Hadhanah atau mengasuh anak

Yang berhak melakukan hadhanah

Orang yang paling berhak melakukan hadhanah, yakni mengasuh anak yang belum dapat mengatur dirinya sendiri hingga mencapai usia tamyiz, adalah ibu dari anak yang bersangkutan selagi si ibu belum kawin dengan lelaki lain. kemudian nenek si bayi dan seterusnya sampai ke yang lebih tinggi lagi (uyut). Sesudah itu baru ayah si bayi, lalu nenek dari pihak ayah, lalu saudara perempuan, lalu bibi dari pihak ibu, lalu anak perempuan saudara perempuan, lalu anak perempuan saudara laki-laki, kemudian paman.

Anak yang telah mencapai usia tamyiz jika kedua orang tuanya bercerai, maka anak tersebut dipersilakan memilih untuk tinggal dengan salah seorang di antara kedua orang tuanya.

Ayah dapat melarang anak perempuannya berkunjung kepada ibunya

Bagi ayah yang terpilih, boleh melarang anak perempuannya, bukan anak laki-lakinya, melakukan kunjungan kepada ibu si anak. Akan tetapi, si ibu tidak boleh dilarang mengunjungi anaknya menurut ukuran yang berlaku pada tradisi (misalnya seminggu sekali).

Ibu si anak lebih berhak merawat kedua anaknya yang berada di rumah ayah si anak, jika si ayah rela. Tetapi jika si ayah tidak rela, maka si anak dirawat di rumah ibunya.

Status ibu bila dipilih oleh anak lelakinya atau oleh anak perempuannya

Jika si ibu dipilih oleh anak laki-lakinya yang telah mumayyiz, maka anak laki-laki itu tinggal bersama ibunya di malam hari, sedangkan di siang hari ia bersama ayahnya. Tetapi jika si ibu dipilih oleh anak perempuannya, maka anak perempuan itu tetap bersama ibu untuk selamanya, sedangkan si ayah hanya mengunjunginya saja sesuai dengan ketentuan tradisi yang berlaku, dan si ayah tidak boleh meminta agar anak perempuannya itu didatangkan ke rumahnya.

Anak tidak mau memilih di antara keduanya

Kemudian jika ternyata si anak tidak mau memilih salah seorang di antara keduanya yang telah bercerai, maka yang lebih utama untuk tinggal bersama si anak adalah ibu.

Kedua orang tua tidak berhak menyapih bayinya sebelum mencapai usia dua tahun

Tiada hak bagi salah seorang dari kedua orang tua si bayi menyapihnya sebelum si bayi berusia dua tahun tanpa adanya kerelaan dari pihak yang lain. keduanya diperbolehkan menyapih anaknya sebelum si anak mencapai usia dua tahun, jika hal ini tidak membahayakan. Setelah berusia dua tahun, salah seorang dari keduanya diperbolehkan menyapih.

Keduanya diperbolehkan menambah masa penyusuan lebih dari dua tahun jika tidak membahayakan si anak. Akan tetapi, Al-Hanathi telah memberikan fatwa bahwa disunatkan tidak menambah masa penyusuan lebih dari dua tahun kecuali jika benar-benar diperlukan.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Ibu wajib menyusukan anaknya

Diwajibkan bagi seorang ibu menyusukan anaknya dengan air susu laba, yaitu air susu pada permulaan melahirkan anak, masa air susu laba ini cukup singkat. Menurut suatu pendapat, waktunya diperkirakan hanya tiga hari, dan menurut pendapat yang lain 7 hari.

Setelah itu jika si istri tidak mempunyai seorang wanita pun untuk menyusukan anaknya kecuali hanya dia sendiri atau wanita lain, maka anaknya wajib disusukan oleh wanita mana pun yang dijumpai (mau menyusukannya, sekalipun oleh si ibu sendiri). Si ibu boleh meminta nafkah (biaya menyusukan) dari lelaki yang menanggung nafkah bayi tersebut.

Apabila kedua perempuan yang disebutkan di atas kedua-duanya ada, maka si ibu bayi tidak boleh dipaksa untuk menyusui bayinya, tanpa memandang apakah si ibu menjanda atau masih dalam ikatan perkawinan dengan ayah si bayi.

Jika ibu si bayi ingin menyusui bayinya, maka ayah si bayi tidak berhak melarang, kecuali jika dia meminta upah lebih dari upah pasaran.

Suami wajib membayar upah kepada istri yang sedang menyusui bayinya

Ayah si bayi diwajibkan membayar upah yang sepantasnya kepada ibu si bayi untuk menyusui bayinya, jika tidak didapati wanita yang suka rela mau menyusukannya. Disamakan dengan wanita yang suka rela yaitu wanita yang rela mendapat upah di bawah yang diingini oleh ibu si bayi.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Nafkah anak yang belum balig ditanggung oleh orang tuanya

Barang siapa yang mempunyai yah dan ibu, maka nafkahnya (anak) ditanggung oleh si ayah. Menurut suatu pendapat, nafkah dibebankan kepada keduanya (ayah dan ibu), sekalipun anak yang bersangkutan telah balig.

Barang siapa yang mempunyai ayah dan anak, maka nafkahnya ditanggung oleh anak dan keturunannya hingga ke bawah. (yakni jika orang yang bersangkutan dan ayahnya tidak mampu menafkahi dirinya sendiri).

Atau seseorang mempunyai banyak orang yang perlu ia nafkahi, yaitu terdiri atas orang-orang tua dan anak cucunya, sedangkan dia tidak mampu mencukupi mereka semua, maka hendaklah ia mendahulukan dirinya sendiri, kemudian istrinya, sekalipun ia memiliki istri banyak (lebih dari seorang), lalu kerabat yang paling dekat, kemudian yang dekat (demikian seterusnya).

Akan tetapi, seandainya seseorang mempunyai ayah dan ibu serta seorang anak lelaki yang harus ia nafkahi, hendaklah ia mendahulukan anaknya yang masih kecil, kemudian ibu, lalu ayah, dan selanjutnya anak yang sudah dewasa.

Demikianlah penjelasan dari kami mengenai nafkah untuk anak-anak yang belum balig. Semoga uraian singkat di atas memberikan manfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu, semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu berada dalam lindungan Allah swt dan selalu dalam keridhaan-Nya, amin.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Suami hilang sebelum melakukan tamkin (menyetubuhi istrinya)

Seandainya seorang suami hilang sebelum dia melakukan tamkin (menyetubuhi istrinya yang menyerahkan diri dengan sepenuhnya), menurut pendapat para ulama secara pengertian lahiriahnya tidak boleh fasakh.

Menurut mazhab Imam Maliki, tidak ada bedanya antara istri yang telah di-tamkin dan yang belum di-tamkin, jika nafkah sulit didapat dan masa penunggguan berita suami sudah terlalu lama. Masa penungguan berita suami menurut mazhab Maliki maksimal satu bulan, untuk menyelidiki apakah si suami masih hidup atau tidak. jika telah lewat masa satu bulan, pihak istri boleh mengajukan fasakh.

Nafkah untuk orang tua dan anak

Diwajibkan atas orang kaya laki-laki dan perempuan, sekalipun kekayaannya itu dari hasil kerja sendiri yang sesuai dengan kedudukannya, bila mempunyai kelebihan dari kebutuhan dirinya dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya dalam sehari semalam, sekalipun masih belum lebih jika utangnya diperhitungkan. Yaitu menanggung nafkah dan pakaian serta laukpauk dan obat-obatan buat orang tuanya hingga yang lebih tinggi dari orang tuanya, baik laki-laki ataupun perempuan (kakek dan nenek); dan juga buat anak-anaknya hingga lebih bawah dari anak-anaknya (cucu-cucunya), baik yang laki-laki maupun perempuan, jika memang kedua kelompok tersebut tidak memilikinya tanpa memandang kepada perbedaan agamayang ada.

Akan tetapi, nafkah tidak diwajibkan jika salah seorang dari keduanya kafir harbi atau orang murtad.

Di dalam kitab Al Irsyad dijelaskan, bahwa tidak wajib memberikan kelebihan nafkah jika orang yang wajib diberinya itu adalah seorang pezina muhshan atau meninggalkan shalat.

Di dalam Syarhul Minhaj dijelaskan, bahwa tidak wajib memberi nafkah kepadaanak jika dia telah mencapai usia balig tetapi tidak mau bekerja, padahal pekerjaan tersebut sesuai dengannya.

Kewajiban yang disebutkan di atastidak terpengaruh oleh kemampuan ibu atau anak perempuan untuk nikah, tetapi nafkah menjadi gugur begitu ia melakukan akad nikah. Akan tetapi, masalah ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat si suami baru memberikan nafkah bila telah tamkin.

Nafkah menjadi gugur sekalipun si suami dalam keadaan miskin, selagi istri yang bersangkutan tidak mengajukan fasakh.

Nafkah buat kaum kerabat yang terlewatkan bukan menjadi utang yang dibebankan kepada lelaki yang bersangkutan, kecuali jika kadi mengutangkan nafkah tersebut karena si pemberi nafkah sedang tidak ada di tempat, atau karena si pemberi nafkah menolak memberikan nafkah. Akan tetapi, tidak menjadi utang yang dibebankan kepada si pemberi nafkah bila si kadi sendiri yang mengizinkan utang tersebut.

Seandainya seorang suami atau seorang kerabat tidak mau memberikan nafkah, maka orang yang berhak boleh mengambilnya sekalipun tanpa izin dari kadi.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Istri mempunyai piutang kepada suaminya

Apabila seorang istri mempunyai piutang kepada suami yang tidak ada di tempat, sedangkan waktu pembayarannya telah tiba, yaitu piutang dari maskawin atau piutang lainnya, sedangkan di tangan si istri terdapat sejumlah harta milik suami sebagai titipan, maka bolehkah si istri dengan bebas menagih utangnya dengan mengambil sebagian dari harta titipan suami yang ada di tangannya tanpa melaporkan kepada kadi (hakim), kemudian ia memfasakh nikahnya, ataukah hal tersebut tidak boleh ia lakukan?

Salah seorang ulama menjawab bahwa istri tidak boleh bertindak sendiri dengan bebas dalam mengambil haknya, melainkan ia harus melaporkan perkaranya kepada kadi, karena keputusan untuk mengambil harta orang yang tidak ada di tempat berada di tangan kadi.

Memang dibenarkan jika si istri mengetahui bahwa si kadi tidak akan mengizinkannya kecuali sesuatu yang pernah diutang oleh suami darinya, si istri diperbolehkan mengambil sesuatu itu dengan bebas (tanpa melalui kadi lagi).

Demikianlah penjelasan dari kami tentang permasalahan yang berkaitan dengan si istri mempunyai piutang kepada suaminya, atau dengan kata lain si suami belum membayar utangnya (maskawin) kepada istrinya, sedangkan dirinya tidak ada di tempat.

Semoga penjelasan singkat kami di atas, dapat memberikan manfaat bagi kita semua di dunia dan di akhirat. Serta semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah swt dan ada dalam keridaan-Nya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani