Panggilan Apakah Yang Boleh Dipakai Untuk Orang Kafir dan Ahli Bid’ah

Allah swt telah berfirman dalam surat Al Lahab ayat 1, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab.”

Nama aslinya adalah Abdul Uzza. Menurut suatu pendapat, dipakai nama kun-yah (julukan) untuknya karena ia dikenal dengan nama tersebut. menurut pendapat lainnya lagi, untuk membenci namanya karena nama tersebut berarti ‘abdi bagi berhala.’

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Usamah ibnu Zaid r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw menaiki keledainya untuk menjenguk S’ad ibnu Ubadah. Usamah melanjutkan kisahnya sampai denga lewatnya Nabi saw hingga bersua dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Saluul, seorang munafik militan. Lalu Nabi saw meneruskan perjalanannya hingga masuk ke dalam rumah Sa’d ibnu Ubadah. Lalu beliau bersabda:

Hai Sa’d, tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Hubaab (yakni Abdullah ibnu Ubay)? Ia telah mengatakan demikian dan demikian….. hingga akhir hadis.

Di dalam hadis berulang-ulang disebutkan nama kun-yah (julukan) Abu Thalib, nama aslinya ialah Abdu Manaf. Di dalam hadis disebutkan:

Ia adalah keturunan Abu Rughal.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bawa Rasulullah saw menulis surat seperti berikut:

Dari Muhammad, seorang hamba Allah dan Rasul-Nya, ditujukan kepada Heraklius.

Nabi Muhammad saw hanya menyebut nama aslinya, tidak menyebut kun-yahnya, tidak pula julukannya sebagai raja Romawi, padahal ia seorang kaisar. Kita diperintahkan bersikap tegas kepada mereka. Karena itu, tidak layak bila kita menyebut mereka dengan nama kun-yahnya, tidak layak memakai ungkapan yang lembut kepada mereka, tidak pula dalam perkataan, tidak layak pula menampakkan sikap yang hangat dan rukun terhadap mereka.

Larangan Memakai Julukan Dengan Sebutan Abul Qasim

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui segolongan sahabat, antara lain Jabir r.a. dan Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Pakailah nama dengan namaku, tetapi janganlah kalian memakai kun-yah dengan sebutan kun-yahku.

Para ulama berbeda pendapat mengenai pemakaian kun-yah (julukan) dengan sebutan Abul Qasim. Pendapat pertama, yaitu pendapat Imam Syafii yang mengatakan bahwa tidak dihalalkan bagi seorang pun memakai nama kun-yah Abul Qasim, baik nama aslinya Muhammad ataupun yang lainnya.

Pendapat kedua adalah dari Imam Malik. Ia menyatakan bahwa boleh memakai nama kun-yah dengan sebutan Abul Qasim bagi orang yang namanya Muhammad, juga bagi yang lainnya. dia menjadikan larangan ini khusus hanya di masa Rasulullah saw masih hidup.

Pendapat ketiga mengatakan bahwa tidak boleh memakai kun-yah ini bagi orang yang namanya Muhammad, sedangkan bagi yang lainnya boleh.

Imam Abul Qasim Ar Rafi’i mengatakan bahwa pendapat ketiga ini mirip dengan hal yang paling sahih, karena orang-orang masih memakai kun-yah sebutan tersebut di semua masa tanpa ada yang mengingkarinya. Apa yang dikatakan oleh orang yang berpendapat demikian mengenai masalah ini jelas bertentangan dengan makna lahiriah hadis di atas.

Mengenai kesepakatan orang-orang yang melakukan hal ini, padahal di kalangan orang-orang yang memakai kun-yah ini dan yang menyebutkannya terdapat para imam terkenal, ahul halli wal ‘aqd, dan orang-orang yang menjadi panutan dalam masalah penting agama, maka kenyataan ini mendukung mazhab Imam Malik yang membolehkan secara mutlak.

Mereka memahami larangan ini hanya khusus di zaman Nabi saw. Penyebab larangan ini ialah ulah orang Yahudi yang suka memakai julukan Abul Qasim dan seruan mereka yang menyebut “Hai Abul Qasim”, dengan tujuan menghina, sedangkan pengertian ini telah tiada.

Menggunakan Nama atau Panggilan Yang Baik Kepada Orang Lain

Boleh Menyebut Nama Julukan Yang Disukai Pemiliknya

Di dalam islam seseorang diperbolehkan menyebut seseorang dengan nama panggilannya atau nama julukannya. Banyak sekali sahabat Nabi saw yang dipanggil dengan nama julukannya.

Diantaranya ialah Abu Bakar Ash Shiddiq yang nama aslinya Abdullah ibnu Utsman, nama julukannya yaitu Atiq.

Para ulama berselisih pendapat mengenai penyebab dia diberi julukan Atiq. Diriwayatkan melalui Siti Aisyah dari berbagai jalur periwayatan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Abu Bakar adalah orang yang dimerdekakan oleh Allah dari neraka.

Menurut Mush’ab ibnuz Zubair, dinamakan Atiq karena di dalam nasabnya tidak terdapat sesuatu aib pun.

Nama julukan lain ialah Abu Turab yang diberikan kepada Ali karamallaahu wajhah, sedangkan nama julukannya ialah Abul Hasan. Di dalam hadis sahih telah ditetapkan:

Bahwa Rasulullah saw menjumpainya sedang tidur di dalam masjid, sedangkan badannya berdebu. Maka beliau bersabda, “Bangkitlah, hai Abu Turab. Bangunlah, hai Abu Turab.”

Diriwayatkan hal di atas di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Sahl ibnu Sa’d yang menceritakan:

Nama Abu Turab merupakan nama panggilan yang paling disukai oleh Ali. Sesungguhnya ia tampak gembira bila disebut dengan panggilan itu.

Nama julukan lain ialah Dzul Yadain, nama aslinya adalah Al Khirbaq, yang mempunyai kedua tangan yang panjang. Di dalam hadis sahih disebutkan:

Bahwa Rasulullah saw menyebutnya dengan panggilan Dzul Yadain, sedangkan nama aslinya ialah Al Khirbaq.

Apakah Boleh Memanggil Nama Seseorang Dengan Disingkat

Setiap orang pasti memiliki teman dekat yang intens berhubungan dengannya. Terkadang saking dekatnya, kita sering memanggil namanya dengan disingkat.

Nah, hal tersebut (memanggil nama seseorang dengan disingkat) memang diperbolehkan di dalam islam, tetapi tidak dengan maksud untuk menghina dan tidak dengan panggilan yang buruk.

Diriwayatkan di dalam kitab hadis:

Rasulullah saw pernah men-tarkhim nama segolongan dari kalangan para sahabat, antara lain ialah sabdanya kepada Abu Hurairah, “Hai Abu Hirr,” sabdanya kepada Siti Aisyah, “Hai Aisy,” dan sabdanya kepada Anjasyah, “Hai Anjasy.”

di dalam kitab Ibnu Sinni disebutkan:

Nabi saw bersabda kepada Usamah, “Hai Usaim,” dan kepada Al Miqdam, “Hai Qudaim.”

Jangan Memanggil Seseorang Dengan Sebutan Yang Buruk

Allah swt berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 11, “Dan janganlah kalian panggil memanggil dengan nama-nama yang buruk.”

Para ulama sepakat mengatakan bahwa haram menyebut nama seseorang dengan julukan nama yang tidak disukainya, baik berupa sifat, seperti A’masy, Ajlah, A’ma, A’raj, Ahwal, Abrash, Asyaj, Ashfar, Ahdab, Asham, Azraq, Afthas, Asytar, Atsram, Aqtha’, Az Zamin, Al Muq’id, Al Asyal, atau sifat ayah ibunya atau nama lain yang tidak disukai.

Mereka sepakat pula bahwa boleh menyebut nama tersebut hanya untuk memperkenalkan kepada orang yang tidak mengetahuinya kecuali melalui julukan tersebut.

Demikianlah penjelasan dari kami, semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita semua baik di dunia maupun di akhirat.

 

Anak dan Murid Dilarang Memanggil Orang Tua dan Gurunya Dengan Menyebut Namanya Saja

Diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Abu Hurairah r.a. yang menceritakan:

Nabi saw melihat seorang lelaki bersama seorang anak, lalu Nabi saw bertanya kepada si anak, “Siapakah orang ini?” Si anak menjawab, “Ayahku.” Nabi saw berkata, “Janganlah engkau berjalan di mukanya, jangan melakukan hal yang menyebabkan dia mencacimu, jangan duduk sebelumnya, dan jangan memanggil namanya.”

Diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Ubaidillah ibnu Zahar r.a. yang mengatakan, “Termasuk menyakiti orang tua ialah bila engkau memanggil namanya dan berjalan di depannya.”

Julukan Bagi Seorang Ayah Dengan Nama Anaknya Yang Paling Besar

NAbi Muhammad saw diberi nama kun-yah (julukan) dengan sebutan Abul Qasim, sedangkan Al Qasim merupakan anak lelakinya yang paling besar.

Julukan Bagi Seseorang Yang Tidak Mempunyai Anak dan Julukan Anak Kecil

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Anas r.a. yang menceritakan:

Nabi saw adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan aku mempunyai seorang saudara lelaki yang dikenal dengan nama Abu Umair. Perawi berkata, ‘Aku menduganya mengatakan bahwa Abu Umair baru disapih. Nabi saw apabila datang kepadanya selalu mengucapkan, ‘Hai Abu Umair, bagaimanakah dengan permainan Nughairmu?’”

Nughar adalah nama permainan yang biasa dimainkannya.

Diriwayatkan dengan sanad yang sahih di dalam Sunan Abu Daud melalui Siti Aisyah yang menceritakan:

Bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, semua temanku mempunyai nama julukan,” Rasul saw bersabda, “Pakailah nama julukan dengan anakmu Abdullah.”

Perawi mengatakan, yang dimaksud ialah Abdullah ibnuz Zubair, anak lelaki saudara perempuannya, Asma binti Abu Bakar.

Setelah itu Siti Aisyah diberi julukan Ummu Abdullah.

Diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Siti Aisyah r.a. yang menceritakan:

Di kalangan para sahabat ada segolongan orang yang diberi julukan (kun-yah), padahal mereka belum mempunyai anak, seperti Abu Hurairah; juga Anas, ia dijuluki Abu Hamzah.

Demikianlah penjelasan dari kami, semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita smeua baik di dunia maupun di akhirat.