atau lainnya secara sengaja.

Yang menjadi alasan ialah bahwa masuknya makanan ke perut berarti orang itu telah berpaling dari shalat.

Makan dan minum yang banyak

Shalat ialah merupakan ibadah yang langsung, dengan demikian maka hendaklah orang yang mengerjakan shalat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan di luar shalat seperti makan, minum, dan sebagainya.

Bergerak tiga kali berturut-turut

Menggerakkan anggota badan sebanyak 3 kali berturut-turut dalam shalat dapat membatalkan shalat, karena gerakan itu dapat menghilangkan kekhusyuan. Tetapi apabila gerakan itu karena alasan yang dibolehkan menurut hukum, maka gerakan itu tidak membatalkan shalat.

Loncat yang jauh

Memukul yang keras

Menambah rukun fi’li

Menambah rukun fi’li seperti ruku’, sujud dan rukun fi’li yang lainnya dapat membatalkan shalat, karena gerakan-gerakan dalam shalat sudah ditetapkan, sedangkan menambah rukun fi’li berarti menyalahi aturan syara.

Mendahului atau tertinggal oleh imam

Bagi orang yang sedang melakukan shalat berjamaah, maka apabila dia mendahului atau tertinggal oleh imam sebanyak dua rukun fi’li maka shalatnya batal, karena yang menjadi batasan shalat berjamaah ialah mengikuti imam, sedangkan dengan mendahului imam atau ketinggalan oleh imam, maka dia tidak dianggap mengikuti lagi.

Niat menghentikan shalat

Apabila seseorang niat untuk berhenti dari shalat yang sedang ia kerjakan, maka shalatnya batal seketika itu juga, karena niat berhenti dari shalat itu bertentangan dengan niat pada permulaan shalat.

Niat membatalkan shalat dikaitkan dengan masalah lain

Di antara yang membatalkan shalat ialah mempertautkan batalnya shalat dengan masalah lain, misalnya orang yang shalat berkata, “Apabila si A masuk mesjid” maka saya akan membatalkan shalat. Dengan perkataan itu maka sekaligus shalatnya si mushalli batal. Karena dengan ucapan itu berarti dia tidak akan meneruskan shalat.

Ragu-ragu untuk meneruskan shalat

Ragu-ragu untuk meneruskan shalat dapat membatalkan shalat. Karena keraguan itu bertentangan dengan niat pada permulaan.

Sebutkan Perkara Yang Membatalkan Shalat

Shalat batal karena meng-i’tikad-kan atau menganggap sunnah salah satu fardu dari fardu-fardu shalat yang telah ditentukan, sebab hal itu sama dengan mempermainkan hukum. Akan tetapi, orang awam yang menganggap fardu terhadap salah satu pekerjaan sunat dari sunat-sunat shalat; atau ia mengetahui bahwa di dalam shalat itu ada pekerjaan fardu dan sunat, namun ia tidak dapat membedakan mana yang fardu dan mana yang sunat, serta tidak pula bermaksud mengerjakan pekerjaan fardu yang telah ditentukan sebagai pekerjaan sunat, tidak batal shalatnya. Tidak batal pula shalatnya kalau ia meng-i’tikad-kan bahwa semua pekerjaan shalat adalah fardu.

Yang termasuk membatalkan shalat ialah keluar hadas walaupun tanpa sengaja. Sebagaimana sabda Nabi saw, “Apabila salah seorang di antara kamu kentut ketika shalat, maka berpalinglah dan berwudhulah serta harus mengulang lagi shalatnya.”

Terkena najis yang tidak dimaafkan, kecuali kalau dibuang ketika itu juga. Najis yang mengenai badan, pakaian, atau tempat shalat, kecuali kalau sekedar kebetulan dengan najis itu, maka tidak apa-apa.

Terbuka aurat, kecuali bila tertiup angin dan segera menutupnya.

Meninggalkan rukun dengan sengaja.

Meragukan niat pada takbiratul ihram atau pada syarat shalat setelah melewati satu rukun qauly, atau fi’ly, atau keraguannya itu berlarut-larut. Melewatkan sebagian waktu rukun qauly sama halnya dengan melewatkan semua rukun dan keraguan yang berkepanjangan atau sesaat dengan tidak mengulangi apa yan gdiragukannya itu (shalatnya batal).

Apabila orang yang adil perkataannya memberitahukan bahwa seseorang terkena najis atau terbuka aurat yang (hal ini) dapat membatalkan shalat, maka orang itu wajib menerimanya (mmebenarkannya). Apabila diberi tahu mengenai adanya perkataan yang membatalkan shalat, tidak wajib menerimanya (sebab dia sendiri pasti dapat merasakannya).

Inilah Gerakan Yang Membatalkan Shalat (Menambah Rukun Fi’ly Dengan Sengaja)

Shalat batal karena menambah rukun fi’ly secara sengaja, bukan karena mengikuti imam, misalnya menambah rukuk atau sujud walaupun tidak tuma’ninah. Diantara yang membatalkan shalat itu adalah membungkukkan badan bagi orang yang shalat sambil duduk hingga dahinya sejajar dengan sesuatu yang berada di depan lututnya, walaupun dimaksudkan agar dapat duduk tawarruk atau iftirasy yang disunatkan, sebab yang membatalkan shalat tidak dimaafkan karena mengerjakan yang sunat (dianggap menambah rukun dengan ruku. Akan tetapi, menurut Imam Ramli dan Qalyubi tidak membatalkan shalat).

Duduk sesaat sekadar istirahat sebelum sujud dan sesudah sujud tilawat, dimaafkan; begitu juga masbuq sesudah imam salam selain pada tempat tasyahud (yang pertama).

Menambah rukun karena lupa atau bodoh, tidak mudarat (tidak membatalkan shalatnya, sebagaimana Nabi saw pernah shalat lohor lima rakaat dan beliau tidak mengulangi shalatnya, melainkan terus sujud sahwi), seperti halnya menambah sunat, misalnya mengangkat kedua tangan selain pada tempatnya (ketika berdiri ke rakaat kedua dan sebagainya).

Adapun yang disunatkan mengangkat kedua tangan adalah ketika takbiratul ihram, akan rukuk, akan i’tidal, ketika berdiri dari tasyahud awal; atau menambah rukun qauly, misalnya mengulang membaca Fatihah, atau menambah rukun fi’ly untuk mengikuti imam, misalnya rukuk atau sujud sebelum imam, kemudian mengulangi lagi (pada rukuk atau sujud karena mengikuti imam).

Demikianlah penjelasan dari kami tentang perkara yang bisa membatalkan shalat, baik itu shalat fardu maupun shalat sunnah. Semoga penjelasn diatas tersebut bisa menambah wawasan keilmuan kita semua, dan bermanfaat di dunia serta di akhirat.

Hukum Menelan Makanan atau Sesuatu Ketika Shalat

Hal yang membatalkan puasa adalah menelan sesuatu hingga sampai pada rongga perutnya, walaupun sedikit, dan memakan makanan dalam jumlah yang banyak karena lupa walaupun hal itu tidak membatalkan puasa (tetap batal shalatnya).

Apabila seseorang menelan dahak yang turun dari kepalanya sampai ke batas yang tampak dari mulutnya atau menelan ludah yang terkena najis karena tercampuri darah dari gusinya walaupun warnanya putih atau kemerah-merahan, maka shalatnya batal.

Adapun memakan makanan yang jumlahnya sedikit menurut adat, dan tidak dibatasi dengan seukuran biji-bijian bagi orang yang lupa atau bodoh karena ma’dzur (masih baru memeluk islam atau jauh dari ulama); dan bagi orang yang terpaksa, misalnya dahaknya turun ke batas zhahir mulut, sedangkan ia tak dapat meludahkannya atau ludahnya mengalir berikut makanan yang terselip di antara gigi-giginya dan ia tidak dapat memisahkan ludah dengan makanan tersebut, hal itu tidak mudarat (tidak membatalkan shalat), sebab udzur atau sulit.

Demikianlah penjelasan dari kami tentang perkara yang bisa membatalkan shalat, baik itu shalat fardu maupun shalat sunnah. Semoga penjelasn diatas tersebut bisa menambah wawasan keilmuan kita semua, dan bermanfaat di dunia serta di akhirat.

Hukum Berbicara Ketika Shalat

Apabila shalat seseorang batal karena berbicara sepatah atau dua patah kata lantaran lupa, lalu ia berbicara beberapa patah kata, tidak dianggap udzur (batal shalatnya).

Terpaksa sedikit mendehem dan berbicara karena lupa, ialah mendehem atau berbicara beberapa patah kata, maka shalatnya batal sekalipun lupa.

Telanjur berbicara atau tidak mengetahui bahwa berbicara ketika shalat adalah haram, karena baru masuk islam, walaupun dia berada di tengah-tengah kaum muslimin yang jauh dari ulama (orang yang mengerti hukum agama), tidak batal shalatnya.

Membaca salam karena lupa (sewaktu ia sedang shalat), lalu berbicara sepatah atau dua patah kata dengan sengaja, yaitu ia tidak mengetahui bahwa berbicara sepatah atau dua patah kata itu adalah haram, padahal ia mengetahui bahwa berbicara ketika shalat adalah haram; atau tidak mengetahui bahwa mendehem itu membatalkan shalat, maka tidak batal shalatnya sebab yang demikian itu samar bagi orang awam.