Munajat Kepada Allah (Allah Maha Pengampun)

Ya Allah, orang yang terbukti macam-macam kebaikannya dicampuri dengan macam-macam keburukan. Maka bagaimana tidak akan terbukti dicampur dengan keburukan, macam-macam keburukannya tersebut.

Artinya orang yang bagus sifatnya, maka itu hakikatnya dicampur dengan kejelekan. Sebab orang yang mendapat pujian, keburukannya ditutupi. Jadi bukan tidak ada keburukan, tetapi keburukannya ditutupi oleh Allah swt. Maksudnya jangankan orang yang penuh dengan kebaikan, padahal dia penuh dengan keburukan. Apalagi orang yang penuh dengan keburukan.

Begitu juga orang yang penuh dengan kebaikan tetapi hanya sekedar mengaku-ngaku, orang yang penuh dengan kebaikan pada hakikatnya tercampuri dengan mengaku-ngaku. Maka bagaimana tidak disebut mengaku-ngaku macam-macam pengakuan. Tegasnya jangankan orang-orang yang baik, dalam hakikatnya dia dibarengi dengan banyak mengaku-ngaku, artinya mengaku pekerjaan baik itu dari dirinya. Padahal Allah swt lah yang menghendakinya (membuat itu terjadi), apalagi yang semuanya cuma ngaku-ngaku saja, pasti hanya mengaku saja, tidak dikembalikan kepada Allah swt.

Manusia itu harus merasa sangat malu, karena walaupun kebaikannya banyak tetapi pada hakikatnya keburukannya juga banyak.

Seharusnya manusia sangat malu apabila memiliki sifat yang buruk, sebab bila penuh dengan sifat tersebut, maka kalau Allah tidak sayang dan tidak Maha Pengampun, tidak akan mau meminta pengampunan.

Begitu juga orang-orang yang baik, yang mengembalikan kepada hakikatnya Allah yang menghendakinya. Nah ini tetap saja sering dibarengi dengan ngaku-ngaku, apalagi orang yang sering tidak mengembalikan kepada Allah, mungkin dia merasa semuanya karena dia.

Munajat Kepada Allah (Allah Maha Kuasa, Maha Melihat, Maha Mendengar)

Ya Allah, sangat aneh Engkau dekat denganku, dengan penglihatan-Mu, pendengaran-Mu, penjagaan-Mu dan rahmat-Mu. Dan betapa jauhnya aku dari-Mu, aku sangat teledor dan tidak bisa berbakti yang sempurna. Aku sangat berterima kasih terhadap kebaikan Engkau.

Ya Allah, alangkah sangat sayangnya Engkau kepada diriku, maka apa yang menghalangi aku dari-Mu. Tidak ada yang menghalangiku untuk berbakti kepada-Mu, untuk eling kepada-Mu. Semoga Engkau memberikan kekuasaan kepadaku untuk bisa wushul kepada-Mu.

Ya Allah, aku tahu dengan adanya robah-robah nya tapak-tapak ciptaan-Mu, dan dengan adanya robah-robahnya jaman. Aku tahu bahwa yang diinginkan oleh-Mu adalah supaya aku eling kepada-Mu, dalam setiap perkara/kejadian, dalam setiap zaman, sehingga aku eling terus-terusan kepada-Mu dalam setiap perkara.

Ya Allah, ketika aku melihat diriku yang penuh dengan kecacatan, sehingga aku tidak berani berkata meminta kepada-Mu. Maka aku sering ingat betapa dermawan-Nya Engkau, lalu aku bersemangat meminta kepada-Mu. Dan dimana-mana aku melihat kepada sifat-sifatku, yang keadaannya celaan orang lain, sehingga aku putus asa, maka aku sering melihat kepada karunia-Mu, kemudian memberi semangat dan akhirnya ingin meminta kepada-Mu. Kalau aku melihat diri yang penuh dengan dosa, maka aku malu meminta kepada-Mu terhadap pengampunan-Mu. Apabila aku melihat kelegaannya fadhal Allah, aku jadi bersemangat kembali, aku ingin meminta kepada-Mu.

Munajat Kepada Allah (Berprasangka Baik Kepada Allah)

Ya Allah, bagaimana Engkau akan membalikkan diriku untuk mengurus diriku, sedangkan Engkau sudah menjamin diriku. Dan bagaimana aku akan hina, sedangkan Engkau yang menolongnya. Dan bagaimana aku akan rugi, sedangkan Engkau sayang kepadaku.

Kita harus berprasangka baik (husnudhan) kepada Allah swt, yaitu memasrahkan diri dengan mengharapkan dirinya dijaga dan diurus sampai dengan bahagia, dan tidak ingin dihinakan.

Ingin mendapatkan pertolongan dari Allah, dan tidak ingin rugi, serta ingin dicintai dan diridhai oleh Allah di duni dan di akhirat, dijaga dari siksanya Allah.

Ya Allah, aku tawasul kepada-Mu yang dibarengi dengan kefakiranku kepada-Mu, sambil Engkau biasanya sering mementingkan kepada yang butuh. Namun bagaimana buktinya aku tawasul kepada-Mu dengan perkara yang mustahil menyampaikannya kepada-Mu. Dan bagaimana buktinya laporan aku kepada-Mu terhadap keadaan tingkah aku, padahal Engkau sudah tahu dan Engkau yang menghendaki. Seolah-olah aku seperti yang main-main. Dam bagaimana kebuktiannya aku berkata-kata dengan kata-kata aku, padahal bisa berkata juga semata-mata dikehendaki oleh Engkau. Apakah kira-kiranya bakal rugi cita-citaku, sambil keadaannya menghadap kepada-Mu. Dan bagaimana kira-kiranya, tingkah aku yang terjadi atas nama pertolongan-Mu dan taufik-Mu.

Ya Allah, alangkah anehnya, kenapa Engkau sayang kepadaku, padahal keadaanku sangat bodoh. Dan alangkah anehnya Engkau kasihan kepadaku, padahal keadaan aku penuh dengan macam-macam pekerjaan yang tidak bagus menurut pandangan-Mu.

Munajat Kepada Allah (Manusia Itu Memiliki Banyak Kekurangan & Allah Maha Kuasa)

Ilaahii minnii maa yaliiqu bilaumii waminka maa yaliiqu bikaramika.

Ya Allah, pasti dari diriku banyak perkara yang pantas dicela, dan pasti dari-Mu banyak perkara yang pantas yang sesuai dengan kemulyaan-Mu.

Manusia itu harus menyatakan diri memiliki banyak kekurangan, sesuai dengan keadaan ‘abdinya Allah yang Maha Kurang, dan menyatakan bahwa Allah penuh dengan segala kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan-Nya.

Ya Allah, Engkau sudah mensifati dzat-Mu dengan sifat welas asih sebelum adanya kedha’ifan aku.

Kita harus menyatakan terhadap adanya welas asih dalam segala kehendak-Nya yang terjadi kepada kekasih-Nya, yaitu orang mukmin. Sehingga tidak ada satupun kehendak Allah yang lepas dari sifat welas asih-Nya.

Jadi kita harus mempunyai keyakinan bahwa sebenar-benarnya welas asihnya Allah swt sudah ada sebelum kedha’ifan kita, apalagi setelah adanya kedha’ifan.

Ya Allah, kalau nyata macam-macam kebaikan yang muncul dariku, maka itu tetap dari fadhal-Mu, serta layak Engkau memberinya kepadaku. Dan kalau nyata macam-macam kesalahan dariku, maka itu keluar dari keadilan-Mu, serta berhak Engkau menyalahkannya kepadaku.

Kita harus memiliki adab-adaban di hadapan Allah, artinya bahwa apabila kita bisa melakukan kebaikan, itu adalah semata-mata pemberian dari Allah (karunia-Nya), dan Allah layak memberikannya kepada kita sesuai dengan kemurahan-Nya.

Serta menyatakan apabila ada kesalahan, itu semata-mata adalah paksaan dari Allah. dan Allah memiliki hak untuk menyalahkannya sesuai dengan keadilan-Nya.

Keutamaan Munajat Kepada Allah

Ilaahii annakh tilaafa tadbiirika sur’ata huluuli maqaadiirika man’an ‘ibaadakal ‘aarifiina bika ‘anissyukuuti ‘ilaa ‘athaa in walya’si minka fii balaain.

Ya Allah, sebenar-benarnya dari rubah-rubahnya aturan-Mu dan datangnya takdir-Mu. Maka dua-duanya ini nahan ke ‘abdi-Mu yang  ma’rifat dengan merasa tenang terhadap pemberian-Mu, dan menahan putus asa dari-Mu disebabkan datangnya musibah.

Artinya ahli ma’rifat tidak merasa tenang dengan adanya pemberian dari Allah swt, sebab yang diberikan di alam dunia akan hilang dan tidak akan langgeng.

Begitu juga dengan adanya musibah, walau bagaimanapun sakitnya ahli ma’rifat tidak pernah putus asa dari rahmatnya Allah, sebab akan diganti kembali dengan kenikmatan oleh Allah. Maksudnya ahli ma’rifat menyamakan antara kesulitan dan kemudahan itu seperti adanya siang dan malam. Maka ketika waktu siang tidak tenang-tenang, karena akan menghadapi malam, dan ketika malam tidak terlalu pusing karena sebentar lagi akan siang.