Sebutkan 3 Derajat Niat Shalat

Niat itu ada beberapa derajat :

Pertama, apabila terbukti sholat fardhu kewajibannya itu ada 3 :

  1. Maksud untuk mengerjakan sholat.
  2. Menentukan sholat fardhu apa yang akan dikerjakan.
  3. Menyebutkan fardhu.

Kedua, kalau sholat sunat rowatib atau sholat yang mempunyai sebab misalkan istisqo, itu kewajibannya ada 2, yaitu :

  1. Maksud mengerjakan sholat
  2. Menentukan sholat sunatnya

Ketiga, kalau sholatnya sholat sunat mutlaq, yaitu sholat yang tidak di qoyyidan oleh sebab atau waktu, hanya maksud mengerjakan saja. Yang dimaksud dengan kata “mengerjakan” yaitu usolli, dan yang dimaksud ta’yin yaitu menentukan, seperti dhuhur, ashar, maghrib, isya atau shubuh.

Dimana-mana akan mengerjakan sholat fardhu maka harus niat di dalam hati, lisannya hanya mengucapkan saja Usolli fardol ‘asri (niat saya sholat fardhu ashar). Sedangkan memakai lillahi, dan arba’a roka’aatin, dan mustaqbilal qiblati hukumnya sunat. Yang dimaksud sholat sunat rowatib adalah qobliyah dan ba’diyah.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Pengertian Niat Dalam Ibadah Islam

Niat adalah bermaksud terhadap suatu perkara, sambil dibarengi dengan melaksanakan perkara tersebut. Niat itu didalam hati, sedangkan mengucapkan dengan lisan hukumnya adalah sunat (karena menolong lisan terhadap hati). Waktunya niat berwudhu adalah ketika membasuh pertama kali juz yang dibasuh dimuka. Niat terbagi menjadi 2 bagian :

  1. Niat menurut lughot, yaitu mutlaknya maksud, apakah dibarengi dengan melaksanakannya ataupun tidak.
  2. Niat menurut syara’ yaitu maksud terhadap suatu perkara sambil dibarengi dengan melaksanakan perkara tersebut.

Apabila kita bermaksud berangkat kesuatu tempat sambil dilaksanakan, maka itu disebut niat menurut lughot dan syara’. Sedangkan bermaksud berangkat ke suatu tempat tapi tidak berangkat itu disebut niat menurut lughot saja. Kalau menurut syara’ bukan niat namanya tapi ngazam.

Kenapa niat wudhu harus bareng dengan membasuh pertamanya juz di muka yaitu untuk menyatakan makna niat menurut syara’. Apabila shalat tempat niat adalah ketika takbiratul ihrom, tapi untuk niat puasa tidak harus bareng dengan mulainya puasa (terbit fajar), karena susah harus tiap pagi menunggu terbitnya fajar. Menurut pendapat yang soheh puasa itu ‘azam yang kuat yang sama dengan niat.

Hakikatnya tertib yaitu nyimpen setiap perkara pada martabatnya, tegasnya harus mendahulukan perkara yang derajatnya harus duluan, mengakhirkan perkara yang derajatnya di akhir.

Namanya tertib yaitu jangan mendahulukan anggota terhadap anggota yang lain, tegasnya jangan mendahulukan anggota yang derajatnya akhir terhadap anggota yang derajatnya diawal (jangan mendahulukan membasuh tangan sebelum membasuh muka).

Niat

Pengertian niat

Secara etimologis niat dapat diartikan dengan bermaksud, sedangkan secara terminologis adalah bermaksud untuk mengerjakan suatu pekerjaan dibarengi dengan pelaksanaannya.

Tempat niat

Niat itu tempatnya ialah di dalam hati.

Niat

Mengucapkan niat

Mengucapkan niat hukumnya sunat berdasarkan qiyas, yaitu mengqiyaskan niat pada wudhu dengan niat pada haji dan umrah dalam kesamaan hukum yaitu sunat diucapkan. Imam Qostholani berkata:

Dan merupakan fatwa yang tetap diantara madzhab Syafi’i sunat hukumnya mengucapkan niat , sebagian ulama mengqiyaskan kepada keterangan yang terdapat dalam dua kitab shahih. Sebuah hadis dari Anas bin Malik, dia mendengar Rasulullah mengucapkan kalimat talbiyah untuk haji dan umrah secara bersamaan. Dan dalam hadis Bukhari diterima: Aku (Umar) mendengar Rasulullah berkata dia berada di Wadil Aqiq, pada suatu malam datang utusan Tuhan, dia berkata bacalah sholawat pada jurang ini yang penuh berkah.

Perintah ini menunjukkan keharusan mengucapkan niat baik ditetapkan dengan nash hukum atau dengan qiyas.

Imam Qostholani berkata bahwa mengucapkan niat hukumnya sunat, faidahnya agar lisan dapat membantu hati dapat khusyu’.

Wudhu yang memakai niat dan diucapkan lebih baik daripada wudhu yang memakai niat tanpa diucapkan, sedangkan Nabi saw tidak pernah meninggalkan pekerjaan yang paling baik sepanjang hidupnya.

Waktu niat

Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani berpendapat bahwa mengucapkan niat itu harus dibarengi dengan melakukan pekerjan (muqoronah).  Jadi apabila mengerjakan wudhu, waktu niat itu adalah pada permulaan membasuh muka.

Kesempurnaan Pertolongan Allah Tergantung Dari Keikhlasan Niat

Keterangan yang diriwayatkan dari Rasulullah saw, bahwa beliau pernah berkata kepada Abi Dzar al Ghifari radhiyallahu ‘anhu, yang nama aslinya adalah Jundub bin Junadah.

“Hai Aba Dzar kamu harus membarui terhadap kapal layar, karena sebenar-benarnya lautan itu dalam. Artinya harus memperbaiki niat (niat bagus) dalam tiap-tiap perkara yang dilakukan olehmu, dan meninggalkan perkara supaya kamu mendapatkan hasil ganjaran dan keselamatan dari siksaan Allah swt.”

Imam ‘Umar al Faruq sudah menyurati kepada Abu Musa al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dan isinya adalah:

“Siapa saja orang yang ikhlas niatnya, maka Allah akan mencukupkan kepada orang itu terhadap perkara yang tetap diantara dia dan dengan orang lainnya.”

Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar al Khatthab pernah menyurati kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz radhiyallahu ‘anhu:

“Kamu harus tahu hai ‘Umar bahwa sebenar-benarnya pertolongan Allah kepada ‘abdi-Nya itu adalah dengan ukuran niatnya. Maka siapa saja yang ikhlas (bersih) niatnya, maka akan sempurna pertolongan Allah kepada orang tersebut. dan siapa saja orang yang kurang bersih niatnya, maka akan kurang pertolongan Allah.”

Dan kamu harus mengambil bekal yang sempurna, karena sebenar-benarnya perjalanan di akhirat itu jauh dalam penutup cape. Serta harus meringankan barang bawaan (perkara dunia yang dibawa). Maksudnya naik ke tanjakan gunung itu susah, karena urusan akhirat itu diserupakan dengan lautan yang dalam, dan perjalanan yang jauh, dan tanjakan yang sangat, karena banyak sekali rintangannya.

Dan kamu harus ikhlas dalam beramal, karena yang menilai amal atau yang menghitung-hitung yang membedakan antara yang bagus dan yang jelek adalah Allah swt, yang Maha Melihat. Artinya yang melihat dan mengawasi segala tingkah yang dilakukan manusia.”

Syeikh Abu Sulaiman ad Darani pernah berkata:

“Bahagia bagi orang yang sudah bagus bagi dia suatu langkah dalam umurnya, yang tidak mengharap-harap hasil dari langkahnya tersebut, kecuali karena Allah.”

Yang menjadi dasar perkataan Syeikh Abu Sulaiman adalah sabda Rasulullah saw kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu:

“Harus mengikhlaskan kamu kepada amal, maka tentu akan mencukupi kepadamu dari amal tersebut  yang sedikit.”

Dalam sebuah syair, dijelaskan sebagai berikut:

Wajib bagi semua orang untuk taubat, tetapi meninggalkan macam-macam dosa itu lebih wajib. Dan sabar dalam menghadapi ujian (musibah) itu sulit, tetapi sempitnya ganjaran itu lebih susah (mendapatkan ganjaran).

Zaman itu dalam perubahannya aneh, tetapi lupanya orang-orang dari dzikir kepada Allah lebih aneh. Dan tiap-tiap perkara yang bakal datang itu adalah yang dekat, tetapi mati itu lebih dekat daripada perkara tersebut.

Zaman dalam perubahannya dengan membawa macam-macam perkara yang baru itu aneh.

Diterima dari Anas, sudah keluar Nabi Muhammad saw pada suatu hari, sambil tangannya memegang Abi Dzar, lalu beliau berkata:

“Hai Aba Dzar, apakah kamu tahu kalau di depan kita ada tanjakan yang sulit, yang tidak akan bisa naik ke tanjakan itu kecuali orang-orang yang ringan bawaannya.”

Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, apakah aku termasuk ke dalam orang yang mukhiffin (ringan) atau yang mutsqilin (berat)?”

Rasulullah menjawab, “Apakah di kamu ada makanan pada hari ini?”

Lelaki itu menjawab, “Ya, ada.”

Rasulullah berkata lagi, “Dan ada makanan untuk hari esok?”

Lelaki menjawab lagi, “Ya, ada.”

Kemudian Rasulullah saw berkata, “Makana untuk lusa?”

Si lelaki berkata, “Tidak ada.”

Nabi saw berkata, “Kalau di kamu ada makanan untuk tiga hari, maka bukti kamu dari sebagiannya mutsqilin (orang yang berat dengan bawaan dunia).”

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Inilah Alasan Pentingnya Niat Sebelum Melakukan Pekerjaan

Ilaahii kaifa a’zimu wa antal qaahiru wa kaifa laa a’zimu wa antal aamiru.

Ya Allah, bagaimana aku akan ngazam (berniat/bertekad), sedangkan Engkau yang menentukannya dengan paksaan, serta bagaimana aku tidak ngazam padahal Engkau yang memerintahkan.

Kita harus pasrah kepada Allah swt, serta memperhatikan takdirnya Allah swt yang dilaksanakan kepada dirinya. Kita ngazam (berniat/bertekad) karena diperintahkan oleh Allah swt, sedangkan mengerjakannya itu bagaimana saja dikehendaki oleh Allah (Allah membuat itu terjadi).

Sebab di ingin-ingin juga kalau Allah tidak menghendaki (tidak membuat itu terjadi), maka tidak akan terjadi.

Jadi yang penting adalah kita harus ngazam kepada pekerjaan. Apabila sudah demikian, maka kita akan diberi ganjaran satu. Seperti di dalam hadist: “Innallaaha katabal ihsaana……..”, Allah swt menuliskan pekerjaannya ‘abdi, maka siapa saja orang yang berniat serta bisa melaksanakannya maka akan diberi sepuluh ganjaran, atau lebih banyak. Dan kalau tidak bisa mengerjakannya (mengamalkannya), maka akan diberi ganjaran satu.

Semua manusia dalam menjalani hidup ini harus bisa memanfaatkan umurnya, dengan kata lain tidak mengisinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan melakukan banyak dosa. Tetapi harus banyak melakukan amal kebajikan, dan berusaha menggapai ridha Allah swt.\

Di dalam islam semua hal sudah ada tuntunannya, mulai dari praktek ibadah, muamalah, fikih atau hukum, dan lain sebagainya.

Jadi kita harus sering-sering berniat yang baik atau niat melakukan amal kebajikan, jangan berniat yang buruk.