Inilah 6 Nikmat Yang Paling Besar

Sayyidina Ali karamallaahu wajhahu berkata, dan salam suatu nuskhah, berkata Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu:

Macam-macam nikmat, atau nikmat yang paling besar itu ada enam macam perkara.

Yang pertama adalah agama islam, keduanya Al Qur’an, ketiga Rasulullah Muhammad saw. Dan di haruskan bagi kita semua untuk membaca lafadh ini setiap hari, ‘radhiitu billaahi rabban wabil islaami diinan wabi Muhammadin shallallaahu ‘alaihii wasallama rasuulan wa nabiyyan wabil qur aani hukman wa imaaman,” artinya aku ridha kepada Allah menjadi Tuhanku, ridha kepada agama islam menjadi agamaku, dan ridha kepada Nabi Muhammad saw jadi Rasulullah dan Nabi, dan ridha terhadap Al Qur’an jadi hakim dan imam.

Yang keempat ‘afiyat (keselamatan), artinya tertolak dari macam-macam perkara yang dicela (tidak diinginkan). Yang kelima tertutupi, artinya ditutupnya macam-macam aib yang ada di diri. Yang keenam, kaya dari orang-orang dalam segala urusan dunia.

Diriwayatkan dari Sayyidina Anas, bahwa Nabi Muhammad bersabda:

Berkata Allah di dalam hadist qudsi, “Hai anak Adam, kalian harus mengosongkan waktu untuk beribadah kepada Aku Yang Agung, maka tentu Aku akan memenuhi hati kalian dengan kekayaan. Dan Aku akan memenuhi dua tangan kalian dengan rizki. Hai anak Adam, kalian jangan menjauhi dari Aku Yang Agung, maka Aku akan memenuhi hati kalian dengan faqir, dan memenuhi kedua tangan kalian dengan kesibukan kerja.” HR Imam Thabrani dan Imam Hakim

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Sikap Manusia Ketika Mendapatkan Kenikmatan Dari Allah

Orang-orang ketika sedang kedatangan kenikmatan ada tiga golongan. Yang pertama yang bahagia dengan mendapatkan kenikmatan bukan dari jihat/pihak yang memberinya dan yang mendatangkannya (tidak ingat kepada yang memberinya). Tetapi bahagianya itu karena bertemu dengan kenikmatan, terus berbahagia sambil lupa kepada Allah. Nah orang yang seperti ini termasuk kedalam golongan orang yang ghaflah.

Seperti yang difirmankan Allah swt: “hattaa idza farihuu bimaa uutuu akhadznaa hum baghtatan”, sehingga ketika berbahagia dengan bahagia yang salah disebabkan sudah diberi nikmat. Maka Allah Yang Agung mendatangkan siksa kepada kaum kafir dengan mendadak datangnya.

Golongan kedua adalah orang yang bahagia dengan nikmat, bahwa orang ini menyaksikan kenikmatan dan bertekad terhadap kenikmatan tersebut adalah pemberian dari Allah swt hakikatnya. Nah ini seperti firman Allah swt: “qul bifadhlillaahi wabirahmatihi fabidzaalika falyafrahuu huwa mimmaa yajma’uuna”, beritahulah olehmu Muhammad dengan fadhal Allah dan dengan rahmat Allah: berbahagialah orang-orang, disebabkan datang fadhal dari Allah. Nah ini lebih bagus daripada harta yang dikumpulkan.

Golongan yang ketiga adalah orang yang merasa bahagia oleh Allah, maka tidak disibukkan oleh dhahirnya kenikmatan dan oleh batinnya kenikmatan. Tetapi disibukkan (tertutup) oleh musyahadah kepada Allah swt yang memberinya. Sehingga lupa dari yang lainnya, terus hatinya manteng (kuat) kepada Allah swt, tidak terhalang oleh makhluk. Maka tidak musyahadah kecuali kepada Allah saja, yaitu seperti firman Allah swt: “qulillaahu tsumma dzar hum fii haudhihim yal’abuuna”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus tujuh puluh)

Sikap Muslim Ketika Mendapat Nikmat Dari Allah

Dan yang ketiganya adalah golongan yang lebih sempurna, yaitu yang sering disebut ahlir rusuukhi wattamkiini, yang mendiami maqam khasshatil khasshati, yaitu ‘abdinya Allah swt yang kedatangan cahaya bertauhid, terus tambah bersih dalam ingatannya. Dan yang ghaib dari melihat makhluk, terus bertambah dekatnya kepada Allah swt. Maka musyahadahnya kepada Allah swt tidak menghalangi dari melihat makhluk, dan melihatnya makhluk tidak menghalangi musyahadah kepada Allah swt. Dan hilangnya ingatan itu tidak menghalangi dari tetapnya ingatan. Dan tetapnya ingatan tidak menghalangi dari hilangnya ingatan, yaitu bisa mendatangkan terhadap tiap-tiap yang memiliki bagian terhadap bagiannya. Dan bisa melaksanakan dalam tiap-tiap yang memiliki haq terhadap haqnya.

Disini akan dijelaskan golongan orang yang ketiga, ketika menghadapi kenikmatan yang datang dari makhluk.

Nah golongan ini sering disebut ahlir rusuukhi wattamkiini, artinya golongan orang yang kedatangan cahaya tauhid, kemudian bertambah bersih ingatannya.

Maka dimana-mana kedatangan kenikmatan dari makhluk, akan melihat kepada yang menghendaki-Nya (membuat itu terjadi), lalu bertambah-tambah syukurannya, serta ingat kepada makhluk yang memberinya.

Jadi kepada Allah swt yang hakikatnya memberi melihat, dan kepada orang yang memberinya bisa mendatangkan kepada syukuran. Sehingga kepada Allah swt bisa bersyukur, dan kepada makhluk bisa syukuran.

Ketika ma’rifat kepada Allah swt, sehingga tidak terlihat makhluk-Nya, itu jadi bertambah rasa dekatnya. Jadi fikirannya dibarengi dengan sadar, dan lebih bersih. Maka ketika perlu musyahadah, terus musyahadah, ketika perlu pisah terus pisah, jadi ingatannya bisa diatur.

Nah ini sudah mendiami maqam khashatil khasshati, yaitu yang bisa mendatangkan terhadap segala keharusannya pada tempatnya.

Jadi kesimpulannya dari ketiga hikmah ini (267, 266, 265), orang ketika menghadapi kenikmatan yang datangnya dari sesama manusia, ada yang penglihatannya semata-mata dari manusia, sehingga tidak ingat kepada Allah yang memberinya, yaitu orang yang sangat ghaflah.

Kemudian ada lagi yang sedang sangat musyahadahnya, yang sedang tenggelam dalam lautan cahaya bertauhid kepada Allah. sehingga tidak melihat kepada makhluk yang memberinya, perasaannya merasa hanya dari Allah saja, tidak melihat adanya perantara.

Ada juga golongan yang bisa mendatangkan syukuran kepada makhluk-Nya dan syukuran kepada Allah swt. Hatinya dibarengi dengan musyahadah serta ingat kepada hakikat yang memberinya adalah Allah. begiu juga ingat kepada adanya perantara, yaitu sesama manusia. Sehingga akhirnya kepada Allah bersyukur begitu juga kepada sesama manusia.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh tujuh)

Sikap Kita Dalam Mensyukuri Nikmat Allah

Dan yang keduanya adalah yang mempunyai hakikat, yaitu yang hilang dari makhluk (tidak melihat ke makhluk), disebabkan menyaksikan bahwa Allah lah yang lebih haq. Sebab rusak dari melihat sebab disebabkan menyaksikan dzat yang mengadakan sebab. Maka itu shahibul haqiiqati adalah seorang ‘abdi yang dihadapkan kepada hakikat. Serta dhahir bagi shahibul haqiiqati cahaya dan berusaha mencapai wushul kepada Allah, dan sampai ke puncaknya hakikat, tetapi masih tenggelam dalam lautan cahayanya, serta dibutakan dari melihat tapak ciptaan Allah swt.

Disini akan dijelaskan tentang golongan keduanya, yaitu golongan shahibul haqiiqati. Dan yang dimaksud dengan hakikat adalah menyaksikannya cahaya Allah dalam dhahirnya makhluk. Dan menyaksikan cahaya kekuasaan Allah dari berubahnya ‘abdi.

Nah shahibul haqiiqati ini yang menyatakan terhadap adanya dzat Allah swt, dari sebab melihat kepada dzat Allah swt. Artinya dimana-mana melihat mata terhadap suatu perkara, maka terbersit di mata hatinya melihat dzat Allah swt yang sudah menciptakannya.

Kemudian lupa dari ingat terhadap macam-macam sebab, disebabkan melihat dzat Allah swt yang mengadakan sebabnya.

Nah orang yang seperti ini adalah ‘abdinya Allah swt yang menghadap terhadap hakikatnya yang dhahir cahaya hakikatnya. Orang ini juga yang berusaha ke jalan thariqah, serta sampai ke puncaknya. Tetapi keadaannya tenggelam dalam cahaya, sehingga tidak melihat kepada tapaknya ciptaan Allah swt.

Maka banyak kurang ingatnya, serta menutupi kumpulnya terhadap perpisahannya, dan sudah menutup kerusakannya terhadap ketetapannya. Tegasnya dengan banyaknya menyaksikan dzat Allah, sehingga ingatannya masih sering rusak, artinya lupa dari makhluknya, disebabkan melihat dzat Allah swt daripada ingat kepada makhluk. Dan juga sering ghaibnya, tegasnya ada hubungan dengan makhluk daripada bersatu dengan makhluk.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh enam)

3 Macam Nikmat Yang Diberikan Allah Kepada Manusia (Mensyukuri Nikmat Allah)

Allah swt sudah memuliakan kita dengan 3 karomah, yaitu yang pertama Allah sudah menjadikan kita eling/ingat kepada-Nya, maka kalau tidak ada fadholnya Allah, kita tidak akan bisa jadi orang yang dzikir kepada-Nya. Yang kedua adalah Allah menjadikan kita dikenal sebagai tukang dzikir kepada-Nya. Dan yang ketiga Allah menjadikan kita dikenalkan dengan para malaikat yang ada di hadapan-Nya, yaitu malaikatul muqarrabin. Maka Allah menyempurnakan terhadap kenikmatannya kepada kita.

Kenikmatan Allah yang besar yang diberikan kepada orang-orang yang eling/ingat kepada-Nya, ada tiga macam:

  1. Apabila kita bisa dzikir kepada Allah, maka kita oleh Allah diberi nikmat dengan bisa dzikir. Nah ini kalau tidak ada fadhol dari Allah, kita tidak akan bisa dzikir.
  2. Kita dikenal sebagai orang ahli dzikir kepada Allah, sebab kalau kita dzikir kepada-Nya, oleh Allah dinyatakan bahwa kitalah yang berdzikir, walaupun hakikatnya dikehendaki oleh Allah (Allah yang menjadikan kita berdzikir).
  3. Kita dikenalkan dihadapan malaikatul muqarrabin, dan Allah menyatakan adanya dzikir kepada kita.

Maka dimana-mana Allah dzikir kepada kita, itu berarti Allah sudah menyempurnakan kenikmatannya kepada kita. seperti firman Allah: “waladzikrullaahi akbar”, dzikir Allah swt terhadap ‘abdi-Nya sangat agung.

Allah swt berfirman: “fadzkuruunii adzkurkum”, “kalian harus ingat kepada-Ku, maka Aku bakal sangat mementingkan kepada kalian semua”. Maksudnya akan memberikan kenikmatan yang agung (besar).

bersyukur

Dan ada juga didalam hadist: “tidak semata-mata orang-orang berkumpul berdzikir kepada Allah, maka oleh Allah akan dikenalkan kepada malaikat”

Kenikmatan yang diberikan kepada kita itu sangat banyak sekali, sehingga tidak akan bisa terhitung. “Wa in ta’udduu ni’matallaahi laa tuhsuuhaa”, kalau kita menghitung-hitung nikmat dari Allah, itu tidak akan terhitung.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus empat puluh tujuh)