Tata Cara Menguburkan Jenazah Dalam Islam

Menguburkan mayat merupakan salah satu rangkaian dalam mengurus jenazah (mayat), setelah memandikan, mengkafani, dan menshalatkan.

Batas minimum dalam menguburkan mayat ialah dapat menghidarkan bau busuk dan terhindar dari gangguan binatang buas, karena dua hal tersebut merupakan tujuan dari dikuburkannya mayat.

Keutamaan menguburkan mayat

Mengubur mayat apabila sampai pada kedalaman tanah mencapai setinggi badan ditambah seukuran panjangnay tangan, ukuran ini sudah sempurna.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dan Turmudzi:

Dari Rasulullah, beliau berkata dalam perang Uhud, “Galilah dengan luas dan dalam.”

Hadits Umar, “Galilah kuburan itu setingi badan ditambah seukuran panjangnya tangan.”

Cara meletakkan mayat

Meletakkan pipi mayat di atas tanah, tidak boleh terhalangi oleh benda. Hal ini berdasarkan hadits Umar, “Jika kamu menguburkanku, maka letakkanlah pipiku di atas tanah.”

Juga hadits Abu Musa, “Janganlah kamu menjadikan penghalang antara aku dengan tanah.”

Setelah itu kemudian dibaringkan menghadap qiblat. Yang menjadi dalil adalah dengan mengqiaskannya dengan shalat sambil berbaring.

Mengapa mayat yang dikubur harus digali kembali?

Mayat yang dikubur harus digali kembali karena 4 perkara, yaitu:

  1. Karena mayat belum dimandikan. Memandikan termasuk kewajiban, dengan demikian maka apabila belum dilakukan, maka tetap wajib dikerjakan sesuai kaidah. Sedangkan apabila mayat sudah berubah seperti sudah busuk maka kewajiban itu tidak ada dengan alasan madharat.
  2. Mayat tidak dihadapkan ke qiblat. Karena apabila mayat tidak dihadapkan ke arah qiblat maka harus digali lagi, karena kedudukan hukum menghadap qiblat sama dengan memandikan. Lain halnya dengan menyolati dan mengkafani, karena menyolati dapat dilakukan dengan car yang lain yaitu dengan shalat ghaib, juga mengkafani sudah cukup dengan menguburnya.
  3. Karena ada harta yang bersama mayat. Diriwayatkan dari Mughiroh bin Sub’ah; Ia menyimpan cincinnya di atas kuburan Rasulullah, maka ia berkata, “Cincinku”. Lalu dibukalah tempat cincin itu kemudian diambil lagi, dia berkata bahwa saya yang paling dekat dengan Rasulullah pada zamannya.
  4. Mayat perempuan yang dikubur bersama janinnya apabila diperkirakan masih hidup

Rukun Shalat Jenazah

Shalat jenazah merupakan kewajiban yang dibebankan kepada orang-orang yang masih hidup dalam mengurus mayat. Hukumnya ialah fardhu kifayah, artinya apabila dalam suatu wilayah ada beberapa orang yang  sudah menshalati mayat, maka kewajiban bagi warga lainnya gugur.

Shalat Jenazah

Adapun rukun shalat jenazah itu ada 7, yaitu:

Niat

Takbir 4 kali

Hal ini berdasarkan hadits Bukhari dan Muslim: Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya Nabi saw shalat atas Najasyi beliau bertakbir 4 kali.

Berdiri bagi yang mampu

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Nasa’i: Samuroh berkata, “Saya bersama Rasulullah melakukan shalat-shalat atas Ummi Ka’ab yang meninggal setelah melahirkan, kemudian Rasulullah berdiri dalam shalatnya (lurus) di tengah-tengah tubuh Ummu Ka’ab.”

Membaca Al Fatihah

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari: Dri Thalhah bin Abdillah bin ‘Aup, ia berkata, “Saya shalat jenazah di belakang Ibnu Abbas, lalu ia membaca surat Al Fatihah, dia berkata, ‘Ini ialah sunnah Nabi.”

Dari Jabir, sesungguhnya Nabi bertakbir atas mayat 4 kali dan membaca Al Fatihah setelah takbir pertama. (HR Baihaqi)

Dari Umamah bin Sahal bin Hunef, ia berkata, “Surat dalam shalat jenazah ialah membaca takbir, membca Fatihah, membaca shalawat atas Nabi dan berdoa untuk mayat dengan ikhlas.”

Membaca shalawat kepada Nabi setelah takbir yang kedua

Dari Umamah, dia berkata, “Sesungguhnya seorang laki-laki dari sahabat Nabi memberitahukan bahwa membaca shalawat kepada Nabi saw dalam shalat jenazah ialah sunat.” (HR Hakim)

Sesungguhnya Ibnu Abbas shalat jenazah bersama para sahabat, ia takbir membaca ummil Qur’an, para sahabat dan mengeraskan bacaannya lalu membaca shalawat kepada Nabi (setelah selesai) dia berkata, “Saya mengeraskan bacaannya supaya kamu tahu ini ialah sunat.” (HR Bukhari)

Mendoakan mayat pada takbir ketiga

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah

Apabila kamu shalat atas mayat, maka berdoalah untuk mayat-mayat itu dengan ikhlas.

Membaca salam

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Baihaqi: Nabi Muhammad membaca salam (dalam shalat jenazah) seperti beliau mengucapkan dalam shalat biasa.

Tata Cara Mengurus Jenazah

Ketika ada orang yang meninggal, maka sudah menjadi kewajiban bagi yang hidup untuk mengurus jenazahnya. Adapun kewajiban orang yang hidup terhadap mayat itu ada empat, yaitu:

  1. Memandikan
  2. Membungkus (mengkafani)
  3. Menshalatkan
  4. Menguburkan

Kewajiban ini termasuk ke dalam fardhu kifayah.

Memandikan mayat

Batas minimal dalam memandikan mayat ialah membasuh seluruh tubuhnya dengan air, sedangkan kesempurnaannya ialah:

  1. Membasuh kedua kemaluannya (kubul dan dubur)
  2. Menghilangkan kotoran dari hidungnya.
  3. Mewudhukannya.
  4. Menggosok tubuhnya dengan daun sidir.
  5. Membasuh seluruh anggota tubuhnya tiga kali.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

Dari Ummu ‘Athiyyah, dia berkata bahwa Rasulullah datang kepada (ruangan) kami, ketika kami sedang memandikan putrinya, lalu beliau berkata, “Basuhlah dia tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kamu pandang lebih baik, dengan air dengan sidir. Tambahkan kafur barus di akhir basuhan, mulailah dari sebelah kanan dan anggota wudhunya.”

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim: Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah berkata tentang orang yang jatuh dari kendaraan lalu meninggal, “Mandikanlah dia dengan air dan daun sidir (bidara). Bungkuslah dia dengan dua pakaian.”

Membungkus (mengkafani) mayat

Batas minimal membungkus mayat ialah menyelimuti seluruh badannya dengan kain, tetapi sebetulnya batas ini merupakan batas untuk memenuhi hak adami, sedangkan demi memenuhi hak Allah, cukup hanya menutupi auratnya saja. Hal ini berdasarkan hadits Mus’ab bin Umar yang dijadikan dalam istidlal oleh Imam Syafi’i:

Sesungguhnya Nabi saw membungkus (mayat) pada waktu perang Uhud dengan sleimut beliau menutupi (mayat) kepalanya, sedangkan kakinya kelihatan. Maka beliau memerintahkan kepada sahabat untuk menyimpan rumput idzkhir pada kakinya. (HR Bukhari)

Adapun sempurnanya membungkus mayat ialah:

  1. Untuk mayat laki-laki tiga lapis kain yang seluruhnya menyelimuti seluruh tubuhny. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari Muslim, Siti Aisyah berkata, “Rasulullah dikafani dengan tiga kain putih yang terbuat dari kain katun tanpa memakai baju juga sorban.”
  2. Untuk mayat perempuan, sebuah baju, penutup kepala, sebuah kain sarung dan dua lapis kain. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud: Sesungguhnya Nabi saw memberikan sarung baju (gamis), penutup kepala dan selimut kepada perempuan yang sedang memandikan putrinya yaitu ummi Kultsum untuk dikafani, kemudian dilapisi dengan kain yang lain. dan juga hadits yang diriwayatkn Imam Nasa’i, “Pakailah diantara pakaianmu yang putih, sebab itu lebih bersih dan lebih bagus. Bungkuslah mayat-mayatmu dnegan kain itu.”

Menshalatkan mayat

Setelah mayat dimandikan dan dikafani, mka mayat tersebut selanjutnya haruslah dishalatkan

Menguburkan mayat

Langkah terakhir dalam mengurus jenazah ialah menguburkan jenazah

Inilah Hukum Membangun Makam (Menembok Kuburan)

Makruh membangun tembok dalam liang kubur atau di atasnya tanpa keperluan atau darurat, misalnya khawatir ada yang membongkar, atau khawatir digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir. Karena yang demikian itu berdasarkan larangan hadis sahih.

Hal ini makruh dilakukan bilamana bangunan tersebut berada di tanah milik sendiri. Namun, kalau bangunan itu sendiri tidak dalam keadaan darurat seperti yang telah diungkapkan tadi (khawatir ada yang membongkar, digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir); atau membangun sejenis kubah (misalnya pagar dan sebagainya) di atas kuburan tanah musabbalah, yaitu tanah yang biasa disediakan untuk mengubur mayat oleh penduduk setempat, baik diketahui asal mula penyediaannya maupun tidak; atau memang tanah wakaf, maka yang demikian itu hukumnya haram dan wajib dirobohkan, sebab bangunan tersebut akan tetap berdiri, sekalipun mayatnya sudah punah. Dengan demikian, berarti mempersempit kepentingan kaum muslim lainnya yang dalam hal ini menurut syara’ tidak perlu.

Jika tembok kuburan itu dirobohkan, maka reruntuhan batunya harus dikembalikan kepada keluarga mayat, jika diketahui orangnya; atau di antara reruntuhan batu dan keluarganya dibiarkan begitu saja. Kalau keluarga mayatnya tidak diketahui, maka batu itu dianggap barang yang hilang (tak ada pemiliknya), dan mengenai hukumnya sudah jelas.

Syaikhuna Zamzami berkata, “Bilamana mayat itu sudah punah dan ahli warisnya membiarkan reruntuhan batu (bekas tembok tersbut), maka boleh mengubur mayat yang lain dengan membiarkan reruntuhan batu itu bila tidak bertentangan dengan keadaan adata yang berlaku, seperti halnya dalam masalah sanabil (memungut gabah setelah dipanen).

Makruh menginjak kuburan orang muslim, sekalipun kuburan orang yang mati dalam keadaan hina dan tercela (misalnya meninggalkan salat atau pezina) sebelum mayatnya punah, kecuali karena darurat, misalnya tidak dapat mengubur mayat ahlinya tanpa menginjak (kuburan tersebut). keadaan darurat ini berlaku pula bagi yang bermaksud ziarah, sekalipun bukan ziarah ke kuburan kerabatnya (maka hukumnya tidak makruh).

Adapun penetapan syarah Muslim sama dengan yang lainnya, yaitu haram hukumnya duduk di atas kuburan dan menginjaknya, berdasarkan hadis yang menolak keterangan di atas (ikhtilaf). Sesungguhnya yang dimaksud dengan “duduk di atas kuburan” ialah duduk untuk buang air besar atau kecil.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Inilah Hukum Menabur Bunga Di Atas Kuburan

Disunatkan meletakkan pelepah kurma yang masih segar di atas kuburan, karena mengikuti sunah Rasulullah saw. Dengan melakukan hal itu, maka mayat akan mendapat keringanan siksa kubur dengan berkah tasbih pelepah itu.

Adapun hukum menaburkan sejenis bunga yang berbau harum dan masih basah atau segar, seperti yang biasa dilakukan, hukumnya diqiyaskan dengan pelepah kurma. Haram mengambil pelepah atau sejenis bunga tersebut meskipun sedikit, sebelum keduanya kering, karena mengambil pelepah itu sama artinya dengan memutuskan keringanan siksa kubur bagi mayat yang bersangkutan.

Hal ini sebagaimana atsar yang diriwayatkan dari Nabi saw. Sedangkan mengambil bunga yang berbau harum, berarti sama dengan memutuskan hak mayat, sebab para malaikat yang turun dari langit senang pada bau harum. Demikianlah menurut keterangan Ibnu Hajar dan Ibnu Ziyad.

Sebagaimana riwayat Ibnu Hibban dari sahabat Abu Hurairah yang menyatakan: Kami pernah berjalan-jalan dengan Rasulullah saw melewati dua kuburan, lalu beliau berdiri dan kami pu berdiri menyertai beliau. Tiba-tiba roman muka beliau berubah dan gemetar, sehingga gamisnya pun ikut gemetar. Lalu aku bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Apakah kalian tidak mendengar apa yang aku dengar?”

Aku berkata, “Ada apakah wahai Nabi Allah?”

Beliau berkata, “Kuburan ini adalah kuburan dua laki-laki yang sedang mendapat siksaan di dalamnya dengan siksaan yang hebat sekali, sebab dosa yang kecil, menurut pendapat mereka.”

Aku berkata, “Apakah dosanya?”

Beliau menjawab, “Yang seorang tidak suka mencuci kemaluannya setelah buang air, dan yang seorang lagi suka menyakiti orang lain dengan ucapannya dan suka namimah (memfitnah atau mengadu domba).”

Lalu beliau meminta dua pelepah kurma, kemudian meletakkannya pada kedua kuburan.

Aku berkata, “apakah ada manfaatnya yang demikian itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Tentu saja. Mereka akan mendapat keringanan siksa kubur, selama dua pelepah itu masih basah (segar).”

Allah swt berfirman dalam surat Al Isra ayat 44, “Dan tiada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji Allah, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani