Dialog Nabi Muhammad Dengan Iblis

Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pernah Nabi Muhammad saw keluar dari masjid pada suatu hari. Tiba-tiba beliau melihat Iblis. Kemudian Nabi bersabda, ‘Apa yang membuatmu datang ke depan pintu masjidku?’ Iblis menjawab, ‘Ya Muhammad, Allah yang membuatku datang kemari.’ Nabi bersabda, ‘Untuk apa?’ Iblis berkata, ‘Supaya engkau dapat bertanya kepadaku mengenai apa saja yang engkau suka.’

Yang pertama di tanyakan Nabi adalah shalat, ‘Hai Iblis, mengapa engkau menghalangi ummatku untuk mengerjakan shalat berjamaah?’ Iblis menjawab, ‘Ya Muhammad, apabila ummatmu keluar untuk shalat maka demam yang sangat panan menimpaku, lalu demam itu tidak akan hilang sehingga mereka telah berpisah.’

Nabi Muhammad bertanya, ‘Hai Iblis, mengapa engkau menghalangi ummatku untuk membaca Al Qur’an?’ Iblis menjawab, ‘Ketika mereka membaca aku akan hancur seperti timah mencair.’

Nabi Muhammad bertanya, ‘Hai Iblis, mengapa engkau menghalangi ummatku untuk berjihad?’ Iblis menjawab, ‘Apabila mereka keluar untuk berjihad maka terikatlah aku dengan sebuah ikatan pada kakiku, sehingga mereka kembali.’

Nabi Muhammad bertanya, ‘Mengapa engkau menghalangi ummatku untuk beribadah haji?’ Iblis menjawab, ‘Apabila mereka keluar untuk beribadah haji maka aku dirantai dan dibelenggu, dan apabila mereka bermaksud akan bersedekah maka diletakkanlah gergaji pada kepalaku, maka gergaji itu menggergaji aku seperti kayu yang sedang digergaji.’

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kisah Nabi Muhammad Yang Menolong Orang Yang Teraniaya

Sebagai umat muslim, kita dilarang untuk berbuat aniaya atau dzalim kepada orang lain. karena seperti kita ketahui, bahwa doa orang yang teraniaya pasti dikabulkan Allah. bahkan ada sebuah kisah mengenai Nabi Muhammad yang menolong orang teraniaya, walaupun orang yang ditolongnya bukan beragama islam.

Dikisahkan dari Bilal, dia mengatakan bahwa, “Kami pernah bersama Rasulullah saw di rumah Abu Bakar di Mekah. Diketuklah pintu dari luar, aku keluar dan ternyata seorang laki-laki Nashrani. Dia bertanya, ‘Adakah Muhammad bin Abdullah disini?’ maka aku menyuruh masuk.

Berkatalah dia, ‘Hai Muhammad, engkau mengira bahawa dirimu adalah Rasul Allah. jika memang benar engkau Rasul Allah dengan haq, tolonglah aku menghadapi orang yang berbuat dzalim kepadaku.’

Nabi Muhammad bersabda, ‘Siapakah orang yang telah berbuat dzalim kepadamu?’ dia menjawab, ‘Abu Jabal bin Hisyam, dia telah mengambil hartaku.’

Berdirilah Nabi Muhammad, sedang pada waktu itu adalah tengah hari. Maka orang yang hadir berkata, ‘Ya Rasulullah, Abu Jahal sedang tidur qailulah (istirahat siang). Tentu hal itu kan terasa berat baginya dan kami mengkhawatirkan kalau dia marah kepadamu dan menyakitimu.’

Tetapi beliau tidak mau memperhatikan kata-kata kami. Pergilah beliua kepada Abu Jahal dan beliau mengetuk pintu pada Abu Jahal dengan marh. Maka keluarlah Abu Jahal dengan marah pula. Ternyata yang datang adalah Rasulullah yang sedang berdiri. Berkatalah dia, ‘Masuklha, hendaklah engkau mengutus seorang utusan kepadaku, tentu aku akan datang kepadamu.’

Nabi Muhammad bersabda, ‘Engkau telah merampas harta orang Nashrani ini, kembalikanla harta itu kepadanya.’ Abu Jahal menjawab, ‘Apakah untuk keperluan ini engkau datang? Seandainya engkau mengutus seseorang kepadaku tentu akupun akan mengembalikannya.’

Nabi Muhammad bersabda, ‘Janganlah engkau panjang lebar, tetapi kembalikanlah hartanya kepadanya.’ Berkatalah Abu Jahal kepada pelayannya, ‘Keluarkanlah apa yang telah aku ambil dari Nashrani ini dan kembalikanlah kepadanya.’

Nabi Muhammad bertanya kepada Nashrani, ‘Hai laki-laki, apakah telah sampai kepadamu seluruh hartamu?’ nashrani berkata, ‘Ya, kecuali sebuah keranjang.’ Nabi Muhammad berkata kepada Abu Jahal, ‘Keluarkanlah keranjang itu.’ Abu Jahal lalu mencarinya ke dalam rumahnya tetapi dia tidak menemukannya. Lalu Abu Jahal menyerahkan keranjang yang lebih bagus sebagai gantinya.

Istri Abu Jahal berkata, ‘Demi Allah, engkau benar-benar telah merendahkan diri kepada anak yatim Abu Thalin dengan sepenuh kerendahan dan kehinaan.’ Berkatalah Abu Jahal, ‘Seandainya engkau melihat apa yang aku lihat tentu engkau tidak berkata demikian.’ Istrinya bertanya, ‘Apa yang engkau lihat?’ Abu Jahal menjawab, ‘Jangan engkau cemarkan aku dei hadapan kaumku. Aku melihat di atas kedua pundaknya ada dua ekor srigala, setiap aku mengatakan tidak akan aku serahkan, kedaunya hampir menerkamku, karena itulah aku merendahkan diri.’

Bilal berkata, “setelah Nashrani itu melihat apayang telah dilihatnya mengenai sikap Abu Jahal, berkatalah dia, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasulullah dan agamamu adalah agama yang benar.’ Masuklah dia ke dalam agama islam berkat menolong orang yang dianiaya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad

Nabi Muhammad melakukan Isra Mi’raj berkat kekuasaan Allah. Nabi Muhammad di isra’ kan dari Mekah ke Masjidil Aqsha di Palestina, dan Mi’raj dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.

Nabi Muhammad bersabda, “Aku telah melihat pada malam Mi’raj di belakang gunung Qaaf sebuh kota yang penuh manusia. Ketika mereka melihatku mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memperlihatkan kami pada wajahmu wahai Nabi Muhammad.’ Mereka lalu beriman kepadaku dan aku mengajarkan syari’at kepada mereka. Setelah itu aku bertanya pada mereka, ‘Siapakah kamu ini?’ mereka menjawab, ‘Wahai Nabi Muhammad, kami adalah sekelompoj manusia dari Bani Israil. Ketika Nabi Musa wafat terjadilah pertentangan di antara kaum Bani Israil dan muncullah kerusakan. Mereka membunuh 43 orang Nabi dalam sesaat saja. Setelah terbunuhnya para Nabi itu muncul dua ratus orang ahli ibadah yang zuhud. Mereka memerintahkan manusia untuk berbuat ma’ruf dan melarang dari yang munkar. Tetapi pada hari itu juga kaum Bani Israil membubuh mereka semua. Maka terjadilah kerusakan hebat diantara mereka, sedang kami keluar dari mereka dan pergi ke suatu pantai. Kami berdoa kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya, tiba-tiba bumi tempat kami berpijak pecah dan kami terperosok ke dalamnya. Kami berada di bawah tanah selama 18 bulan, setelah itu barulah kami dapat keluar ke tempat ini. Nabi Musa berpesan kepada kami, ‘Apabila seorang dari kamu melihat wajah Nabi Muhammad, Nabi akhir masa, bacakan salamku padanya.’

Mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memperlihatkan kami pada wajahmu, maka ajarkanlah kepada kami.” Lalu Nabi mengajarkan pada mereka Al Qur’an, shalat, puasa, menghadiri shalat jumat dan semua hukum.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Pengertian Sunnah Nabi Muhammad

Nabi Muhammad merupakan contoh dan teladan bagi seluruh umat manusia. Beliau adalah Nabi dan Rasul Allah, sehingga setiap orang harus mengimani agama yang dibawa beliau dan terus istiqamah di dalam agama islam.

Setiap umat islam haruslah mencontoh dan meniru sikap dan perilaku hidup Rasulullah, atau dengan kata lain harus menjadikan hadis yang berasal dari beliau sebagai tuntunan hidup, selain tentu saja berpedoman juga kepada Al Qur’an.

Sunnah Nabi Muhammad meliputi sikap hidup sehari-hari, perkataannya yang patut dijadikan contoh, ibadahnya, dan lain-lain

Nabi Muhammad bersabda, “Tetaplah pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.”

Nabi Muhammad bersabda, “Sungguh akan datang pada manusia sebuah masa yang di dalamnya sunnahku akan usang seperti pakaian usang di badan, dan bermunculanlah bid’ah. Maka barang siapa yang mengikuti sunnahku pada hari itu jadilah dia terasing dan hidup menyendiri. Dan barang siapa yang mengikuti bid’ah para manusia maka dia akan menemukan lima puluh orang teman atau bahkan lebih.

Mereka bertanya, ‘Apakah ada seseorang yang lebih utama daripada kami?’ Beliau bersabda, ‘Ya, ada.’ Mereka bertanya, ‘Mereka melihatmu juga ya Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Tidak.’ mereka bertanya lagi, ‘Apakah wahyu juga turun pada mereka?’ beliau bersabda, ‘Tidak.’ mereka bertanya, ‘Bagaimana keadaan mereka pada waktu itu?’ beliau bersabda, ‘Seperti garam dalam air, hati mereka hancur seperti hancurnya garam dalam air.’ Mereka bertanya, ‘Bagaimana mereka hidup di masa itu?’ beliau bersabda, ‘Seperti ulat dalam asam cuka.’ Mereka bertanya, ‘Bagaimana mereka memelihar agama mereka?’ beliau bersabda, ‘Seperti bara pada telapak tangan. Jika diletakkannya matilah bara itu dan jika ditahan dan digenggamnya bara itu membakar tangannya.”

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang memegang teguh sunnahku pada saat rusaknya ummatku, maka dia mendapatkan pahala seratus orang yang mati syahid.”

Nabi Muhammad bersabda, “Sepuluh hal adalah termasuk ajaran yang diajarkan Bapakmu Nabi Ibrahim dan diamalkannya. Lima ada pada kepala dan lima lagi ada pada tubuh. Adapun yang ada pada kepala yaitu bersiwak, berkumur, menghirup air ke hidung, menggunting kumis, dan memelihara jenggot. Sedangkan lima yang ada pada tubuh yaitu khitan, istihdad, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, mencukur rambut kemaluan. Dan setiap anggota tubuh ada ibadahnya sehingga khitan bagi laki-laki.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Riwayat Mengenai Wafatnya Nabi Muhammad

Menurut Ibnu Mas’ud, ketika telah dekat wafatnya Nabi Muhammad, berkumpullah para sahabat di rumah Siti Aisyah. Kemudian Nabi Muhammad memandang para sahabat dan bercucuranlah air matanya.

Nabi Muhammad bersabda, “Marhaban bikum rahimakumullaah” (selamat datang kamu semua, mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada kamu), aku berwasiat kepadamu agar takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya. Telah dekat perpisahan dan telah tiba kembali kepada Alla dan ke surga Al Ma’waa, hendaklah nanti Ali yang memandikan aku, Al Fadhal bin Abbas yang menuangkan air dan Usamah bin Zaid yang membantu keduanya. Kafanilah aku dengan pakaianku sendiri kalau kamu mau, atau dengan pakaian buatan Yaman yang putih. Jika kamu sudah memandikan aku, letakkanlah aku di tempat tidurku di dalam kamarku ini di tepi liang kuburku. Kemudian keluarlah meninggalkan aku sesaat. Karena yang pertama-tama menshalatkan aku adalah Allah Azza wa Jalla, kemudian Jibril, kemudian Israfil, kemudian Mikail, kemudian malaikat maut beserta anakn buahnya, kemudian semua malaikat yang lain. setelah itu barulah kamu masuk sekelompok demi sekelompok dan shalatkanlah aku.”

Setelah mereka mendengar kata perpisahan Nabi Muhammad ini mereka berteriak seraya menangis. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, engkau adalah Rasul kami dan kepala kumpulan kami. Serta penguasa perkara kami. Jika engkau harus pergi, lalu kepada siapakah nanti kami akan kembali dalam menghadapi kesulitan.?”

Nabi Muhammad bersabda, “Aku tinggalkan kau pada jalan kebenaran dan jalan yang bersinar, dan aku tinggalkan untuk kamu dua penasehat: yang berbicara dan yang diam. Yang berbicara adalah Al Qur’an dan yang diam adalah kematian. Apabila ada sebuah kesulitan pada kamu maka kembalilah kepada Al Qur’an dan sunnah, dan apabila hatimu keras membatu lembutkanlah dia dengan mengambil pelajaran dengan hal ihwal kematian.”

Lalu sakitlah Rasulullah di akhir bulan Shafar. Beliau menderita sakit selamak 18 hari dan sempat ditinjau para sahabat. Sakit yang pertama dirasa oleh Rasulullah hingga beliua wafat dalam sakit itu adalah pening. Beliau diutus sebagai Rasul pada hari senin dan wafat dalam hari seninn juga.

Ketika hari senin kelihatan berat sakit beliau. Maka Bilal menyerukan adzan subuh dan berdiri di depan pintu Rasulullah dan berkata, “Assalaamu ‘alaika ya Rasulullah.” Fathimah berkata, “Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Bilal berlalu dan masuk masjid, dia tidak memahami kata-kata Fathimah tiu. Ketika fajar semakin terang Bilal datang lagi untuk yang kedua kalinya dan berdiri di depan pintu. Dia pun mengucap salam seperti yang pertama. Rasulullah mendengar suaranya dan memanggilnya, “Masuklah hai Bilal, aku sedang sibuk dengan diriku sendiri dan sakitku telah begitu berat. Hai Bilal, suruhlah Abu Bakar untuk shalat menjadi imam pada manusia.”

Maka keluarlah Bilal dengan menangis dan meletakkan tangannya di atas kepalanya, “Aduh bencanaku, aduh habislah harapanku, aduh patahlah punggungku. Wahai, lebih baik aku tidak dilhirkan oleh ibuku.” Masuklah dia ke dalam masjid dan berkata, “Ya Abu bakar, sesungguhnya memerintah engkau untuk menjadi imam shalat pada manusia. Beliau sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Ketika Abu Bakar melihat mihrab Rasulullah masih kosong dan tidak terdapat beliau di sana, dia tidak dapat mengendalikan dirinya. Berteriaklah dia dengan keras dan jatuh tak sadarkan diri. Maka ributlah muslimin bersama Abu bakar.

Nabi Muhammad mendengar kegaduhan mereka dan bertanya kepada Fathimah, “Hai Fathimah, ada apa teriakan dan kegaduhan ini?” Fathimah menjawab, “Muslimin gaduh karena kehilangan engkau (tidak hadir).”

Maka Nabi Muhammad memanggil Ali dan Al Fadhal bin Abbas dan bersandar p[ada keduanya lalu keluar ke masjid dan mengerjakan shalat dua rakaat. Subuh hari senin bersama mereka. Kemudian memalingkan wajahnya kepada manusia.

Nabi Muhammad bersabda, “Wahai sekalian muslimin, kamu berada dalam titipan Allah dan perlindungan-Nya. Tetaplah kamu dengan takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya. Karena aku akan berpisah dengan dunia, ini adalah hari permulaanku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.” Lalu beliau berdiri dan pulang ke rumahnya.