Larangan Mencela dan Mencaci Saudara Sesama Muslim

Diharamkan mencaci orang muslim tanpa sebab yang diakui oleh syariat

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Mencaci orang muslim adalah perbuatan fasik.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim, Imam Abu Dawud dan Imam Turmudzi melalui Abu Hurairah, yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Dua orang yang saling mencaci memperoleh apa yang dikatakan keduanya, sedangkan madharatnya akan menimpa orang yang memulainya diantara keduanya, selagi orang yang teraniaya tidak melampaui batas.

Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Diantara lafaz yang tercela dalam pemakaian sehari-hari ialah seperti ucapan seseorang terhadap orang yang bertengkar dengannya, “Hai keledai, hai kambing pejantan, hai anjing,” dan lain sebagainya yang semakna. Hal ini ditinjau buruk dari dua segi, yaitu:

Pertama, perkataan tersebut merupakan perkataan dusta.

Kedua, hal itu menyakitkan. Lain halnya bila dikatakan ‘hai dzalim’ dan lain sebagainya yang semakna, hal ini dapat dimaafkan karena keadaan darurat dalam bertengkar, sekalipun pada kebanyakannya kata-kata itu benar; karena sedikit sekali manusia yang tidak dzalim, baik terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap orang lain.

An Nahhas mengatakan, “Sebagian ulama memakruhkan bila seseorang mengatakan, ‘tiada seorang makhluk pun bersamaku kecuali Allah’.”

Penyebab makruh ialah karena lafaz tersebut merupakan lafaz kurang ajar, mengingat bentuk asalnya dari istitsna; hendaknya berbentuk muttashil, sedangkan dalam kalimat ini merupakan hal yang mustahil. Sesungguhnya makna yang dimaksud dari kalimat tersebut adalah istitsna munqathi. Bentuk lengkapnya ialah, ‘tetapi yang ada bersamaku adalah Allah.’

Pengertian ini diambil dari makna firman Allah dalam surat Al Hadid ayat 4, “Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.”

Hendaknya perkataan tersebut diganti dengan perkataan berikut, “tiada seorang pun bersamaku melainkan hanya Allah.” seseorang dimakruhkan mengucapkan, “Duduklah atas nama Allah,” melainkan ia harus mengatakan, “Duduklah dengan menyebut nama Allah.”

An Nahhas menceritakan dari sebagian ulama salaf, bahwa orang yang sedang puasa dimakruhkan mengucapkan, “demi hak kunci yang ada pada mulutku.” Bantahan yang ditujukan kepadanya ialah, sesungguhnya kata al khatm (kunci) hanya ada pada mulut orang-orang kafir. Tetapi bantahan tersebut masih perlu dipertimbangkan kekuatannya. Bantahan yang kuat ialah bahwa dia bersumpah dengan memakai nama selain Allah swt.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud melalui Abdur Razzaq, dari Mu’ammar, dari Qatadah atau dari yang lainnya, dari Imran Ibnul Hushain yang mengatakan:

Dahulu di masa jahiliah kami selalu mengatakan, “Semoga Allah menyejukkan pandangan matamu dan semoga Allah melimpahkan nikmat di pagi hari ini kepadamu.” Ketika islam tiba, maka kami dilarang mengucapkan kata-kata itu.

Abdur Razzq mengatakan, “Menurut Mu’ammar, seseorang dimakruhkan mengucapkan, ‘semoga Allah memberikan kesejukan kepadamu melalui matamu.’ Tetapi tidak mengapa bila ia mengucapkan, ‘semoga Allah menyejukkan pandangan matamu’.”

Larangan mencaci atau melaknat ayam jago

Terkadang kita spontan mengucapkan kata-kata mengumpat ayam, karena dirasakan mengganggu. Di bawah ini ada hadis yang menerangkan larangan untuk mencaci ayam jago dan mencaci demam.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dengan sanad yang sahih melalui Zaid ibnu Khalid Al Juhani, yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

Janganlah kalian mencaci ayam jago, karena sesungguhnya ayam jago itu membangunkan untuk salat.

Makruh mencaci demam

Diriwayatkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui Jabir yang menceritakan:

Rasulullah masuk menemui Ummus Saib, atau Ummul Musayyab, lalu beliau bertanya, “Apakah yang terjadi pada dirimu, hai Ummus Saib, atau Ummul Musayyab, hingga engkau tampak menggigil?” ia menjawab, “Demam, semoga Allah tidak memberkatinya.” Nabi bersabda, “Janganlah engkau mencaci demam, karena demam itu melenyapkan dosa-dosa Bani Adam sebagaimana pandai bersi melenyapkan kotoran besi.”

Larangan menyeru dengan seruan jahiliah, dan celaan memakai lafadz yang biasa mereka gunakan

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ibnu Mas’ud, yang menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menampari pipinya, merobek-robek kerah bajunya, dan menyeru dengan serua jahiliyah. Di dalam riwayat lain disebutkan, “Atau merobek-robek atau menyeru.”

Demikianlah penjelasan dari kami, semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita semua baik di dunia maupun di akhirat. Serta kita termasuk orang yang berbahagia dengan dimasukkan oleh Allah ke dalam surga.

Makruh menamakan bulan Muharram sebagai bulan Shafar, karena hal ini termasuk tradisi Jahiliyah.

Haram memintakan ampunan dan lain sebagainya bagi orang yang mati kafir.

Allah swt berfirman dalam surat At Taubah ayat 113:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.

Jangan Sembarangan Melaknat

Boleh melaknat ahli maksiat yang dikenal dengan tidak menyebutkan namanya

Banyak sekali dalil atau hadis yang menerangkan tentang bolehnya melaknat ahli maksiat. Beberapa diantaranya akan diterangkan di bawah ini.

Rasulullah saw pernah bersabda:

“Semoga Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang meminta rambutnya disambung,” hingga akhir hadis.

“Semoga Allah melaknat pemakan riba,” hingga akhir hadis

“semoga Allah melaknat orang-orang yang membuat gambar (patung).”

“Semoga Allah melaknat orang yang mengubah menara bumi (petunjuk arah).”

“Semoga Allah melaknat pencuri telur.”

“Semoga Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, san semoga Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”

“Barang siapa yang membuat-buat suatu perkara bid’ah di kalangan kami, atau memberikan perlindungan kepada orang yang bid’ah; semoga laknat Allah, para malaikat, dan manusia semua tertimpa kepadanya.”

“Ya Allah, laknatlah Ri’lan, Dzakwan, dan Ushayyah; mereka telah durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.”

Ketiganya merupakan kabilah bangsa Arab (yang telah embunuh para ahli qurra utusan Nabi Muhammad kepada mereka).

Nabi Muhammad telah bersabda:

“semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi kaerna diharamkan kepada mereka lemak, tetapi mereka menjualnya.”

“Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid.”

“semoga Allah melaknat kaum lelaki yang meniru-niru kaum wanita, dan kaum wanita yang meniru-niru kaum lelaki.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Jabir:

Nabi Muhammad melihat seekor keledai yang telah diberi tato pada wajahnya, maka beliau bersabda, “Semoga Allah melaknat orang yang mentatonya.”

Di dalam kitab Shahihain disebutkan seperti berikut:

Ibnu Umar bersua dengan sekumpulan anak-anak remaja dari kalangan Quraisy yang sedang menjadikan seekor burung sebagai sasaran, lalu mereka memanahinya. Ia berkata, “Semoga Allah melaknat orang yang melakukan demikian. Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda, ‘Semoga Allah melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran’.”

Melaknat seorang muslim yang terpelihara haram hukumnya menurut kesepakatan ulama; dan diperbolehkan melaknat orang yang memiliki sifat tercela, seperti mengucapkan “Semoga Allah melaknat orang yang zalim, yang kafir, yang fasik, orang Yahudi dan Nasrani, serta orang yang membuat patung.”

Melaknat seseorang secara tertentu dari kalangan mereka yang terkenal suka melakukan maksiat, misalnya orang Yahudi dan Nasrani , orang zalim, pezina, tukang membuat gambar, pencuri atau pemakan riba, menurut makna lahiriah hadis ini tidak diharamkan.

Melaknat seorang muslim menurut pendapat Imam Ghazali

Imam Ghazali mengisyaratkan bahwa hal tersebut diharamkan, kecuali terhadap orang yang telah kita ketahui pasti bahwa dia mati dalam keadaa kafir, seperti Abu Lhab, Abu Jahal, Fir’aun, Haman, dan yang lainnya. imam Ghazali mengemukakan alasannya, “Dilarang karena laknat artinya menjauhkan orang yang dilaknat dari rahmat Allah swt, sedangkan kita tidak mengetahui amal apa yang memungkasi si kafir dan si fasik ini.”

Imam Ghazali mengatakan pula bahwa orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah secara tertentu dapat diinterpretasikan bahwa beliau mengetahui kematiannya dalam keadaan kafir.

Selanjutnya Imam Ghazali mengatakan, “Hampir mendekati dengan laknat ialah mendoakan keburukan terhadap manusia, sekalipun terhadap orang yang zalim. Misalnya seseorang mengucapkan, ‘semoga Allah tidak menyehatkan tubuhnya, semoga Allah tidak menyelamatkannya,’ dan lain sebagainya yang semakna; semua itu merupakan hal tercela, demikian pula melaknat semua hewan dan benda padat.

Abu Ja’far An Nahhas meriwayatkan dari sebagian ulama yang mengatakan, “Apabila seseorang melaknat sesuatu yang tidak berhak dilaknat, hendaklah ia segera menyusul laknatnya itu dengan ucapan, ‘kecuali jika ia tidak berhak (mendapat laknat).”

Orang yang menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar serta semua pendidik diperbolehkan mengatakan kalimat berikut kepada orang yang bersangkutan, “celakalah engkau, atau hal yang lemah keadaannya, atau hai orang yang sedikit mengoreksi dirinya, atau hai orang yang zalim.” Tetapi tidak sampai melampaui batas hingga berdusta; serta di dalamnya tidak boleh ada kalimat yang bernada menuduh, baik secara terang-terangan ataupun secara sindiran atau kiasan. Sekalipun ia benar dalam hal tersebut, yang diperbolehkan hanya seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Hendaknya ia lakukan demikian dengan tujuan mendidik dan memperingatkan serta memakai bahasa yang dapat mengetuk hati.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Anas yang menceritakan:

Nabi Muhammad melihat seorang lelaki menggiring seekor unta badanah (unta kurban). Maka beliau bersabda, “Naikilah!” lelaki itu berkata, “Sesungguhnya unta ini adalah badanah.” Nabi bersabda lagi, “Naikilah!” pada yang ketiga kalinya beliau bersabda, “Naikilah, celakalah engkau.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Sa’id Al Khudri yang menceritakan:

Ketika kami berada di sisi Rasulullah yang sedang melakukan suatu pembagian (ghanimah), datanglah Dzul Khuwaishirah kepadanya, yaitu seorang lelaki dari kalangan Bani Tamim; lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah (dalam pembagianmu).” Rasulullah menjawab, “Celakalah engkau, siapa yang akan berbuat adil jika aku sendiri tidak adil.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Adi ibnu Hatim yang menceritakan:

Bahwa ada seorang lelaki berkhotbah di hadapan Rasulullah. Dalam khotbahnya ia mengatakan, “Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka sungguh ia telah mendapat petunjuk; dan barang siapa yang durhaka terhadap keduanya, maka sesungguhnya ia telah sesat.” Maka Rasulullah bersabda, “Seburuk-buruk khatib adalah engkau. Katakanlah, ‘dan barang siapa yang durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.”

Diriwayatkan pula di dalam kitab Shahih Muslim melalui Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan:

Seorang budak milik Hathib datang menghadap Rasulullah mengadukan kepadanya tentang Hathib, lalu ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, Hathib niscaya masuk neraka.” Maka Rasulullah membantah, “Engkau dusta, dia tidak akan memasukinya, karena sesungguhnya dia telah ikut dalam perang Badar dan Hudaibiyah.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim mengenai perkataan Abu Bakar kepada anak lelakinya, yaitu Abdur Rahman, ketika ia menemukannya buat menjamu makan malam tamunya, yaitu, “Hai Ghuntsar.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain bahwa Jabir melakukan salat memakai selapis kain, sedangkan kain lainnya ia letakkan di dekatnya. Maka ada yang bertanya kepadanya, “mengapa engkau lakukan demikian?” Kabir menjawab, “aku sengaja melakukannya karena agar terlihat oleh orang bodoh seperti kalian.” Di dalam riwayat lain disebutkan, “agar aku kelihatan oleh orang-orang dungu seperti kamu.”

Hadis tentang Larangan Melaknat atau mengutuk

Diriwayatkan di dalam kitab Sahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Tsabit ibnudh Dhahhak, salah seorang sahabat yang ikut dalam Ba’iatur Ridhwan. Ia menceritakan hwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Melaknat orang mukmin sama dengan membunuhnya.

Diriwayatkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

Tidak layak bagi orang yang shiddiq menjadi orang yang suka melaknat.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Abu Darda, yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

Orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat, tidak pula menjadi syuhada di hari kiamat.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dan Sunan Turmudzi melalui Samurah ibnu Jundub, yang menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Janganlah kalian saling melaknat dengan laknat Allah, jangan pula dengan murka-Nya, serta jangan pula dengan neraka.

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Turmudzi melalui Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Orang mukmin bukanlah orang yang suka menuduh, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang suka berkata keji, bukan pula orang yang suka berkata kotor.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud melalui Abu Darda yang menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba bila melaknat sesuatu, maka laknatnya itu naik ke langit, tetapi semua pintu langit ditutup baginya. Kemudian laknat itu turun kembali ke bumi, tetapi semua pintu bumi tertutup untuknya. Selanjutnya laknat mencari jalan ke kanan dan ke kiri; apabila tidak menemukan lagi jalan keluar, maka ia kembali kepada orang yang dilaknat. Apabila orang yang dilaknat berhak menerimanya (mengenainya); dan jika tidak, maka ia akan berbalik kepada orang yang mengatakannya.

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Abu Daud dan Imam Turmudzi melalui Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

barang siapa melaknat sesuatu, padahal tidak pantas menerimanya, maka laknat itu akan berbalik kepadanya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Imran ibnu Hushain yang menceritakan:

Ketika Rasulullah berada dalam suatu perjalanannya, terdapat seorang wanita dari kalangan Anshar yang unta kendaraannya larat, lalu wanita itu melaknatny. Rasulullah mendengar laknatnya itu, maka beliau bersabda, “Ambillah oleh kalian apa yang ada di atas punggung unta itu, lalu lepaskan dia, karena sesungguhnya dia telah terlaknat.

Selanjutnya Imran ibnu Hushain mengatakan, “sekarang aku melihatnya (unta itu) berjalan diantara orang-orang tanpa ada seorang pun yang mengganggunya.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Abu Barzah yang menceritakan:

Ketika seorang pelayan wanita berada di atas hewan kendaraan (unta) yang juga mengangkut sebagian perbekalan kaum; di saat wanita itu memandang kepada Nabi Muhammad, tiba-tiba untanya membuat ulah hingga merepotkan mereka, maka pelayan wanita itu mengatakan, “Ya Allah, laknatlah unta ini.” Maka Nabi bersabda, “Jangan biarkan seekor unta yang terkena laknat berada bersama kami.”

Di dalam riwayat lain disebutkan:

Jangan biarkan menemani kami seekor unta (kendaraan) pun yang telah terkena laknat dari Allah swt.