Hukum Mengucapkan Salam Dengan Menyebutkan Identitas Diri

Seseorang tidak dilarang menyebut identitas diri jika orang yang diajak berbicara tidak mengenalnya selain dari identitas tersebut, sekalipun dengan sebutan yang mengagungkan diri, seumpama menyebut nama julukan yang terhormat atau mengatakan, “Aku adalah mufti Fulan atau Qadhi Fulan atau Syeikh Fulan,” dan lain sebagainya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ummu Hani’ binti Abu Thalib r.a, yang nama aslinya ialah Fakhitah, menurut pendapat lain Fathimah, dan pendapat lainnya Hindun. Ia menceritakan:

Aku datang menghadap Nabi saw yang saat itu beliau sedang mandi, sedangkan Fathimah menutupinya, maka beliau bertanya, “Siapakah ini?” lalu aku menjawab, “Aku, Ummu Hani.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain melalui Abu Dzar r.a, yang nama aslinya ialah Jundub, pendapat lainnya adalah Buraiz. Ia menceritakan:

Pada suatu malam aku keluar, tiba-tiba aku besua dengan Rasulullah saw yang sedang berjalan sendirian. Aku berjalan di bawah sinar remb

Adab-Adab Meminta Izin

Orang yang meminta izin dianjurkan mengucapkan salam atau dengan mengetuk pintu, lalu dijawab, “Siapakah engkau?” Hendaknya ia mengucapkan, “Aku adalah si Fulan bin Fulan,” atau “Fulan yang dikenal dengan nama anu,” atau dengan sebutan diri yang lengkap.

Makruh bila ia hanya mengatakan Ana (aku), atau pelayan, atau salah seorang pengagum, dan lain sebagainya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim di dalam hadis Isra yang terkenal. Di dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit dunia, lalu ia mengetuknya, maka dikatakan, “Siapakah ini?” ia menjawab, “Jibril.” Dikatakan lagi, “Siapakah orang yang bersamamu?” ia menjawab, “Muhammad.”

Kemudian ia membawanya ke langit kedua, lalu langit ketiga, dan seterusnya; pada tiap-tiap pintu langit ditanya, “Siapakah ini?” lalu ia menjawab, “Jibril.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain hadis Abu Musa yang menceritakan, “Ketikaa Nabi saw duduk di tepi sumur kebun, lalu datang Abu Bakar dan meminta izin, maka Nabi saw bertanya, ‘Siapakah ini?’ Abu Bakar menjawab, ‘Abu Bakar.’ Kemudian datang Umar, lalu meminta izin. Beliau bertanya, ‘Siapakah ini?’ Umar menjawab, ‘Umar.’ Kemudian datanglah Utsman, yang selanjutnya sama dengan yang lainnya.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain, melalui Jabir r.a. yang menceritakan:

Aku datang kepada Nabi saw, lalu aku mengetuk pintu, maka beliau bertanya, “Siapakah ini?” aku menjawab, “Saya.” Beliau bersabda, “Saya, saya (siapa)?” seakan-akan beliau tidak menyukainya.

Adab Meminta Izin

Allah swt berfirman dalam surat An Nuur ayat 27, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.”

Surat An Nuur ayat 59, “Dan apabila anak-anak kalian telah smapai umur balig, hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka meminta izin.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Musa Al Ast’ari yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Meminta izin tiga kali. Apabila diizinkan bagimu (untuk masuk, maka masuklah); dan apabila tidak diberi izin, maka kembalilah.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain melalui Sahl ibnu Sa’d r.a, yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Sesungguhnya meminta izin itu dijadikan hanya untuk pandangan mata.

Diriwayatkan tentang meminta izin 3 kali melalui banyak jalur. Menurut ketentuan sunnah, hendaknya seseorang mengucapkan salam terlebih dahulu, kemudian baru meminta izin. Untuk itu, hendaknya ia berdiri di depan pintu pada posisi yang tidak dapat melihat orang yang di dalam rumah, kemudian mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?”

Apabila tidak ada seorang pun yang menyahut, hendaknya ia mengulangi ucapan izin itu sebanyak dua kali atau tiga kali. Jika ternyata tidak ada seorang pun yang menyahut, hendaknya ia pergi.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dengan sanad yang sahih melalui Rabi’i ibnu Hirasy, seorang tabi’in kawakan. Ia menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan Bani Amir menceritakan kepadanya:

Ia pernah meminta izin masuk menghadap Nabi saw ketika beliau berada di dalam rumah. Ia berkata, “Bolehkan aku masuk?” maka Rasulullah saw bersabda kepada pelayannya, “Keluarlah temui orang ini dan ajarkan kepadanya cara meminta izin. Katakan kepadanya, ‘Assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’

Ternyata lelaki itu mendengarnya, lalu berkata, “Assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?”

Maka Nabi saw mengizinkannya, lalu barulah ia masuk.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu daud dan Sunan Turmudzi melalui Kaladah ibnul Hambal, seorang sahabat yang menceritakan:

Aku datang kepada Nabi saw, dan langsung masuk menemuinya tanpa mengucapkan salam, mana Nabi saw bersabda, “Kembalilah kamu dan ucapkan, Assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?”

Sehubungan dengan masalah meminta izin ini, Al Mawardi menyebutkan 3 pendapat, yang pertama mengucapkan salam lalu meminta izin, yang kedua meminta izin dahulu lalu memberi salam, dan yang ketiga apabila orang yang meminta izin telah melihat pemilik rumah sebelum ia masuk, maka salam didahulukan atas meminta izin. Jika pandangan matanya masih belum melihat pemilik rumah, maka yang lebih didahulukan adalah meminta izin.

Apabila seseorang telah meminta izin sebanyak 3 kali dan menduga bahwa izinnya tidak didengar, apakah ia boleh meminta izin lagi lebih dari 3 kali?

Imam Abu Bakar ibnul Arabi Al Maliki menceritakan 3 pendapat mengenai masalah ini. Salah satunya boleh mengulangi izinnya, yang kedua tidak boleh mengulanginya, sedangkan yang ketiga mengatakan, “Jika ia meminta izin dengan lafaz yang telah disebut di atas, ia tidak boleh mengulanginya; tetapi jika dengan lafaz yang lain, boleh mengulanginya.”

Abu Bakar ibnul Arabi mengatakan bahwa menurut pendapat yang sahih, orang yang bersangkutan sama sekali tidak boleh mengulangi izinnya. Pendapat yang dinilainya sahih inilah yang dimaksud oleh sunnah.