Tidak Boleh Melaksanakan Adab-Adaban Yang Buruk

Dari sebagian kebodohan muridin bahwa melaksanakan adab-adaban yang buruk, lalu diakhirkan siksaannya oleh Allah. Lantaran diakhirkan, terus dia berucap atau mempunyai pikiran kalau memang kelakuannya buruk (adabnya buruk) tentu saja pertolongan Allah akan putus. Dan menjauhkan terhadap jauhnya diri dari Allah, padahal sudah di putus pertolongan Allah dari si muridin, tetapi si muridin tidak merasakannya (walaupun tidak bukti/dhohir putusnya, kecuali sekedar tidak bertambah).

Terkadang ditempatkan di di tempat yang jauh dari Allah, sedangkan si muridin tidak mengetahui bahwa dirinya dijauhkan (walaupun tidak bukti/dhohir dijauhkannya, kecuali sekedar membiarkan dirinya dan yang diinginkannya).

Penjelasan : Sebenarnya orang muridin yang jujur dihadapan Allah itu harus menjaga adab-adaban kepada Allah pada setiap perkara, lalu menjaga kehormatan pada setiap perkara. Kalau kita membuat kesalahan pada perkara tersebut dan tidak beradab kepada Allah swt, maka kita harus buru-buru taubat disertai merasa hina dan ingkar di dalam hati terhadap kesalahan yang sudah diperbuatnya.

Apabila muridin mengakhirkan taubatnya, maka akan putus pertolongan Allah, sehingga akan jauh dari Allah, dan terkadang muridin itu tidak merasakannya/mengetahuinya pada saat itu.  Nah pendirian ini muncul dari bodohnya muridin, sebab dia membela nafsu ketika tidak beradab, dan tidak mengetahui terhadap keburukan hatinya.

Apabila hatinya tahu tentang tipu daya nafsu, pasti akan waspada dan tidak akan membela nafsu, sebab sudah yakin bahwa orang yang tidak beradab kepada Allah akan disiksa. Dengan diakhirkannya siksaan jangan dianggap tidak diapa-apain oleh Allah, sehingga dianggap tidak apa-apa. Padahal kadang-kadang dirinya telah dijauhkan, cuma dirinya tidak mengetahuinya. Dan juga terkadang tidak diberi tambahan, tegasnya tidak jadi mendapat hidayah dari Allah, serta dibiarkan oleh Allah.

Adab-adaban yang dijalankan oleh muridin yang jadi cacad dengan meninggalkannya :

  1. Adab kepada Allah dan rasul-Nya. Adab kepada Allah bagi orang ‘awam adalah turut terhadap segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan adab kepada rasul adalah turut terhadap segala sunahnya dam menjauhi ahli bid’ah. Maka kalau gegabah dalam perintah-Nya akan disiksa saat itu juga di dunia, atau nanti (siksaan ma’nawi atau siksaan hisi)

Adab-adaban orang khowas yaitu dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, cinta kepada Allah. Cinta terhadap rasul yaitu mengutamakan rasa cinta kepada rasul dan memegang petunjuk rasul (jadi tuntunan), serta berakhlaq seperti rasul. Apabila gegabah dari ingat/eling kepada Allah atau lengah hatinya, dan cintanya condong ke selain rasul, maka akan disiksa di hisinya dengan pemukul, atau penjara, atau diberi kesakitan dengan lisan, atau disiksa di ma’nawi nya, seperti di putus pertolongan dan dijadikan orang yang jadi jauh dari Allah.

Adabnya orang wasiluun yaitu khowasil khowas, adabnya dengan tawadhu dalam tiap-tiap perkara, mengagungkan segala perkara dan melanggengkan ma’rifat kepada Allah.

  1. Adab terhadap gurunya, yaitu harus turut terhadap segala perintahnya.

Selain itu harus tenang, sopan santun apabila berkumpul di hadapan guru, tidak boleh tertawa-tawa atau mengeraskan suaranya, tidak boleh bicara kecuali yang diperintahkan, mensegerakan berkhidmah sesuai dengan kemampuan dirinya, seperti peribahasa khidmaturrijaali sababul hisoli, berkhidmah terhadap orang yang agung maka itu bisa sampai ke ma’rifat kepada Allah.

Selain itu juga harus melanggengkan ikut kumpulan pengajian. Kesopanan muridin setelah keluar pesantren akan bertambah serta kemajuannya akan cepat karena sering zaroh terhadap gurunya.

  1. Adab terhadap sesama muslimin. Diantaranya harus menjaga kehormatan kaum muslimin (baik dihadapan atau dibelakang), tidak boleh ngomongin keburukan kaum muslimin. Tetapi harus menasehati kaum muslimin, menunjukan kepada kebaikan, memberi kekuatan terhadap yang lemah.

Selain itu harus tawadhu dan membereskan masalah dengan jalan yang baik, selalu mengalah. Juga melihat kebersihan sesame muslimin, dan bertekad sempurnanya teman muslimin, sehingga tidak boleh menceritakan keburukannya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keenam puluh enam)