Jangan Menganiaya Orang Lain

Perbuatan menganiaya manusia atau orang lain merupakan perbuatan yang tercela dan dilarang dalam islam, dan orang yang melakukannya berdosa.

Rasulullah bersabda:

“Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya pada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf)nya sekarang juga sebelum datang suatu hari yang tiada harta dinar atau dirham, jika ia mempunyai amal salih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanah (kebaikan) maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.”

Penganiayaan ini ialah berupa caci maki, cubitan, tipuan, gunjingan, copetan dan segala gangguan dalam badan atau kekayaan atau kehormatan dan sebagainya.

Diriwayatkan dari Uwais Al Qaraniy, bahwasanya ia berkata, “Saya melewati di sebagian perjalananku bersama seorang pendeta, lalu saya bertanya, ‘Hai pendeta, apa derajat yang pertama kali dinaikkan Yang Maha Menghendaki?’ Jawabnya, ‘Menolak penganiayaan dan meringankan beban orang dari punggung. Karena sesungguhnya amal seorang hamba tidak akan dinaikkan sedangkan dia masih punya beban (tanggungan) atau penganiayaan.”

Maksiat Badan

Ada banyak sekali perbuatan yang bisa dikategorikan sebagai maksiat badan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

Durhaka kepada orang tua

Rasulullah Saw bersabda:

“Seluruh dosa Allah menunda (siksaannya) bila menghendaki sampai hari kiamat kecuali durhaka kepada orang tua. Maka sesunguhnya Allah menyegerakannya terhadap orang yang durhaka kepada kedua orang tua di dalam kehidupan dunia sebelum mati.”

Nabi Muhammad juga bersabda:

“Anak yang berbakti terhadap kedua orang tua tidak akan masuk neraka, sedangkan anak durhaka itu tidak akan masuk surga.”

Menurut Ibnu Hajar bahwa durhaka terhadap salah seorang dari kedua orang tua (ibu dan bapak) adalah apabila seorang anak menyakiti salah seorang dari kedua orang tuanya. Apabila ia berbuat menyakitkan itu bukan terhadap kedua orang tua yakni kepada orang lain, itu terlarang dan dosa kecil, tapi kalau perbuatan itu dipindahkan terhadap salah seorang dari kedua orang tua maka menjadi besar.

Batasan seorang anak menyakiti salah seorang dari kedua orang tuanya, maksudnya ialah termasuk memukulnya, mencaci maki, dan berkata tidak sopan kepadanya, maka hal itu adalah haram. Berbeda dengan pendapat kami bahwa anak yang mengambil harta salah seorang dari kedua orang tuanya maka tidak dosa besar jika orang tua merasa belas kasih dan tidak berang kepadanya. Sedangkan jika anak itu mengambil harta orang lain hukumnya haram.

Menurut Abdurrahman bahwa orang tu haram memakan harta anaknya dengan jalan yang dilarang syara’. Namun hal ini seorang anak tidak boleh memenjarakan orang tuanya. Menurut Hanabilah dakwaan anak terhadap orang tuanya tidak perlu didengar karena hak kebapakan.

Lari dari medan perang

Yaitu orang yang lari dari barisan perang pada saat menghadapi musuh yang lebih kuat dan besar jumlahnya.

Durhaka kepada orang tua dan lari dari barisan perang termasuk dosa besar

Menarik pakaiannya

Yaitu memanjangkan (menarik) pakaiannya ke bawah bagi lelaki hingga melampaui dua mata kaki hingga menyapu tanah dengan maksud kemegahan dan kesombongan.

Maksiat farji

Kemaksiatan itu banyak sekali jenisnya, ada yang dilakukan oleh anggota badan, misalnya yang dilakukan oleh mata, kaki, telinga, farji, dan lain sebagainya. selain itu ada juga kemaksiatan yang  dilakukan oleh hati.

Beberapa perbuatan yang bisa dikategorikan ke dalam maksiat farji, artinya kemaksiatan yang dilakukan oleh kaki ialah:

Berzina

Zina merupakan perbuatan dosa besar yang harus dipatuhi karena sangat membahayakan pribadi, masyarakat, moral dan agama serta membawa siksaan yang berat.

Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 32:

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dasn suatu jalan yang buruk.

Allah juga berfirman dalam surat An Nur ayat 2:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap mereka dari keduanya seratus kali dera.”

Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada suatu dosa setelah syirik yang lebih besar daripada seorang lelaki yang meletakkan (memancarkan) sperma di dalam rahim wanita yang tidak halal baginya.”

Rasulullahh juga bersabda, “Bahwasanya para pezina akan datang pada hari kiamat demana farjinya menyala berupa api yang disaksikan para manusia dengan berbau bacin.”

Homoseksual (liwath)

Yaitu memasukkan alat vital ke dalam dubur seorang lelaki atau wanita. Berdasarkan hadis Nabi:

“Allah tidak sudi memandang seorang lelaki yang mendatangi (menyetubuhi) lelaki atau wanita dalam duburnya.”

Onani

Yaitu berusaha memancarakan sperma dengan tangannya sendiri. Adapun mengeluarkan sperma dengan tangan istrinya maka diperbolehkan.

Lesbian

Yaitu perbuatan menggesekkan atau menyentuh alat vital saja dan bukannya ejakulasi, seperti perbuatan yang dilakukan seorang wanita dengan wanita. Juga sebagaimana bentuk perbuatan seorang lelaki dengan menggesekkan alat vitalnya kepada perempuan dengan tidak memasukkannya ke dalam vagina (farji). Lesbian ini merupakan zina wanita.

Rasulullah bersabda, “Tida orang tidak diterima ucapan Laa ilaaha illallaah mereka, yaitu: lelaki homoseks (pelacur lelaki dengan lelaki), wanita lesbian (pelacur wanita dengan wanita), dan raja (penguasa) yang aniaya.

Demikian pula perbuatan seorang lelaki dengan remaja yang bagus  dengan menggesekkan penis (zakarnya) dan memasukkannya antara dua paha remaja itu, sebagaimana perbuatan lelaki dengan wanita seperti tersebut di atas, maka hukumnya adalah haram dan berhak dita’zir.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah mengutuk laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki, beliau bersabda, “Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian.”

Termasuk maksiat farji ialah kencing di masjid walaupun dalam tempat, dan kencing serta buang air besar di atas kuburan yang dipelihara dan dihormati.

Maksiat kaki

Kemaksiatan itu banyak sekali jenisnya, ada yang dilakukan oleh anggota badan, misalnya yang dilakukan oleh mata, kaki, telinga, dan lain sebagainya. selain itu ada juga kemaksiatan yang  dilakukan oleh hati.

Beberapa perbuatan yang bisa dikategorikan ke dalam maksiat kaki, artinya kemaksiatan yang dilakukan oleh kaki ialah:

Berjalan untuk melaporkan jelek orang islam kepada penguasa dan membunuh orang serta berbuat apa saja yang membahayakan orang islam tanpa hak. Seperti meneliti celanya dan membicarakan cacatnya.

Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 58, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan  yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul beban dan dosa yang nyata.”

Berjalan yang diharamkan, seperti masuk ke tempat kezaliman sedangkan dia rela terhadap kezaliman yang diperbuat mereka.

Maksiat Tangan

Ada beberapa perbuatan yang termasuk ke dalam maksiat tangan, diantaranya adalah:

Curang dalam menakar atau menimbang

Allah berfirman dalam surat Al Muthaffifin ayat 1-3:

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang—orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

Khianat

Rasulullah Saw bersabda:

“Tidak sempurna iman orang yang tidak memelihara amanat.”

Mencuri

Yaitu mengambil harta orang lain secara samar tanpa sepengetahuan pemiliknya untuk dimiliki dirinya.

Ghasab

Segala muamalah yang terlarang, seperti ghasab. Yaitu mengambil, atau meminjam, atau memakai harta orang lain tanpa izin pemiliknya sekalipun tidak bermaksud untuk memilikinya.

Membunuh jiwa yang diharamkan

Baik itu dengan sengaja atau mirip sengaja. Sebab membunuh jiwa seseorang tanpa alasan yang hak itu dosa besar dan diharamkan.

Memukul orang lain tanpa hak

Memukul seorang muslim atau dzimmi tanpa hak, tanpa alasan yang dibenarkan syara’. Nabi Saw bersabda:

“Siapa menelanjangi pakaian seorang muslim untuk memukulnya dan berbuat tanpa alasan yang hak, maka dia berjumpa Allah dimana Allah marah padanya.”

Diriwayatkan juga bahwa punggung seorang muslim itu terpelihara kecuali dengan haknya. Dan diriwayatkan, “Janganlah salah seorang diantara kamu berhenti di tempat pemberhentian lalu seorang lelaki memukul padanya dengan aniaya, sebab laknat itu turun atas orang yang menghadirinya ketika dia tidak dapat menolak daripadanya.”

Nabi Saw bersabda:

“Siapa memukul cambuk secara aniaya maka ia akan dibalas daripadanya pada hari kiamat.”

Dikisahkan di dalam kitab Az Zawajir karya Ibnu Hajar bahwasanya seorang kaisar mengambil seorang pendidik untuk mengajar dan mendidik anaknya. Ketika anak itu telah mencapai puncak keutamaan dan berperangai baik, pada suatu hari pendidik itu meminta kedatangannya. Lalu pendidik itu memukulnya dengan pukulan yang menyakitkan tanpa dosa dan tanpa sebab. Maka anak itu menaruh dendam terhadap gurunya sampai ayahnya berusia lanjut dan meninggal dunia.

Kemudian anak itu menjadi raja dan berkuasa setelah ayahnya wafat. Dia lalu mendatangkan sang guru tadi seraya berkata, “mengapa engkau menyerangku pada suatu hari dengan memukul aku dengan pukulan yang menyakitkan tanpa sebab dan dosa?”

Sang guru menjawab, “Ketahuilah hai raja, engkau telah mencapai puncak karir dan kemuliaan. Saya tahu bahwa engkau akan menjadi seorang raja menggantikan ayahmu sesudah ayahmu wafat. Maka saya ingin menyakitkan engkau untuk merasakan pukulan dan sakitnya penganiayaan, sehingga engkau tidak akan menganiaya terhadap salah seorangpun.”

Raja kemudian berkata kepada guruny, “semoga Allah membalas kebaikan kepadamu.”