7 Tingkatan nafsu

Nafsu itu ada macam-macam, di bawah ini akan diuraikan mengenai tujuh tingkatan nafsu, yaitu:

Nafsu Ammarah

Tempatnya ada di dada, rangkaiannya adalah kikir, loba terhadap dunia, dengki, bodoh, sombong, syahwat dan marah.

Nafsu Lawwamah

Tempatnya di hati, yaitu di bawah puting payudara kiri kira-kira dua jari. Termasuk nafsu lawwamah ialah senang mencela, senang menipu, mengagumi diri, menuturkan kejelekan orang lain, pamer, aniaya, dusta dan lalai.

Nafsu Mulhimah

Tempatnya adalah ruh di bawah puting payudara yang kanan sekitar dua jari. Termasuk nafsu mulhimah ialah sakhawah (derma), menerima yang ada, aris, merendahkan diri, taubat, sabar, dan tabah menderita.

Nafsu Muthmainnah

Tempatnya dekat dengan puting payudara kiri kira-kira dua jari ke arah dada. Yang termasuk muthmainnah adalah pemurah, tawakal, ibadah, syukur, ridha, dan takut kepada Allah.

Nafsu Radhiyah

Tempatnya pada sirrus air, maksudnya pada kerangka tubuh. Contohnya ialah sosial, zuhud, perwira, riyadlah (berlatih), dan menepati janji.

Nafsu Mardhiyyah

Tempatnya samar, yaitu di dekat susu kanan sekitar dua jari ke arah tengah dada. Yang mengikuti nafsu mardhiyyah ialah perkerti yang baik, meninggalkan selain Allah, mencintai hamba Allah, condong pada hamba Allah untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan watak dan nafsu mereka.

Nafsu Kamilah

Tempatnya lebihs amar yaitu di tengah dada. Yang mengikuti nafsu kamilah ialah ilmu yaqin, ‘ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Inilah Dahsyatnya Akibat Dari Mengikuti Hawa Nafsu

Sayyidina ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata bahwa ada lautan itu ada empat, maksudnya yang luas dan yang mengumpulkan ada empat.

Yang pertama adalah hawa merupakan lautannya dosa, yaitu condongnya nafsu terhadap macam-macam keinginannya.

Yang kedua adalah nafsu merupakan lautannya macam-macam syahwat, maksudnya nafsu yang memerintah sering condong ke tabi’at perkara badan. Dan yang sering memberi perintah kepada yang enak-enak, itu yang mengumpulkan geraknya nafsu. Nafsu itu adalah tempatnya macam-macam keburukan, dan menjadi sumber akhlaq-akhlaq yang tercela.

Ketiga, mati itu adalah lautannya umur (usia), maksudnya mati itu yang mengumpulkan umur-umur. Dan dalam satu nuskhah bahrul a’mal, bahwa itu adalah lautan amal-amal. Maka nuskhah itu seperti perkataan sebagian ulama, “Mati itu petinya (lumbungnya) amal.”

Keempat, pekuburan adalah lautannya kenelangsaan, maksudnya alam barzakh yang memisahkan antara alam dunia dengan alam akhirat.  Yang mengumpulkan macam-macam kebingungan, yang pada mengharapkan orang-orang itu agar kebingungannya tidak terjadi.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Keutamaan Menjadikan Akal Sebagai Pemimpin, Bukan Hawa Nafsu

Menurut keterangan dari para ulama, bahwa sebenar-benarnya kebaikan yang banyak itu adalah bagi orang-orang yang akalnya jadi pemimpin bagi dirinya. Keadaan orang tersebut sering mengikuti (menuruti) tujuan akal yang sempurna.

Dirinya condong terhadap perkara yang diinginkan hawa nafsu, sambil tidak ada ajakan syara’. Maksudnya adalah nafsunya itu bisa dikendalikan serta bisa dicegah dari keinginannya yang jelek (buruk) menurut syara’.

Sedangkan keruksakan yang sangat (fatal) itu adalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pimpinan (dipimpin oleh hawa nafsu). Keadaan orang tersebut adalah membebaskan hawa nafsunya seperti yang diinginkan oleh nafsu tersebut. Akalnya menjadi boyongan (tawanan), sehingga tidak bisa bergerak dan tidak bisa ngatur terhadap dirinya. Dirinya dicegah dari berfikir tentang kenikmatan-kenikmatan Allah, dan dari keagungannya Allah.

Perbedaan antara manusia dengan hewan adalah kalau manusia mempunyai akal, sedangkan hewan tidak memilikinya. Nah, hal inilah perbedaan terbesar dan paling signifikan diantara keduanya.

Manusia adalah makhluk Allah paling sempurna, manusia diberikan akal agar dapat membedakan baik dan buruk, untuk bisa berfikir, agar dapat melihat dan mentafakuri keagungan Allah, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, umat muslim khususnya dan manusia pada umumnya harus bisa mempergunakan akal dengan semaksimal mungkin. Artinya menggunakan akal tersebut untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan mencari keridhaan Allah swt.

Janganlah kita terperdaya oleh hawa nafsu, mengikuti segala keinginannya, bahkan tidak peduli benar dan salah, yang penting dirinya dan hawa nafsunya puas. Walaupun itu tidak baik untuk dirinya dan dilarang oleh agama. apabila kita berlaku seperti ini, maka kita akan termasuk ke dalam orang yang rugi di dunia bahkan nanti di akhirat.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Hikmah dan Tujuan Dari Memerangi Hawa Nafsu

Di bawah ini akan dijelaskan berangkatnya orang ahli suluk menuju Allah swt. Nah berangkatnya menuju Allah adalah musyahadah memerangi hawa nafsu.

Maksudnya adalah menyingkirkan segala rintangan dan adat kebiasaan yang buruk, yang ada di dalam hati, yang menghalangi dari sampainya kepada Allah swt.

Maka hatinya orang yang menuju Allah swt itu tidak akan bisa bercahaya, kecuali setelah mengalahkan hawa nafsunya.

Termasuk kedalam nikmat yang begitu besar, ketika kita sudah terbebas dari tipu daya hawa nafsu. Di dalam kitab hidayatul azkia, Imam Zainudin berkata seperti ini: “Orang yang diam di suatu thariqat, sambil awalnya tidak dibarengi dengan mujahadatin nafsi, itu (dia) tidak akan ketemu (menemui) dengan thariqatnya. Begitu juga ingin ma’rifat kepada Allah swt, yang lebih tingi pangkatnya, dengan ma’rifat yang tentu (pasti).”

Musyahadah biasanya kalau tanpa mujahadah tidak akan sampai.

Yang disebut mujahadatun nafsi adalah membersihkan diri dari kotoran hawa nafsu, dan juga menghiasi dengan keutamaan seperti cahaya.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa sebenar-benarnya Allah swt membuat lapangan untuk memerangi hawa nafsu, yaitu untuk berangkatnya orang-orang menuju kepada-Nya. Maksudnya berangkat memerangi hawa nafsu. Kalau bisa mengalahkan hawa nafsu, tentu hatinya akan bercahaya, terus bisa musyahadah kepada Allah.

Dan kenapa berangkat menuju Allah itu dengan memerangi hawa nafsu, karena tidak ada jarak antara kita dengan Allah yang bisa ditempuh dengan kendaraan. Dan tidak ada putus antara kita dengan Allah yang bisa ditemui oleh manusia.

Imam Hatimul Asham berkata: “siapa saja orang yang akan masuk ke dalam golonganku, maka harus bisa membunuh hawa nafsu empat kali. 1) mati yang merah yaitu dengan menahan hawa nafsu. 2) mati yang hitam yaitu harus sabar dan tabah dalam menghadapi gangguan orang yang mengganggu. 3) mati yang putih yaitu nahan lapar. 4) mati yang hijau yaitu harus berani memakai pakaian yang jelek, menjauhi pakaian yang bisa membawa ke takabur.”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus tiga puluh empat)

Cara Untuk Mengobati Hawa Nafsu dan Hawa Al Qalbi

Menempelnya rasa manisnya kesukaan yang muncul dari dalam hati merupakan penyakit yang bandel, yang sulit untuk diobati. Perlu diketahui bahwa rasa manisnya kesukaan (keinginan) terbagi kedalam dua bagian:

  1. Kesukaan nafsu (hawa nafsu), baliknya ke macam-macam syahwat. Dari jasmani misalnya suka terhadap makanan, minuman, pakaian, kendaraan, perkawinan, perumahan.
  2. Kesukaan hati (hawa al qalbi), yaitu syahwat ma’nawi. Seperti suka terhadap keagungan, suka menjadi pemimpin, suka pangkat yang mulya, suka dipuji, suka keistimewaan dan kemewahan, atau suka terhadap karomah.

Mengobati kesukaan yang muncul dari hawa nafsu itu dekat atau lebih mudah, yaitu dengan cara menjauhi tempatnya, atau bergaul dengan orang-orang pilihan Allah (shaleh). Sedangkan yang muncul dari dalam hati, ketika sudah menempel akan sulit mengobatinya, sehingga para dokter tidak mampu mengobatinya. Maka tidak akan bisa diobati dan tidak akan bisa dikeluarkan syahwatnya, kecuali dengan didatangin ketakutan yang luar biasa dan menggoncangkan.

Kesukaan (rasa suka) yang perlu diobati yaitu yang dapat menghalangi cinta kepada Allah swt. Karena orang yang mencintai suatu perkara biasanya akan menjadi budaknya perkara tersebut, dan Allah tidak menyukai ‘abdi yang menjadi budak selain kepada diri-Nya.

Dan kesukaan (rasa suka) yang tidak perlu diobati yaitu yang semata-mata karena Allah, maka hal ini tidak termasuk penyakit dan tidak perlu dihilangkan.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus sembilan puluh tiga)