Hukum nadzar orang yang berhutang dengan harta yang ditentukan

Ada ulama yang berbeda pendapat tentang nadzar orang yang berutang dengan harta yang ditentukan untuk orang yang mengutangkannya, selama utang itu dalam tanggungannya (belum dibayar). Mereka berpendapat tidak sah, sebab menurut mereka cara ini bukan dimaksudkan karena Allah. bahkan cara ini mengakibatkan riba nasiah (yaitu mensyaratkan waktu pada salah satu ‘iwad atau penukaran).’

Sebagian lagi berkata, “Sah nadzarnya, sebab sebagai imbalan atas datangnya nikmat keuntungan pinjaman kalau piutangnya dipakai berdagang.”

Atau dalam nadzar itu mengandung penolakan aniaya penagihan (agar jangan cepat ditagih). Kalau yang nadzar membutuhkan tetapnya utang itu pada tanggungannya karena merasa kesulitan (mengembalikannya) atau karena dipakai memberi nafkah (kepada keluarganya) dan karena yang berutang disunatkan agar mengembalikan utangnya dengan tambahan dari piutangnya.

Maka apabila menetapkan tambahan itu dengan nadzar (dari yang berutang), sah nadzarnya dan wajib baginya tambahan itu. Yang demikian itu merupakan imbalan kebaikan, tidak berhubungan dengan riba, sebab riba itu tidak terbukti kecuali dalam akad seperti jual beli. Karena itu, kalau orang mensyaratkan kepada orang yang berutang agar nadzar pada akad pinjaman, adalah riba.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Hukum Nadzar Membaca Al Quran dan Bersedekah

Tidak mencukupi pula membaca surat Al Ikhlas apabila bernadzar membaca sepertiga dari Quran (walaupun ada hadis yang menerangkan bahwa membaca surat Al Ikhlas sama dengan membaca sepertiga isi Al Qur’an).

Barang siapa yang nadzar akan mendatangi seluruh masjid dan salat sunat padanya, ia boleh salat semaunya walaupun di rumahnya (sebab dengan demikian, dianggap mencukupi dari salat yang dinadzarkan). Kalau nadzar bersedekah satu dirham, tidak mencukupi (bila diganti) dengan jenis uang yang lainnya.

Kalau nadzar bersedekah dengan harta yang disertai zatnya, maka harta itu hilang dari miliknya. Kalau berkata “saya berkewajiban sedekah dengan 20 dinar”, serta ia menentukan akan dinarnya kepada si fulan; atau berkata “kalau sembuh sakitku, maka aku wajib bersedekah kepada si fulan 20 dinar”, maka dimiliki si fulan lah uang itu walaupun ia belum menerimanya dan orang yang bernadzar itu belum menyerahkannya. Bahkan kalau si fulan menolaknya, maka orang yang bernadzar itu berhak menggunakan uang tersebut.

Haul zakat uang itu sah sejak dari nadzarnya, dan demikian pula (memiliki yang diberi nadzarnya) kalau orang itu tidak menentukan uangnya dan yang diberi nadzar tidak menolak uangnya, maka uang itu menjadi utang yang menadzarkan.

Tetap berlaku hukum utang bagi 20 dinar itu dari kewajiban zakat dan selainnya. Katika barang yang ditentukan itu rusak, maka tidkaa wajib menggantinya, kecuali kalau ia lalai mengurusnya, menurut penjelasan Ibnu Hajar.

Kalau nadzar akan memakmurkan masjid yang tertentu atau pada tempat tertentu, maka ia tidak boleh memakmurkan yang lainnya sebagai pengganti dari masjid yang ditentukan dan tidak boleh di tempat lain yang tidak ditentukan.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Keutamaan Memelihara Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha

Terjadi pada sebagian orang awam, katanya “saya jadikan ini untuk Nabi saw” maka sah perkataan itu, sebab sudah masyhur menurut adat mereka untuk nadzar dan dipergunakan untuk kemaslahatan makam Nabi (keturunan Nabi saw).

Bernadzar untuk Memelihara Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha

Syeikh Subki berkata “Yang mendekati kebenaran adalah untuk memelihara Ka’bah, hujrah yang mulia (makam Nabi saw), dan masjid yang tiga (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha).”

Sesungguhnya orang yang mengeluarkan sesuatu dari hartanya untuk ketiga macam tersebut secara nadzar dan adat menuntut penggunaannya pada jalan tersebut, maka gunakanlah untuk itu (seperti memelihara bangunan, memasang lampu, memasang kiswah atau gorden, dan perbaikan).

Ibnu Hajar berkata “Kalau adat tidak menuntut akan sesuatu (sebab belum biasa dan sebagainya), maka yang berlaku sesungguhnya nadzar itu kembali pada penentuan menggunakannya atas pemikiran pengurusnya.”

Ibnu Hajar pun berkata “Jelas, bahwa seperti itulah hukum dalam menggunakan barang penadzaran untuk masjid selain masjid yang tiga (bergantung adat atau maksud pengurus, bila tidak ada ketentuan).”

Sebagian ulama memberikan fatwa tentang perkataan “Kalau Allah memenuhi hajatku, maka saya akan membiayai Ka’bah sebanyak sekian.” Maka nadzarnya itu tertentu untuk kemaslahatan Ka’bah, jangan diberikan kepada para fakir Tanah Haram.

Kalau orang bernadzar sesuatu untuk Ka’bah dan berniat menggunakannya untuk ibadah tertentu, seperti memasang lampu, maka penggunaannya pada ibadah tertentu itu kalau memang dibutuhkan. Kalau tidak dibutuhkan karena sudah cukup, maka barang itu boleh dijual, lalu uangnya dipergunakan untuk kemaslahatan Ka’bah.

Kalau orang bernadzar memasang lampu, misalnya lilin atau minyak di masjid, maka sah kalau di sana ada yang memanfaatkannya walaupun jaran, kalau tidak ada, maka tidak sah (sebab menyia-nyiakan harta).

Kalau orang bernadzar menghadiahkan barang yang perlu dipindahkan ke Mekah, maka ia wajib memindahkannya dan bersedekah dengan barang itu kepada kafir Tanah Haram, selama orang itu tidak menentukan ibadah lain, misalnya mengharumkan Ka’bah, maka gunakanlah untuk itu.

Kewajiban nadzir mengongkosi hadiah yang ditentukan itu ke Tanah Haram. Kalau sekiranya sukar bagi nadzir, ia boleh menjual sebagian barangnya itu untuk ongkos memindahkan sebagiannya lagi.

Kalau sukar memindahkannya, seperti nadzar dengan pekarangan atau batu penggilingan, maka juallah barang itu walaupun tanpa izin hakim dan memindahkan uang harganya lalu ia menyedekahkannya kepada para fakir Tanah Haram.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Contoh Perkataan Yang Tidak Termasuk Nadzar

Tidak termasuk nadzar, perkataan “Kapan saja berhasil bagiku perkara ……. maka aku akan datang padamu membawa sesuatu,” selama orang itu tidak menyertakan ucapan kewajiban atau nadzar.

Banyak ulama memberi fatwa mengenai dua orang yang bermaksud berjual beli, lalu mereka bersepakat akan saling nadzar dengan hartanya masing-masing, lalu mereka mengerjakannya, maka sah walaupun yang nadzar pertama menambahkan kalimat, “Kalau kamu bernadzar untukku dengan hartamu.” Pekerjaan semacam itu banyak terjadi pada barang yang tidak sah menjualnya dan sah nadzarnya.

Orang yang diberi nadzar, sah membebaskan barang yang dinadzarkannya bagi yang bernadzar (semisal utang piutang).

Qadhi ‘Iyadh berkata “Tidak disyaratkan bernadzar mengetahui apa yang ia nadzarkan, seperti: seperlima barang yang keluar dari hasil tanaman, semua anak yang akan lahir dari umatku (bukan wanitaku), buah pohonku yang ini.”

Qadhi pun menerangkan bahwa tidak wajib zakat dari seperlima yang dinadzarkan. Selain dari Qadhi berkata “tempatnya nadzar itu bila sebelum buahnya keras (matang)”.

Hukum bernadzar bagi janin dan orang yang sudah mati

Sah bernadzar untuk janin, demikian pula halnya dengan berwasiat baginya, bahkan nadzar lebih baik dari wasiat.

Tidak sah bernadzar untuk mayat, kecuali untuk keperluan makam Syeikh fulan (anu) ….. dan maksudnya untuk taqarrub dengan nadzarnya di situ, seperti memasang lampu untuk dimanfaatkan, atau ada kebiasaan yang berlaku (memperbaiki kuburan), maka pantaslah nadzar itu.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Bolehkah Bernadzar Untuk Orang Tua dan Anak

Nadzar merupakan perkataan yang diucapkan oleh seseorang untuk mengerjakan sesuatu hal pada saat tertentu, keadaan tertentu, dan lain sebagainya.

Sah bernadzar dengan barang  yang masih dalam jaminan yang berutang kepadanya, walaupun tidak diketahui. Maka bebaslah kewajiban yang meminjam itu seketika walaupun dia tidak menerimanya. Hal ini berbeda dengan pendapat Syeikh Bulquni.

Kalau bernadzar untuk selain dari salah seorang kedua orang tua atau anak-anaknya dari ahli warisnya dengan hartanya sehari sebelum dia sakit yang diakhiri dengan matinya, maka orang yang dinadzarinya memiliki seluruh yang dinadzarkannya tanpa berserikat dengan orang lain, sebab hak milik yang bernadzar sudah hilang dari harta tersebut.

Keterangan:

  1. Tidak sah bernadzar untuk orang tuanya.
  2. Tidak sah bernadzar untuk anak.
  3. Bernadzar ketika sakit yang menimbulkan kematian, jangan melebihi sepertiga harta, sebagaimana halnya wasiat.

Orang tua tidak boleh mencabut kembali nadzarnya untuk seluruh anaknya (kalau bernadzar untuk salah seorang anak, tidak boleh). Sah nadzar yang ditangguhkan, seperti “Jika aku sakit, maka barang yang dinadzarkan itu milik yang aku beri sehari sebelum aku sakit.”

Orang yang bernadzar itu boleh menggunakan barangnya sebelum tiba waktu yang dinadzarkannya.

Demikianlah penjelasn dari kami, semoga penjelasan di atas dapat bermanfaat bagi kita semua di dunia dan di akhirat. Serta semoga kita semua selalu berada dalam lindaungan dan keridaan Allah swt.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani