Hukum Mengganti Nama Dalam Islam (Dengan Nama Yang Baik)

Terkadang kita menemui seseorang yang namanya tidak bagus atau mengandung arti yang buruk. Oleh karena itu, islam menganjurkan agar namanya tersebut diganti.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah r.a. yang menceritakan:

Bahwa Zainab nama sebelumnya adalah Barrah. Lalu ada yang mengatakan bahwa ia menyucikan dirinya, lalu Rasulullah saw memberinya nama Zainab.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim, dari Zainab binti Abu Salamh r.a. yang menceritakan:

Dahulu ku bernama Barra, lalu Rasulullah saw berkata, “Panggil dia Zainab!” kemudian Zainab binti Jahsyi masuk menemui beliau yang ketika itu bernama Barrah (pula), lau beliau mengubah namanya menjadi Zainab.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan:

Juwairiyah nama sebelumnya adalah Barrah, lalu Rasulullah saw mengubah namanya menjadi Juwairiyah. Beliau tidak suka bila dikatakan, ia baru saja keluar dari rumah Barrah.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari melalui Sa’id ibnul Musayyab ibnu Hazn, dari ayahnya:

Bahwa ayahnya datang kepada Nabi saw, lalu beliau bertanya, “Siapakah namamu?” ia menjawab, “Hazn.” Nabi saw bersabda, “Engkau adalah Sahl.” Ia berkata, “Aku tidak mau mengubah nama yang telah diberikan oleh ayahku.” Ibnul Musayyab mengatakan, “Kemuraman terus menerus melanda kami sesudah itu.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ibnu Umar r.a.

Nabi saw telah mengubah nama Ashiyah, dan beliau bersabda, “Engkau adalah Jamilah.”

Di dalam riwayat Imam Muslim disebutkan pula:

Bahwa anak perempuan Umar dinamakan Ashiyah, lalu Nabi saw menggantinya dengan nama Jamilah.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dengans anad yang hasan melalui Usamah ibnu Akhdari, seorang sahabat radhiyallaahu ‘anhu:

Bahwa ada seorang lelaki yang dikenal dengan nama Ashram yang berada di antara delegasi yang datang kepada Rasulullah saw, lalu beliau bertanya, “Siapakah namamu?” ia menjawab, “Ashram.” Rasulullah saw bersabda, “Tidak, engkau adalah Zur’ah.”

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dan Sunan Nasai melalui Abu Syuraih, yakni Hani’ Al Haritsi:

Bahwa ketika ia menjadi delegasi kepada Rasulullah saw bersama kaumnya, Rasulullah saw mendengar mereka menjulukinya dengan sebutan Abul Hakam. Kemudian Rasulullah saw memanggilnya dan bersabda, “Sesungguhnya Allah adalah Al Hakam (Yang Maha Memutuskan), hanya kepada-Nyalah kembali keputusan. Mengapa engkau membuat julukan Abul Hakam?”

Ia menjawab, “Sesungguhnya kaumku apabila bersengketa dalam suatu perkara, mereka mendatangiku, lalu aku memutuskan perkara diantara mereka, hingga masing-masing dari kedua belah pihak yang bersengketa dapat terlerai.”

Maka Rasulullah saw bersabda, “Alangkah baiknya orang ini. Punya berapa anakkah kamu?” ia menjawab, “Aku mempunyai anak bernama Syuraih, Muslim, dan Abdullah.”

Rasul bertanya, “Siapakah yang paling besar diantara mereka?” ia menjawab, “Syuraih.” Rasul bersabda, “Engkau adalah Abu Syuraih.”

Imam Abu Daud mengatakan bahwa Nabi saw telah mengubah nama Al Ashi, Aziz, Atlah, Syaithan, Al Hakam, Ghurab, Habbaab, dan Syihab, lalu beliau menamakannya menjadi Hasyim.

Beliau mengganti nama Harb menjadi Silm, Al Mudhtajhi’ menjadi Al Mumba’its, Aqirah diubah menjadi Khadmirah, Sya’b Adh Dhalalah diganti menjadi Sya’b Al Huda, dan Banuz Ziinah diganti menjadi Banir Rusydah.

Beliau pun mengganti nama Bani Mughwiyah menjadi Bani Risydah.

Nama-Nama Yang Makruh Untuk Dipakai Menurut Pandangan Islam

Memberi nama yang baik bagi anak yang baru lahir merupakan sebuah keharusan. Bisa dibayangkan apabila seseorang tidak mempunyai nama, agak aneh bukan?

Banyak sekali nama yang sangat bagus untuk diberikan kepada seorang anak, misalnya Abdur Rahman, Siti Aisyah, Abdullah, dan lain-lain.

Selain nama-nama yang baik, juga ada nama yang tidak dianjurkan untuk dipakai, artinya nama tersebut tidak bagus dan makruh memakainya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Samurah ibnu Jundub r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Jangan sekali-kali kamu menamakan pelayanmu dengan nama Yasaar, Rabaah, jangan pula Aflah. Sesungguhnya jika kamu mengatakan, “Apakah disana ada dia?” ternyata tidak ada, lalu kamu dijawab, “Tidak ada.” Sesungguhnya nama-nama itu hanya empat, maka jangan kalian menambahinya lagi lebih dariku.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dan kitab lainnya melalui riwayat Jabir r.a. yang di dalamnya disebutkan pula larangan memberi nama pelayan dengan nama Barakah.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw yang bersabda:

Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah ialah seorang lelaki yang diberi nama Malikul Amlaak.

Di dalam riwayat lain disebutkan akhnaa sebagai ganti dari akhna’. Di dalam riwayat Muslim disebutkan sebagai berikut:

Lelaki yang paling dimurkai oleh Allah di hari kiamat dan yang paling buruk ialah lelaki yang diberi nama Malikul Amlaak. Tiada raja kecuali hanya Allah.

Menurut para ulama, makna akhna’ dan akhna ialah pling rendah, paling hina, paling menjijikan.

Bolehkah Anak Yang Meninggal Dalam Kandungan (Keguguran) Diberi Nama

Terkadang yang namanya ujian dari Allah itu tidak bisa diprediksi, termasuk juga dengan meninggalnya bayi (janin) dalam kandungan, atau dengan kata lain mengalami keguguran.

Di dalam syariat islam hukumnya sunat memberinya nama. Apabila masih belum diketahui jenis kelaminnya, maka diberi nama yang dapat dipakai untuk laki-laki dna perempuan, seperti Asma, Hunainah, Hindun, Kharijah, Thalhah, Umairah, Zur’ah, dan yang lainnya.

Menurut Imam Baghawi bahwa disunatkn memberi nama bayi yang meninggal di dalam kandungan (keguguran) karena berlandaskan kepada hadis yang menceritakan tentang hal ini. Hal yang sama diceritakan pula oleh ulama lain dari kalangan mazhab Syafii. Mereka mengatakan bahwa seandainya bayi meninggal dunia sebelum sempat diberi nama, disunatkan memberinya nama.

Etika Memberi Nama Anak Dalam Islam

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dengan sanad yang jayyid melalui Abu Darda, yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Sesungguhnya kalian akan dipanggil di hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Karena itu, perindahlah nama-nama kalian.

Nama Yang Paling Disukai Allah swt

Umar r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah swt ialah Abdullah dan Abdur Rahman.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Jabir r.a. yang menceritakan:

Telah dilahirkan bayi lelaki salah seorang diantara kami, lalu ia menamainya Al Qasim, maka kami mengatakan, “Kami tidak akan memberimu nama julukan (kun-yah) Abul Qasim, tidak pula Karamah.” Lalu ia menceritakan kepada Nabi saw, maka beliau bersabda, “Namailah anakmu dengan nama Abdur Rahman.”

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dan Sunan Nasai melalui Wahb Al Jusyami, seorang sahabat yang menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Pakailah oleh kalian nama-nama para Nabi, dan nama yang paling disukai oleh Allah swt ialah Abdullah dan Abdur Rahman. Dan nama yang paling baik ialah Harits dan Hammam, sedangkan nama yang paling buruk ialah Harb dan Murrah.

Waktu Yang Tepat Untuk Memberi Nama Anak atau Bayi Yang Baru Lahir

Bayi yang baru lahir disunatkan diberi nama pada hari ketujuh sesudah kelahiran atau di saat kelahirannya.

Hukum sunat memberikan nama pada hari ketujuh berlandaskan kepada hadis yang diriwayatkan di dalam kitab Imam Turmudzi melalui Amr ibnu Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan:

Nabi saw memerintahkan untuk memberi nama bayi yang baru lahir pada hari ketujuh, begitu pula melenyapkan kotoran dan meng akikahinya.

Menurut Imam Turmudzi hadis ini hasan predikatnya.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzi, Sunan Nasai dan Sunan Ibnu Majah serta kitab lainnya dengan sanad yang sahih melali Samurah ibnu Jundub, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Setiap anak yang baru lahir tergadaikan oleh akikahnya yang disembelih untuknya pada hari yang ketujuh, lalu dicukur dan diberi nama.

Memberi Nama Anak

Menurut Imam Turmudzi bahwa hadis ini hasan sahih.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Seorang bayi lelaki telah dilahirkan untukku pada suatu malam, lalu aku menamainya dengan nama ayahku (nenek moyangku) Ibrahim a.s.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Anas r.a. yang menceritakan:

Telah dilahirkan seorang bayi laki-laki anak Abu Thalhah, maka aku membawanya kepada Nabi saw, lalu beliau men-tahnik-nya dan menamakannya Abdullah.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain melalui Sahl ibnu Sa’d As Sa’idi r.a. yang menceritakan:

Mundzir ibnu Abu Usaid  dibawa kepada Rasulullah saw pada hari kelahirannya. Maka Nabi saw meletakkannya di atas pahanya, sedangkan Abu Usaid (ayah bayi) duduk. Nabi saw disibukkan oleh sesuatu yang ada di hadapannya, lalu beliau memerintahkan kepada Abu Usaid (untuk mengambil anaknya), kemudian bayi itu diangkat dari paha Nabi saw, lalu mereka memulangkannya.

Ketika Nabi saw selesai dari kesibukannya, beliau bertanya, “Kemanakah bayi tadi?” Abu Usaid menjawab, “Kami telah memulangkannya kembali, wahai Rasulullah.”

Nabi saw bertanya, “Siapakah nama bayi itu?” Abu Usaid menjawab, “Fulan.” Nabi saw bersabda, “Jangan, tapi namailah dia Al Mundzir.”

Sejak saat itu nama bayi tersebut Al Mundzir.