Optimis Bahwa Allah Akan Mengampuni Dosa

Allah SWT itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Oleh karena itu kita harus optimis dan memiliki harapan yang baik, bahwa kita akan diampuni oleh-Nya. Banyak sekali dalil yang menerangkan tentang ampunan Allah, beberapa diantaranya akan diuraikan di bawah ini.

Imam Turmudzi telah meriwayatkan sebuah hadis Qudsi yang bersumber dari Anas, bahwa Rasulullah telah bersabda:

Hai Ibnu Adam, jika kamu berdoa kepada-Ku dan mengharap rahmat-Ku, Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak perduli bagaimanapun banyaknya. Hai Ibnu Adam. Seandainya dosamu mencapai awan di langit, kemudian kamu minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu. Hai Ibnu Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku, dengan membawa kesalahan sebesar bumi, kemudian kamu menjumpai-Ku, kamu tidak menyekutukan Aku dengan sesuatupun, maka Aku akan datang kepadamu dengan membawa pengampunan sebesar bumi pula.

Imam Ahmad dan Thabrani telah meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah telah bersabda sebagai berikut:

Jika kamu mau, maka akan aku beritahukan tentang apa yang akan difirmankan oleh Allah pertama kalinya pada hari kiamat nanti dan apa yang akan dikatakan oleh orang-orang mukmin kepada Allah pertama kalinya. Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi akan berfirman kepada mereka, “Apakah kamu suka berjumpa dengan Aku?” lalu mereka menjawab, “Ya, wahai Tuhan kami.” Lalu Allah berfirman lagi, “Untuk apa?” jawab mereka, “Kami mengharap pengampunan-Mu.” Lalu Allah berfirman lagi, “Sungguh Aku telah mewajibkan pengampunan dosa untukmu.”

“Wahai Tuhan kamu, sesungguhnya kami mengharapkan pengampunna-Mu (terhadap dosa-dosa kami), ingin bertemu dengan-Mu (dan Engkau menyambutnya dengan baik), kami berlindung dengan keridhaan-Mu dari-Mu dan dengan keselamtan-Mu dari siksaan-Mu.

Wahai Tuhanku, sesungguhnya kami mohon kepada-Mu kelapangan di dunia dan akhirat serta hendaklah Engkau tidak mencabut keimanan dan ilmu yang telah Engkau berikan kepada kami, dan hendaklah Engkau tidak membuat hati kami menyimpang dari (ajaran-Mu), setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan hendaklah Engkau memberikan pertolongan kepada kami untuk berbuat sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridha padanya, dan hendaklah Engkau tidak menjadikan ilmu kami sebagai hujjah yang membahayakan pada kami.

Kami mohon kepada-Mu, agar Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau beri nikmat padanya daripada para Nabi, orang-orang shiddiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Dan hendaklah Engkau memberikan keimanan kepada kami dari ketakutan yang besar di hari kiamat, dan memberikan naungan kepada kami dengan naungan Arsy-Mu di hari tidak ada lagi naungan selain naungan-Mu, dan Engkau masukkan kami ke dalam surga tanpa hisab, dan perkenankan kami untuk melihat wajah-Mu setiap pagi dan sore.

Optimis Terhadap Ampunan Allah SWT

Kita harus optimis dalam menjalani hidup, karena segala sesuatu sudah ada qadha dan qadarnya. Kita juga harus mempunyai harapan yang baik (optimis) akan mendapatkan rahmat Allah dan ampunan Allah. beberapa keterangan atau dalil di bawah ini menjelaskan tentang keharusan kita untuk berpengharapan baik dan berprasangka baik kepada Allah.

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat. Satu rahmat diantaranya diturunkan dibagikan antara jin, manusia, binatang melata, dan serangga. Di dalam ruang lingkup rahmat itu, mereka saling berbelas kasih antara sesamanya. Dan dengannya pula mereka saling menyayangi. Dengannya, burung dan binatang buas berbelas kasih kepada anak-anaknya. Dan untuk yang 99 rahmat lainnya akan digunakan oleh Allah memberi belas kasih kepada hamba-hamba-Nya nanti di hari kiamat.

Dan juga riwayat Imam Bukhari dan Muslim, bahwa pada suatu hari dihadapkan kepada Rasulullah beberapa orang tawanan. Ternyata di dalamnya ada seorang perempuan yang meneteskan air susunya sambil mencari-cari anaknya. Lalu ditemuinya dan langsung diambilnya untuk diletakkan pada perutnya, lalu disusuinya. Lalu Rasulullah bersabda sebagai berikut:

“Apakah kamu berpendapat bahwa seorang perempuan ini akan meletakkan anaknya ke dalam neraka?” kami berkata, “Tidak.” dan dia mampu untuk tidak berbuat seperti ini. Rasulullah bersabda, “Allah lebih berbelas kasih kepada hamba-Nya daripada perempuan ini terhadap anaknya.”

Imam Nasa’i telah meriwayatkan dari Amir Arram, yang artinya sebagai berikut:

Pada suatu hari kami duduk-duduk di sisi Rasulullah, lalu datanglah seorang lelaki yang membawa pakaian yang di dalamnya ada sesuatu yang menarik perhatian. Lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku berjalan melewati pohon yang rindang, lalu aku mendengar suara beberapa anak burung. Lalu aku mengambilnya dan kuletakkan pada pakaianku ini. Akhirnya induknya datang, lalu berputar-putar di atas kepalaku. Rupanya mengetahui bahwa anaknya ada padaku. Akhirnya ia berkumpul jadi satu, lalu kubungkus dengan kainku. Jadi mereka sekarang bersamaku.”

Lalu Nabi SAW bersabda, “Letakkan seluruhnya.” Lalu lelaki itu meletakkannya. Namun induknya tidak mau meninggalkan anak-anaknya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Apakah kamu kagum terhadap belas kasih sang induk kepada anak-anaknya. Demi Tuhan yang mengutus aku dengan benar, Allah lebih belas kasih kepada hamba-hamba-Nya daripada induk burung kepada anak-anaknya. Sekarang pulanglah dengan membawa anak-anak burung itu, dan letakkan mereka di tempat semula dimana kamu menhambilnya dahulu dan upayakan induknya ikut bersama mereka.” Lalu lelaki itu kembali pulang.

Optimis dan Berpengharapan Baik Terhadap Allah

Kita harus mempunyai pengharapan yang baik (optimis) terhadap segala hal, dan berdoa kepada Allah. karena setiap hal yang terjadi di dunia ini sudah ada qadhadan qadarnya. Allah berfirman dalam surat Az Zumar ayat 53:

Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas (dalam berbuat penganiayaan) pada diri mereka. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa secara keseluruhan. Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Abu Ja’far Muhammad bin Ali berkata, “Kamu wahai penduduk Iraq mengatakan, ‘sesungguhnya ayat yang memberikan pengharapan padamu adalah Qul yaa ‘ibadiyal ladziina asraafu…(Az Zumar ayat 53). Dan kami ahlul bait mengatakan, ‘Sesungguhnya ayat yang paling memberikan harapan optimis selamat di akhirat adalah ayat Wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardhaa’ (dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu hati kamu menjadi puas (Adh Dhuha ayat 5).

Jadi Nabi Muhammad tidak akan rela jika salah seorang dari umatnya berada di neraka.

Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim serta Ibnu Majah:

Ketika Allah memutuskan berupa takdir untuk makhluk (yang akan datang), maka dicatat suatu kalimat yang (sekarang) berada di atas Arsy-Nya sesungguhnya rahmat-Ku mendahului marah-Ku.

Dalam riwayat lain diterangkan, “Sesungguhnya rahmat-Ku (belas kasih-Ku) mengalahkan marah-Ku.

Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan Baihaqi juga telah meriwayatkan sebuah hadis Qudsi bahwa Rasulullah telah bersabda sebagai berikut:

Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman, “Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, jika mengira baik pada-Ku, maka akan mendapatkannya dari-Ku. Dan jika berprasangka jelek pada-Ku, maka dia akan mendapatkannya (pula) dari-Ku.”

Riwayat Imam Baihaqi yng bersumber dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah telah bersabda sebagai berikut:

Allah yang Maha Agung lagi Maha Tinggi pernah memerintah kepada para malaikat-Nya untuk membawa seorang hamba ke dalam neraka. Ketika hamba itu telah sampai di tepinya, lalu berkata, “Demi Allah, wahai Tuhanku sesungguhnya prasangka kepada-Mu adalah baik.” Lalu Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman, “Kembalikan dia lantaran aku menurut persangkaan baik hamba-Ku.”

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat. Satu rahmat diantaranya diturunkan dibagikan antara jin, manusia, binatang melata, dan serangga. Di dalam ruang lingkup rahmat itu, mereka saling berbelas kasih antara sesamanya. Dan dengannya pula mereka saling menyayangi. Dengannya, burung dan binatang buas berbelas kasih kepada anak-anaknya. Dan untuk yang 99 rahmat lainnya akan digunakan oleh Allah memberi belas kasih kepada hamba-hamba-Nya nanti di hari kiamat.

Dan juga riwayat Imam Bukhari dan Muslim, bahwa pada suatu hari dihadapkan kepada Rasulullah beberapa orang tawanan. Ternyata di dalamnya ada seorang perempuan yang meneteskan air susunya sambil mencari-cari anaknya. Lalu ditemuinya dan langsung diambilnya untuk diletakkan pada perutnya, lalu disusuinya. Lalu Rasulullah bersabda sebagai berikut:

“Apakah kamu berpendapat bahwa seorang perempuan ini akan meletakkan anaknya ke dalam neraka?” kami berkata, “Tidak.” dan dia mampu untuk tidak berbuat seperti ini. Rasulullah bersabda, “Allah lebih berbelas kasih kepada hamba-Nya daripada perempuan ini terhadap anaknya.”

Imam Nasa’i telah meriwayatkan dari Amir Arram, yang artinya sebagai berikut:

Pada suatu hari kami duduk-duduk di sisi Rasulullah, lalu datanglah seorang lelaki yang membawa pakaian yang di dalamnya ada sesuatu yang menarik perhatian. Lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku berjalan melewati pohon yang rindang, lalu aku mendengar suara beberapa anak burung. Lalu aku mengambilnya dan kuletakkan pada pakaianku ini. Akhirnya induknya datang, lalu berputar-putar di atas kepalaku. Rupanya mengetahui bahwa anaknya ada padaku. Akhirnya ia berkumpul jadi satu, lalu kubungkus dengan kainku. Jadi mereka sekarang bersamaku.”

Lalu Nabi SAW bersabda, “Letakkan seluruhnya.” Lalu lelaki itu meletakkannya. Namun induknya tidak mau meninggalkan anak-anaknya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Apakah kamu kagum terhadap belas kasih sang induk kepada anak-anaknya. Demi Tuhan yang mengutus aku dengan benar, Allah lebih belas kasih kepada hamba-hamba-Nya daripada induk burung kepada anak-anaknya. Sekarang pulanglah dengan membawa anak-anak burung itu, dan letakkan mereka di tempat semula dimana kamu menhambilnya dahulu dan upayakan induknya ikut bersama mereka.” Lalu lelaki itu kembali pulang.

Imam Turmudzi telah meriwayatkan sebuah hadis Qudsi yang bersumber dari Anas, bahwa Rasulullah telah bersabda:

Hai Ibnu Adam, jika kamu berdoa kepada-Ku dan mengharap rahmat-Ku, Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak perduli bagaimanapun banyaknya. Hai Ibnu Adam. Seandainya dosamu mencapai awan di langit, kemudian kamu minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu. Hai Ibnu Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku, dengan membawa kesalahan sebesar bumi, kemudian kamu menjumpai-Ku, kamu tidak menyekutukan Aku dengan sesuatupun, maka Aku akan datang kepadamu dengan membawa pengampunan sebesar bumi pula.

Imam Ahmad dan Thabrani telah meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah telah bersabda sebagai berikut:

Jika kamu mau, maka akan aku beritahukan tentang apa yang akan difirmankan oleh Allah pertama kalinya pada hari kiamat nanti dan apa yang akan dikatakan oleh orang-orang mukmin kepada Allah pertama kalinya. Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi akan berfirman kepada mereka, “Apakah kamu suka berjumpa dengan Aku?” lalu mereka menjawab, “Ya, wahai Tuhan kami.” Lalu Allah berfirman lagi, “Untuk apa?” jawab mereka, “Kami mengharap pengampunan-Mu.” Lalu Allah berfirman lagi, “Sungguh Aku telah mewajibkan pengampunan dosa untukmu.”

“Wahai Tuhan kamu, sesungguhnya kami mengharapkan pengampunna-Mu (terhadap dosa-dosa kami), ingin bertemu dengan-Mu (dan Engkau menyambutnya dengan baik), kami berlindung dengan keridhaan-Mu dari-Mu dan dengan keselamtan-Mu dari siksaan-Mu.

Wahai Tuhanku, sesungguhnya kami mohon kepada-Mu kelapangan di dunia dan akhirat serta hendaklah Engkau tidak mencabut keimanan dan ilmu yang telah Engkau berikan kepada kami, dan hendaklah Engkau tidak membuat hati kami menyimpang dari (ajaran-Mu), setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan hendaklah Engkau memberikan pertolongan kepada kami untuk berbuat sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridha padanya, dan hendaklah Engkau tidak menjadikan ilmu kami sebagai hujjah yang membahayakan pada kami.

Kami mohon kepada-Mu, agar Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau beri nikmat padanya daripada para Nabi, orang-orang shiddiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Dan hendaklah Engkau memberikan keimanan kepada kami dari ketakutan yang besar di hari kiamat, dan memberikan naungan kepada kami dengan naungan Arsy-Mu di hari tidak ada lagi naungan selain naungan-Mu, dan Engkau masukkan kami ke dalam surga tanpa hisab, dan perkenankan kami untuk melihat wajah-Mu setiap pagi dan sore.