Cara Mensyukuri Nikmat Allah

Setiap orang haruslah selalu bersyukur kepada Allah, atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita semua.

Bersyukur kepada Allah yaitu mengingat kenikmatan dan pemberi kenikmatan, seperti kenikmatan islam ketaatan dan seluruh kenikmatan. Disebutkan dari Ibrahim bin Adham berkata, “Siapa berpagi-pagi hendaknya membiasakan bersyukur pada empat perkara:

Pertama, hendaknya ia bersyukur lalu mengucapkan Alhamdulillaahii ladzii nawwara qalbii binuuril hudaa waja’alanii minal mu-miniina walam taj’alnii dhallan (segala puji bagi Allah yang telah menyinari (menerangi) hatiku dengan cahaya petunjuk dan menjadikanku termasuk orang-orang mukmin dan tidak menjadikanku sesat.”

Kedua, hendaknya ia membaca Alhamdulillaahil ladzii ja’alanii min ummati Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wasallama (segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku termasuk umat Nabi Muhammad).

Ketiga, hendaknya ia membaca Alhamdulillaahil ladzii lam yaj’al rizqii biyadi ghairihi (segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan rizkiku di tangan selain-Nya)

Keempat, hendaknya ia membaca Alhamdulillaahil ladzii satara ‘alaa ‘uyuubii (segala puji bagi Allah yang telah menutupi cacatku).

Dan dikatakan, “Tiadalah dari sesuatu hari dimana seorang berpagi-pagi pada hari itu melainkan Allah menetapkan padanya sepuluh perkara:

  1. Mengingat Allah ketika bangunnya.
  2. Menutupi aurat.
  3. Menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu shalat.
  4. Menyempurnakan shalat pada waktu-waktunya
  5. Mempercayai janji Allah Ta’ala dalam urusan rizki, berdasarkan firman Allah dalam surat Hud ayat 6, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rizkinya.”
  6. Qana’ah (menerima apa yang ada) dari pemberian Allah Ta’ala, berdasarkan firman Allah dalam surat Az Zukhruf ayat 32, “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”
  7. Berserah diri kepada Allah Ta’ala, berdasarkan firman-Nya dalam surat Al Furqan ayat 58, “Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yan tidak mati….”
  8. Sabar terhadap perintah Allah dan ketentuan-Nya, berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat Thur ayat 48, “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu.”
  9. Bersyukur atas kenikmatan Allah Ta’ala berdasarkan firman-Nya dalam surat An Nahl ayat 114, “Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”
  10. Memakan dari yang halal.

Contoh Kejadian Cara Mensyukuri Nikmat

Abu Bakar ash Shiddiq berkata kepada Siti ‘Aisyah ra ketika turun ayat yang membersihkan, yang menunjukkan bersihnya Siti ‘Aisyah dari kabar bohong, yang melalui lisan Nabi Muhammad saw. Berkata Abu Bakar: “Hai ‘Aisyah, kamu syukuran kepada Nabi saw”, maka berkata Siti ‘Aisyah: “Demi Allah, aku tidak akan bersyukur kecuali kepada Allah swt”. Nah pada saat itu Abu Bakar menunjukkan kepada Siti ‘Aisyah bahwa harus mendiami dalam pangkat yang lebih sempurna. Yaiu maqamil baqa i (mendiami fikiran yang sehat, yang merupakan/menetapkan syukuran ke makhluk). Maka Allah swt berfirman didalam Al Qur’an: “anisy kurlii waliwalidaiki”, “bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu yang menjadi perantara adanya kamu”. Begitu juga Nabi saw sudah bersabda tentang pentingnya bersyukur kepada sesama manusia: “tidak akan bersyukur kepada Allah orang yang tidak syukuran ke sesama manusia”. Siti ‘Aisyah pada saat itu berkata: “Wallaahi laa asy kuru illallaaha”, beliau sedang kehilangan perasaan, sedang tidak ingat terhadap tingkah dirinya, sedang rusak dalam rasa hisinya.

Disini akan dijelaskan tentang contohnya kejadian maqam akmal yang dijiwai oleh Sayyidina Abu Bakar dan mencontohkan ke shahibul haqiiqati yang ghaaba ‘anil khalqi bisyuhuudil malikil haqqi. Yang sedang dijiwai oleh Siti ‘Aisyah ra ketika beliau sedang kedatangan nikmat kabar gembira dari Allah, yang datangnya kepada Nabi Muhammad saw melalui wahyu, bahwa Siti ‘Aisyah bersih dari kabar bohong.

Dikabarkan bahwa Siti ‘Aisyah melakukan perbuatan buruk, maka Siti ‘Aisyah pada waktu itu tidak melihat makhluk yang jadi perantaranya (yaitu Nabi saw). Siti ‘Aisyah berkata: “Aku tidak akan bersyukur kecuali kepada Allah saja”. Terus oleh Sayyidina Abu Bakar  disuruh untuk bersyukur kepada Rasulullah saw dan kepada Allah swt.

Nah Sayyidina Abu Bakar sedang mendiami maqamul khasshah atau maqamul akmal.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh delapan)

Bagaimana Sikap Muslim Ketika Mendapat Nikmat Dari Allah

Sebenar-benarnya manusia itu dalam masalah mensyukuri kepada Allah swt dan kepada sesama manusia ada tiga tingkah. Yang pertama adalah yang ghaflah, yang sangat dalam keghaflahannya, serta kuat dalam lingkungan panca inderanya, tegasnya penuh dengan perasaan dhahir, serta kosong kema’rifatannya kepada Allah. Terus melihat dalam adanya kebaikan itu datang dari makhluk, sambil tidak menyatakan bahwa hakikatnya kebaikan itu datangnya dari Allah. Begitu juga dengan tekadnya, maka itu musyriknya dhahir. Atau dalam sandarannya (patokannya), maka dalam kemusyrikannya itu samar.

Disini akan dijelaskan tingkahnya manusia dalam hal ketauhidannya ketika mendapatkan kenikmatan. Nah, itu ada tiga bagian, yang pertama adalah orang yang ghaflah, dan parah keghaflahannya, yang diliputi oleh alam hisi nya. Artinya sangat memperhatikan alam dhahir, serta buta terhadap kema’rifatan kepada Allah. sehingga menyatakan bahwa adanya kebaikan itu munculnya dari makhluk, dan tidak menyatakan bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah.

Apakah dari tekadnya yang menyatakan adanya pemberian itu dari makhluk, bukan dari Allah swt. Maka orang seperti ini adalah musyrik, malah dengan musyrik yang sangat jelas.

Atau juga dari patokannya, artinya berpatokan atau bersandar kepada makhluk yang memberi kebaikannya, sedangkan Allah swt tidak dilirik-lirik. Nah orang seperti ini juga sudah musyrik.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh lima)

Allah Mendatangkan Musibah dan Nikmat Kepada Manusia

Allah akan mengentengkan atau meringankan sakitnya musibah yang dialami oleh kita. Yang kita tahu bahwa Allah swt lah yang mendatangkan musibah kepada kita. Maka Allah lah yang mendatangkan kepada kita macam-macam takdir. Allah yang sering membalikkan kepada kita terhadap kebaikan pilihan-Nya.

Penjelasan : Sebenarnya cirinya kedatangan musibah itu bakal enteng apabila kita tahu bahwa musibah itu dari Allah swt.

Sedangkan Allah sekarang mendatangkan musibah, nah itu merupakan dzat Allah yang sering memberikan kenikmatan kepada kita, serta kita masih butuh terhadap pemberian-Nya.

Jadi kalau kita kedatangan musibah, maka mata hati kita harus khawatir terhadap bahwa sebenar-benarnya musibah tersebut adalah dzat Allah yang sering memberikan kebaikan. Dan harus ingat bahwa musibah itu merupakan ketentuan Allah dan pilihan-Nya, sedangkan tidak ada pilihannya adalah bagusnya begitu. Siapa saja orang yang mata hatinya manteng (kuat) terhadap musibahnya, serta tidak ingat terhadap rahman rahimnya Allah, maka akan terasa berat sakitnya musibah itu.

Kesimpulannya adalah bahwa semua kenikmatan dan musibah itu datangnya dari Allah. Kita sebagai manusia harus ridha terhadap semua ketentuan-Nya. Sabar terhadap musibah yang dialami dan mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah. Apabila kita mampu menghadapi segala hal yang dijelaskan diatas, Allah pasti akan membalasnya dengan yang jauh lebih baik di akhirat nanti.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus dua)

Kenikmatan Sempurna Menurut Islam

Allah menutupi terhadap orang-orang sairiina lahu dan kepada orang-orang wasiliina ilaihi dari melihat macam-macam ‘amalnya yang dhohir. Dan menyaksikan dari macam-macam tingkahnya urusan hati.

Orang sairun belum bisa mengadakan kejujuran kepada Allah dari ‘amalnya itu. Sedangkan orang wasilun karena Allah sudah menghalangi dari macam-macam ‘amalnya karena musahadah kepada Allah.

Penjelasan : Allah swt sudah memberikan kenikmatan yang sempurna kepada dua golongan yaitu golongan sairiin dan golongan wasiliin. Dua golongan ini oleh Allah dibuat tidak melihat terhadap macam-macam ‘amalnya, yaitu yang mendatangkan rasa ‘ujub dan takabur terhadap ‘amalnya itu. Tetapi jalannya tidak melihat ini berbeda-beda.

Orang sairuun disebabkan mereka belum menyatakan terhadap kejujuran dihadapan Allah didalam ‘amalnya, disebabkan sairuun melihat kekurangan, belum bisa menghadirkan hatinya dihadapan Allah ketika mengerjakan ‘amalnya. Sehingga selamanya golongan ini mengawasi dirinya pada waktu melaksanakan ‘amalnya terhadap haqnya, dan didalam membersihkan tingkah hatinya.

Golongan wasiliin oleh Allah swt sudah disamarkan dari melihat ‘amal disebabkan mata hatinya dipakai musahadah kepada Allah swt, sehingga tidak ada waktu untuk melihat ‘amal.

Maka kedua golongan diatas sudah diberi kenikmatan dengan tidak melekatkan hati kepada ‘amal. Dan bedanya sairiin dengan wasiliin yaitu kalau wasiliin tidak melihat ‘amalnya dengan sadar, sedangkan sairiin tidak melihatnya itu dengan paksaan.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kelima puluh Sembilan)