Bagaimana Cara Mencintai Allah Dengan Sepenuh Hati

Disini akan dijelaskan tentang ketentuannya orang yang ma’rifat, orang yang fana’ dan orang yang cinta kepada Allah.

Orang yang ma’rifat kepada Allah akan menyaksikan, maksudnya akan melihat Allah dengan penglihatan hatinya dalam segala makhluknya Allah. Dengan adanya makhluk Allah, dijadikan ciri akan adanya Allah yang menciptakannya. Jadi ahli ma’rifat itu ketika melihat makhluk, dia langsung melihat khaliqnya.

Misalnya kalau kita melihat baju si A ada di atas jamban, maka itu menjadi ciri bahwa si A tersebut ada di jamban. Dengan melihat ada baju si A di atas jamban, walaupun si A nya tidak terlihat oleh kita, tetapi kita terikat oleh penglihatan hati bahwa si A ada didalamnya (jamban).

Orang yang ma’rifat kepada Allah, walaupun Allah tidak terlihat oleh mata, tetapi ketika dia melihat makhluk mata hatinya langsung melihat Allah. Menurut sebagian ulama yang disebut ma’rifat itu adalah bisa menaikkan penglihatan dari alam asbah ke musyahadah, ke alam arwah. Maksudnya dari melihat makhluk langsung melihat khaliqnya. Jadi keadaan jiwa raga kita bersatu dengan makhluk-Nya. Sedangkan penglihatan hati kita manteng (kuat) terhadap yang menciptakannya (Allah).

Orang yang fana’ (rusak), akan samar dari segala perkara. Sehingga tidak ada yang terlihat oleh dirinya kecuali Allah swt. Seperti orang yang diguna-guna agar jatuh cinta, ingatannya sering rusak, dia jadi tidak punya rasa malu dan rasa takut (beribu-ribu bintang di langit tetapi hanya satu yang bercahaya). Apabila seorang lelaki di guna-guna kemudian jatuh cinta kepada seorang perempuan, maka dia tidak akan bisa ditawari perempuan lain.

Orang yang cinta kepada Allah, pasti tidak akan mementingkan yang lainnya, tetapi akan mementingkan dan memperhatikan keinginan Allah. Maka orang yang cinta kepada Allah itu sekaligus cinta kepada agama Allah. Orang yang cinta kepada agama Allah akan rela mengorbankan harta, tenaga untuk kepentingan agama Allah. Sehingga keharusan agama Allah bisa dilaksanakan dengan senang dan sadar. Seperti cintanya seorang lelaki kepada perempuan, yang cintanya cinta sebenar-benarnya. Dia akan rela mengorbankan apapun untuk wanita yang dicintainya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus enam puluh)