Yang Menjadi Fardhu, Sunah & Makruhnya Mandi Besar (adus)

Mandi besar dilakukan bila seseorang memiliki hadats besar, seperti sudah melakukan hubungan suami istri, haid, nifas dan lainnya. Berikut ini yang menjadi fardhu nya mandi besar:

1. Niat.

Niat menghilangkan junub atau haid. Apabila seseorang junub (setelah jima’) niatnya adalah Nawaetu rof’al jinabah (niat saya menghilangkan junub), kalau adusnya (mandinya) karena haid maka niatnya Nawaetu rof’al hadatsil akbari ‘anil haedi (niat saya adus/mandi menghilangkan hadast besar dari haid)
Kalau kita niat menghilangkan junub terus adus, tetapi yang diadusan (dimandiin) nya hanya sebagian misalnya kepala saja, kemudian kita tidur, setelah bangun akan adus (mandi) lagi, karena tadi baru sebagian, maka dalam hal ini dia tidak harus niat lagi, karena tidak disyaratkan harus tuluy-tuluy (terus terusan), tetapi hukumnya sunat.
Dalam masalah adus (mandi) tidak cukup nawaetul gusla saja, karena kata gusla ihtimal atau pantasnya untuk adus sunat atau adus fardunya.

2. Meratakan air ke seluruh badan.

Meratakan ke seluruh badan yang dohir sehingga kuku-kuku dan dibawah kuku yang kotor itu harus dibersihkan, semua rambut yang dohir dan batin walupun lebat rambut tersebut, serta perkara yang dohir seperti tempat tumbuhnya rambut, lubang telinga (lubang anting), farji’nya perempuan, dan perkara yang kelihatan di farji’nya ketika perempuan duduk, kotoran di kaki, radang-radang atau cacar yang terbuka bekasnya, radang tetapi tidak wajib dalamnya kalau sekira-kiranya madharat, nah semua hal diatas wajib dibersihkan.

Haram bagi si ghosil/orang yang adus memecahkan yang rapat seperti yang dempet. Wajib juga membersihkan di bawah qulfu karena termasuk dohir, waalupun tidak terlihat, sebab nanti juga qulfu tersebut akan dibuang saat dikhitan.

Apabila anak laki-laki meninggal belum disunat, dan sulit membersihkan qulfunya, maka tidak apa-apa tidak dibersihkan juga, langsung saja dikubur tidak harus dishalati menurut qoul mumtamad (Imam Romli). Tetapi menurut Ibnu Hajar ditayamuman saja perkara yang dibawah qulfu dan disholati mayit tersebut karena madharat. Dan tidak wajib diadusin rambut yang ngabundel oleh sendiri.

Disunatkan dalam adus yang wajib dan sunat membaca Bismillaahirrahmaanirrahim diawal, serta sunat menghilangkan kokotor. Air mani, kotoran hidung yang cair, madzi cukup membersihkannya sekali saja, tetapi kalau ada kulit yang bekas dijilat anjing, maka mensucikannya seperti cara menghilangkan najis mugholadoh (7 kali basuhan, yang 1 nya memakai tanah yang suci).

Hal-hal yang sunat ketika adus (mandi besar)

  1. Wudhu sebelum adus (wudhu yang sempurna).
  2. Melanggengkan wudhu ketika adus, sampai beres adusnya, jadi ketika batal disunatkan wudhu lagi. Kalau seseorang ketika adus lupa berwudhu dulu, kemudian baru ingat baik itu di tengah-tengah ataupun setelah beres adus, maka hasilnya buat orang tersebut pasunatan wudhu. Yang utama adalah mendahulukan wudhu, serta makruh meninggalkan wudhu.
    Niat wudhu akan adus (mandi) : nawaetu sunnatal wudhui lilgusli
  3. Tiga kali- tiga kali
  4. Menyela-nyela rambut bagi perempuan, sedangkan bagi lelaki selain rambut, kumis juga wajib diadusin, karena adus itu jarang tidak seperti wudhu yang sering.
  5. Menyela-nyela jari-jari tangan dan kaki.
  6. Memulai dari sebelah kanan, dan dari sebelah atas dulu (dari kepala dulu dan menggosok-gosok anggota badan)
  7. Menghadap kiblat.
  8. Jangan menyimpan wadah air di tempat yang kecipratan, dan menyimpan wadah tersebut di sebelah kanan.
  9. Jangan meminta tolong kalau tidak ada uzur.
  10. Nutupin aurat.
  11. Membaca 2 kalimah syahadat.
  12. Berkumur
  13. Memasukkan air ke dalam hidung.

Makruh nya adus (mandi besar ) ada 4, yaitu :

  1. Berlebihan dalam menggugunakan air.
  2. Kurang dari 3 kali.
  3. Lebih dari 3 kali.
  4. Adus (mandi) di air yang diam.

Perkara Yang Mengharuskan Mandi Besar (adus)

Ada beberapa hal atau perkara yang bisa mewajibkan seseorang harus mandi besar, yaitu:

1. Memasukkan penis ke vagina.

Masuknya itu semua penis, kalau masuknya sepotong walupun yang sepotong itu sama dengan semua orang itu tidak wajib adus (mandi). Tetapi kalau orang yang tidak ada penis, apakah itu dari lahirnya atau buntung, itu samakan saja dengan penis orang lain yang perawakannya sama dengan orang tersebut. Masuknya penis ke vagina, vaginanya itu mutlak, apakah vagina perempuan atau vagina binatang atau ke dubur wanita itu wajib adus (mandi), walaupun ke dubur hewan yang mati ataupun hidup.

Tetapi hewan tidak wajib adus (mandi) sebab tidak di taklif oleh syara’. Sekarang apabila orang memperkosa hewan, tidak wajib memandiin hewan tersebut. Apabila mayit yang sudah diadusin (dimandiin) kemudian ada yang menjima’ maka tidak wajib diadusin (dimandiin lagi). Atau apabila mayitnya lelaki, kemudian penisnya dimasukan ke vagina perempuan yang masih hidup, maka mayit tersebut tidak wajib dimandiin (diadusin).

Jika ada vagina yang besar, sekira-kiranya lelaki masuk, baik penisnya ataupun seluruh badannya, maka yang memasukkan dan yang dimasukin wajib adus (mandi) dua-duanya.

2. Keluar mani.

Apakah keluarnya tersebut ketika tidur ataupun tidak, apakah dari lubang yang biasa ataupun tidak biasa, ketutupan dan keluarnya harus balikan duluan. Jadi kalau keluarnya mani orang seperti keluarnya mani lelaki di dalam vagina atau dubur perempuan. Seperti seorang perempuan dijima’ di dubur, setelah mandi (adus) keluar dari duburnya mani laki-laki, maka adusnya (mandinya) tidak harus diulang lagi.

Begitu juga apabila laki-laki berjima’, lalu mandi tetapi setalah mandi keluar lagi mani dari duburnya maka itu juga tidak harus mengulang lagi. Kalau perempuan di jima’ di farji nya, ketika sudah mandi (adus) keluar mani dari farji itu tafsil. Kalau wanita tersebut di jima’ ada syahwat, baligh, bangun serta tidak dipaksa itu wajib harus adus (mandi) lagi, karena menurut hukum dohir mani itu campur antara mani dirinya dan mani lelaki.

Tetapi ketika dijima’ nya tidak ada syahwat misalkan wanita itu masih kecil atau dijima’nya ketika tidur atau dipaksa itu tidak harus adus (mandi). Dalam masalah yang keluar dari farji perempuan selain air mani ada yang disebut madzi, itu najis tapi tidak wajib adus (mandi). Warnanya agak kuning dan kental, biasanya keluarnya itu ketika ada syahwat atau keluarnya tersebut kebanyakan di perempuan ketika dipermainkan oleh lelaki, misalkan diciumi, dirangkul. Nah setelah keluar madzi, tidak boleh dijima; dulu sebelum dicebokin. Karena nantinya apabila keluar mani, maninya menjadi najis.

Apabila ada kasus seseorang melihat di pakaiannya was was apakah madzi atau mani, maka tergantung orang tersebut. Kalau dia menekad kan bahwa itu adalah mani, maka dia wajib mandi, sebaliknya kalau dia menekad kan kalau itu adalah madzi, maka wajib wudhu dan wajib dibersihkan madzi yang ada di pakaiannya, serta solatnya yang sudah terlewat wajib di qodo.

3. Keluar darah haid.

Tegasnya dimana-mana putus darah. Dan lagi yang disebut darah haid adalah darah yang keluar dari ujungnya rahim perempuan dalam waktu-waktu yang ditentukan, serta keluarnya darah haid dimana-mana umur sembilan tahun. Yang disebut rahim ialah kulit seperti kantong, lubangnya kecil dan lubangnya berdekatan/menepati lubang farji. Ketika dijima’ dan bertepatan lobang terbuka sambil air maninya bertelur, maka langsung jadi anak, nah rahim tersebut akan tertutup rapat, tidak akan kemasukan mani yang lain. Apabila keluar darah itu bukan masanya/saatnya/belum umurnya haid maka itu namanya bukan darah haid, tapi darah istihadoh atau darah penyakit.

4. Nifas.

Darah haid yang ngumpul yang keluar setelah kosongnya rahim atau setelah keluarnya bayi/setelah melahirkan. Apakah melahirkan anak, ataupun keguguran, yang berupa darah kental atau sepotong daging. Nah haid dan nifas tersebut harus adus (mandi) setelah suci, apabila belum suci jangan dulu adus (mandi).

5. Melahirkan

Setelah melahirkan wajib adus, dan harus setelah keluar badan bayi semuanya, kalau belum keluar semua badannya/sepotong itu tidak wajib adus. Atau sudah keluar sepotong tetapi masuk lagi, maka itu tidak wajib adus. Sedangkan apabila anaknya kembar, maka ketika bayinya keluar satu itu boleh adus

6. Meninggal

Itu juga yang bukan mati syahid dunia akhirat, karena yang demikian diadusin (dimandiin) juga haram, seperti yang dikatakan Rasulullah bahwa orang yang mati syahid akan wangi seperti minyak misik di hari kiamat Dan wajibnya memandiin/mengadusi itu adalah bagi orang yang hidup. Kalau ada anak dikandung baru 6 bulan, terus lahir tidak ada nyawanya bahkan tidak ada ciri-cirinya hidup itu juga wajib dimandiin (diadusin). Kafir yang meninggal tidak wajib dimandiin, tetapi kalau dimandiin juga tidak apa-apa.

Jadi kesimpulannya yang mewajibkan adus yang 6 itu terbagi ke dalam 2 bagian :
a. Untuk laki dan perempuan seperti memasukkan penis ke farji, keluar mani dan meninggal.
b. Untuk perempuan saja ; haid, nifas, dan melahirkan.

Syarat, Rukun, dan Hal Yang Mewajibkan Mandi Besar

Mandi besar atau mandi wajib  adalah mandi atau menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara tertentu untuk menghilangkan hadats besar. Hal itu adalah pengertian dalam syariat Islam. Arti al-gusl secara etimologi adalah menuangkan air pada sesuatu.

Yang menyebabkan wajib mandi besar:

  1. Bersetubuh (jima’) meskipun tidak keluar mani.
  2. Keluar mani sebab mimpi, jima’ atau sebab lainnya dengan perbuatan sendiri atau tidak.
  3. Mati, orang islam yang mati wajib dimandikan oleh orang yang hidup, kecuali orang yang mati syahid (dalam perang sabil) atau mati kafir.
  4. Haid, seorang perempuan yang sudah berhenti dari haidnya.
  5. Nifas, darah yang keluar dari perempuan yang baru melahirkan.
  6. Bila orang kafir masuk islam.
  7. Wiladah (melahirkan), baik anak yang dilahirkan cukup umur dalam kandungan atau tidak seperti keguguran.

Rukun mandi besar

  1. Niat (dalam hati). Lafadhnya adalah “Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhan lillahi ta’ala.”
  2. Meratakan air pada seluruh tubuh.

Syarat Mandi besar dan wudhu :

  1. Islam
  2. Tamyiz
  3. Suci dari haid dan nifas
  4. Bersih dari hal-hal yang menghalangi sampainya air kepada anggota wudhu dan adus.
  5. Di anggota wudhu & adus, tidak ada yang merobahkan air.
  6. Tahu kefardhuan wudhu dan adus.
  7. Tidak menekadkan sunat kepada semua fardhu.
  8. Airnya yang membersihkan (mutlak)
  9. Masuk waktu ibadah
  10. Berturut-turut.

Dirangkum oleh Ustadz M. Aas Satibi (pondok pesantren Pulosari Leuwigoong Kab. Garut) dari berbagai macam kitab fikih

Tata Cara Mandi Wajib Lengkap Dengan Niat Mandi Wajib

Mandi wajib itu dilakukan untuk membersihkan diri dari najis dan hal ini disebabkan oleh berbagai macam hal.

Bersuci itu ada 2 macam, yaitu:

  • Bersuci dari hadats kecil, yaitu dengan berwudhu.
  • Bersuci dari hadats besar, yaitu dengan mandi wajib.

Adapun yang mewajibkan mandi itu ialah:

  1. Bersetubuh, walaupun tidak keluar mani.
  2. Keluar mani, karena bersetubuh atau sebab-sebab lain.
  3. Haid
  4. Nifas
  5. Melahirkan anak (wiladah).
  6. Meninggal dunia, yang masih hidup wajib memandikan.

Darah haid, nifas dan istihadhah

Yang dimaksud dengan darah haid, ialah darah yang keluar dari rahim perempuan yang sehat, tanpa suatu sebab, dan umurnya paling sedikit 9 tahun ke atas. Lamanya haid ini paling sedikit 1 hari dan paling lama 15 hari.

Yang dimaksud darah nifas ialah darah yang keluar dari rahim perempuan setelah melahirkan. Lamanya paling sedikit satu lahdhah (securatan) dan paling lama 60 hari, tetapi kebanyakan 40 hari.

Adapun darah istihadhah ialah darah penyakit, bukan darah haid atau nifas, yang keluar dari qubul perempuan dengan ada suatu sebab, misalnya sakit.

Orang yang sedang haid atau nifas diharamkan:

  • Shalat (tidak wajib mengganti)
  • Puasa (wajib mengganti di waktu lain)
  • Thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah.
  • Membaca, menyentuh atau membawa Al Qur’an.
  • Duduk di mesjid atau mushalla.
  • Bersetubuh.
  • Thalaq (bercerai).
  • Niat menghilangkan hadats besar

Rukun mandi

Rukun mandi itu ada 2 macam, yaitu:

Niat

Niat dalam hati, dan boleh juga dibantu dengan diucapkan.

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِلْ حَدَثِ الْاَ كْبَرِ فَرْضًالِلّٰهِ تَعَالٰى

Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhal lillaahi ta’aalaa.

“Saya niat mandi untuk menghilangkan hadats besar wajib karena Allah Ta’aalaa.”

Meratakan air ke seluruh tubuh

Termasuk pula rambut, kuku, kemaluan dan sebagainya. apabila memakai cincin sebaiknya dilepas, agar dapat ditembus oleh air. Begitu pula rambut yang diuntai harus juga dilepas.

Menghilangkan najis yang dhahir (tampak di tubuh)

Sunat-sunat mandi

  1. Membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim.
  2. Istinja’ lebih dahulu, walaupun tidak habis buang air.
  3. Berwudhu dahulu.
  4. Menggosok seluruh tubuh.
  5. Memulai mandi dengan membasuh anggota tubuh yang kanan, kemudian yang kiri.
  6. Membasuh anggota tubuh sampai 3 kali.
  7. Tersu menerus tidak dipisah-pisahkan membasuhnya.

Bagi orang yang berhadats besar, yakni habis bersetubuh atau keluar mani, maka mandinya juga mandi besar, caranya:

  • Berniat mandi untuk menghilangkan hadats besar karena Allah.
  • Meratakan air ke seluruh tubuh, mulai dari rambut kepala.
  • Menghilangkan najis/kotoran yang melekat pada anggota badan.

Mandi yang disunahkan

  1. Mandi pada 2 hari raya.
  2. Mandi sebelum shalat jum’at.
  3. Mandi akan mengerjakan haji atau umrah.
  4. Mandi bagi orang yang habis memandikan mayat.
  5. Mandi ketika akan wukuf di Arafah.
  6. Mandi ketika akan masuk kota Mekkah.

Fardu Adus (Mandi besar)

Mandi besar (adus) itu ada beberapa hal yang menjadi kewajiban (harus dilakukan). Jadi apabila tidak dilaksanakan, maka tidak sah mandinya.

Fardu adus (mandi besar) itu ada 2, yaitu:

Niat mandi besar (adus)

Hal ini berdasarkan hadis Bukhari:

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sahnya amal itu karena niat.”

Meratakan air ke seluruh tubuh

Hal ini berdasarkan hadis:

Dari Juber bin Muthim, ia berkata, “Kami bercakap-cakap di hadapan Rasulullah tentang mandi sebab junub, Rasul berkata, ‘Cukup bagiku menyiramkan air ke atas kepala tiga kali setelah itu aku menyiramkannya ke seluruh tubuh.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa menghilangkan najis termasuk fardu adus. Perbedaan ini berasal pada permasalahan apakah satu kali siraman sudah menghilangkan najis atau belum? Apakah air itu jadi najis atau tidak?

Sebagian ulama menganggap cukup, dan yang menganggap tidak cukup sebab menghilangkan najis termasuk pekerjaan sedangkan pekerjaan itu bukan syarat. Yang menjadi pembicaraan disini adalah dalam menghilangkan najis hukmiah.