Tata Cara Mandi Wajib Lengkap Dengan Niat Mandi Wajib

Mandi wajib itu dilakukan untuk membersihkan diri dari najis dan hal ini disebabkan oleh berbagai macam hal.

Bersuci itu ada 2 macam, yaitu:

  • Bersuci dari hadats kecil, yaitu dengan berwudhu.
  • Bersuci dari hadats besar, yaitu dengan mandi wajib.

Adapun yang mewajibkan mandi itu ialah:

  1. Bersetubuh, walaupun tidak keluar mani.
  2. Keluar mani, karena bersetubuh atau sebab-sebab lain.
  3. Haid
  4. Nifas
  5. Melahirkan anak (wiladah).
  6. Meninggal dunia, yang masih hidup wajib memandikan.

Darah haid, nifas dan istihadhah

Yang dimaksud dengan darah haid, ialah darah yang keluar dari rahim perempuan yang sehat, tanpa suatu sebab, dan umurnya paling sedikit 9 tahun ke atas. Lamanya haid ini paling sedikit 1 hari dan paling lama 15 hari.

Yang dimaksud darah nifas ialah darah yang keluar dari rahim perempuan setelah melahirkan. Lamanya paling sedikit satu lahdhah (securatan) dan paling lama 60 hari, tetapi kebanyakan 40 hari.

Adapun darah istihadhah ialah darah penyakit, bukan darah haid atau nifas, yang keluar dari qubul perempuan dengan ada suatu sebab, misalnya sakit.

Orang yang sedang haid atau nifas diharamkan:

  • Shalat (tidak wajib mengganti)
  • Puasa (wajib mengganti di waktu lain)
  • Thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah.
  • Membaca, menyentuh atau membawa Al Qur’an.
  • Duduk di mesjid atau mushalla.
  • Bersetubuh.
  • Thalaq (bercerai).
  • Niat menghilangkan hadats besar

Rukun mandi

Rukun mandi itu ada 2 macam, yaitu:

Niat

Niat dalam hati, dan boleh juga dibantu dengan diucapkan.

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِلْ حَدَثِ الْاَ كْبَرِ فَرْضًالِلّٰهِ تَعَالٰى

Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhal lillaahi ta’aalaa.

“Saya niat mandi untuk menghilangkan hadats besar wajib karena Allah Ta’aalaa.”

Meratakan air ke seluruh tubuh

Termasuk pula rambut, kuku, kemaluan dan sebagainya. apabila memakai cincin sebaiknya dilepas, agar dapat ditembus oleh air. Begitu pula rambut yang diuntai harus juga dilepas.

Menghilangkan najis yang dhahir (tampak di tubuh)

Sunat-sunat mandi

  1. Membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim.
  2. Istinja’ lebih dahulu, walaupun tidak habis buang air.
  3. Berwudhu dahulu.
  4. Menggosok seluruh tubuh.
  5. Memulai mandi dengan membasuh anggota tubuh yang kanan, kemudian yang kiri.
  6. Membasuh anggota tubuh sampai 3 kali.
  7. Tersu menerus tidak dipisah-pisahkan membasuhnya.

Bagi orang yang berhadats besar, yakni habis bersetubuh atau keluar mani, maka mandinya juga mandi besar, caranya:

  • Berniat mandi untuk menghilangkan hadats besar karena Allah.
  • Meratakan air ke seluruh tubuh, mulai dari rambut kepala.
  • Menghilangkan najis/kotoran yang melekat pada anggota badan.

Mandi yang disunahkan

  1. Mandi pada 2 hari raya.
  2. Mandi sebelum shalat jum’at.
  3. Mandi akan mengerjakan haji atau umrah.
  4. Mandi bagi orang yang habis memandikan mayat.
  5. Mandi ketika akan wukuf di Arafah.
  6. Mandi ketika akan masuk kota Mekkah.

Fardu Adus (Mandi besar)

Mandi besar (adus) itu ada beberapa hal yang menjadi kewajiban (harus dilakukan). Jadi apabila tidak dilaksanakan, maka tidak sah mandinya.

Fardu adus (mandi besar) itu ada 2, yaitu:

Niat mandi besar (adus)

Hal ini berdasarkan hadis Bukhari:

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sahnya amal itu karena niat.”

Meratakan air ke seluruh tubuh

Hal ini berdasarkan hadis:

Dari Juber bin Muthim, ia berkata, “Kami bercakap-cakap di hadapan Rasulullah tentang mandi sebab junub, Rasul berkata, ‘Cukup bagiku menyiramkan air ke atas kepala tiga kali setelah itu aku menyiramkannya ke seluruh tubuh.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa menghilangkan najis termasuk fardu adus. Perbedaan ini berasal pada permasalahan apakah satu kali siraman sudah menghilangkan najis atau belum? Apakah air itu jadi najis atau tidak?

Sebagian ulama menganggap cukup, dan yang menganggap tidak cukup sebab menghilangkan najis termasuk pekerjaan sedangkan pekerjaan itu bukan syarat. Yang menjadi pembicaraan disini adalah dalam menghilangkan najis hukmiah.

Yang Menyebabkan Mandi Besar (Adus)

Mandi besar (adus) merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh seseorang yang dirinya mempunyai hadas besar, baik itu disebabkan oleh jima’ (keluar mani), setelah suci dari haid dan nifas, dan lain-lain.

Jadi, keadaan atau situasi yang bisa menyebabkan seseorang harus mandi besar, yaitu:

Mandi Besar

Memasukkan hasafah (penis) ke dalam farji (vagina), atau melakukan hubungan intim.

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 43, “(Jangan pula hampiri masjid) sedangkan kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi.”

Juga dalam surat Al Maidah ayat 6, “Dan jika kamu junub maka mandilah.”

Berdasarkan Hadis Bukhari:

Dari Abi Khurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Apabila seorang laki-laki duduk di antara dua kaki dan tangan perempuan, kemudian mensyahkannya maka wajib (atas keduanya) mandi.”

Berdasarkan Hadis Muslim:

“Apabila seorang laki-laki duduk di antara kaki dan tangan perempuan, dan khitan laki-laki menyentuh khitan perempuan, maka wajib mandi.” Dalam riwayat lain sekalipun tidak keluar mani.

Hadis Syafi’i:

Siti Aisyah berkata, “Bila kedua khitan bertemu maka wajiblah mandi, aku melakukannya bersama Rasulullah, maka wajib mandi.”

Bertemu khitan yang mewajibkan mandi besar disyaratkan bahwa kelamin laki-laki harus masuk pada kelamin perempuan, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Imam Turmudzi, “Bila khitan laki-laki melewati khitan perempuan maka wajib mandi.”

Keluar mani

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6, “Dan jika kamu junub maka mandilah.”

Di antara makna janabah ialah keluar mani.

Berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim:

Dari Umar Salamah, ia berkata bahwa Umu Sulaim istri Abu Thalhah datang kepada Rasulullah, ia berkata, “Hai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu mengatakan perkara yang haq, apakah wajib mandi bagi perempuan apabila ia bermimpi?” Rasulullah berkata, “Ya” apabila ia melihat air mani.

Hadis Muslim:

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya wajib mandi itu apabila keluar mani.”

Apabila Haid

Berdasarkan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 222:

Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah, “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.

Kewajiban mandi bagi perempuan sudah reda darah haidnya, berdasarkan pada hadis Bukhari:

Nabi saw berkata kepada Fatimah binti Hubasy, “Jika datang (darah) haid hendaklah kamu meninggalkan shalat dan apabila (darah) haid itu telah habis hendaklah kamu mandi dan shalat.”

Nifas

Dalil yang menjadi dasar wajib mandi karena nifas ialah dalil haid karena nifas merupakan kumpulan dari haid yang terhalang oleh hamil, dan keluar setelah melahirkan. Oleh karena itu, kadang-kadang haid juga dinamakan nifas, seperti pada hadis Bukhari:

Dari Umi Samalamh ia berkata, “Ketika saya berbaring dengan Rasulullah dalam sebuah selimut, tiba-tiba aku haid kemudian saya pergi diam-diam untuk mengenakan pakaian haid. Nabi bertanya, ‘Kau telah haid?’ aku menjawab, ‘Ya’, beliau memanggilku lalu aku berbaring bersamanya dalam satu selimut.”

Melahirkan

Dalil yang menjadi dasar wajib mandi karena melahirkan adalah dalil wajib mandi karena keluar mani, karena anak (bayi) yang keluar adalah merupakan air mani yang sudah berbentuk. Oleh karena itu Imam Rofi’i menetapkannya dengan qiyas aulawi, sebagaimana beliau berkata:

Karena sesungguhnya wajibnya mandi yang disebabkan oleh keluarnya mani yang telah menjadi anak, maka wajib mandi karena melahirkan anak ialah lebih utama daripada keluar mani.

Meninggal Dunia

Hal ini berdasarkan hadis Bukhari:

Dari Umi Athiah, ia berkata, “Rasulullah datang kepada kita, seraya berkata tentang orang yang mati karena ihram karena terinjak untanya, ‘mandikanlah dengan air dan bidara.”

Hadis Muslim dan Ibnu Majah:

Dari Umi Athiyah, ia berkata, “Nabi masuk kepada kami ketika kami memandikan anaknya (yang meninggal) kemudian beliau berkata, ‘mandikanlah ia tiga kali, atau lima kali bahkan lebih banyak dari itu jika kalian berpendapat begitu, dengan air, bidara dan kapur, dan jika telah selesai memandikannya, kami memberi tahu kepada Nabi dan berkata, ‘Jadikanlah sarung itu sebagai pakaian dalam baginya.”

Inilah Hukum Menggabungkan Mandi Junub dan Mandi Jumat

Mandi karena hadas junub dan sekaligus mandi untuk shalat jumat umpamanya, dengan niat dua maksud tadi, maka keduanya dinyatakan boleh, walaupun yang afdhal adalah memisahkannya (yakni mandi wajib sendiri dan mandi sunat pun sendiri). Atau jika berniat hanya untuk salah satunya, maka yang diniati itu sajalah yang berhasil. Kalau seseorang telah berhadas kecil lalu ia mandi junub, maka cukup dengan sekali mandi, walaupun tidak berniat wudhu dan tidak menertibkan membasuh anggotanya.

Orang yang junub, haid dan nifas, setelah tidak lagi mengeluarkan darah, disunahkan mencuci farjinya dan berwudhu untuk tidur, makan, dan minum.

Makruh mengerjakan sesuatu (tidur, makan, minum) tanpa wudhu. Seyogyanya sebelum mandi tidak membuang rambut, kuku, darah, sebab yang demikian itu akan dikembalikan kelak di akhirat dalam keadaan junub. Boleh membuka aurat ketika mandi di tempat yang sepi atau di depan orang yang boleh melihat auratnya, misalnya istri dan budak wanita (yang dimilikinya). Adapun menutup auratlebih utama.

Haram membuka aurat jika ada yang diharamkan melihat auratnya, seperti haram membuka aurat di tempat yang sepi tanpa maksud tertentu. Namun, boleh membukanya bila ada maksud tersendiri, seperti yang akan diterangkan nanti.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Hukum Membaca Bismillah dan Berwudhu Ketika Mandi Wajib (Junub)

Disunatkan wudhu (jangan sampai batal) hingga selesai mandi. Jika batal, sunat mengulanginya kembali. Menurut pendapat Imam Muhamili, sunat wudhu itu khusus bagi mandi wajib adalah dhaif.

Yang lebih utama, tidak mengakhirkan mencuci kedua telapak kakinya sesudah mandi, seperti dijelaskan dalam kitab Raudhah, walaupun ada keterangan dalam hadis Bukhari yang memperbolehkan mengakhirkannya.

Bila wudhu pada pertengahan mandi atau sesudahnya, yang demikian itu telah memperoleh asal kesunatannya. Tetapi yang lebih utama hendaklah mendahulukan wudhu dan makruh bila meninggalkannya.

Wudhunya itu (dilakukan) dengan niat untuk mandis sunat, kalau berhadas junub tanpa hadas kecil. Kalau berhadas kecil, berniat wudhu untuk menghilangkan hadas kecil dan sebagainya, supaya tidak menimbulkan perselisihan dengan orang yang mewajibkannya, yaitu yang berpendapat bahwa hadis kecil tidak tercakup dengan menghilangkan hadas besar.

Jika wudhu batal sesudah hilang hadas junub dari semua anggota wudhu, tetap wajib wudhu kembali secara tertib dengan niat.

Sunat membersihkan lipatan anggota (wudhu), misalnya telinga, ketiak, pusat, ujung mata, tempat luka, pangkal rambut, dan membasuh kepala dengan meratakan air sesudah menyela-nyelai, bila kepalanya berambut.

Tidak sunat mendahulukan bagian kanan kepala bagi orang yang tidak putus tangannya, lalu membasuhnya dan berlanjut ke bagian kiri. Dan menggosok-gosok anggota badan yang terjangkau oleh tangan, supaya keluar dari pendapat orang yang mewajibkan demikian.

Sunat membasuh seluruh badan (sebanyak) tiga kali berulang-ulang, membaca Bismillah, dan dzikir sesudahnya. Menurut kaul yang termasyhur, pelaksanaannya bisa menggunakan air yang menggenang (bak), dengan menggerakkan badan tiga kali, walaupun tidak memindahkan kedua telapak kaki ke tempat lain.

Sunat menghadap ke arah kiblat, terus menerus, meninggalkan pembicaraan yang tidak perlu, dan tidak menyeka badan tanpa udzur.

Setelah mandi disunatkan membaca dua kalimat syahadat serta doa yang menyertainya, sebagaimana bacaan ketika shalat wudhu. Tidak boleh (makruh) mandi karena junub atau lainnya, seperti wudhu, dalam air yang menggenang, tidak seperti air laut (melimpah), misalnya air yang bersumber dari mata air yang tidak mengalir.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak boleh salah seorang di antara kamu mandi dalam air yang menggenang, padahal dia junub.” (Riwayat Muslim)

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani