Hukum makan sambil bicara

Disunatkan Berbicara Ketika Makan

Berkenaan dengan hal ini terdapat sebuah hadis yang disertakan oleh Jabir r.a.

Nabi saw pernah meminta lauk pauk kepada keluarganya, mereka menjawab, “Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka.” Maka beliau memintanya dan memakan sebagian darinya, lalu bersabda, “Sebaik-baik lauk pauk ialah cuka, sebaik-baik lauk pauk ialah cuka.”

Imam Abu Hamid Al Ghazali di dalam kitab Al Ihya mengatakan bahwa termasuk etika makan ialah membicarakan hal yang ma’ruf ketika makan, membicarakan kisah orang-orang yang saleh dalam hal makanan, dan lain-lain.

Ucapan Dan Perbuatan Oleh Orang Yang Merasa Tidak Kenyang Dengan Makanan

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dan Ibnu Majah melalui Wahsyi ibnu Harb r.a:

Sahabat-sahabat Rasulullah saw berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan, tetapi kami tidak pernah merasa kenyang.” Nabi saw menjawab, “Barangkali kalian berpisah-pisah.” Mereka menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “Maka berkumpullah kalian pada makanan kalian, lalu sebut asma Allah, niscaya makanan kalian akan diberkahi.”

Ucapan Bila Makan Dengan Orang Cacat

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud, Imam Turmudzi, dan Imam Ibnu Majah melalui Jabir r.a. yang menceritakan:

Rasulullah saw menuntun tangan orang yang berpenyakit lepra ke piring besar dengan tangan beliau, lalu bersabda, “Makanlah dengan menyebut asma Allah, dengan penuh rasa percaya kepada Allah, dan bertawakal kepadanya.”

Orang Yang Menjamu Sunat Mengulang Perkataan Mempersilahkan Makan

Orang yang menjamu makanan, minuman, atau wewangian sunat mengulang perkataan silakan makan, silakan minum atau silakan merasakan, apabila terlihat bahwa tamunya belum merasa cukup.

Hal tersebut disunatkan, hingga hal yang sama disunatkan pula bagi seorang lelaki kepada istrinya, dan orang lain dari kalangan orang-orang yang berada di dalam tanggungannya bila diduga kuat bahwa mereka memerlukan makan, sekalipun sedikit.

Ada sebuah kisah tentang mukjizat Nabi Muhammad saw, yaitu di saat rasa lapar mencekam Abu Hurairah r.a. yang memaksanya duduk di pinggir jalan meminta agar diajari Al Qur’an kepada orang yang melewatinya. Tujuan yang sebenarnya ialah agar ia diterima sebagai tamu.

Kemudian Rasulullah saw menyuruhnya mengundang ahli Shuffah, lalu Abu Hurairah r.a. membawa mereka semua, dan Nabi saw mengenyangkan mereka semua hanya dari satu wadah air susu.

Abu Hurairah melanjutkan kisahnya hingga sampai pada kisah berikut:

Rasulullah saw bersabda kepadaku, “sekarang yang tinggal hanya aku dan kamu.” Aku menjawab, “engkau benar, wahai Rasulullah.”

Rasul bersabda, “Duduklah dan minumlah!” Maka aku duduk dan minum.

Rasul bersabda, “Minumlah!” lalu aku pun minum. Beliau masih terus mengucapkan, “Minumlah!” hingga aku mengatakan, “Tidak, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak menemukan jalan lagi untuknya (sudah kenyang sekali).”

Rasul bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku!” Maka aku pun memberikan wadah itu kepadanya, lalu beliau memuji kepada Allah swt dan membaca tasmiyah, lalu minum air susu yang tersisa.

Nasihat Rasulullah saw tentang etika makan

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Umar ibnu Abu salamah r.a. yang menceritakan:

Ketika aku masih kecil, aku pernah berada di pangkuan Rasulullah saw, sedangkan tanganku mengacak isi piring besar. Maka Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Hai anak, sebutlah nama Allah swt, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.”

Menurut riwayat lain disebutkan sebagai berikut:

Pada suatu hari aku makan bersama Rasulullah saw, lalu aku pun makan dari semua sisi piring besar. Maka Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Makanlah makanan yang ada di hadapanmu (yang dekat denganmu).

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Jabalah ibnu Suhaim yang menceritakan:

Kami pernah mengalami musim paceklik selama satu tahun bersama Ibnuz Zubair, maka kami diberi rezeki berupa buah kurma. Suatu ketika Abdullah ibnu Umar r.a. melewati kami ketika kami sedang makan, lalu ia berkata, “Janganlah kalian makan dengan rakus, sesungguhnya Nabi saw telah melarang makan secara rakus. Lalu beliau saw bersabda, ‘Kecuali jika lelaki yang bersangkutan meminta izin kepada saudaranya (untuk makan dengan cara yang rakus).”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Salamah ibnul Akwa’ r.a. yang menceritakan:

Bahwa seorang lelaki makan di hadapan Nabi saw dengan tangan kirinya, maka beliau saw bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Lelaki itu menjawab, “Aku tidak dapat.”

Nabi saw bersabda, :Semoga engkau tidak dapat makan, tiada yang mencegahnya kecuali hanya perasaan takabur.”

Maka lelaki itu tidak dapat menyuapkan makanannya ke mulutnya.

Lelaki yang disebut dalam hadis ini adalah Busr, anak lelaki seorang penggembala unta; dia adalah seorang sahabat

Rasulullah saw tidak pernah mencela makanan dan minuman

Tidak Boleh Mencela Makanan dan Minuman

Setiap umat muslim tidak boleh mencela atau menghina makanan dan minuman yang ada, terlebih makanan dan minuman tersebut bukan yang diharamkan. Apalagi makanan dan minuman tersebut diberikan atau dihidangkan oleh orang lain, jangan sampai kita mencelanya karena akan menyakiti orang yang menghidangkannya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah r.a. yang menceritakan:

Rasulullah saw belum pernah mencela suatu makanan pun; jika beliau menyukai memakannya, dan jika tidak menyukai meninggalkannya.

Menurut riwayat Imam Muslim disebutkan:

Dan jika beliau tidak berselera terhadapnya, maka diam.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud, Imam Turmudzi dan Imam Ibnu Majah melalui Hulb r.a, seorang sahabat yang menceritakan:

Aku pernah mendengar Rasulullah saw ketika ditanya oleh seorang lelaki, “Sesungguhnya diantara jenis makanan ada suatu makanan yang aku tidak mau memakannya.”

Maka Nabi saw bersabda, “Jangan sekali-kali ada sesuatu yang diragukand alam hatimu, engkau menyamai orang Nasrani dengan perbuatan itu.”

Diperbolehkan mengatakan, “Aku tidak menyukai makanan ini” atau “Tidak biasa memakannya” atau yang sejenis itu karena suatu alasan

Diriwayatkan hadis tentang biawak dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim melalui Khalid bin Al Walid r.a. yang menceritakan:

Tatkala para sahabat menyuguhkan biawak bakar kepada Rasulullah saw, maka beliau mengulurkan tangannya untuk mengambil daging biawak tersebut. para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, daging itu daging biawak.”

Seketika itu juga Rasulullah saw menarik kembali tangannya. Khalid bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah biawak itu haram?”

Rasulullah saw menjawab, “Tidak, tetapi binatang itu tidak ada di bumi (lingkungan) kaumku, sehingga aku tidak menyukainya.”

Adab makan seorang muslim sesuai aturan sunnah

Memuji Makanan Yang Telah Dimakan

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Jabir r.a. yang menceritakan:

Nabi saw pernah meminta lauk pauk kepada keluarganya, mereka menjawab, “Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka.” Maka beliau memintanya dan memakan sebagian darinya, lalu bersabda, “Sebaik-baik lauk pauk ialah cuka, sebaik-baik lauk pauk ialah cuka.”

Doa Orang Yang Berpuasa Agar Makanan Mendapatkan Keberkahan

Orang yang sedang berpuasa, kemudian menghadiri jamuan makan hendaklah mendoakan keberkahan bagi makanan yang dihidangkan.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Apabila seseorang diantara kalian diundang (makan) hendaklah ia memenuhinya; jika ia puasa, hendaklah ia mendoakannya; dan jika ia tidak puasa, hendaklah ia makan.
diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni disebutkan:

Jika ia tidak puasa, hendaklah ia makan; dan jika ia puasa, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuk makanan itu.

Ucapan Orang Yang Diundang Makan

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Mas’ud Al Anshari yang menceritakan:

Seorang lelaki mengundang Nabi saw untuk suatu jamuan makan untuk Nabi saw dalam jumlah lima orang, ternyata ada seorang lelaki lain mengikutinya, ketika Nabi saw sampai di depan pintu rumah pemilik makanan, beliau bersabda, “Sesungguhnya orang ini mengikuti kami. Jik engkau menghendaki, izinkanlah dia; dan jika engkau tidak menghendakinya, dia akan kembali.”

Lelaki itu berkata, “Tidak, bahkan aku izinkan dia ikut, wahai Rasulullah.”