Tata Cara Menjadi Makmum Shalat (Yang Sah dan Tidak Sah)

Salat berjamaah merujuk pada aktivitas salat yang dilakukan secara bersama-sama. Salat ini dilakukan oleh minimal dua orang dengan salah seorang menjadi imam (pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmum.

Makmum merujuk pada mereka yang melaksanakan salat secara berjama’ah dan bertindak sebagai anggota (yang dipimpin). Ada pula makmum yang disebut Masbuq, yaitu orang yang melakukan salat berjamaah tidak dari awal karena terlambat mengikuti awal salat atau rakaat pertama. Paling bagusnya berjamaah yaitu ketika orangnya banyak serta imamnya pintar dalam masalah surat Al Quran. Gambaran menjadi makmum itu ada 9, dibagi 2 bagian :

Menjadi makmum yang sah, ada 5 perkara :

  1. Anut/turutnya lelaki ke lelaki lagi
  2. Nge ma’mum nya wanita ke lelaki
  3. Nge ma’mum nya khunsa ke lelaki, jadi tidak sah kalau lelaki ke khunsa.
  4. Nge ma’mum nya perempuan ke banci
  5. Nge ma’mum nya wanita ke wanita

Menjadi makmum yang tidak sah ada 4, yaitu :

  1. Anutnya/turutnya lelaki ke perempuan
  2. Nge ma’mum nya banci ke perempuan
  3. Lelaki ke banci
  4. Khunsa ke khunsa

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Syarat Menjadi Ma’mum Shalat

Syarat-syarat menjadi ma’mum ada 11, yaitu :

  1. Ma’mum jangan tahu tentang batalnya sholat imam, jangan menyangka ma’mum terhadap batalnya sholat imam, apakah disebabkan hadast ataupun lainnya.
  2. Ma’mum jangan bertekad wajibnya qodho sholatnya imam, yang dimaksud bertekad/nekadken disini adalah sangkaan yang menindih, seperti imam yang mengulangi lagi sholatnya karena bersucinya dengan tayamum disebabkan dingin.
  3. Ma’mum jangan nge ma’mum ke orang yang nge ma’mum lagi
  4. Imam jangan yang bodoh (yang jadi imam harus bagus bacaannya)
  5. Ma’mum jangan mendahului imam di tempat diam, jangan maju si ma’mum ke semua perkara yang nekan ke satu juz, sedangkan si imam ada di itu juz.
  6. Ma’mum harus tahu pindah-pindahnya imam. Tegasnya ma’mum harus tahu pekerjaan imam dengan terlihat ataupun terdengar. Seperti melihatnya itu ke sebagian jajaran/barisan atau mendengarnya itu ke suara imam atau mubaliggh, apakah mubalighnya sedang sholat ataupun tidak, apakah anak kecil atau orang fasiq yang menjadi mubalighnya. Tetapi menurut qoul mu’tamad, bahkan Ibnu Hajar mensyaratkan yang menjadi mubaligh itu adalah yang ‘adil riwayatnya.
  7. Harus kumpul ma’mum dan imam di mesjid/suatu tempat, sebab tujuan nge ma’mum itu untuk berkumpul bareng berjamaah, atau kalau diluar mesjid maka harus dekat dengan imam serta jangan terhalang tembok, dan jangan melebihi 300 siku, serta jangan terhalang jalan sungai. Dengan adanya penghalang tidak disebut perkumpulan/berkumpul.
  8. Harus niat turut/anut ma’mum ke imam atau berjamaah, ketika takbirotul ihrom.
  9. Muwafaqoh urutan sholatnya ma’mum dan imam, tegasnya susunan sholatnya yang jelasdi hal-hal pekerjaan yang dhohir, walaupun berbeda bilangannya. Jadi tidak sah apabila berbeda ditiap susunannya seperti di sholat fardhu, sholat gerhana dll.
  10. Ma’mum jangan nyulayaan (tidak turut) ke imam di pasunatan (banyak nyulayaannya). Tegasnya yang jelek mukholafahnya seperti sujud tilawah, maka wajib muwafaqoh di sajdah tilawah, sama dengan mengerjakannya dan ninggalinnya seperti sujud sahwi.
  11. Harus anut/nurut ma’mum ke imam, tegasnya mengakhirkan takbirotul ihrom setelah takbirotulnya imam. Dan tidak boleh mendahului ma’mum ke imam di dua rukun.

Faidah : yang namanya muqoronah adalah ngebarengin ma’mum ke imam.

Muqoronah terbagi 5 bagian.

  1. Muqoronah yang haram, seperti ngebarengin ma’mum ke imam di takbirotul ihrom.
  2. Yang disunatkan, seperti ngebarengin di Aaamiin
  3. Makruh, ngebarengin di rukun pekerjaan, seperti salam.
  4. Mubah/wenang seperti ngebarengin di elain yang disebut diatas.
  5. Wajib, seperti kalau ma’mum tidak keburu baca fatihah kecuali dengan bareng.

I’lam : yang harus turut ke imam ada di 9 perkara :

  1. I’tidal, walupun imam sedang qunut.
  2. Sujud pertama
  3. Sujud kedua
  4. Duduk diantara 2 sujud
  5. Duduk istirahat
  6. Tahiyat awal
  7. Tahiyat akhir
  8. Sujud sahwi
  9. Sujud tilawah

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi