Keutamaan Mengucapkan Salam

Di dalam agama islam disyariatkan agar setiap umat muslim saling mengucapkan salam. Karena mengucapkan salam termasuk juga menjawabnya memiliki keutamaan dan keberkahan.

Banyak sekali dalil dari hadis yang menjelaskan mengenai keutamaan menyebarkan salam. Dan beberapa diantaranya adalah seperti yang di bawah ini:

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Iblis menangis ketika orang mukmin mengucap salam. Dia berkata, “Aduh celaka, tidak akan berpisah kedua orang mukmin ini sehingga diampuni dosa mereka.”

Para ulama berkata bahwa penghormatan orang-orang Nashrani adalah meletakkan tangan di mulut, penghormaktan orang-orang Yahudi adalah isyarat dengan jari, penghomatan orang Majusi adalah membungkuk, penghormatan bangsa Arab adalah kata ‘hayya kallaahu’, sedang penghormatan orang-orang islam ialah kata ‘Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu’, ini adalah penghormatan yang paling mulia.

Dari Amran bin Al Husain, ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Muhammad dan berkata, “Assalaamu ‘alaikum.” Beliau menjawab dan bersabda, “Engkau mendapat sepuluh kebaikan.” Lalu datang orang kedua dan berkata, “Asslaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi.” Beliau menjawab salamnya dan bersabda, “Engkau mendapat dua puluh kebaikan.” Datang pula orang ketiga dan berkata, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.” Beliau menjawab salamnya dan berkata, “Engkau mendapat tiga puluh kebaikan.” Kemudian datang lelaki keempat dan berkata, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhuu wa magdhfiratuhuu.” Beliau menjawab salamnya dan berkata, “Engkau mendapat empat puluh kebaikan.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

 

Mengucapkan salam yang tidak diperbolehkan

Menyebarkan salam atau mengucapkan salam memang sangat dianjurkan dalam syariat islam, tetapi ada beberapa salam yang tidak diperbolehkan seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Hukumnya makruh bila mengucapkan salam dalam kondisi berikut ini:

  1. Ketika orang sedang menriwayatkan hadis.
  2. Ketika adzan dan iqamat, yaitu saat orang-orang tenggelam menjawab adzan dan iqamat. Orang yang mengucapkan salam berdosa, tetapi mereka tetap wajib menjawab salam itu.
  3. Mengucap salam kepada orang yang berada di kakus (toilet). Menurut Abu Hanifah boleh menjawab salam itu di dalam hatinya dan tidak dengan lidahnya. Menurut Abu Yusuf tidak boleh menjawabnya secara mutlak. Dan menurut Syaikh Muhammad dia menjawab selesai dari memenuhi hajat.
  4. Mengucapkan salam kepada orang yang sedang mengerjakan shalat. Orang yang mengucapkan salam berdosa.
  5. Mengucapkan salam kepada orang yang minta-minta. Jika orang minta-minta itu memberi salam tidak wajib dijawab.
  6. Mengucap salam kepada guru ketika sedang mengajar dan jika diberi salam tidak wajib menjawab.
  7. Mengucap salam kepada orang yang sedang main catur.
  8. Mengucap salam kepada orang yang ahli bid’ah.
  9. Kepada orang yang menentang agama.
  10. Kepada orang-orang ahli Zindiq.
  11. Kepada pelawak yang sedang mulucu
  12. Orang yang sedang bercerita tentang kisah bohong.
  13. Orang yang suka lengah (menganggur).
  14. Orang yang suka memaki.
  15. Orang yang suka berbuat jahat.
  16. Orang yang sedang duduk di ujung-ujung jalan untuk memandang perempuan cantik atau laki-laki remaja yang menggairahkan.
  17. Orang yang sedang telanjang, baik di pemandian atau lainnya.
  18. Orang yang sedang bersenda gurau.
  19. Orang yang suka berbohong.
  20. Orang yang mencaci maki yang lain.
  21. Orang yang sedang bekerja di pasar.
  22. Orang yang sedang makan di pasar atau warung sedang banyak orang melihatnya.
  23. Orang yang suka menyanyi.
  24. Orang yang suka menerbangkan burung merpati.
  25. Kepada orang kafir

Nabi Muhammad berkata, “Barang siapa yang berbicara sebelum mengucapkan salam maka janganlah kamu menjawabnya.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Balasan dari Allah bagi orang yang menyebarkan salam

Bagi orang-orang yang sering menyebarkan salam maka Allah akan memberi ganjaran atau pahala yang luar biasa. Hal ini sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam hadis nya di bawah ini:

Diriwayatkan dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat beberapa kamar yang bermacam-macam warnanya. Semuanya dapat dilihat bagian luarnya dari bagian dalamnya dan bagian dalamnya dari bagian luarnya. Di dalamnya terdapat bermacam-macam kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak terlintas di hati manusia.”

Mereka bertanya, “Untuk siapakah kamar-kamar itu, Ya Rasulullah?”

Nabi Muhammad menjawab, “Untuk orang yang menyi’arkan salam, memberikan makanan, melanggengkan puasa dan shalat malam ketika manusia-manusia sedang tidur.”

Mereka bertanya lagi, “Siapakah yang mampu mengerjakan semua itu, Ya Rasulullah?”

Nabi Muhammad bersabda, “Aku akan menerangkan kepada kamu mengenai hal itu: barang siapa yang berjumpa saudaranya dan mengucapkan salam kepadanya maka benar-benar dia telah menyi’arkan salam. Barang siapa yang memberi makan istri dan keluarganya dengan makanan sehingga dia membuat mereka kenyang maka benar-benar dia telah memberi makan. Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan dan enam hari pada bulan syawal maka benar-benar dia telah melanggengkan puasa. Dan barang siapa yang mengerjakan shalat isya’ yang akhir (dua isya’ adalah maghrib dan isya’) dan shalat pagi (subuh) dengan berjamaah maka benar-benar dia telah mengerjakan shalat malam pada saat manusia tidur.” Manusia itu adalah orang-orang Yahudi, Nashrani dan Majusi.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

 

Adab-Adab Mengucapkan Salam

Menyebarkan salam merupakan sebuah keharusan dalam syariat islam, karena  di dalam salam itu terkandung makna mendoakan kebaikan.  Oleh karena itu, kita dalam kehidupan sehari-hari hendaklah selalu menyebarkan salam.

Bolehkah mengucapkan salam kepada orang yang sedang membaca Al Quran?

Hukumnya makruh tahrim kalau memberi salam dengan suara keras kepada orang yang sedang membaca Al Qur’an. Tetapi tetap hrus dijawab karena dia dapat menghasilkan dua pahala, pahala membaca Al Qur’an dan pahala menjawab salam.

Begitu pula makruh tahrim hukumnya mengucapkan salam kepada orang yang sedang mendengarkan Al Qur’an dan ketika sedang membicarakan ilmu.

Janganlah mengucapkan salam kepada seorang di antara orang-orang yang sedang membicarakan ilmu. Jika dia mengucapkan salam maka dia berdosa. Demikian pula ketika adzan dan iqamah. Menurut pendapat sahih dalam keadaan-keadaan seperti itu salam pun tidak wajib di jawab walaupun jawab itu dengan suara pelan.

Keutamaan membaca salam

Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Aku telah mengabdi kepada Rasulullah selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah bersabda mengenai sesuatu yang telah aku kerjakan, ‘Mengapa engkau lakukan itu?’ dan tidak bersabda mengenai sesuatu yang tidak aku kerjakan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?’

Beliau pernah bersabda, ‘Hai Anas, aku mewasiatkan kepadamu sebuah wasiat, maka peliharalah wasiat itu dengan baik. Perbanyaklah shalat di waktu malam tentu malaikat-malaikat hafadhah mencintaimu. Ketika engkau masuk pada keluargamu ucapkanlah salam kepada mereka tentu Allah akan menambah kebaikanmu. Jika engkau mampu untuk tidak naik ke atas tempat tidur kecuali dalam keadaan suci, maka kerjakanlah itu. Karena jika engkau mati matilah engkau dengan syahid. Jika engkau keluar dari keluargamu maka ucapkanlah salam pada orang yang engkau jumpai tentu Allah akan menambah kebaikanmu? Muliakanlah orang-orang tua dari muslimin dan sayangilah orang-orang muda dari muslimin tentu aku dan engkau di surga seperti dua jari ini.” Beliau menjalinkan jari telunjuk dan jari tengah.

Dan ketahuilah hai Anas, bahwa sesungguhnya Allah ridha terhadap hamba sebab sebuah suapan yang dimakannya lalu dia memuji kepada Allah pada suapan itu, dan dengan seteguk air yang diminumnya lalu dia memuji Allah pada tegukan itu.”

Dari Ibnu Salam, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian manusia, syi’arkanlah salam, berilah makan (pada orang yang lapar) dan shalatlah di waktu malam sedang manusia tidur nyenyak, tentu kamu masuk surga.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

 

Adab Dalam Menjawab Salam

Orang yang mendapatkan ucapan salam, maka dia berkewajiban untuk menjawabnya.

Disebutkan juga bahwa jika ada seseorang berkata, “Assalaamu ‘alaika” dengan bentuk tunggal, maka kita harus menjawabnya dengan “Wa ‘alaikumus salaam” dengan jamak. Karena orang mukmin ini bukanlah sendirian tetapi selalu disertai malaikat. Jadi tidak baik bagi orang yang mengucapkan salam dengan “Assalaamu ‘alaika” karena berarti menghalangi para malaikat dan menghalang dirinya juga dari jawaban malaikat. Jika mereka tidak memerlukan salam kita, maka kitalah yang tidak dapat lepas dari jawaban mereka dengan doa rahmat.

Adapun cara menjawab salam yang paling utama adalah mengatakan “Wa ‘alaikumus salaam” dengan huruf wawu. Tetapi jika orang yang menjawab salam itu menghilangkan wawu maka boleh juga tetapi meninggalkan yang lebih utama.

Adapun orang yang mau mengucapkan salam, maka boleh dia mengucapkan salam dengan bentuk ma’rifat dan boleh dengan bentuk nakirah. Yaitu Assalaamu adalah ma’rifat dan Salaamun adalah nakirah. Tetapi kalau dalam shalat-shalat maka wajib dengan bentuk ma’rifat (Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaah).

Dalam menjawab salam diisyaratkan harus seketika. Jika ditangguhkan kemudian baru dijawabnya maka tidaklah disebut menjawab salam, dan dia berdosa karena tidak menjawab sebab di dalamnya terdapat unsur penghinaan kepada orang yang memberi salam.

Kalau ada suruhan orang yang berada di tempat lain membawa kiriman salam atau ditemukan dalam surat maka wajib menjwab seketika. Dan tidak boleh mengucapkan salam pada orang-orang ahli bid’ah, kafir dan orang yang ahli main-main ( tidak ada manfaatnya).

Hukum mengucapkan salam kepada orang kafir

Para ulama berbeda pendapat mengenai jawaban salam kepada orang-orang kafir dan memulai salam kepada mereka. Madzhab Syafii mengharamkan memulai salam kepada orang-orang kafir dan wajib menjawab salam mereka dengan kata “Alaika” tanpa wawu, atau “Wa ‘alaika mitslahu.”

Nabi Muhammad bersabda, “Janganlah kamu memulai salam pada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani. Apabila kamu bertemu dengan seorang dari mereka di jalan maka desaklah dia kepada penghalangnya.”

Karena memulai salam adalah memuliakan mereka, sedang memuliakan orang kafir tidak diperbolehkan.

Nabi Muhammad bersabda, “Tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman” dengan iman sempurna “dan kamu tidak beriman sehingga kamu saling kasih mengasihi. Ingat, maukah kamu kalau aku menunjukkan kepada kamu tentang sesuatu yang jika kamu kerjakan tentu kamu akan saling kasih mengasihi? Syi’arkanlah salam di antara kamu.”

Dalam hadis di atas terdapat anjuran untuk menyi’arkan salam dan menyerahkan salam itu kepada semua kaum muslimin, orang yang dikenal ataupun yang tidak dikenal.

 

Sumber: Durrotun Nasihin