Mengapa Ahli Ma’rifat Hatinya Terikat Oleh Cinta Kepada Allah

Keterangan yang diterima dari Syeikh Dzinnunil Mishrii Radhiyallaahu ‘anhu:

“Orang yang ma’rifat kepada Allah swt itu ditawan, maksudnya hatinya diikat dengan cinta kepada Allah.

Hatinya orang itu adalah orang yang melihat, maksudnya adalah yang menghiasi batin dengan muraqabah, serta dalam lahirnya dengan muhasabah (memperhitungkan amal). Dan amalnya orang itu banyak.”

Seseorang yang mencintai Allah dengan sebenar-benarnya, tidak akan ada lagi baginya yang utama selain Allah. Dalam segala tingkah lakunya dan perbuatannya, baik itu lahirnya maupun batinnya akan selalu bersandar dan menggantungkan dirinya kepada Allah.

Dia tidak akan tergoda, terbuai, dan terjerumus ke dalam perkara yang bisa menyesatkan dirinya. Dirinya tidak akan bergaul dan berbaur dengan orang-orang atau perkara yang tidak membawa manfaat baginya.

Cintanya kepada Allah merupakan cinta sejati, tidak ada lagi cinta yang lain. Dia akan disibukkan dengan melaksanakan segala perkara yang diperintahkan oleh Allah, baik itu yang wajib maupun yang sunnah. Selain itu dia tidak akan melaksanakan perkara yang dilarang oleh Allah.

Setiap hari dia akan sibuk dengan amal kebaikan, selalu berdzikir dan mengingat Allah, memuji Allah dengan memperbanyak takbir, tasbih, tahmid, tahlil, membaca Al Quran, dan lain sebagainya.

Dia setiap hari akan selalu merasa takut terjerumus ke dalam kema’siyatan, sehingga dirinya akan selalu sibuk memperbanyak amal kebaikan.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Inilah Sikap Ahli Ma’rifat Dalam Memandang Dunia dan Keadilan Allah

Keterangan yang diterima dari sebagian hukama: Orang-orang yang ma’rifat (tahu kepada Allah), maka tidak terbukti rasa enaknya bersama dengan para makhluq, karena sebenar-benarnya orang tersebut tidak menyukai selain Allah.

Dan siapa saja orang yang mengetahui bahwa dunia itu akan dan sering rusak, maka orang tersebut tidak akan menyukai dunia. Tetapi orang itu akan memilih perkara yang abadi (akhirat), serta akan beramal untuk kepentingan akhirat.

Serta orang-orang yang mengetahui akan Maha Adilnya Allah swt, maka tentu tidak akan berdatangan musuh-musuh kepadanya. Maksudnya tidak akan menghadap musuh kepadanya, karena orang itu akan meninggalkan permusuhan, seperti yang dikatakan oleh Imam Hasan Rahimahullaah,”Siapa saja orang yang ma’rifat kepada Allah, orang itu tentu akan mencintai Allah”.

Siapa pun orang yang ma’rifat dan tahu akan hinanya dunia, tentu saja orang itu akan membenci dunia.

Imam syafi’i berkata,”Tidak ada dari perkara dunia  kecuali seperti bangkai yang busuk, yang diatas bangkai tersebut ada anjing-anjing yang menginginkan untuk menggerogotinya (mengambilnya). Maka kalau kamu menjauhi bangkai itu, maka terbukti kamu menyerahkan bangkai itu. Dan apabila kamu mengambilnya (menginginkan bangkai itu), maka tentu saja anjing itu akan memusuhi kamu karena bangkainya diambil.”

Ketika seseorang sudah merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, merasakan manis dan bahagianya beribadah kepada Allah, maka tidak akan ada yang diinginkannya selain bisa dekat dengan Allah, serta tidak akan menyukai untuk bergaul serta berbaur dengan orang banyak.

Dunia itu merupakan tempat atau perkara yang sering rusak dan hina, oleh karena itu orang-orang yang mengetahuinya tidak akan terperdaya olehnya (dunia), tetapi mereka akan lebih memilih dan mengutamakan kepentingan akhirat yang akan abadi.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Apa Sajakah Buah atau Hasil Ma’rifat Kepada Allah

Keterangan yang diterima dari sebagian hukama, yaitu yang terbukti omongannya dan perbuatannya.

Buahnya ma’rifat, maksudnya mengetahui sifat-sifatnya Allah swt itu ada tiga perkara. Yang pertama perasaan malu kepada Allah, artinya hatinya mengkerut ketika berma’siyat kepada Allah. rasa cinta dalam dzat Allah, maksudnya mencintai perkara yang tetap ada di Allah swt, dari ganjaran dan mendapatkan ridha Allah. dan yang ketiga adalah hati tenang dengan dzat Allah, artinya bersihnya hati dari perasaan waswas dengan adanya dzat Allah swt.

Maka tiap-tiap orang yang merasa tenteram berarti ia orang shalih. Dan kalau hati tenang dengan dzat Allah itu merupakan tapak (bekas) melihat sifat jamal nya hadhrah Allah swt di dalam hati.

Ahli ma’rifat akan merasa malu apabila dia melakukan ma’siyat (terlanjur ma’siyat kepada Allah), dia merasa menyesal sekali atas perbuatannya serta merasa bersalah. Selain itu dia bertaubat kepada Allah swt dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha), dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan ma’siyat lagi.

Dalam menjalani hidup di dunia ini, hendaknya setiap manusia berusaha dan berjuang untuk mendapatkan ridha Allah. Kita harus ingat dan tidak boleh lupa bahwa Allah lah yang menciptakan kita, dan kepada-Nya kita akan kembali.

Ketika kita sudah dekat dengan Allah dan menyandarkan hati (diri) kita kepada Allah, dan meyakini bahwa setiap perkara yang terjadi sudah ada qadha dan qadarnya, maka kita akan merasa tenang, merasa tenteram dan bahagia.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Jalan Yang Ditempuh Ahli Ma’rifat Agar Bisa Ma’rifat

Jalannya ahli ma’rifat naik menuju ma’rifat adalah dengan mentafakuri dari jejak ciptaan Allah, terus menunjukkan terhadap adanya kekuasaan Allah dan ketentuan-Nya, dan adanya ilmu, kemudian sampai ke ma’rifat, kepada kesempurnaan dzat Allah.

‘Abdinya Allah yang diberi keistimewaan oleh-Nya, yaitu para wali dengan sifat-sifat kewaliannya. Nah dalam perjalanannya ada dua rupa, yaitu yang diawali dengan majdzub, terus balik lagi ke suluk. Dan ada yang di awali dengan suluk terus sampai ke majdzub, kemudian sembuh lagi.

Dalam kejadiannya ahlil jadzbi diawali dengan dibukakannya penglihatannya terhadap kesempurnaan dzat Allah swt, dengan akhirat. Sehingga rusak akalnya disebabkan melihat cahaya dzat Allah. Sehingga ingkar dengan adanya syari’at. Kemudian seterusnya akan dibalikkan (dikembalikan) dari melihat dzat Allah kepada melihat macam-macam sifat-Nya, dengan adanya terlihat sifat-sifatnya Allah, tersu dibalikkin lagi.

Maka dimana-mana melihat sifat-sifatnya Allah, terus melekat terhadap nama Allah yang lazim dari sifat-Nya tersebut, lalu dibalikkin ke menyaksikan ciptaan Allah, kemudian ingat lagi kepada keadaan dirinya sebagai ‘abdinya Allah.

Sedangkan kalau ahli suluk menetap dalam keadaan sebaliknya, yaitu mulai berdalil dari sebab wujudnya ciptaan Allah terhadap wujudnya asma’ Allah swt, terus naik dari wujud asma’ nya Allah kepada wujud sifat-sifatnya Allah. Dan dari wujud sifatnya Allah menunjukkan wujudnya dzat Allah yang sempurna.

Maka awalnya ahlil jadzbi adalah akhirnya ahli suluk, dan awalnya ahli suluk adalah akhirnya ahlil jadzbi. Tetapi tidak sama dalam maknanya, maksudnya ahlil jadzbi turun, sedangkan ahli suluk naik. Contohnya seperti dua orang yang berjalan di tanjakan, itu terkadang bertemu di tengah-tengah, yang seorang sedang turun dan seorang lagi sedang naik.

Perlu diketahui bahwa orang yang sedang berjuang kepada kema’rifatan itu ada empat bagian:

  1. Yaitu orang-orang ahli suluk saja, tidak sampai ke majdzub. Ahli suluk saja itu tidak pantas jadi murabbi dan jadi mursyid, sebab itu mengatur dhahirnya saja, belum ada cahaya di dalam batinnya yang menjadikan majdzub.
  2. Ada yang majdzub saja, ini juga tidak pantas untuk menjadi mursyid dan jadi murabbi.
  3. Ada yang majdzub terus jadi ahli suluk.
  4. Ada yang awalnya ahli suluk, terus majdzub.

Apabila yang menjadi ahli suluk terus bertemu dengan majdzub, maka ini pantas jadi murabbi. Begitu juga dengan yang majdzub terus jadi ahli suluk, ini juga pantas jadi murabbi dan jadi mursyid, atau jadi ahlit tarbiyyati wal irsyadi.

Hakikatnya suluk itu yang masih memikirkan keadaan makhluk yang belum sampai ke khaliq. Sedangkan yang disebut majdzub itu sudah melihat ke khaliqnya sambil tidak melirik ke makhluk-Nya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus empat puluh)

Ahli Ma’rifat Merasa Malu Apabila Meminta Kepada Allah

Disini akan dijelaskan tentang tingkahnya ahli ma’rifat dalam berdoa kepada Allah swt. Terkadang ahli ma’rifat itu merasa malu melaporkan kebutuhannya kepada Allah, lalu meminta kepada-Nya. Yaitu karena ahli ma’rifat itu merasa cukup dengan segala ketentuan dari Allah swt.

Ahli ma’rifat adalah orang yang sudah sampai dalam taqarrubnya kepada Allah swt. Hatinya bergantung kepada Allah dan dipenuhi dengan rasa ma’rifat, serta dibina dengan rasa pasrah terhadap semua ketentuan Allah swt. Sehingga dirinya tidak memiliki daya dan upaya, dan mengetahui bahwa sebenar-benarnya Allah swt sudah menentukan segala urusan yang berkenaan dengan dirinya ahli ma’rifat. Nah dengan demikian ahli ma’rifat itu malu meminta kepada Allah swt, apalagi meminta kepada sesama manusia.

Jadi pekerjaan ahli ma’rifat itu puncak tujuannya adalah menjalankan kejujuran dihadapan Allah swt, yaitu memperbanyak bakti kepada-Nya dan eling.

Sedangkan masalah meminta dalam sewaktu-waktu mereka sering merasa malu, karena mengetahui bahwa Allah swt sudah menentukan akan memberinya. Sehingga bila meminta serasa kurang sopan.

Pernah ada kejadian seorang ahli ma’rifat ditanya kenapa dirinya tidak meminta kepada Allah, kemudian ahli ma’rifat menjawab bahwa dirinya tidak mau disebut oleh Allah swt sebagai orang yang menuding kepada Allah, bahwa Allah tidak akan memberi, padahal Allah itu akan memberi, maka tidak sopan meminta kepada yang akan memberi. Dan apabila yakin Allah tidak akan memberi, lalu dirinya meminta, maka itu juga tidak sopan. Tetapi kalau dirinya pasrah maka Allah akan memperhatikan, dan akan diberi yang sesuai dengan dirinya.

Didalam hadist qudsi diterangkan bahwa sebenar-benarnya orang yang disibukkan ingat kepada Allah, sehingga lupa untuk meminta kepada Allah. Maka oleh Allah swt akan dipentingkan dengan lebih dibandingkan dengan orang yang meminta.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus delapan puluh empat)