Bagaimana Cara Membersihkan Najis Sesuai Sunnah

Cara menghilangkan najis mugholadoh adalah dengan 7 kali basuhan setelah menghilangkan dzat nya atau ‘ain nya najis mugholadoh serta salah satunya dicampur dengan tanah. Sedangkan najis mukhofafah yaitu dengan mengucurkan air serta menindih dan menghilangkan dulu najis tersebut.

Najis mutawasithoh terbagi 2 bagian yaitu ‘aeniah dan hukmiyah. Najis mutawasithoh ‘aeniah adalah yang ada rupa, bau, dan rasa. Najis mutawasitoh hukmiyah yaitu yang tidak ada rupa, rasa dan bau, cukup dengan mengalirkan air saja.

Apabila ada wadah yang dijilat oleh anjing atau bagong, maka wadah tersebut harus dicuci tapak jilatan tersebut dengan 7 kali basuhan air suci dan mensucikan, dan salah satunya memakai tanah. Menjadi najis mugholadoh walaupun hanya air kencingnya, keringatnya, dll. Serta kalau misalnya manusia atau yang lain menempel dengan anjing dan bagong dalam keadaan basah salah satu pihaknya, itu akan menjadi najis mugholadoh. Dan wajib dibasuh dengan 7 basuhan (salah satunya pakai tanah), setelah terlebih dahulu menghilangkan ‘ain nya dulu.

Cara mensucikan najis mukhofafah : misalnya ada tempat yang terkena najis mukhofafah, maka cukup dengan buang dulu ‘ain nya, setelah itu mencipratkan air sambil memenuhi atau meratakan ke najis tersebut.

Najis mutawasitoh ada 2, yaitu najis mutawasithoh ‘aeniah artinya najis yang terlihat oleh mata. Dana ada najis mutawasithoh hukmiyah, yaitu najisnya itu dalam hukumnya saja, artinya najis yang tidak ada rupanya.

Cara menghilangkan najis mutawasithoh ‘aeniah adalah cukup dengan sekali basuhan setelah hilang najisnya (hilangkan dulu najisnya/bentuknya). Misalnya najisnya itu berwarna putih atau hitam, atau kotoran ayam, maka hilangkan terlebih dahulu najis itu.

Apabila hilangkan rasanya dulu, seperti rasanya asin, amis, pahit, maka tidak boleh tidak  dalam menghilangkan rupa, rasa dan baunya, kecuali barang tersebut susah untuk dihilangkannya maka tidak wajib menghilangkannya. Cara membersihkan najis mutawasithoh hukmiyah cukup dengan mengalirkan air saja, sambil tidak usah meneliti apakah air nya bau atau tidak.

Perkara najis terbagi 4 bagian :

  1. Yang tidak dimaafkan di sholat, tidak dimaafkan di air yang sedikit seperti kotoran-kotoran atau air kencing.
  2. Yang dimaafkan di sholat dan dimaafkan di air yang sedikit, seperti najis yang tidak terlihat oleh mata.
  3. Yang dimaafkan di sholat dan tidak dimaafkan di air sedikit, contohnya darah yang sedikit.
  4. Yang dimaafkan di air yang sedikit tidak dimaafkan di sholat, contohnya bangkai yang tidak ada darah yang ngalir.

3 Macam Najis, Contoh dan Cara Menyucikannya

Najis adalah kotor yg menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah. Najis juga dapat berarti jijik atau kotoran. Macam-macam najis itu ada 3, yaitu :

Najis mugholadoh.

Kenapa dinamakan mugholadoh sebab berat hukumnya serta mensucikannya juga susah. Seperti anjing, walaupun anjing tersebut hasil dididik atau untuk berburu, kecuali anjing ashabul kahfi. Karena anjing ashabul kahfi dihukuman suci dan akan masuk surga.

Selain anjing, yang termasuk najis mugholadoh itu adalah bagong/babi, karena bagong itu kelakuannya lebih jelek daripada anjing, serta tidak dihalalkan memeliharanya dengan alasan apapun (misalkan diambil tenaganya untuk mengambil kayu bakar dari hutan). Berbeda dengan hewan yang kecil-kecil yang haram dimakan dan tidak ada manfaatnya seperti tikus, ular, dan lain sebagainya.

Yang termasuk najis mugholadoh anaknya atau blasteran anjing dan bagong serta hewan yang lainnya seperti bagong bersetubuh dengan anjing. Atau anjing betinanya bagong jantannya kemudian bersetubuh lalu beranak, nah anaknya itu termasuk najis mugholadoh. Atau juga anjing dan bagong bersetubuh dengan hewan lain yang suci atau halal, seperti anjing bersetubuh dengan domba atau bagong dengan domba terus beranak salah satunya, maka itu termasuk najis mugholadoh.

Anaknya anjing/bagong dengan domba kenapa dihukuman najis karena kalau di bab najis peranakan dita’liq kan ke yang lebih hina, seperti ada anjing betina disetubuhi oleh manusia, terus anjing itu melahirkan berupa manusia, maka itu hukumnya najis mugholadoh. Cuma itu ke taqlif, wajib sholat menurut sebagian ulama, boleh jadi imam juga, boleh masuk mesjid, boleh bercampur dengan manusia lainnya, serta kalau bersentuhan tidak menjadi najis kalau diluar sholat.

Tetapi kalau didalam sholat serta sholatnya di mesjid harus seba kering dan tidak sah kalau orang tersebut dijadikan pimpinan atau qodi untuk mengeluarkan hukum. Nah ini adalah pendapat Ibnu Hajar, ini juga kalau tidak salah, coba saja lihat di tengah Albajuri Ibnu Qosim, di bab yang menjelaskan najis.

Atau ada domba yang melahirkan anak lelaki maka ke taqlif harus sholat, jadi imam dan khotib juga tidak apa-apa, bahkan setelah khutbah idul adha boleh disembelih. Dalam masalah keturunan itu dianutkan ke bapaknya. Seperti bapaknya habib (habib itu ada darah keturunan Nabi Muhammad), kalau perempuan disebut sarifah. Contohnya bapaknya habib/sarif sedangkan ibunya bukan sarifah, anaknya atau keturunannya tetap terbawa mulia. Tetapi kalau bapaknya bukan sarif sedangkan ibunya sarifah, anak/keturunannya bukan sarif dan sarifah.

Sama halnya antara yang merdeka dengan ‘abid, kalau bapaknya merdeka itu pasti anakketurunannya merdeka walaupun ibunya sebaliknya/’abid. Kalau bapaknya ‘abid ibunya merdeka maka anak keturunannya tetap ‘abid.

Kalau dalam masalah zakat, dita’laeq ke yang lebih enteng, seperti turunan unta dengan sapi maka keturunannya dianutkan ke sapi, maka jangan dulu dizakatin sebelum mencapai nisobnya sapi. Apabila sudah mencapi nisob (30), keluarkan sapi tabi’ yaitu anaknya yang umur 1 tahun yang masih ngikutin induknya. Kalau keturunan dalam masalah agama di turutkan ke yang paling luhur. Misalkan kalau ibunya kafir bapaknya islam, keturunannya dihukuman islam, sebab islam lebih tinggi daripada kafir.

Hukuman orang yang sedang ihrom berburu hewan, di masalah keturunan diikutkan ke yang berat seperti yang ihrom membunuh peranakan himar hutan dan himar kampung, itu wajib fidyah. Begitu juga dalam masalah diyat peranakan diikutkan ke yang berat, seperti seseorang membunuh keturunan kafir kitabi dan kafir majusi, maka wajib memberi diyat kafir kitabi.

Yang disebut diyat adalah harga manusia kalau dibunuh, wajib diyatnya dari yang membunuh ke ahli waris yang dibunuh. Kalau peranakan di bab sesembelihan dan bab pernikahan itu di ta’laeq ke yang bawah. Peranakan antara kafir majusi dan kafir kitabi itu tidak halal sesembelihannya dan dinikahinya oleh orang islam, sebab diikutkan ke yang bawah, yaitu kafir majusi, karena kalau majusi itu tidak halal sesembelihannya dan tidak halal dinikahinya, sedangkan kalau kafir kitabi halal.

Begitu juga peranakan yang hina dalam hal yang wenang dimakannya dan wenang dipakai kurbannya. Seperti khimar hutan/khimar kampung itu tidak halal dimakannya, atau peranakan embe dengan mencek itu tidak wenang dipakai qurban.

Apabila ada hewan rupanya seperti manusia tetapi keluarnya dari najis mugholadoh (ibu bapaknya anjing), maka hukumnya tetap najis mugholadoh. Rupa tidak menjadikan suci. Tetapi kalau anak bagong berupa manusia dan punya akal serta bisa ngomong, menurut Imam Qolyubi ke taklif, tegasnya harus ibadah dan tidak apa-apa bercampur dengan manusia, tetapi kalau bangkainya dihukuman najis mugholadoh, karena melihat dari keturunannya.

Kalau ada domba disetubuhi anjing, atau anjing disetubuhi domba, kemudian beranak berupa manusia, maka hukumnya seperti yang diatas. Kalau manusia beranak berupa hewan, maka itu hukumnya suci, serta kalau bisa ngomong dan punya akal hukumnya seperti diatas. Misalkan kalau ada anak embe (jantan) terus disusuin anjing sampai besar, nah anak embe itu hukumnya suci dan halal dagingnya, sama halnya dengan ikan yang sering makan kotoran.

Najis mukhofafah.

Yaitu air kencing anak laki-laki yang belum makan apa-apa selain air susu ibunya dan umurnya belum mencapi 2 tahun. Najis mukhofafah termasuk najis yang dientengkan.
Kalau air kencing anak perempuan/khunsa termasuk najis mutawasithoh, walaupun belum berusia 2 tahun dan belum makan apapun selain ASI.

Apabila anak lelaki sudah berusia 2 tahun atau lebih itu termasuk najis mutawasithoh. Menghitung bulannya memakai bulan hijriyah walaupun belum makan apapun. Kalau anak lelaki itu belum berusia 2 tahun tetapi sudah makan selain dari ASI, maka dihukuman najis mutawasithoh.

Dimana-mana ada anak susunya dari susu sapi yang belum dicampur, itu termasuk najis mukhofafah. Namun kalau susunya sudah dicampur, seperti susu kaleng atau susu tepung itu termasuk najis mutawasithoh. Kecuali susu yang sudah menjadi keju, asal tidak dicampuri apapun. Dan yang dicampurin infahhah artinya yang dikeluarkan dari perut anak embe atau sapi yang belum makan apa-apa selain susu itu tidak apa-apa, sebab jadi kerasnya keju harus pakai infihhah. Kalau anak belum berumur 2 tahun, dan belum makan apapun, diberi obat, itu termasuk mukhofafah.

Najis mutawasithoh

Yang disebut najis mutawasithoh yaitu selain najis mukhofafah dan najis mugholadoh. Dijelaskan didalam Safinah bahwa ada 16 :

  1. Air kencing apa saja, baik hewan atau manusia, walaupun air kencing anak kecil yang bukan mukhofafah, batu yang keluar setelah kencing, kalau punya keyakinan bahwa batu tersebut timbul dari penyakit yang dideritanya. Tapi kalau tidak punya keyakinan, batu itu termasuk barang mutanajis saja.
  2. Madzi, air yang keluar dari farji wanita, rupanya kental agak kuning, gholibnya keluarnya itu ketika beubahnya syahwat dan keluarnya itu tidak terasa nikmat, walaupun syahwat nya tidak kuat. Atau keluarnya itu dimana sudah kendor syahwat, dan tidak keluar madzi itu kecuali dari orang yang sudah baligh. Dan banyaknya itu keluar ketika si perempuan dipermainkan oleh lelaki, seperti diciumin, dirangkul, dan ketika perempuan itu sedang kuat syahwatnya.
  3. Wadi, air yang keluar dari lobang depan, kental, warnanya putih agak keruh, keluarnya setelah kencing atau setelah bekerja yang berat. Keluarnya tidak tentu, tidak hanya di orang yang sudah baligh, tetapi kadang dianak kecil juga sering ada.
  4. Kotoran, baik kotoran manusia ataupun hewan, walaupun kotoran ikan atau belalang.
    Boleh memasak/menggoreng ikan walaupun masih hidup. Dimaafkan kotoran ikan yang kecil yang ada didalam, dan disunatkan apabila ada ikan yang lama hidupnya disembelihnya seperti sapi.
  5. Air yang keluar dari luka yang berobah rupa, rasa dan baunya, karena darah itu yang pindah rupa tetapi kalau tidak berubah serta tidak bercampur dengan lainnya itu suci.
  6. Sodid, air encer campur darah.
  7. Nanah
  8. Hamperu, yang najis airnya saja, sedangkan kulitnya/kantongnya itu mutanajis, tegasnya barang suci yang kenajisan, boleh dimakan asal dicuci dulu sampai bersih, seperti hati dan limpa. Serta termasuk hamperu itu barang yang bulat yang ngagarendul di dalam hamperu sapi yang sering dipakai obat itu juga najis. Dan termasuk najis bisa yang keluar dari hewan yang berbisa. Malah kalau ada orang sedang sholat kemudian digigit ular yang ada bisanya, maka sholatnya batal, karena ketika menggigit ular itu sering meninggalkan bisanya ditempat yang digigit. Tetapi tidak batal kalau orang disengat langgir, karena ujung buntut yang tajamnya masuk ke dalam kulit keluar bisanya di dalam. Sedangkan yang disebut infahah yaitu isi perut anak sapi yang masih menyusui belum makan apa-apa, itu suci.
  9. Barang ancur yang memabukan, seperti arak dan sejenisnya. Yang memabukkan Cuma tidak ancur yaitu rumput hasiisah dan kecubung yang serin dipakai merokok, atau madat za’faron ‘anbar atau juuzatuttiibi, nah kalau memakannya membuat mabuk itu haram. Kalau hukumnya suci, artinya apabila terbawa sholat tidak batal. Bagaimana hukumnya jual beli madat, itu haram, begitu juga orang tukang mabok, begitu juga membelinya haram kalau untuk mabuk-mabukan.
    Hukum meminum madat untuk obat penyakit sakit perut atau dipakai rokok, itu haram, kalau tidak butuh-butuh banget terhadap barang tersebut.
  10. Muntah, yaitu barang/perkara yang keluar dari perut manusia, keluarnya dari mulut walaupun tidak berubah, seperti keluarnya itu masih nasi. Tetapi kalau yang keluarnya itu berupa biji-bijian keras serta tidak berubah, dan apabila ditanam bakal jadi, maka itu hukumnya mutanajis, artinya kalau dicuci akan suci. Sama halnya apabila biji tersebut keluarnya dari dubur. Misalnya kita menemukan gundukan kotoran burung, kemudian setelah diteliti ternyata banyak biji kemiri, maka ambil saja, hukumnya boleh dipakai asal dicuci dulu sampai bersih. Tetapi misalkan jagung dari najis mugholadoh, itu tidak boleh. Hukumnya air yang meleleh dari mulut ketika tidur, kalau keluarnya itu dari perut serta yakin maka hukumnya najis, tetapi kalau keluarnya bukan dari perut hukumnya suci. Tapi dimaafkan bagi orang yang selamanya keluar air dari mulutnya ketika tidur. Dimaafkannya itu untuk dianya saja, sedangkan yang lainnya tidak.
  11. Susu hewan yang tidak dimakan dagingnya, sedangkan susu manusia dan susu hewan yang dimakan dagingnya hukumnya suci.
  12. Bangkai selain bangkai manusia, belalang dan ikan. Ikan yang hidup di air halal walaupun rupanya seperti apa saja, asal hidupnya di air saja.
  13. Darah, kecuali limpa dan hati. Tetapi kalau hati itu dibubukin lalu menjadi darah kembali maka itu hukumnya najis. Tetapi kalau ada mani dan air susu kira-kira menjadi darah, kalau mani saking kuat dijima’ nya sehingga keluarnya mani berupa darah, atau puting susu saking kuat nyedotnya sehingga sampai keluar air susu rupa darah. Hukumnya telur yang ada darahnya, asal jangan campur antara putih dan merahnya, sekira-kiranya kalau dierami jadi anak, itu suci boleh dimakan. Hukum darah yang ada di ikan itu najis, kalau ikan yang tidak dibersihkan kotorannya, kemudian direbus, itu hukumnya najis sebab bercampur.
  14. Kunyahan unta atau yang lainnya dari hewan seperti domba dan kuda.
  15. Air cenang (bisul kecil), itu juga kalau bau, kalau tidak bau tidak najis.
  16. Dukhonunnajasati, artinya asap najis atau bukhorunajasati yaitu yang naik dari asap yang bersih dari asap, itu merupakan najis. Apakah dari ‘ain nya najis seperti kotoran kering domba terus dibakar, atau dari perkara yang suci. Membakar kayu yang kira-kira ada najisnya, asapnya najis kalau menempel di baju atau apa saja nempelnya.Misalkan juga tukang warung dagang minyak tanah kira-kira kemasukan najis yang tidak dimaafkan di air sedikit, terus membeli tujuannya untuk lampu mesjid, itu juga tidak boleh, sebab asapnya menajisi bilik-bilik mesjid atau atap-atap mesjid, walaupun minyaknya itu tidak bercipratan. Karena asap itu ada dzat nya, cirinya kalau banyak ya sering banyak juga jelaga (bahasa sunda mah mehong) atau warna hitam, atau kalau ke padudan/di rokok mah ada candu nya, itu membatalkan puasa.

Makna najis menurut lughot adalah assaeul mustaqdiru artinya tiap-tiap perkara yang menjijikan, tegasnya walaupun suci seperti ludah, air mani, dll, makna lughowi lebih umum dibanding menurut syara’. Sedangkan makna najis menurut syara’ mustaqdirun yamna’u minsihhatissolati, artinya tiap-tiap perkara yang menjijikan yang menghalangi dari sahnya sholat.

Perkara Yang Menjadi Suci Dari Barang Najis

Najis menurut bahasa artinya kotor, sedangkan menurut menurut istilah artinya kotoran yang  wajib dihindari atau di bersihkan oleh setiap umat muslim apabila menempel atau terkena badan. Perkara yang jadi suci dari hal-hal najis ada 3, yaitu :

1. Arak, dimana-mana jadi cuka dengan sendirinya.

Pokoknya yang disebut arak/khomru adalah setiap yang memabukkan, apakah terbuatnya dari perasan anggur ataupun yang lainnya. Kenapa arak najis, karena memabukkan. Sekarang kalau ingin suci syaratnya harus jadi cuka dengan sendirinya, itu juga jangan dicampur lain-lain, boleh itu diminumnya juga, kalau menciprat ke perkara apa saja, itu suci.

Apabila cuka itu dicampur dengan barang yang ‘ain seperti pasir, itu tetap termasuk najis. Sebab ketika araknya jadi cuka barang itu yang nyampurin, barang tersebut tetap najis kenajisan oleh arak, maka ketika jadi cuka arak itu, semuanya jadi najis.

2. Kulit bangkai, dimana-mana jadi cuka.

Yang disebut bangkai adalah hewan yang tidak ada ruhnya, tetapi kalau tidak ada nyawanya disebabkan oleh disembelih dengan memakai peraturan syara’ itu suci. Yang boleh disamak adalah setiap hewan yang sering dimakan dagingnya. Hukumnya kulit bangkai adalah najis, kecuali disamak sampai masak, maka kulit itu jadi suci, boleh dipakai baju dan tidak apa-apa kalau terbawa sholat.

Sucinya kulit itu, dimana kulit itu kalau direndam pakai air tidak akan mekar atau busuk. Misalnya kulit sepatu dan sabuk, maka itu jangan was was, pakai saja walupun terbawa sholat, asalkan jangan kulit najis mugholadoh. Kalau bulunya, apakah itu bulu halus atau bulu besar atau dagingnya, itu najis.

Peringatan : hewan itu ada yang halal dimakan, tidak boleh dipotong kecuali akan dimakan dagingnya, maka akan haram dipotongnya kalau akan diambil kulitnya saja.
Ada juga hewan yang tidak dimakan dagingnya, yaitu yang tidak boleh dipotong/disembelih walaupun untuk diambil kulitnya, kecuali kalau sudah di nas di quran atau sunat dibunuhnya.

3. Perkara yang jadi hewan.

Seperti belatung yang keluar dari bangkai walaupun bangkai najis mugholadoh (anjing). Hukumnya belatung yang keluar dari bangkai anjing tersebut suci. Kenapa suci, karena belatung itu bukan terbuat dari bangkai, sebaliknya karena sekedar keluar dari bangkai tersebut. Seperti halnya belatung yang keluar dari cuka. Suci disini bukan berarti boleh dimakan, tetapi kalau belatung tersebut kena/menempel dengan badan kita, maka badan kita tidak najis.

Kata hewan dan jamadat berbeda, kalau hewan adalah tiap-tiap hal yang ada nyawanya baik itu berakal atau tidak punya akal. Sedangkan jamadat adalah setiap hal yang keras, seperti batu. Nah batu itu besar manfaatnya. Ada juga yang disebut nabatat, yaitu hal-hal/perkara-perkara jadi-jadian.

Sebagian perkara yang pindah jadi suci yaitu seperti yang sudah diterangkan oleh Imam Assarkowi, yaitu diantaranya inqilabuddami (pindahnya darah), labana (ke air susu), aumaniiya atau dari darah ke air mani, au ‘alaqotan atau pindahnya itu ke darah kental, au mudgotan atau gumpalan daging. Dan juga inqilabulbaedo yaitu pindahnya telur jadi anak.

Bukannya telur najis, tetapi permulaan telur dari darah, sedangkan darah itu najis. Semua telur itu hukumnya suci walaupun berasal dari hewan yang tidak dimakan dagingnya seperti ular. Serta pindahnya rupanya darah mencek atau bisulnya kidang jadi kasturi. Atau juga air sedikit yang najis menjadi suci karena ditambahin airnya, sehingga berubah rupanya.

Serta yang disebut fadolat itu terbagi 3 bagian :

  1. Perkara yang pindah rupa didalam perutnya hewan sampai jadi rusak, maka hukumnya najis, contohnya darah.
  2. Wamalaa yastahiilu fatoohiru, yaitu perkara yang tidak pindah ke rusak seperti keringat yang keluar dari hewan suci.
  3. Wamaa yastahhilu ilaa solaahi, perkara yang pindah rupa jadi kamaslahatan, seperti air susu ibu atauair susu hewan yang halal (misalkan sapi). Sebab yang disebut susu itu asalnya makanan yang jadi darah.

Hewan/Makhluk itu terbagi 3 bagian :

Pertama, Ada yang suci ketika hidup dan matinya, seperti manusia, belalang, dan ikan. Bangkai manusia suci, jadi ketika menempel dengan badan kita tidak apa-apa, sedangkan bangkai orang kafir najis, sebab yang dimaksud najis yaitu najis tekadnya (patekadan), makanya kalau ada orang kafir mati, boleh diberikan bangkainya itu ke binatang buas, atau dilempar ke laut.

Pendapat Imam Malik dan Abi Hanifah : setiap bangkai manusia itu najis, kecuali mayit para nabi, para syuhada. Setiap bangkai najis sebab ada dalil al quran hrrimat ‘alaekuml mayyitah, kecuali bangkai manusia, walaqod karromna bani aadam.

Kedua, hidupnya najis, begitu juga matinya, yaitu anjing dan babi begitupun juga segala hal yang ada/keluar di badannya.

Ketiga, ketika hidup suci ketika sudah mati menjadi najis, seperti sapi dan yang lainnya. Tetapi kalau ada kerbau sedang hamil 9 bulan mati, terus lantaran didalam perutnya ada anaknya yang mau keluar, dan tidak mati, maka ketika anak itu keluar, anaknya tidak najis (suci). Tetapi kalau anak kerbau itu keluar dan hidup sambil hayat mustaqiroh kemudian mati selain disembelih maka itu najis. Tetapi kalau disembelih halal, dan boleh dimakan.

Apabila ada anggota badan yang terpisah dari badannya, dan dalam keadaan hidup, sekarang kalau hidupnya dan jadi bangkainya suci seperti manusia atau ikan. Dan yang dimaksud kata samak yaitu setiap perkara yang hidup di air walaupun berupa hewan. Kalau ada manusia dipotong hidup-hidup, potongannya itu dihukuman suci, atau ikan yang dipotong dagingnya, atau juga belalang yang habis melahirkan diambil pahanya sebelah, nah itu suci, tetapi potongan daging manusia jangan dimakan.

Ilmu Fikih, Macam-Macam Najis, Hukum/Macam-Macam Air

Ilmu fiqih yaitu ilmu syariat yang mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah dhahir (jasmani) dengan benar, seperti mengetahui praktek wudhu, shalat, puasa, zakat, ibadah haji, muamalat, dll.

Najis menurut bahasa (lughat) adalah perkara-perkara yang menjijikan, walaupun suci seperti air ludah, ingus, dll. Sedangkan menurut istilah syara, najis adalah perkara-perkara yang menjijikan, walaupun tidak menjijikan menurut adat seperti arak, dan juga mencegah sah nya shalat, apabila tidak ada rukhsah (hal yang membolehkan).

Menurut sebagian ulama, najis ada 20, yaitu :

  1. Air kencing, baik bayi atau semua binatang
  2. Madi
  3. Wadi
  4. Kotoran, baik manusia atau binatang
  5. Anjing, walaupun terlatih
  6. Babi (celeng)
  7. Anak anjing dan babi
  8. Air mani anjing dan babi
  9. Cairan bekas luka (korhun) yang sudah Berubah warna, bau dan rasa
  10. Nanah yang bercampur darah
  11. Nanah yang tidak bercampur darah
  12. Empedu dari semua binatang
  13. Minuman yang memabukkan
  14. Sesuatu yang keluar dari perut
  15. Air susu hewan yang tidak halal dagingnya
  16. Bangkai, selain manusia, ikan dan belalang
  17. Darah, kecuali hati dan kalilipa
  18. Kunyahan binatang yg kedua kali
  19. Cairan dari cenang yang bau
  20. Asap dari perkara yang najis.

Jenis Najis dan Cara Menghilangkannya

1. Najis Mughalladhah, yaitu najis yang hukumannya berat. Seperti anjing, celeng dan anak-anaknya. Begitu juga air kencingnya, ludahnya, kotorannya, dsb. “Atau daging celeng, karena sesungguhnya semua itu kotor” (QS. Al An’am:145)

Cara mensucikannya, setelah menghilangkan a’in (dzatnya), lalu dicuci sebanyak 7 kali, salah satunya dicampur dengan tanah yang bersih. Adapun yang lebih utama adalah pada cucian pertama. “Sucikan tempat salah satu kamu ketika didalamnya dijilat anjing, dengan membasuhnya 7 kali dan permulaannya memakai tanah.” (HR. Muslim)
Babi dikiaskan pada anjing karena lebih kasar (tebal) jilatannya.

2. Najis Mukhafafah, yaitu najis yang ringan hukumannya. Seperti air kencing anak laki-laki yang belum memperoleh makanan kecuali ASI. Dan belum mencapai umur dua tahun. Cara mensucikannya dengan jalan di siram air, serta harus hilang a’in (dzatnya) najis, tapi jika dicuci lebih utama.

Hadis Siti Aisyah : “Datang kepada Nabi saw, dengan membawa anak lelaki yang masih menyusui, kemudian anak itu kencing di atas pakaian baginda, maka Nabi meminta air, lalu memercikan ke pakaiannya serta tidak membasuh pakaiannya.”

3. Najis Mutawasithah, yaitu selain najis mughaladah dan mukhafafah. Cara mensucikannya yaitu perkara yang terkena najis dibasuh satu kali saja dengan merata, adapun membasuh tiga kali lebih utama. (Kitab Takrib)

“Bahwa shalat itu 50 waktu, mandi jinabat 7 kali, dan membasuh air kencing 7 kali. Maka Nabi saw tak henti-henti memohon kepada Allah (meminta keringanan), sehingga shalat menjadi 5 waktu, mandi jinabat 1 kali, dan membasuh air kencing dari pakaian 1 kali. (HR. Abu Dawud)

a. Najis A’iniyah, yaitu najis yang ada warna, bau dan rasa. Cara mensucikannya adalah harus hilang warna, bau dan rasanya, serta harus merata, kecuali apabila sulit menghilangkannya

b. Najis Hukmiyah, yaitu najis yang tidak ada warna, bau, dan rasanya. Seperti air kencing yang sudah kering. Cara mensucikannya yaitu dengan jalan menyiram pada tempat yang terkena najis, walaupun sekali siraman.
Jika sulit menghilangkan warna atau bau, maka tidak wajib menghilangkannya, bahkan pada hakekatnya tempat itu dianggap suci. Tetapi jika kumpul bau dan warna, dan masih ada sisa rasanya, maka wajib mengerik atau menggosok najis A’iniyah sebanyak 3 kali, lalu membasuh dengan air sehingga hilang a’in dan atsarnya (bekas) najis.

Air

Air yang sah untuk bersuci adalah air hujan, air laut, air sungai, air sumur, sumber mata air, air es, air embun. “Dan Allah telah menurunkan kepadamu hujan dari langit, untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.”(Al Anfaal ayat 11)
“Air laut itu suci, dan bangkainya adalah halal” (HR. Al Khomsah)

Hukum air terbagi empat, yaitu :

1. Air mutlak, yaitu air suci yang bisa mensucikan dan tidak makruh dipakainya, seperti air hujan, air sumur, air sungai, dsb. Ada seorang badui berdiri, lalu kencing di dalam mesjid. Maka orang-orang menghalau orang badui itu, lalu Rasul bersabda : “Panggilah badui itu dan tumpahkanlah pada air kencingnya setimba air, atau ia akan berdosa sebab air kencingnya itu. Maka sesungguhnya kalian diutus untuk membuat kemudahan bukan membuat kesulitan.” (HR. Abu Hurairoh)

2. Air Musammas, Air suci yang bisa mensucikan, tapi makruh dipakainya, seperti air yang dipanaskan dengan sinar matahari. Pada bejana yang terbuat dari tembaga, dimana panasnya itu disebabkan sinar matahari. Dikatakan : “Sesungguhnya dari panas itu bisa menyebabkan penyakit kusta (belang)”.Dan tidak makruh memakainya, untuk selain badan. (Kitab Takrib)

3. Air Musta’mal, yaitu air suci yang tak dapat mensucikan, seperti air yang sudah dipakai bersuci pada air sedikit. “Jangan mandi (membasuh) salah satu dari kamu dengan air yang tetap, dimana salah seorang dari kamu dalam keadaan junub.” (HR. Muslim)

4. Air Mutanajis, Yaitu air yang terkena najis.

a. Air sedikit (air yang kurang dari dua kulah) yang terkena najis, meskipun tidak berubah rasa, warna atau baunya.
b. Air yang mencapai dua kulah atau lebih. Menurut ukuran Baghdad sekitar 500 kati.

Kalau ukuran kotak : Panjang 1,25 siku, tinggi 1,25 siku, dan lebar 1,25 siku.
Kalau ukuran bulat : Diameter 1 siku, tinggi 2,5 siku.
Kalau ukuran liter, kira-kira 167 liter, dan untuk lebih yakin 200 liter.
“Apabila air itu dua kulah serta tidak mengandung kotoran, maka air itu tidak najis.” (HR. Al Khomsah)

Ilmu Fiqih

Mempelajari ilmu fiqih hukumnya adalah Fardhu ain. Artinya menurut lughowi adalah faham, sedangkan menurut syar’i adalah mengetahui hukum-hukum syara yang tujuh, dasarnya adalah ijtihad. Ketujuh hukum itu adalah :

1. Wajib, suatu perkara kalau dikerjakan mendapat pahala, sedangkan kalau ditinggalkan akan mendapat siksa.
2. Haram, suatu perkara yang kalau dikerjakan akan mendapat siksa, dan kalau tidak dikerjakan tidak mendapat siksa. (mendapat pahala)
3. Sunat, suatu perkara yang kalau dikerjakan mendapat pahala, dan kalau tidak dikerjakan tidak disiksa.
4. Makruh, suatu perkara yang kalau ditinggal mendapat pahala, kalau dikerjakan tidak disiksa.
5. Mubah, suatu perkara yang kalau ditinggal dan dikerjakan tidak diberi pahala dan tidak disiksa.
6. Saheh.
7. Fasid.

Dirangkum oleh Ustadz M. Aas Satibi (pondok pesantren Pulosari Leuwigoong Kab. Garut) dari berbagai macam kitab fikih

Pengertian Najis, Pembagian Najis, Cara Menghilangkan Najis & Adab Buang Air

Najis ialah suatu benda yang kotor menurut syara’, misalnya :

  1. Bangkai, kecuali bangkai manusia, ikan dan belalang.
  2. Darah
  3. Nanah
  4. Segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur
  5. Anjing dan babi
  6. Minuma keras
  7. Bagian anggota badan binatang yang terpisah karena dipotong dan sebagainya selagi masih hidup.

Pembagian Najis

  1. Najis Mughallazhah (berat). Ialah najis anjing dan babi serta seluruh keturunannya.
  2. Najis Mukhaffafah (ringan). Ialah air kencing bayi laki-laki yang belum berumur 2 tahun dan belum pernah makan sesuatu kecuali air susu ibunya.
  3. Najis Mutawassithah (sedang). Ialah semua najis selain dari kedua najis diatas, seperti segala sesuatu ang keluar dari kubul dan dubur manusia dan binatang (kotoran) kecuali air mani, benda cair yang memabukkan, susu hewan yang tidak halal dimakan, nanah, darah, bangkai termasuk juga tulang dan bulunya kecuali bangkai manusia, ikan dan belalang.

Najis Mutawasitthah dibagi 2 :

  • Najis Ainiah. Ialah najis yang berwujud (memiliki warna, aroma dan rasa)
  • Najis Hukmiyah, ialah najis yang tidak memiliki warna, aroma, dan rasa (tinggal hukumnya saja), seperti bekas kencing, arak yang sudah kering, dsb.

Cara Menghilangkan Najis

  1. Najis Mughallazhah (berat). Sesuatu yang terkena najis ini, seperti jilatan atau kotoran anjing dan babi, cara menyucikannya adalah harus dengan menghilangkan benda najisnya terlebih dahulu lalu membasuhnya dengan 7 kali basuhan dan salah satu basuhannya harus dicampur dengan tanah yang suci.
  2. Najis Mukhaffafah (ringan). Cara menyucikannya adalah cukup memercikkan air pada tempat najis itu.
  3. Najis Mutawassithah (sedang). Cara menyucikannya ialah dengan cara dibasuh sekali, asal sifat-sifat najisnya (warna, bau dan rasanya) itu hilang. Adapun dibasuh tiga kali basuhan atau siraman itu lebih baik. Jika najis hukmiyah cara menghilangkannya cukup dengan mengalirkan air saja pada najis tadi.

Najis yang Dimaafkan (Ma’fu)

Najis yang dimaafkan artinya tak usah dibasuh/dicuci. Misalnya najis bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya, darah atau nanah yang sedikit, debu dan air lorong-lorong yang memercik sedikit yang sukar menghindarkannya.

Adapun tikus atau cicak yang jatuh ke dalam minyak atau makanan yang beku, dan ia mati didalamnya, maka minyak atau makanan yang terkena saja yang wajib dibuang, sednagkan yang lain boleh dipakai kembali. Bila makanan atau minyak yang dihinggapinya itu cair, maka semua makanan atau minyak itu hukumnya najis, karena yang demikian itu tidak dapat dibedakan mana yang kena najis dana mana yang tidak.

Istinja

Segala yang keluar dari kubul dan dubur seperti kencing atau buang air besar, wajib disucikan dengan air hingga bersih.

Adab Buang Air

  1. Jangan di tempat terbuka.
  2. Jangan di tempat yang dapat mengganggu orang lain.
  3. Jangan bercakap-cakap kecuali keadaan memaksa.
  4. Kalau terpaksa buang air di tempat terbuka, hendaknya jangan menghadap kiblat.
  5. Jangan membawa atau membaca kalimat Al Quran.