Hukum Mendoakan Keburukan Bagi Orang Yang Menganiaya Kaum Muslim

Syariat islam membolehkan umatnya untuk mengutuk orang yang menganiaya kaum muslim atau dirinya sendiri. Banyak sekali riwayat yang menerangkan tentang hal tersebut. beberapa diantaranya akan disebutkan di bawah ini

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

اَللّٰهُمَّ اشْدُدْوَطَآْتَكَ عَلَى مُضَرَ اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهَاعَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِى يُوْسُفَ

Allaahummasydud watha’taka ‘ala mudhara, Allaahummaj ‘alhaa ‘alaihim siniina kasinii yuusufa.

Ya Allah, keraskanlah tekanan-Mu terhadap Mudhar. Ya Allah, jadikanlah tekanan-Mu terhadap mereka berupa paceklik seperti paceklik yang dialami oleh Yusuf.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Salamah ibnul Akwa radhiyallaahu ‘anhu, yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki makan di hadapan Rasulullah saw menggunakan tangan kirinya, maka beliau saw bersabda:

“Makanlah dengan tangan kananmu!” lelaki itu menjawab, “Aku tidak mampu.” Beliau bersabda:

لاَاَسْتَطَعْتَ مَامَنَعَهُ اِلاَّالْكِبْرُ

Laa astatha’ta maa mana’ahu illaal kibru.

“Semoga kamu benar-benar tidak mampu, tiada yang mencegahnya kecuali perasaan takabur.”

Salamah ibnul Akwa melanjutkan kisahnya, “Maka ternyata ia tidak mampu menyuapkan makanan ke mulutnya.”

Lelaki ini ialah Busr, anak lelaki penggembala unta Al Asyja’i, seorang sahabat. Di dalam hadis ini terkandung pengertian bahwa boleh mengutuk perbuatan seseorang yang melanggar hukum syara’.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Urwah ibnus Zubair, bahwa Sa’id ibnu Zaid radhiyallaahu ‘anhu terlibat persengketaan dengan Arwa binti Aus (menurut suatu pendapat Arwa binti Uwais), lalu perkaranya ditujukan kepada Marwan ibnul Hakam. Arwa menuduhnya telah mengambil sebidang tanah miliknya. Maka Sa’id berkata, “Apakah aku tega mengambil sebidang tanah miliknya sesudah aku mendengar dari Rasulullah saw?”

Marwan ibnul Hakam bertanya, “Apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah saw?” Sa’id menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:

Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara aniaya, niscaya Allah akan mengalingkannya kepadanya sampai tujuh lapis bumi.

Maka Marwan berkata kepadanya, “Aku tidak akan meminta bukti lagi darimu sesudah ini.” Lalu Sa’id berkata:

اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَاَعْمِ بَصَرَهَا وَاقْتُلْهَافِى اَرْضِهَا

Allaahumma inkaanat kaadzibatan fa a’mi basharahaa waqtulhaa fii ardhihaa.

Ya Allah, jika ia dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah dia di tanahnya.

Perawi mengatakan bahwa Arwa baru mati setelah matanya buta; ketika ia sedang berjalan di tanah miliknya, tiba-tiba ia terjatuh ke dalam sebuah galian, lalu mati.

Hukum Mengutuk dan Mendoakan Keburukan Bagi Orang Lain Menurut Islam

Syariat islam membolehkan umatnya untuk mengutuk orang yang menganiaya kaum muslim atau dirinya sendiri. Banyak sekali riwayat yang menerangkan tentang hal tersebut. beberapa diantaranya akan disebutkan di bawah ini

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Jabir ibnu Samurah radhiyallaahu ‘anhu yang menceritakan bahwa penduduk Kufah mengadukan perihal Sa’d ibnu Abu Waqqash kepada khalifah Umar. Maka Khalifah Umar memecatnya dan menggantikannya dengan orang lain untuk menjadi amir mereka.

Jabir bin Samurah melanjutkan kisahnya sampai pada bagian: setelah itu Khalifah Umar radhiyallaahu ‘anhu mengirim seseorang atau beberapa orang lelaki ke akufah untuk mengecek kebenaran pengaduan itu. Tiada suatu masjid pun yang terlewati melainkan utusan itu menanyakan perihal Sa’d. jawaban mereka ternyata memujinya dengan baik.

Ketika utusan itu memasuki suatu masjid milik Bani Abs, ada seorang lelaki yang dikenal dengan nama Usamah ibnu Qatadah; nama julukannya ialah Abu Sa’dah. Lelaki itu berkata, “Bila engkau menanyakan kepada kami, sesungguhnya Sa’d tidak pernah ikut dengan pasukan, tidak membagi dengan rata, dan tidak adil dalam peradilannya.” Maka Sa’d ibnu Abu Waqqash berkata:

Ingatlah, demi Allah, aku benar-benar akan mengutuknya dengan 3 kutukan:

اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ عَبْدُكَ هٰذَاكَاذِبًاقَامَ رِيَاءًوَسُمْعَةً فَاَطِلْ عُمْرَهُ وَاَطِلْ فَقْرَهُ وَعَرِّضْهُ لِلْفِتَنِ

“Ya Allah, jika hamba-Mu ini dusta dalam kesaksiannya karena terdorong oleh pamer dan gengsi, maka panjangkanlah usianya, panjangkan pula kemiskinannya, dan libatkanlah ia dalam berbagai fitnah.”

Sesudah itu Abu Sa’dah selalu mengatakan, “Aku adalah manula yang terfitnah, aku telah tertimpa kutukan Sa’d.”

Abdul Malik ibnu Umair (perawi atsar ini) menceritakan melali Jabir ibnu Samurah yang mengatakan, “Sesudah itu aku melihatnya (Abu Sa’dah), kedua alisnya menjulur ke bawah hampir menutupi kedua matanya karena usianya yang sangat lanjut; dan sesungguhnya ia menampilkan diri di hadapan para gadis jalanan, lalu menggoda mereka.”

Mendoakan Keburukan Untuk Orang Yang Menzalimi Orang Lain (Mengutuk)

Syariat islam membolehkan umatnya untuk mengutuk orang yang menganiaya kaum muslim atau dirinya sendiri. Banyak sekali riwayat yang menerangkan tentang hal tersebut. beberapa diantaranya akan disebutkan di bawah ini

Allah swt telah menceritakan dalam banyak tempat dari Al Qur’an tentang para Nabi san kutukan mereka terhadap orang-orang kafir.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ali karamallaahu wajhah bahwa Nabi saw pernah bersabda dalam perang Ahzab:

Semoga Allah memenuhi kuburan dan rumah mereka dengan api sebagai pembalasan mereka karena menyibukkan kami dari salat wustha.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:

Nabi saw pernah mengutuk orang-orang yang membunuh para ahli qurra (semoga Allah melimpahkan keridaan-Nya kepada mereka), dan beliau meneruskan kutukannya terhadap mereka selama satu bulan. Beliau mengucapkan “Ya Allah, laknatlah Ri’lan, Dzakwan, dan Ushayyah.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu dalam hadis yang panjang mengenai kisah Abu Jahal dan teman-temannya dari kalangan kabilah Quraisy, di saat mereka meletakkan isi perut unta di atas punggung Nabi saw (yang sedang salat). Kemudian Nabi saw mendoakan kebinasaan mereka, dan beliau apabila berdoa mengulanginya sebanyak 3 kali, kemudian mengucapkan:

اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ

Allaahumma ‘alaika biquraisin.

“Ya Allah, timpakanlah pembalasan-Mu kepada orang-orang Quraisy,” sebanyak 3 kali. Kemudian berdoa:

اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِاَبِة جَهْلٍ وَعُتْبَةَ ابْنِ رَبِيْعَةَ

Allaahumma ‘alaika bi abii jahlin wa’utbata ibni rabii’ah…

“Ya Allah, timpakanlah pembalasan-Mu kepada Abu Jahal, Utbah bin Rabi’ah,” beliau menyebut sejumlah 7 orang, hingga akhir hadis.