Mutajarridin & Muktasibin

Merekatkan hati supaya menjadi mutajarridin (kosong dari pekerjaan), walaupun tidak usaha juga bisa makan. Allah sudah menetapkan kepada manusia bertumpu kepada macam-macam sebab (jadi muktasibin). Tegasnya tidak akan bisa makan kalau tidak bekerja/usaha. Maka itu timbul dari syahwat yang halus.

Dan timbulnya itikad hati seseorang ingin jadi golongan muktasibin, padahal Allah sudah menetapkannya dari golongan mutajarridin, maka jatuhlah dari cita-cita yang tinggi.

Jadi intinya sebenar-benarnya orang muktasibin jangan berusaha jadi mutajarridin, begitu juga orang mutajarridin jangan mau menjadi muktasibin, sebab dua-duanya sifat yang sudah dipastikan oleh Allah dan dua-duanya bisa dipakai jalan untuk wusul ke Allah asal bagus niat dan prakteknya.

Maka bagi orang mutajarridin yang mengutamakan taqwa kepada Allah tetapi bisa makan serta tidak mencari kenikmatan yang sangat tinggi, harus hati-hati jangan sampai turun ke bawah menjadi golongan muktasibin.

Begitu juga orang muktasibin yang menghadapi macam-macam sebab dan pekerjaan untuk dirinya dan anak istrinya, harus melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Karena pekerjaannya mendapat ganjaran/pahala yang besar dan mendapatkan ampunan dari Allah. Harus hati-hati jangan mau jadi mutajarridin, sebab itu keluar dari syahwat yang halus.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua)